Ni Made Mahastuti
Departemen Patologi Anatomik, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana Denpasar

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

KARAKTERISTIK KLINIKOPATOLOGI DAN MUTASI EGFR PADA PASIEN KARSINOMA PARU DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR TAHUN 2018-2019 Handoko, Jovi Carina; Dewi, I Gusti Ayu Sri Mahendra; Mahastuti, Ni Made; Sriwidyani, Ni Putu
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 2 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i02.P11

Abstract

Karsinoma paru merupakan salah satu jenis karsinoma dengan angka kejadian serta angka kematian cukup tinggi di Indonesia dengan persentase 8,6% dan mortalitas 12,6% dari seluruh kejadian kanker pada tahun 2018. Studi epidemiologi ini dilakukan untuk mempelajari karakteristik pasien kasus karsinoma paru di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar pada tahun 2018-2019. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain stufi potong lintang, serta menggunakan data sekunder dari hasil pemeriksaan sitopatologi dan mutasi EGFR pasien karsinoma paru yang terdapat di Laboratorium Patologi Anatomi Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah. Variabel yang diteliti adalah usia, jenis kelamin, lateralisasi, tipe sitopatologi, dan mutasi EGFR. Metode total sampling digunakan untuk memperoleh sampel sebanyak 98 sampel. Hasil yang didapatkan berupa kejadian karsinoma paru tertinggi pada rentang usia 50-59 tahun (29,6%), lebih banyak ditemukan pada laki-laki (56,1%), dengan lokasi tersering pada paru dekstra (69,4%). Tipe sitopatologi terbanyak adalah adenokarsinoma (89,8%). Karsinoma paru dengan mutasi EGFR dan tanpa mutasi EGFR ditemukan masing-masing sebanyak 50%. Mutasi EGFR paling sering terjadi pada tipe adenokarsinoma (44,9%). Sementara sisanya terjadi pada tipe karsinoma sel skuamus, adenoskuamus dan NSCLC unclassified yaitu masing-masing sebanyak 1%. Mutasi EGFR paling banyak terjadi pada ekson 19 (31,6%), diikuti oleh ekson 21 (11,2%), ekson 20 (4,1%) dan ekson 18 (3%). Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar penelitian dan dikembangkan lebih lanjut untuk membantu mempelajari perkembangan karsinoma paru khususnya di Bali. Kata kunci : Karsinoma Paru, Karakteristik Klinikopatologi, Mutasi EGFR
Parotid Gland Oncocytoma and Its Clinicopathological Approach: A Case Report Dewi, I Gusti Ayu Sri Mahendra; Sudarsa, I Wayan; Mahastuti, Ni Made; Patriawan, Putu; Paskarani, Putu Erika; Heryanto, Budi
Indonesian Journal of Cancer Vol 19, No 1 (2025): March
Publisher : http://dharmais.co.id/

