Fadlil Munawwar Manshur
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Humaniora

TASAWUF DAN SASTRA TASAWUF DALAM KEHIDUPAN PESANTREN Fadlil Munawwar Manshur
Humaniora Vol 11, No 1 (1999)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1754.127 KB) | DOI: 10.22146/jh.631

Abstract

Ajaran Islam yang paling dekat dengan sastra adalah tasawuf. Tasawuf menuntun, mengarahkan, dan membimbing umat manusia dalam semesta kehidupan yang mengutamakan kedekatan dan kemesraan makhluk dengan AI-Khaliq . Hubungan makhluk-Al-Khaliq itu diungkapkan oleh manusia melalui sarana bahasa dan perilaku kemakhlukannya . Melalui sarana bahasa, manusia dapat mengekspresikan ketakutan, kecemburuan, dan kemesraannya kepada AI-Khaliq dengan untaian kalimat yang indah dan mempesona . Melalui sarana perilaku, manusia dapat menunjukkan ketundukan dan kerendahannya di hadapan AI-Khaliq . Sarana-sarana hubungan manusia dengan Tuhan itulah yang dapat diekspresikan dengan entitas sastra . Istilah sastra tasawuf pada hakikatnya adalah sastra Islam karena tasawuf merupakan bagian kecil dari ajaran Islam, atau disebut juga sastra kitab karena dalam tradisi keilmuan Islam banyak ajaran Islam yang ditulis dalam kitab-kitab . Bisa juga sastra tasawuf disebut sastra pesantren karena santri-santri di pesantren banyak yang mengamalkan ajaran tasawuf melalui tarekat- tarekat . Jadi, tasawuf clan sastra tasawuf merupakan dua entitas yang berbeda, yang dalam kehidupan pesantren dua entias itu dipelajari dan diresepsi oleh para santri.
Pertumbuhan Dan Perkembangan Budaya Arab Pada Masa Dinasti Umayyah Fadlil Munawwar Manshur
Humaniora Vol 15, No 2 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.313 KB) | DOI: 10.22146/jh.785

Abstract

Dinasti Umayyah adalah sebuah rezim pemerintahan Islam yang berada di bawah kekuasaan keluarga Umayyah yang berlangsung dari tahun 661 sampai dengan tahun 750 Masehi. Pendiri dinasti ini adalah Muawiyah (661-680), putra Abu Sufyan yang pernah menentang Rasulullah saw, tetapi kemudian masuk Islam setelah kota Mekah ditaklukkan oleh pasukan Islam dari Madinah. Pada mulanya, Muawiyah adalah gubernur Syria yang berkedudukan di Damaskus. Ia memberontak kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib, hingga Ali wafat dibunuh oleh orang Khawarij. Pengikut Ali kemudian mengangkat Hasan, putra sulung Ali Ibn Abi Thalib, sebagai khalifah baru, tetapi Hasan yang tidak ingin berkonflik dengan Muawiyah, lalu mengikat perjanjian damai dengan pihak Muawiyah yang pada akhirnya Muawiyah menjadi penguasa tunggal masyarakat Muslim waktu itu. Keluarga Hasan hidup mengasingkan diri sebagai orang biasa, tetapi kaum Umayyah terus mem-burunya dan pada akhirnya Hasan wafat karena diracun (Ali, 1978:472). Muawiyah Ibn Abi Sufyan memindahkan ibukota negara dari Madinah ke Damaskus, Syria, tempat ia berkuasa tatkala menjadi gubernur. Ia juga mengganti sistem pemerintahan dari sistem demokrasi ke sistem monarki (Yatim, 1999:42). Kendati Muawiyah memper-oleh kekuasaannya dengan cara arbitrasi yang curang dan melalui perang saudara di Shiffin pada tahun 657 Masehi, tetapi ia memiliki karier dan prestasi politik yang menakjubkan. Keberhasilan Muawiyah mendirikan dinasti Umayyah bukan hanya akibat dari kemenang-an diplomasi di Shiffin dan terbunuhnya Khalifah Ali, tetapi juga karena sejak semula sudah memikiki “basis rasional” yang solid bagi landasan pembangunan politiknya di masa depan, yaitu dukungan kuat dari penduduk Syria dan dari keluarga Umayyah sendiri. Di samping itu, Muawiyah juga seorang administrator ulung yang berhasil menempatkan tokoh-tokoh penting dalam posisi-posisi strategis (Mufrodi, 1997:69-70).
RESEPSI KASIDAH BURDAH AL-BÛSHÎRY DALAM MASYARAKAT PESANTREN Fadlil Munawwar Manshur
Humaniora Vol 18, No 2 (2006)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.156 KB) | DOI: 10.22146/jh.868

