Purwadi .
Udayana University

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Marapu: Konstruksi Identitas Budaya Orang Sumba, NTT Purwadi Soeriadiredja
Antropologi Indonesia Vol 34, No 1 (2013): Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article examines how the people of Sumba construct their cultural identity associated with their religiosity in the face of discriminatory processed around them. The Sumbanese with their Marapu religion are discriminated againts because of the cultural identity attached to it, but due to their negative image. Discriminatory categories with all the attributes and roles attached to ithemare not natural constructs, but a history and representation.The cultural identity of the Sumbanese is the result of the interaction between the forces from the "outside" and the practices of their daily life. Marapu is a religion that serve as is the cultural identity of the Sumbanese, and becomes the basis of guidelines or values that organize their lives. Even for the people who do not following the Marapu religion. For them the Marapu is limited to the customs of ancestors only, and not as a faith they profess. For some of the Sumbanese, switching religion are a compromise, which is one form of "cultural protection strategy" that can reduce fear and aggression that arise between the individuals and society. The nature of this compromise culture is activated through the traditional institutions that always put through deliberation and uphold the concepts of togetherness and solidarity.Key words: Marapu, construction, cultural identity, discrimination
Strategi Masyarakat Nelayan Kedonganan Menghadapi Kemiskinan Purwadi Soeriadiredja
Journal Social and Humaniora Vol 19 No 1 (2019)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.446 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2019.v19.i01.p07

Abstract

Kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat nelayan, serta kerusakan lingkungan pesisir dan laut merupakan dampak dari kebijakan pembangunan yang selama ini berorientasi ke daratan. Sekalipun pemerintah menggulirkan kebijakan modernisasi perikanan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, namun hasil yang dicapai belum memuaskan. Secara umum nelayan masih terperosok dalam perangkap kerentanan sosial-ekonomi berkepanjangan. Kenyataan tersebut membuat perekonomian nelayan memprihatinkan. Kedonganan terletak di kawasan wisata dan menjadi tujuan wisata pantai dan kuliner, namun hal itu bukan jaminan bagi para nelayan dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Awalnya perkembangan di Kedonganan tanpa kendali sehingga menimbulkan banyak permasalahan di bidang ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan. Hal tersebut ditengarai akan menimbulkan ketidakharmonisan dan mencoreng citra objek wisata Kedonganan, bahkan pariwisata budaya Bali. Dengan berjalannya waktu, kini pantai Kedonganan berubah menjadi tujuan wisata pantai dan kuliner yang menarik. Hal tersebut tak lepas dari peran Desa Adat Kedonganan yang telah melibatkan masyarakat mulai dari perencanaan awal, pengelolaan dan evaluasi dengan tujuan meningkatkan perekonomian masyarakat, mempertahankan adat istiadat setempat dan pengelolaan yang berkelanjutan. Dalam hal ini bagaimana masyarakat Kedonganan dengan kearifanlokalnya menciptakan strategi dalam menghadapi salah satu permasalahan hidup mereka, yaitu kemiskinan, sehingga lambat laun terjadilah peningkatan ekonomi, sosial-budaya yang signifikan.Sebagai nelayan, bermacam resiko dari pekerjaan sudah biasa mereka hadapi dan terima dengan besar hati karena bagi mereka hidup adalah sebagai anugerah. Suatu hal yang mereka harapkan adalah terciptanya keselarasan dan keserasian antara kehidupan duniawi dan kehidupan dengan Sang Hyang Widi. Untuk itu hidup harus dilandasi dengan sikap pasrah dan menerima apa adanya. Namun bukan berarti harus tetap tinggal diam saja. Pengelolaan pantai Kedonganan berbasis masyarakat ini dijiwai oleh filosofi Tri Hita Karana, karenanya hubungan masyarakat dengan lingkungan (alam, spiritual dan antar manusia) dapat terjalin secara harmonis dan berkelanjutan.
Penggalian dan Pengembangan Potensi Pariwisata Alam, Budaya, dan Religi di Rote Ndao, NTT A. A. Ayu Murniasih; Purwadi .; Aliffiati .
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 5 No 1 (2021)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.342 KB) | DOI: 10.24843/SP.2021.v5.i01.p02

Abstract

Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah ”mewujudkan pengembangan pariwisata yang berorientasi pada nilai-nilai pelestarian lingkungan dan budaya, yang berbasis masyarakat setempat (community based tourism), termasuk memberi manfaat besar bagi masyarakat dalam jangka panjang“. Tujuan tersebut hendak dicapai dengan mewujudkan target khusus penelitian, yaitu merumuskan strategi dalam memecahkan masalah pengembangan pariwisata yang kompetitif dan berkelanjutan. Adapun hal-hal yang hendak diketahui dan dipahami dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (a)Potensi alam dan budaya apa saja yang sudah dikembangkan dan akan dikembangkan di Rote-Ndao ?, (b) Bagaimana partisipasi masyarakat dalam pengembangan pariwisata ?, (c) Bagaimana problematika pengembangan pariwisata di daerah tujuan wisata ?, dan (d)Bagaimana strategi pengembangan pariwisata yang tepat bagi daerah tujuan wisata dilakukan?. Metode penelitian yang akan digunakan untuk mencapai tujuan dan target tersebut di atas adalah metode kualitatif, dan ditunjang metode kuantitatif seperlunya, berparadigma fenomenologis dan interpretatif. Langkah-langkah yang ditempuh dalam konteks ini adalah sebagai berikut: (a) pengamatan dan wawancara mendalam, dan (b) analisis data secara interpretatif dengan pendekatan fenomenologis dengan menggunakan pendekatan interpretatif.
Napak Tilas Jati Diri Orang Bali Aga Purwadi Soeriadiredja; Aliffiati .
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.852 KB) | DOI: 10.24843/SP.2017.v1.i01.p05

