Eny Winaryati
Pendidikan Kimia, Universitas Muhammadiyah Semarang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peningkatan Kualiatas Pembelajaran Melalui Lesson Study Untuk Menumbuhkan Technopreneur di Perguruan Tinggi Eny Winaryati
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2017: Prosiding Seminar Nasional Pendidikan, Sains dan Teknologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.528 KB)

Abstract

Diantara ciri-ciri generasi abad 21 adalah multitasking, multimedia, dan online info searching. Multitasking adalah istilah teknologi informasi yang mengacu kepada sebuah metode dimana banyak pekerjaan atau dikenal juga sebagai proses yang diolah dengan menggunakan sumberdaya CPU yang sama. Multitasking bagi manusia adalah kinerja nyata oleh seorang individu yang menangani lebih dari satu tugas pada satuan waktu yang sama.Multimedia adalah media yang menggabungkan dua unsur atau lebih media yang terdiri dari teks, grafik, gambar, foto, audio, dan animasi secara terintegrasi. Media sosial (social networking) adalah sebuah media online di mana para penggunanya dapat dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, sosial network atau jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual.  Search Engine Optimization (SEO) adalah teknik yang digunakan dalam dunia blog  untuk mendapatkan posisi yang bagus dalam halaman pencarian search engine. Search engine yang paling populer atau yang nomor satu yakni Google.Cirri-ciri abad 21 di atas menuntut beberapa keterampilan (skill) yang harus dimiliki oleh mahasiswa. Mahasiswa harus memiliki digital skills (tahu dan menguasai dunia digital),  Agile thinking ability  (mampu berpikir banyak skenario), interpersonal and communication skills (keahlian berkomunikasi sehingga berani adu pendapat), global skills (keterampilan  meliputi kemampuan bahasa asing, dapat menyatu dengan orang asing yang berbeda budaya, dan punya sensitivitas terhadap nilai budaya).Penjelasan di atas menuntut adanya perubahan pendekatan pembelajaran. Aktivitas belajar dan pembelajaran  diarahkan  untuk mengoptimalkan kondisi anak dan lingkungan. Perilaku sosial mahasiswa yang terbiasa dengan kerja mandiri diarahkan pada pembelajaran yang mencerminkan komunikasi dan kolaborasi. Lingkungan diciptakan dengan menata unsur-unsurnya sehingga dapat merubah perilaku siswa. Kemajuan teknologi informasi dimanfaatkan secara optimal untuk berkembangnya kreativitas dan inovasi mahasiswa. Tuntutan zaman yang semakin kompetitif  mendukung  terimplementasinya pembelajaran berfikir kritis dan kesiapan menyelesaikan berbagai bentuk permasalahan melalui komunikasi dan kolaborasi. Nilai karakter menjadi tuntutan warna perlaku pada siswa.Adanya tuntutan redesain kurikulum yang mendukung penguatan: pengetahuan, keterampilan, dan karakter dan menempatkan metakognisi sebagai belajar dan cara belajar yang mendekatkan tiga dimenasi pendidikan abad 21. Ada empat karakter keterampilan  pembelajaran abad 21 yaitu: (1). Critical Thinking and Problem Solving; (2) Creativity and Innovation; (3) Communication; (4) Collaboration. Ada karekter pengetahuan dimana  nilai tradisional dan modern dalam keseimbangan, dan siswa mampu mengkontruksi pengetahuan sebagai bentuk kemampuan me-interkonesi-kan berbagai bidang. Nilai karekter seperti perhatian secara penuh, rasa ingin tahu, keberanian, ketahanan diri, etika, kepemimpinan, dll menjadi warna perilaku peserta didik.Tuntutan pembelajaran abad 21 di atas, maka Perguruan Tinggi (PT)  harus mampu menciptakan sistem pendidikan dan pengajaran  sehingga menghasilkan lulusan yang memiliki kesiapan menghadapi kompleknya kehidupan. Harapannya melalui Lesson Study, dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Lesson Study for Learning Community merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok komunitas dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi dan melaporkan hasil pembelajaran. Ciri khas lesson study adalah adanya komunitas pembelajar, dilaksanakan secara berkolaborasi, untuk menumbuhkan kreativitas dan inovasi, kemampuan memecahkan masalah  dengan berfikir kritis. Melalui komunitasnya, maka akan terjadi proses berbagi (sharing), baik  senior dan yunior berada dalam suasana yang sama.
Workshop Pengembangan Wayang Keadilan sebagai Media Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Filipina Muhamad Taufik Hidayat; Achmad Januar Arifin; Fitri Puji Rahmawati; Gizha Syarifa; Rizka; Hanifah Febriani; Crisanto A. Daing; Eny Winaryati
JPEMAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2023): JPEMAS : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/adc.v2i1.625

Abstract

Berbagai berita dan hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Filipina harus meningkatkan karakter adil. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini yaitu untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta dalam menanamkan karakter keadilan berbasis media wayang. Selain itu, pengabdian masyarakat ini juga bertujuan untuk mendampingi peserta mengembangkan media wayang untuk penanaman karakter keadilan. Kegiatan pengabdian ini berupa workshop yang diikuti oleh guru, siswa, dan kepala sekolah dari dua SD, OLFU Elementary School dan Lagros Elementary School. Dalam workshop ini, mereka menerima materi yang mencakup topik-topik berikut: (1) Story Telling cerita dongeng Robin Hood, Keong Mas, dan Pagong and Matsing, (2) Praktik pembuatan media dari wayang kardus, dan (3) Praktik cara memainkan wayang ketika bercerita. Implementasi pengabdian masyarakat berlangsung pada hari Rabu, 6 September di OLFU Elementary School dan Lagros Elementary School. Workshop ini dihadiri oleh sebanyak 30 peserta di OLFU Elementary School dan 100 peserta di Lagros Elementary School. Secara umum peserta menganggap kegiatan workshop ini sangat bermanfaat bagi mereka. Peserta mendapatkan banyak ilmu baru yaitu cerita dongeng dari Indonesia, cara membuat wayang dari kardus, dan cara memainkan wayang saat bercerita. Para peserta juga dapat menerima dengan baik budaya wayang dari Indonesia. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa materi yang disampaikan dapat diikuti peserta dengan baik serta terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan.