Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : jurnal integrasi proses

PENURUNAN KADAR BOD, COD, DAN TSS DALAM LIMBAH CAIR TAHU DENGAN METODE AERASI DAN OZONASI Adinda Putri Cahyani; Dwi Ayu Febrianti; Suprihatin Suprihatin
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v13i2.28788

Abstract

Limbah cair industri tahu biasanya belum diolah secara optimal, sehingga mengandung kadar bahan pencemar yang tinggi. Berdasarkan hasil analisa diketahui limbah cair tahu di daerah Candi, Sidoarjo memiliki kadar COD sebesar 7704mg/L, BOD 4726mg/L, dan TSS 94mg/L. Limbah dengan bahan pencemar yang tinggi tidak dapat dibuang secara langsung ke lingkungan sehingga membutuhkan suatu pengolahan. Metode pengolahan yang dapat digunakan untuk mengurangi kadar pencemar yaitu metode aerasi dan ozonasi. Proses pengolahan limbah dengan metode aerasi dan ozonasi yaitu limbah cair tahu dilakukan proses pengenceran sebanyak 10 kali, kemudian dilakukan proses aerasi selama 6 jam dengan laju alir 6 L/menit. Hasil dari proses aerasi akan dilakukan penyesuaian pH dengan menambahkan larutan NaOH 1 M dengan variasi pH 6; 7; 8; 9; dan 10, setelah itu dilakukan proses ozonasi dengan laju alir ozon 400 mg/jam dan waktu kontak selama 60; 80; 100; 120; 140 menit. Hasil analisa BOD, COD, dan TSS pada limbah cair tahu yang telah dilakukan proses aerasi dan ozonasi menunjukkan hasil penurunan kadar tertinggi yaitu pada pH 10 dengan waktu kontak selama 140 menit yang menghasilkan kadar COD 662mg/L, BOD 241mg/L dan TSS 36mg/L.
PENGEMBANGAN BIODEGRADABLE FILM BERBASIS CAMPURAN PATI BIJI NANGKA DAN ALPUKAT DENGAN PENAMBAHAN PLASTICIZER SORBITOL Ramjani, Muhammad Rifki; Labib, Ahmad Nauval; Siswati, Nana Dyah; Suprihatin, Suprihatin
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v14i1.31952

Abstract

Biji nangka dan alpukat dianggap sebagai limbah, padahal biji tersebut mengandung kadar karbohidrat dan pati yang tinggi, yaitu sekitar 56 gram per 100 gram biji nangka dan sekitar 80% dari kadar biji alpukat. Kedua biji ini dapat digunakan sebagai jaringan pembentuk polimer dalam pembuatan biodegradable film. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan biodegradable film terbaik yang meliputi parameter kuat tarik, persen elongasi, ketebalan, dan persen biodegradasi yang mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Japanese Industrial Standards (JIS). Penelitian ini menggunakan rasio massa pati biji nangka dan biji alpukat sebesar 10:0, 7:3, 5:5, 3:7, dan 0:10 gram, dengan penambahan sorbitol sebesar 10, 11, 12, 13, dan 14 mL. Proses diawali dengan penepungan biji nangka dan alpukat, lalu dilanjutkan dengan pembuatan larutan biofilm yang kemudian dicetak dan dikeringkan. Hasil biofilm dianalisis menggunakan metode ASTM D638. Kondisi terbaik berdasarkan parameter kuat tarik, nilai elongasi, ketebalan, dan biodegradasi terdapat pada rasio pati biji nangka dan alpukat 10:0 gram dan penambahan sorbitol 14 mL yang menghasilkan nilai kuat tarik sebesar 36,45 MPa, persen elongasi sebesar 88,1%, ketebalan 0,15 mm, dan persen biodegradasi 86%.
KINETICS STUDY OF AMMONIUM SULFATE FORMATION FROM BLEACHING EARTH INDUSTRIAL WASTEWATER USING AMMONIUM HYDROXIDE Yusup Fatkhul Mu’is; Andi Safira Larasati Syamhari; Caecilia Pujiastuti; Silvana Dwi Nurherdiana; Suprihatin Suprihatin
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 15, No 1 (2026)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v15i1.39320