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah terwujudnya keharmonisan sosial berbasis masyarakat. Fokus penelitian adalah pandangan masyarakat Bali Aga tentang keberadaan diri mereka; keterkaitan budaya antara masyarakat Wong Aga di lereng Gunung Raung dengan masyarakat Bali Aga di Pulau Bali; dan hubungan masyarakat Bali Aga dengan masyarakat di luar mereka. Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif, berparadigma fenomenologis, dan interpretatif. Data diperoleh melalui pengamatan, wawancara mendalam, dan analisis data untuk memperoleh pengetahuan tentang gagasan-gagasan, pemikiran, keyakinan dalam masyarakat setempat. Temuan penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Bumiharjo bukanlah keturunan Wong Aga pengikut ajaran Rsi Markhandeya. Mereka adalah pendatang baru di wilayah itu pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Sedangkan keberadaan keturunan Wong Aga di sekitar lereng Gunung Raung kini tidak diketahui lagi. Masyarakat Desa Sukawana sebagai bagian dari orang Bali Aga lebih suka disebut sebagai orang Bali Mula yang menganggap diri mereka sebagai keturunan nenek moyang pertama yang telah tinggal di wilayah itu. Masyarakat Bali Aga terkesan memiliki eksklusivitas dalam sistem keagamaan dan pemerintahan adat ulu apad di tengah keterbukaan mereka terhadap perubahan.
Penggalian dan Pengembangan Potensi Pariwisata Alam, Budaya, dan Religi di Rote Ndao, Nusa Tenggra Timur A. A. Ayu Murniasih; Purwadi ,; Aliffiati .
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 2 No 2 (2018)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.571 KB) | DOI: 10.24843/SP.2018.v2.i02.p06

Abstract

Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah ”mewujudkan pengembangan pariwisata yang berorientasi pada nilai-nilai pelestarian lingkungan dan budaya, yang berbasis masyarakat setempat (community based tourism), termasuk memberi manfaat besar bagi masyarakat dalam jangka panjang“. Tujuan tersebut hendak dicapai dengan mewujudkan target khusus penelitian, yaitu merumuskan strategi dalam memecahkan masalah pengembangan pariwisata yang kompetitif dan berkelanjutan. Adapun hal-hal yang hendak diketahui dan dipahami dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Potensi alam dan budaya apa saja yang sudah dikembangkan dan akan dikembangkan di Rote-Ndao?, (2) Bagaimana partisipasi masyarakat dalam pengembangan pariwisata?, (3) Bagaimana problematika pengembangan pariwisata di daerah tujuan wisata?, dan (4) Bagaimana strategi pengembangan pariwisata yang tepat bagi daerah tujuan wisata dilakukan? Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif, dan ditunjang metode kuantitatif, berparadigma fenomenologis dan interpretatif. Langkah-langkah yang ditempuh dalam konteks ini adalah sebagai berikut: (1) Data dikumpulkan dengan metode pengamatan dan wawancara mendalam, dan (2) Analisis data dilakukan secara interpretatif dengan pendekatan fenomenologis untuk memperoleh pengetahuan tentang gagasan-gagasan, pemikiran, dan keyakinan yang ada di balik aktivitas masyarakat setempat. Hal tersebut akan dipahami secara lebih mendalam dengan menggunakan pendekatan interpretatif. Berdasarkan hasil interpretasi ini maka hipotesis kerja yang diformulasikan untuk menggali informasi lebih mendalam sehingga diperoleh informasi yang memadai untuk mencapai tujuan penelitian. Selanjutnya, temuan dari hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menyusun model strategi pengembangan pariwisata yang kompetitif dan berkelanjutan berbasis masyarakat.
Lau Pahikung: Simbolisasi Identitas Perempuan di Sumba Timur A.A. Ayu Murniasih; Purwadi Soeriadiredja
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 4 No 2 (2020)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.628 KB) | DOI: 10.24843/SP.2020.v4.i02.p06

