Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal Pijar MIPA

FERMENTASI GLUKOSA HASIL HIDROLISIS BUAH KUMBI UNTUK BAHAN BAKU BIOETANOL Sri Seno Handayani; Surya Hadi; Haryanti Patmala
Jurnal Pijar Mipa Vol. 11 No. 1 (2016): Maret
Publisher : Department of Mathematics and Science Education, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.299 KB) | DOI: 10.29303/jpm.v11i1.5

Abstract

Abstrak. Kumbi atau Voacanga foetida (blume) rolfe merupakan tumbuhan dari family Apocynaceae. Pulau Lombok merupakan daerah utama tempat tumbuhnya ‘Kumbi’ ini. Kumbi memiliki kandungan selulosa yang cukup tinggi. Selulosa merupakan salah satu bahan baku dalam pembuatan bioetanol. Sebelumnya telah dilakukan penelitian mengenai pembuatan bioetanol dari buah Kumbi (Voacanga foetida (blume) rolfe) ini dengan kadar 14% dan % rendemen sebesar 14,793%. Hasil yang didapatkan ini sudah cukup tinggi namun belum memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai bahan baku campuran pada bahan bakar. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh suhu fermentasi terhadap rendemen bioetanol dari buah kumbi menggunakan Saccharomyces cerevisiae dan Rhyzopus oryzae. Metode yang digunakan adalah hidrolisis dengan HCl dan fermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae dan Rhyzopus oryzae. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, bioetanol dari buah kumbi dapat diproduksi melalui proses hidrolisis dan fermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae dan Rhyzopus oryzae dengan variasi suhu fermentasi 28°C, 30°C, 32°C, 34°C, 36°C, 38°C dan 40°C, dan destilasi pada suhu 78 oC, menghasilkan rendemen bioetanol kasar pada suhu optimum 36 °C sebesar 66,02% (w/w) menggunakan Saccharomyces cerevisiae sedangkan dengan rasio yang sama menggunakan Rhyzopus oryzae suhu optimum dicapai pada 32°C, menghasilkan rendemen bioetanol kasar sebesar 88,14% (w/w). Kata kunci: Bioetanol, Buah Kumbi, Hidrolisis, Fermentasi      Abstract.    Kumbi or Voacanga foetida (blume) Rolfe is a plant of the family Apocynaceae.  Lombok Island is the main area where the growth of Kumbi. Kumbi has a high cellulose content. Cellulose is a raw material in the manufacture of bioethanol. Research for bioethanol production from fruit Kumbi (Voacanga foetida (blume) Rolfe) generates yield of 14.793%. These results are not yet eligible to be used as raw material in the fuel mixture. This study aims to determine the effect of temperature on the yield of bioethanol fermentation of fruit Kumbi using Saccharomyces cerevisiae and Rhyzopus oryzae. The method used is by HCl hydrolysis and fermentation with Saccharomyces cerevisiae and Rhyzopus oryzae. The results showed that ethanol from Kumbi fruit can be produced by the hydrolysis and fermentation using Saccharomyces cerevisiae and Rhyzopus oryzae. Fermentation temperature variation used was 28 °C, 30 °C, 32 °C, 34 °C, 36 °C, 38 °C, 40 °C and distilled at a temperature of 78 C. The yield of bioethanol 66.02% (w/w ) obtained using Saccharomyces cerevisiae at a temperature of 36 °C while the same ratio used Rhyzopus oryzae produce bioethanol yield of 88.14% (w / w) at a temperature of 32 oC.Keywords: Bioethanol, Fruit Kumbi, hydrolysis, fermentation
MERCURY ANALYSIS AND CONCENTRATION IN SEAWATER OF SOUTHERN SUMBAWA Surya Hadi
Jurnal Pijar Mipa Vol. 4 No. 2 (2009): September
Publisher : Department of Mathematics and Science Education, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.09 KB) | DOI: 10.29303/jpm.v4i2.185

Abstract

Abstract. Current concerns over the negative impacts of Hg in the environment have led to the rapid progress of studies in this area. This progress has been directed to obtain analysis techniques that are able to accurately quantify Mercury (Hg) at extremely low concentration in which it frequently occurs. As part of a study on the environmental aspects of deep-sea submarine tailing placement at the Batu Hijau Mine, Sumbawa, this paper discusses recent progress in Hg analytical techniques, followed by the application of several techniques to investigate Hg concentration in seawater in the vicinity of the tailing discharge location. Using cold vapour atomic fluorescence spectrometry, dissolved Hg was found to be at sub-ng/l (ppt) levels. No dissolved Hg signal associated with the tailing discharge was found with concentrations being similar to adjacent coastal waters. Key words: tailing, STP system, Hg, analysis, and marine water
PENGOLAHAN MANDIRI LIMBAH ORGANIK RUMAH TANGGA UNTUK MENDUKUNG PERTANIAN ORGANIK LAHAN SEMPIT Saprini Hamdiani; Nurul Ismillayli; Siti Raudhatul Kamali; Surya Hadi
Jurnal Pijar Mipa Vol. 13 No. 2 (2018): September
Publisher : Department of Mathematics and Science Education, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1817.6 KB) | DOI: 10.29303/jpm.v13i2.793

Abstract

Desa Lembuak adalah salah satu desa di Kecamatan Narmada. Desa ini, terdiri dari 8 dusun dengan jumlah penduduk 5209 jiwa dan luas 118 ha/m2. Lebih dari 70% penduduk terkonsentrasi dalam 3 dusun yaitu Lembuak Timur, Lembuak Barat dan Lembuak Kebon (Profil Desa Lembuak, 2016). Hal ini menjadikan ketiga dusun tersebut terbentuk menjadi perkampungan yang sangat padat. Permasalahan utama di 3 dusun terpadat adalah sampah yang mencemari lingkungan. Limbah-limbah organik rumah tangga memenuhi selokan saluran air, menimbulkan bau dan menjadi sarang penyakit. Limbah ini dapat diolah dengan proses fermentasi dengan EM4 menjadi pupuk organik. Pupuk organik yang dihasilkan dapat dijadikan sebagai media tanam untuk pengembangan pertanian organik lahan sempit di Desa Lembuak Kecamatan Narmada. Melalui pengabdian ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan dan kesehatan keluarga melalui pengolahan limbah organik dan aplikasi hasil pada pengembangan berbagai tanaman sayuran di pekarangan.