Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

EVALUASI PENCAPAIAN PROGRAM PENURUNAN USIA NIKAH 15-19 TAHUN DI KECAMATAN SAPTOSARI KABUPATEN GUNUNGKIDUL Nurul Khotimah
Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 19, No 1 (2021): Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/gm.v19i1.36193

Abstract

Evaluasi penurunan pernikahan usia 15-19 tahun di Kecamatan Saptosari Kabupaten Gunungkidul dilakukan untuk melihat sejauhmana intervensi yang telah dilakukan wilayah dalam penurunan jumlah kasus perempuan usia nikah 15-19 tahun. Hasil evaluasi diharapkan dapat membantu mengevaluasi hasil dari pelaksanaan Program KKBPK yang dicanangkan oleh BKKBN DIY. Sehubungan dengan pentingnya hal tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi: (1) upaya yang telah dilakukan Kecamatan Saptosari dalam menurunkan perempuan usia nikah 15-19 tahun, (2) faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya penurunan perempuan usia nikah 15-19 tahun di Kecamatan Saptosari.Ruang lingkup penelitian ini adalah untuk mengevaluasi capaian program penurunan usia nikah 15-19 tahun di Kecamatan Saptosari menggunakan data primer (observasi, wawancara) dan data sekunder (dokumentasi). Variabel yang digunakan dibatasi pada variabel yang berhubungan dengan upaya yang telah dilakukan dalam penurunan jumlah kasus perempuan usia nikah 15-19 tahun dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan selama 2 bulan yakni bulan Oktober-November 2019. Lokasi penelitian adalah Kecamatan Saptosari yang merupakan wilayah pada tahun 2013 ditemui banyak pelaku pernikahan usia dini namun berdasarkan data saat ini telah terjadi penurunan akibat dari berbagai intervensi yang telah dilakukan. Informan penelitian adalah pimpinan wilayah dan masyarakat. Teknik pengambilan informan dilakukan secara snowball. Data yang diperoleh dari lapangan selanjutnya dilakukan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian berdasarkan evaluasi di lokasi penelitian menunjukkan: (1) upaya yang telah dilakukan Kecamatan Saptosari dalam menurunkan perempuan usia nikah 15-19 tahun adalah: (a) deklarasi stop usia nikah dini sejak tahun 2013, (b) komitmen tegas seluruh unsur wilayah (camat, kepala desa, kepala dusun, PLKB, koramil, polsek, puskesmas, KUA, sekolah, Dinas Pendidikan, tokoh masyarakat) dalam penolakan pernikahan bagi calon pengantin yang masih di bawah usia minimal yang dipersyaratkan undang-undang pernikahan, (c) perubahan mindset orangtua pentingnya pendidikan dan meninggalkan tradisi jika anak perempuan sudah dilamar akan segera dinikahkan meskipun masih bersekolah, (d) penyuluhan dan sosialisasi pernikahan usia dini dan dampaknya secara berkelanjutan di semua tingkatan di wilayah dan sekolah, (e) penyampaian khutbah nikah untuk membekali calon pengantin dan masyarakat yang datang tentang pentingnya keutuhan keluarga, (2) faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan perempuan usia nikah 15-19 tahun di Kecamatan Saptosari adalah: (a) dokumen deklarasi stop nikah usia dini sebagai aturan tertulis yang mengharuskan masyarakat mematuhinya, (b) pengetahuan remaja meningkat bersamaan keberhasilan pendidikan yang ditamatkan dan kontinuitas sosialisasi pernikahan, (c) ketidaksiapan fisik, mental, ekonomi (pekerjaan/penghasilan) remaja sehingga berkeinginan menunda nikah, dan (d) pengalaman ketidaksiapan anggota keluarga lain ketika menikah usia muda dalam mewujudkan keluarga ideal dijadikan alasan remaja menunda nikah.
Hubungan Karakteristik Sosial Demografi dengan Pemberdayaan Wanita Usia Subur (WUS) Berstatus Kawin di DIY Nurul Khotimah; Hastuti Hastuti
Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 17, No 2 (2019): Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.306 KB) | DOI: 10.21831/gm.v17i2.29663