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33371/ijoc.v19i1.1233

Abstract

Introduction: Oncocytoma is a benign tumor of the salivary glands consisting of oncocyte cells, occurring in approximately 2% of all salivary gland neoplasms, most of which occur in the parotid gland. This tumour most commonly occurs in the sixth to eighth decades of life, with a mean age of 64 years and without gender predilection. The clinical presentation is often misdiagnosed as pleomorphic adenoma, cystic lesion, and inflammation.Case Presentation: A 63-year-old male, complained of a lump under the right ear, for 7 years ago. It feels painless and slightly enlarged since a month before surgery. Based on clinical examination suspected as benign cystic lesion due to inflammation and ultrasound suggesting a benign tumour mass with multiple lymphadenopathies at the right and left submandibular and right parotid. Then, the resected tumour continued for histopathological examination. Microscopically, the tumor cells are confined to the tissue. It consists of a uniform large polygonal cell with granular eosinophilic cytoplasm without any mitosis and necrotic area.Conclusions: Oncocytoma is a rare benign tumor of the salivary glands, especially affecting the parotid gland. Clinical and radiologically it is often misdiagnosed, so histopathological examination is needed for diagnostic confirmation for the best patient outcomes
Ekspresi Matriks Metalloproteinase-9 Lebih Tinggi pada Adeno-karsinoma Asinar Prostat Derajat Tinggi Dibandingkan dengan Derajat Rendah Mahastuti, Ni Made; Susraini, AAAN; Saputra, Herman
Majalah Patologi Indonesia Volume 26 No. 1, Januari 2017
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang Agresivitas adenokarsinoma asinar prostat antara lain ditentukan oleh peningkatan derajat diferensiasi yang dinilai berdasarkan skor Gleason. Peningkatan agresivitas ini diiringi oleh peningkatan kemampuan invasi dan metastasis yang merupakan salah satu penyebab kematian karena kanker.Matriks metalloproteinase-9 merupakan salah satu enzim proteolitik yang terlibat pada proses invasi dan metastasis karsinoma prostat. Beberapa penelitian yang menghubungkan MMP-9 dengan agresivitas karsinoma prostat tampaknya masih menunjukkan ketidaksesuaian hasil. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan bahwa ekspresi matriks metalloproteinase-9 lebih tinggi pada adenokarsinoma asinar prostat derajat tinggi dibandingkan dengan derajat rendah. Metode Penelitian ini menggunakan metode analitik potong lintang. Sampel penelitian ialah 18 sediaan blok parafin dari penderita adenokarsinoma asinar prostat derajat tinggi dan 18 derajat rendah yang diperiksa secara histopatologi di Bagian/SMF Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah dan Laboratorium RS Prima Medika Denpasar sejak tanggal 1 Januari 2012 sampai dengan 31 Desember 2014. Dilakukan pulasan imunohistokimia MMP-9 pada semua sampel. Hasil penelitian dianalisis dengan uji Mann-Whitney. Hasil Ekspresi MMP-9 pada kelompok derajat tinggi lebih tinggi dibandingkan derajat rendah (p=0,001). Jumlah kasus adenokarsinoma asinar prostat terbanyak berada pada kelompok umur 60-69 tahun (55,55%). Kesimpulan Pemeriksaan ekspresi MMP-9 penting dilakukan untuk menentukan tingkat agresivitas tumor yang berdasarkan pada derajat diferensasi tumor sehingga dapat direncanakan terapi yang lebih efektif Kata kunci: adenokarsinoma asinar prostat, derajat rendah, derajat tinggi, ekspresi MMP-9.
H3K27me3 Expression has Association with Histological Grade of Meningioma Elisa Laura Oktrinita Sitohang; Ni Putu Sriwidyani; Ni Made Mahastuti; Putu Erika Paskarani; I Made Gotra; I Made Muliarta
Majalah Patologi Indonesia Vol. 35 No. 2 (2026): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55816/mpi.v35i2.671

Abstract

Background Meningioma is the most common primary central nervous system tumor. It has various histological patterns, locations, and grades, and posing challenges in therapy and prognosis. It has a complex tumorigenesis and H3K27me3 epigenetic changes is one of the factors that play a role in meningioma tumorigenesis. This study aims to determine the correlation of H3K27me3 expression with clinicopathological factors in meningioma. Method This study was an analytical observational study with a cross-sectional study involving 73 cases of meningioma at Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah Hospital Denpasar, consisting 36 grade 1 cases, 31 grade 2 cases, and 6 grade 3 cases. H3K27me3 expression was evaluated by immunohistochemical staining and its expression was classified into retain and loss. A chi-square test was done to analyze the relationship between H3K27me3 expression with age, gender, location, and histological grade of meningioma. Significance was determined at p<0.05. Result In this study, 5 cases (6.8%) showed H3K27me3 loss and were found in 9.7% of grade 2 cases and 33.3% grade 3 cases. Bivariate analysis showed a significant relationship between grade and H3K27me3 expression (p=0.018). There was no significant association between H3K27me3 expression and age, gender, and location. Conclusion The expression of H3K27me3 is associated with the grade of meningioma. It provides additional prognostic information in conjunction with other clinicopathological parameters.