Abstract

The increasing generation of sulfuric acid-rich liquid waste from bleaching earth activation poses significant environmental concerns due to its high acidity and potential ecological impact. This study presents a kinetic analysis of ammonium sulfate formation from bleaching earth waste, which has not been widely reported, particularly regarding the determination of reaction orders and activation energy. The reaction was carried out by neutralization with ammonium hydroxide, with no variation in reactant concentration. Experiments were conducted by varying the reaction time (5–25 minutes) and temperature (30–70 °C) to evaluate their effects on the reaction rate. Kinetic analysis was performed by testing zero-, first-, and second-order models using linear regression in Microsoft Excel. The results indicate that the first-order model best represents the experimental data, with R² values ranging from 0.97 to 0.99. The Arrhenius plot of ln k versus 1/T showed a linear relationship with R² = 0.9826, yielding an activation energy (Ea) of 10.611 kJ/mol. The rate constant (k) increased with temperature, confirming the temperature dependence of the reaction. The maximum sulfuric acid conversion achieved was 94.54% at 70 °C and 25 minutes. These findings demonstrate that the developed kinetic model provides a reliable basis for reactor design and process scale-up. The results highlight the potential of converting sulfuric acid waste into value-added ammonium sulfate, contributing to sustainable and economically viable waste management practices.
EFEKTIVITAS EDIBLE COATING BERBASIS PATI BIJI DURIAN (DURIO ZIBETHINUS) DAN KITOSAN UNTUK MEMPERPANJANG DAYA SIMPAN BUAH ANGGUR, STROBERI, DAN JAMBU AIR Ahmad Naufal Setya Fath Hajar; Desrika Nadzifa Ariyanto; Nurul Widji Triana; Susilowati Susilowati; Suprihatin Suprihatin
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 15, No 1 (2026)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v15i1.39365

Abstract

Rendahnya daya simpan buah lokal yang menyebabkan tingginya kerusakan pascapanen sehingga diperlukan upaya untuk mempertahankan kualitas buah. Pati biji durian yang memiliki kandungan pati sebesar 76,65% berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan dasar edible coating. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edible coating berbasis pati biji durian, kitosan, dan gliserol terhadap daya simpan buah. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan variasi berat kitosan (0,5–2,5 g) dan pati biji durian (1–5 g), sedangkan gliserol digunakan sebanyak 5 mL pada semua formulasi. Larutan edible coating diaplikasikan pada buah anggur, stroberi, dan jambu air yang disimpan pada suhu ruang. Parameter yang dianalisis meliputi viskositas, pH, susut bobot buah, serta gugus fungsi menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa edible coating mampu menekan susut bobot buah selama penyimpanan. Pada buah anggur diperoleh susut bobot sebesar 25,443% dengan masa simpan 17 hari, sedangkan pada buah stroberi dan jambu air diperoleh susut bobot terendah masing-masing sebesar 21,154% dan 9,718% dengan masa simpan hingga 2 hari. Edible coating yang dihasilkan memiliki viskositas sekitar 2,7382–182,6809 cP dan pH 3–4. Analisis FTIR menunjukkan adanya gugus fungsi O-H, N-H, dan C=O yang mengindikasikan adanya interaksi antara pati, kitosan, dan gliserol. Penerapan edible coating mampu menghambat perpindahan uap air dan menekan laju respirasi sehingga susut bobot lebih rendah dan daya simpan menjadi lebih lama. Dengan demikian, edible coating berbasis pati biji durian berpotensi digunakan sebagai pelapis pascapanen guna mempertahankan kualitas dan masa simpan buah.