Abstract

Kajian ini bertujuan mencapai pemahaman tentang bagaimana masyarakat Umalulu, Sumba Timur memaknai lingkungan yang disimbolkan dalam kain tradisional yang mereka buat. Fokus kajian meliputi fungsi dan makna kain tradisional dalam kehidupan perempuan Umalulu di Sumba Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Pengumpulkan data dengan metode pengamatan, wawancara mendalam, dan studi kepustakaan. Metode analisis yang digunakan adalah analisis etnogafis. Temuan mengungkapkan bahwa ada beberapa prinsip yang secara tetap menunjukkan suatu keseluruhan yang terstruktur. Prinsip pertama, pengaturan komposisi yang membagi permukaan kain tenun menjadi tiga bidang, yaitu satu bidang pusat dan dua bidang akhir secara simetris (dyadic-triadic). Pada kain lau, secara umum bidang atas dan bidang bawah saling berlainan. Bidang tengah diwakili oleh garis jahitan pertemuan dua bidang. Prinsip kedua, prinsip bayangan dalam cermin (mirror image). Prinsip ketiga, penggunaan angka-angka yang paling disukai masyarakat dalam mengklasifikasikan sesuatu (2, 4, 8, dan 16). Tujuan utama dari pembuatan kain sebagai alat untuk menahan pengaruh dari sekitaran alam. Akan tetapi, ada fungsi lain yang penting artinya bagi kehidupan masyarakat Sumba, yaitu busana adat, tanda hubungan kekeluargaan, pembungkus jenazah dan bekal kubur, harta benda dan lambang status, alat tukar menukar, barang hadiah, bahan dekorasi dan perlengkapan rumah.
Lau Pahikung: Simbolisasi Identitas Perempuan di Sumba Timur A.A. Ayu Murniasih; Purwadi Soeriadiredja
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 4 No 2 (2020)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.628 KB) | DOI: 10.24843/SP.2020.v4.i02.p06

Abstract

Kajian ini bertujuan mencapai pemahaman tentang bagaimana masyarakat Umalulu, Sumba Timur memaknai lingkungan yang disimbolkan dalam kain tradisional yang mereka buat. Fokus kajian meliputi fungsi dan makna kain tradisional dalam kehidupan perempuan Umalulu di Sumba Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Pengumpulkan data dengan metode pengamatan, wawancara mendalam, dan studi kepustakaan. Metode analisis yang digunakan adalah analisis etnogafis. Temuan mengungkapkan bahwa ada beberapa prinsip yang secara tetap menunjukkan suatu keseluruhan yang terstruktur. Prinsip pertama, pengaturan komposisi yang membagi permukaan kain tenun menjadi tiga bidang, yaitu satu bidang pusat dan dua bidang akhir secara simetris (dyadic-triadic). Pada kain lau, secara umum bidang atas dan bidang bawah saling berlainan. Bidang tengah diwakili oleh garis jahitan pertemuan dua bidang. Prinsip kedua, prinsip bayangan dalam cermin (mirror image). Prinsip ketiga, penggunaan angka-angka yang paling disukai masyarakat dalam mengklasifikasikan sesuatu (2, 4, 8, dan 16). Tujuan utama dari pembuatan kain sebagai alat untuk menahan pengaruh dari sekitaran alam. Akan tetapi, ada fungsi lain yang penting artinya bagi kehidupan masyarakat Sumba, yaitu busana adat, tanda hubungan kekeluargaan, pembungkus jenazah dan bekal kubur, harta benda dan lambang status, alat tukar menukar, barang hadiah, bahan dekorasi dan perlengkapan rumah.
Mandor sebagai “Petit Bourgeois” dalam Industri Konstruksi Purwadi Soeriadiredja
Sunari Penjor : Jurnal of Anthropology Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Department of Anthropology Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.527 KB) | DOI: 10.24843/SP.2017.v1.i01.p03

Abstract

Para pekerja di bidang jasa konstruksi merupakan bagian penting dalam proses industri konstruksi. Keberhasilan dari penyelesaian suatu konstruksi bangunan rumah sebenarnya tidak terlepas dari peran, fungsi dan kualitas para pekerja tersebut. Dalam lingkup kerja di bidang jasa konstruksi ini seorang mandor memegang peran utama yang merupakan faktor penentu dalam memberdayakan tenaga kerja. Peran mandor ini di Indonesia seringkali disebut sebagai sub-kontraktor tenaga kerja, dan dalam lingkup industri konstruksi itu sendiri terdapat taraf diferensiasi yang menyangkut keterampilan dan juga struktur usaha. Pengerjaan suatu bangunan tentunya menyangkut pula suatu proses kerja dari banyak orang yang terlibat dalam proses pembangunannya. Tinjauan dalam lingkup kegiatan kerja yang menyangkut suatu proses kerja pada bidang jasa konstruksi itulah yang akan dikaji dalam tulisan ini, khususnya bagaimana peran mandor yang terlibat dalam berbagai kegiatan yang lebih produktif pada sektor informal. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa peran mandor dalam bidang industri, khususnya industri konstruksi, mempunyai kedudukan penting. Merupakan posisi kunci yang menjadi perantara hubungan majikan dengan para buruh. Menjadi “middleman“, atau titik temu antara dua kepentingan yang berbeda tapi saling membutuhkan. Titik temu tersebut diperankan oleh mandor yang dalam hal ini dapat dikatakan bersifat ambivalen, karena bersifat dua muka yang justru mempertautkan dua sisi muka lainnya yang berbeda. Dapat dikatakan peran mandor mempunyai fungsi sosial yang merupakan sumber serta gagasan keseimbangan yang bersifat kompromistis.