Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pengaruh Panjang Nosel Konvergen sebagai Pengarah Aliran Masuk Terhadap Unjuk Kerja Turbin Angin Ishak Usman; Ivan Junaidi Abdul Karim; iwan Gunawan
DINAMIKA : Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 2 (2022): DINAMIKA : Jurnal Teknik Mesin
Publisher : Program Studi Teknik Mesin Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/dinamik.v7i2.6054

Abstract

Energi angin sebelum menghasilkan energi listerik, diproses dalam sebuah mesin yang dikenal dengan nama turbin angin (wind turbine). Turbine angin  terdiri dari beberapa jenis yakni, turbin angin sumbu horizontal (TASH)  dan turbin angin sumbu vertikal (TASV). Semua jenis turbin ini mengubah energi gerak angin yang bertiup langsung ke sudu-sudu turbin tanpa adanya sebuah perlakuan khusus, atau dengan kata lain turbin menghasilkan daya output sesuai dengan kecepatan angin secara alami. Kecepatan aliran suatu fluida secara teori dapat ditingkatkan dengan menempatkan sebuah saluran yang penampangnya mengecil (nosel konvergen) saat dilalui fluida. Kecepatan aliran dalam sebuah nosel yang konstan diameter masuk dan keluarnya, sangat dipengaruhi oleh pajang nosel tersebut. Panjang nosel yang digunakan dalam penelitian ini divariasikan, yakni 25 cm, 50 cm, dan 75 cm. Jenis turbin yang digunakan adalah turbin angin sumbu horizontal (TASH).   Kipas angin digunakan untuk menggantikan aliran angin (udara). Kecepatan aliran udara yang keluar dari nosel ini digunakan untuk menggerakan turbin. Data yang diperoleh dari gerakan turbin ini berupa kecepatan angin yang keluar dari nosel, jumlah putaran dan torsi yang dihasilkan turbin, digunakan untuk menganalisis unjuk kerja turbin angin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya dan efisiensi yang dibangkitkan untuk berbagai variasi panjang nosel cenderung mengalami peningkatan. Daya dan efisiensi tertinggi  dihasilkan oleh nosel pengarah dengan panjang 75 cm yang besarnya masing-masing 0,089 Watt dan 16,31%.
Korean Cultural Diplomacy: Uniting Society Through Soft Power Iwan Gunawan
Jurnal Info Sains : Informatika dan Sains Vol. 14 No. 01 (2024): Informatika dan Sains , Edition March 2024
Publisher : SEAN Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Soft power is persuasive power that is not military or economic in nature, but is rooted in the attractiveness of culture, values and a positive image of a country. South Korea has successfully utilized soft power through the Korean wave to increase its presence and influence on the global stage. This research aims to investigate the role of Korean cultural diplomacy in integrating and uniting the international community through the concept of soft power. This research uses a qualitative approach with descriptive methods. The research results show that South Korea's cultural diplomacy, especially through the Korean Wave, has succeeded in creating a significant positive impact. The research highlights the contribution of the Korean Wave in strengthening South Korea's positive image at the global level, building sociocultural and economic ties in the East Asian region, and generating economic growth through increasing the popularity of Korean products and lifestyle. Full support from the government, including through the establishment of public institutions, provides a strong foundation for the success of South Korea's cultural diplomacy. In conclusion, research shows that South Korea's cultural diplomacy is an effective instrument in building positive connectivity, advancing the economy, and shaping global views of this country.
WANARA IN RAMAYANA SHADOW PLAY: REPRESENTATION OF HUMANISM, VISUAL COMMUNICATION, AND CONTEMPORARY CULTURE Febrianto Saptodewo; Sandra Olifia; Iwan Gunawan; Vickrie Ardy
Akrab Juara : Jurnal Ilmu-ilmu Sosial Vol. 11 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Yayasan Azam Kemajuan Rantau Anak Bengkalis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58487/akrabjuara.v11i1.2739

Abstract

This study explores the representation of Wanara characters in Javanese Wayang kulit Ramayana from the perspectives of Visual Communication Design (DKV), communication science, and humanistic values. Wanara, meaning "forest man" in Sanskrit, symbolizes loyalty, bravery, physical strength, and self-sacrifice for truth, bridging animal instincts and human virtues. The research aims to analyze how visual elements like wanda, sunggingan, and tatahan convey these traits, and their contemporary relevance in Indonesian culture. Employing qualitative methods, including visual semiotics from Peirce, Saussure, and Barthes, the study examines literature, visual documentation, and media adaptations. Findings reveal that Hanoman embodies purity and devotion, Sugriwa leadership and alliance, and Anggada transformation and courage, with these characters persisting in comics, games, and branding. The study highlights Wayang kulit's role in moral education and cultural continuity, offering practical insights for heritage preservation and theoretical contributions to semiotics in traditional arts.