Abstract

Pemberdayaan perempuan merupakan komponen kunci dalam pengentasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan pada wanita usia subur (WUS) berstatus kawin di DIY dengan tujuan: (1) mengetahui karakteristik sosial demografi, (2) mengetahui kecenderungan pemberdayaan, dan (3) menganalisis hubungan karakteristik sosial demografi dengan pemberdayaan WUS. Sumber data penelitian adalah SDKI tahun 2017. Hasil penelitian: (1) karakteristik sosial demografi WUS berstatus kawin di DIY kebanyakan berumur 35 tahun dan berpendidikan tamat SLTA atau lebih. (2) kecenderungan pemberdayaan WUS adalahsebagian sebesar sedang bekerja dalam 12 bulan terakhir sebelum survei, tipe pendapatan dibayar, bentuk pembayaran sebagian besar berupa uang dan hanya sedikit dengan uang dan barang, kontrol atas pendapatan sebagian besar dari istri, dan partisipasi dalam berbagai pengambilan keputusan relatif tinggi antara lain untuk perawatan kesehatan wanita, kunjungan ke keluarga atau kerabat, pengeluaran besar rumah tangga, maupun ketiga keputusan tersebut. (3) hubungan karakteristik sosial demografi dengan pemberdayaan WUS menunjukkan ada hubungan antara umur dengan pekerjaan serta umur dengan kontrol atas pendapatan, namun tidak ada hubungan antara umur dengan pendapatan dan antara umur dengan partisipasi dalam pengambilan keputusan, selain itu diketahui ada hubungan antara pendidikan dengan kontrol atas pendapatan serta antara pendidikan dengan partisipasi dalam pengambilan keputusan.
Hidrogeomorfologi mata air stratovolkano di area Celah Selo Jawa Tengah Muhammad Asrori Indra Wardoyo; Nurul Khotimah
Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 19, No 2 (2021): Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/gm.v19i2.44273

Abstract

The Selo Gap area is geomorphologically located between mountains that have different types of characteristics. These differences have an impact on differences in the distribution pattern and characteristics of the springs. This research was conducted with the objectives of: 1) Analyzing the distribution pattern of springs in the Selo Gap landform unit, 2) Analyzing the characteristics of springs in the Selo Gap area. This study uses a survey-descriptive research method with a quantitative model. The sample of the springs in this study used a systematic sampling technique. The data collected is then analyzed descriptively which considers spatial aspects with nearest neighbor analysis. The results of this study indicate that: 1) The distribution pattern of the springs on the south side of Mount Merbabu based on the nearest neighbor analysis is known to have a z-score of 4.137440 which indicates a uniform or distributed type, 2) The characteristics of the springs in quantity have a high discharge category found in Tuk Babon with a discharge of 10 l/s and a low discharge found in Tuk Panguripan with a discharge of 0.008 l/s. The results of the multiparameter water quality analysis show that the relationship between parameters such as water temperature with DO, water temperature with DHL, and DHL with TDS runs uniformly and influences each other.
Studi Perbandingan Sebaran Spasial COVID-19 di Yogyakarta dan Gorontalo Nursida Arif; Dyah Respati Suryo Sumunar; Nurul Khotimah; Etika cahyani; Yusuf Susena; Riga Aditya Ariyanto
Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 19, No 1 (2021): Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/gm.v19i1.40166

Abstract

Perbedaan sebaran COVID-19 di berbagai negara masih menjadi isu yang terus dikaji karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang berkorelasi dengan penyebaran COVID-19 adalah faktor geografis. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar yang memiliki keunikan karena letak dan kondisi geografisnya. Penelitian melihat perbedaan sebaran COVID-19 di dua provinsi di Indonesia yaitu Yogyakarta dan Gorontalo. Secara geografis kedua wilayah ini sangat berbeda. Kondisi iklim pada masing-masing wilayah dilihat berdasarkan suhu permukaan lahan menggunakan citra satelit Landsat 8. Suhu rata-rata tertinggi di provinsi Gorontalo yaitu 34,24°C terdistribusi di kota Gorontalo dan kabupaten Gorontalo. Sedangkan suhu tertinggi di DIY terdistribusi di kota Yogyakarta dengan suhu 32,72°C. Berdasarkan data yang diperoleh Gorontalo merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terdampak paling akhir, namun memiliki memiliki persentase terpapar lebih besar yaitu 0,23% yaitu dibandingkan DIY 0,07%. Sebaran spasial yang mengelompok diperkotaan menunjukkan bahwa mobilitas penduduk dapat menjadi pemicu meningkatnya jumlah kasus COVID-19. Sedangkan faktor-faktor yang diinvestigasi dalam penelitian ini yaitu suhu, lamanya waktu terpapar dan jumlah penduduk tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap persebaran COVID-19.
The role of social media as a communication facility for hydrometeorological disasters in shallot farming activities Nurul Khotimah; Dyah Respati Suryo Sumunar; Suhadi Purwantara; Nugraho Sistu Prabintoro; Mohd Hairy Ibrahim; Nasir Nayan
Informasi Vol 52, No 1 (2022): Informasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/informasi.v52i1.50115