Abstract

Qashîdah Burdah is a religious literary work that got an honor reception from the people around the world. Therefore, it is no wonder that Qashîdah Burdah could attract wide interest from the world community in the form of scientific study; Qashîdah Burdah recital in the religious ceremony; consumer’s reception in the recording industry and art performance, comments and translation from the Arabic into various kinds of the world languages: English, French, Spanish, Italian, Dutch, and German. The Nordic languages cover of Norway, Sweden, Denmark, Iceland, and Finland. The next is Russian, Turk, Persian, Urdu, Swahili, Chinese, Indonesian and other languages in Nusantara, i.e., Sundanese, Javanese, and Acehnese.
Kitab Kasidah Burdah: Tradisi Pembacaan dan Resepsinya Fadlil Munawwar Manshur
Humaniora No 5 (1997)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2344.095 KB) | DOI: 10.22146/jh.1875

Abstract

Pesantren dan kitab merupakan dua entitas yang saling berhubungan erat.Dalam tradisl pengajaran agama Islam antara pesantren dan kitab tidak dapat dipisahkan, karena alasan pokok munculnya pesantren adalah untuk mentransmsikan Islam tradisional sebaqaimana yang terdapat dalam kitab-kitab klasik yang ditulis berabad-abad yang lalu. Kitab-kitab ini dikenal di Indonesia sebagai kitab kuning (Bruinessen, 1995:17). Di dunia pesantren kitab-kitab itu kuning dikaji, diresepsi, dan dijadikan acuan moral oleh masyarakatpesantren (kiai dan santri) dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran-ajaran Islam ini ada yang ditulis dalam kitab-kitab kuning yang bercorak sastra, antara lain Kasidah Burdah karangan Muhammad Al-Busin. Di antara pesantren yang mengajarkan kitab Kasidah Burdah (selanjutnya disebut KB) kepada santrinya adalah Pesantren Darussalam Ciamis.
Tradisi Penciptaan dan Penafsiran Kitab Islam Klasik di Pesantren: Tinjauan Sekilas atas Salah Satu Karya Kiai Haji Ahmad Sanusi Fadlil Munawwar Manshur
Humaniora No 1 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1161.799 KB) | DOI: 10.22146/jh.1983

Abstract

Di Indonesia terdapat banyak karya keagamaan yang berupa kitab-kitabyang berisi ajaran aqama Islam. Kitab-kitab itu sebagian besar dikaji, diajarkan, dan dijadikan acuan hidup sehari-hari oleh para santri di pesantren. Dalam tradisi pesantren kitab-kitab keagamaan itu disebut kitab Islam k1asik (Dhofier, 1962:50). Tujuan utama pengajaran kitab Islam klasik (selanjutnya disebut KIK) adalah untuk mendidik para santri menjadi calon-calon ulama yang setia pada paham Islam di pesantren. Di antara kitab-kitab yang dicipta di lingkungan pesantren dan diajarkan langsung oleh kiai adalah kitab Raudatul-'Irlani fi Ma'rifatil-Qur'an yang artinya Taman Ilmu untuk Memahami Al Quran. Kitab ini (selanjutnya disebut RI) disusun oleh Kiai Haji Ahmad Sanusi, seorang ulama Sunda yang berprofesi sebaqai pengarang produktif kitab-kitab keagamaan, juga berkedudukan sebagai pengasuh Pesantren Gunung Puyuh Sukabumi.