Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Studi Perbandingan Sebaran Spasial COVID-19 di Yogyakarta dan Gorontalo Nursida Arif; Dyah Respati Suryo Sumunar; Nurul Khotimah; Etika cahyani; Yusuf Susena; Riga Aditya Ariyanto
Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 19, No 1 (2021): Geo Media: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/gm.v19i1.40166

Abstract

Perbedaan sebaran COVID-19 di berbagai negara masih menjadi isu yang terus dikaji karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang berkorelasi dengan penyebaran COVID-19 adalah faktor geografis. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar yang memiliki keunikan karena letak dan kondisi geografisnya. Penelitian melihat perbedaan sebaran COVID-19 di dua provinsi di Indonesia yaitu Yogyakarta dan Gorontalo. Secara geografis kedua wilayah ini sangat berbeda. Kondisi iklim pada masing-masing wilayah dilihat berdasarkan suhu permukaan lahan menggunakan citra satelit Landsat 8. Suhu rata-rata tertinggi di provinsi Gorontalo yaitu 34,24°C terdistribusi di kota Gorontalo dan kabupaten Gorontalo. Sedangkan suhu tertinggi di DIY terdistribusi di kota Yogyakarta dengan suhu 32,72°C. Berdasarkan data yang diperoleh Gorontalo merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terdampak paling akhir, namun memiliki memiliki persentase terpapar lebih besar yaitu 0,23% yaitu dibandingkan DIY 0,07%. Sebaran spasial yang mengelompok diperkotaan menunjukkan bahwa mobilitas penduduk dapat menjadi pemicu meningkatnya jumlah kasus COVID-19. Sedangkan faktor-faktor yang diinvestigasi dalam penelitian ini yaitu suhu, lamanya waktu terpapar dan jumlah penduduk tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap persebaran COVID-19.
Banyan (Ficus) Presence and Spring Quantity–Quality Associations in Gendol Hill, Bulukerto, Wonogiri Arum Sekar Kedhaton; Andika Krismondo; Riga Aditya Ariyanto
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 11, No 2 (2026): June 2026
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v11i2.14019

Abstract

Springs are primary water sources for rural communities and are sensitive to land-cover changes in recharge areas; therefore, assessing spring quantity and quality is essential for local water security. This study examines the association between banyan (Ficus) presence and spring quantity and water quality in Gendol Hill, Geneng Village, Wonogiri. A quantitative descriptive design was applied during the dry season, including an inventory of all springs and spatial documentation of nearby Ficus. Spring quantity was measured as flow/discharge, while water quality was evaluated using physico-chemical parameters (temperature, dissolved oxygen/DO, electrical conductivity/EC, salinity) and microbiological testing for Escherichia coli. All springs were perennial and showed variability in spring quantity (Meinzer classes V–VII). Ficus occurred at most spring outlets, paired comparisons of selected nearby springs indicated higher spring quantity at sites with Ficus than at sites without Ficus, although the pattern was not uniform across locations. E. coli was detected in three springs, while seven were negative. DO ranged from 1.93 to 4.99 ppm and temperature from 20.70 to 27.52°C, suggesting heterogeneous outlet conditions. These findings support spring protection zoning and sanitation management, alongside conserving woody vegetation as a supporting element for spring-ecosystem stability.