Abstract

Social media as a means of communication plays a role in building a new paradigm of disaster. One of the social media users for hydrometeorological disaster communication is a shallot farmer in Parangtritis Village, Kretek Subdistrict, Bantul District, Yogyakarta Special Region. This study aims to determine the role of social media as a means of communication for hydrometeorological disasters in shallot farming activities. The design of this research is descriptive quantitative research. The research was carried out from April to October 2021 by taking the location of shallot farmers in Parangtritis Village, Kretek Subdistrict, Bantul District, Yogyakarta Special Region. The research sample was determined by a quota of 50 respondents. Research data were collected through observation, interviews, and documentation. The data that has been collected is then processed and analyzed descriptively. The results of this study show that: (1) The respondents' ownership of gadgets is 84%. Of all respondents who have gadgets, 71.4% of respondents have an internet connection. (2) All respondents stated that ownership of gadgets and internet connection is useful in hydrometeorological disaster information. (3) All respondents who have gadgets and internet connections have facebook and whatsapp social media accounts. (4) The role of ownership of social media accounts is as a means of exchanging information on hydrometeorological disasters, namely information related to shallot farming activities (seedlings, soil processing, fertilizers, pest eradication, harvesting, etc.) and information on the threat of hydrometeorological disasters on shallot farming, such as floods and extreme weather. The existence of social media is able to have a positive impact on shallot farmers, especially in adapting to existing weather conditions with strategies to change crop variations, change cropping patterns, change planting periods, and change irrigation systems, thereby helping harvest success.
Making Eco-Bricks as a Solution to Environmental Problems through Empowering Creative Children: A Case Study in Baruga District, Kendari City Farida Wardani; Nurul Khotimah
International Journal of Science and Society Vol 3 No 2 (2021): International Journal of Science and Society (IJSOC)
Publisher : GoAcademica Research & Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.213 KB) | DOI: 10.54783/ijsoc.v3i2.331

Abstract

Garbage is one of the complex problems faced by both developing and developed countries in the world. The waste problem is a common problem and has become a universal phenomenon in various countries in the world. This research uses qualitative research with a descriptive analysis approach. The data used are primary data collected from community-based empowerment activities in the Baruga sub-district, Kendari city. From this research, it can be seen that making eco-bricks can be used as a solution to the use of plastic waste, which is very much in the Baruga sub-district, Kendari City, through creative child empowerment activities. To make products using eco-bricks, glue for PVC plastics is not recommended because the plastic bottles used as eco-bricks are PET plastic, so they are unsuitable if glued with PVC glue.
THE ESTIMATION OF FLOOD-AFFECTED AREA IN THE DOWNSTREAM OF CODE RIVER, YOGYAKARTA, INDONESIA Suhadi Purwantara; Arif Ashari; Dyah Respati Suryo Sumunar; Nurul Khotimah
JURNAL GEOGRAFI Vol 14, No 2 (2022): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jg.v14i2.34651

Abstract

The rapid development of settlements and sediment deposition has increasingly narrowed the drainage in the Code River. This condition causes floods and wider distribution of the affected areas. This research aims to estimate the maximum amount of rain, predict the probability of flood, and predict flood-prone areas in the Code River. Data were collected by observation, remote sensing image interpretations, literature studies, and documentation. Data analysis was performed using Log Pearson Type III for design rainfall analysis, Weibull formula for flood probability analysis, and rational method for planning maximum discharge analysis. Flood modeling is carried out by the iteration method. The results show: (1) the maximum amount of rain based on the calculated design rainfall with a return period of 5 to 40 years is R5 = 106.83 mm, R10 = 116.67 mm, R20 = 127.30 mm, R40 = 134.25 mm, (2) the probability of flood that is predicted from the maximum discharge caused by the design rainfall at each return period is Q5 = 82.45 m3/sec, Q10 = 89.42 m3/sec, Q20 = 96.95 m3/sec, Q40 = 101.86 m3/sec. (3) Inundation of the flood target area in the 5-year return period covers an area of 0.4456 km2, the 10-year return period covers 0.5209 km2, the 20-year return period covers 0.6023 km2, the 40-year return period covers 0.6555 km2. This paper presents information on the potential for a flood at various return periods to increase preparedness and reduce risks due to flood disasters.Keywords: Disaster, Floods, Estimated Flood-Affected Areas, Code River, Yogyakarta
Enhancing Flood Preparedness: The Influence of Students’ Knowledge and Experience Hana Rifky Puspitasari; Nurul Khotimah
Jurnal Inovasi Pendidikan dan Sains Vol 6 No 2 (2025): August
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jips.v6i2.2595

Abstract

Flood disasters often occur in Mentarang Hulu sub-district, Malinau Regency, North Kalimantan. The risk of flooding can be reduced if the community has knowledge and experience related to flood disasters. The purpose of this study was to determine the effect of students' knowledge and experience in dealing with flood disasters. This type of research is descriptive quantitative. The sampling technique used was purposive sampling, and a sample size of 80 students from elementary, junior high, and high school levels. Data collection techniques used observation, interviews, and documentation. The data collection instrument used a questionnaire. While the data analysis technique used descriptive statistics. The results of the study showed that the knowledge of elementary, junior high, and high school students about flood disasters was included in the GOOD category. This can be interpreted that most elementary, junior high, and high school students have good knowledge about floods. The percentage obtained was elementary school students of 85%, junior high school students of 81%, and high school students of 90%. These results also show that the experiences of elementary, junior high, and high school students about flood disasters are included in the GOOD category.