Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Synthesis of TiO2 Nanofiber-Nanoparticle Composite Catalyst and Its Photocatalytic Decolorization Performance of Reactive Black 5 Dye from Aqueous Solution Suprihanto Notodarmojo; Doni Sugiyana; Marisa Handajani; Edwan Kardena; Amanda Larasati
Journal of Engineering and Technological Sciences Vol. 49 No. 3 (2017)
Publisher : Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.eng.technol.sci.2017.49.3.4

Abstract

In this study, synthesis of TiO2 nanofiber-nanoparticle composite photocatalyst was carried out and its photocatalytic decolorization performance was investigated. TiO2 nanofibers were developed by electrospinning. The TiO2 nanoparticle films were prepared by dipping the glass substrates into a sol solution made by sol-gel method. The TiO2 nanofiber-nanoparticle composite was immobilized on glass plates and annealed at 500 °C. The effects of pH and catalyst loading were studied during a photocatalytic decolorization experiment using simulated dyeing wastewater containing Reactive Black 5 (RB5). The photocatalytic decolorization performance with 60 min of UV-irradiation time using the TiO2 nanofiber-nanoparticle composite was found to be higher (94.4%) than that of the TiO2 nanofibers (75.5%) and the TiO2 nanoparticle catalyst (74.1%). An alkaline condition and high catalyst loading were found to be preferable to achieve optimum photocatalytic decolorization of Reactive Black 5 (RB5). The TiO2 nanofiber-nanoparticle composite could be recovered after reusing multiple times through re-annealing at a high temperature. TiO2 nanofibers based on a composite catalyst that is strongly immobilized on glass plates enlarges the prospect of the photocatalytic method as a compact, practical and effective advanced treatment process for effluents from textile wastewater.
TANAH PENUTUP LANDFILLMENGGUNAKAN SAMPAH LAMA SEBAGAI MEDIA OKSIDASI METANA UNTUK MENGURANGI EMISI GAS METANA Opy Kurniasari; Enri Damanhuri; Tri Padmi; Edwan Kardena
Bumi Lestari Journal of Environment Vol 14 No 1 (2014)
Publisher : Environmental Research Center (PPLH) of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metana adalah gas alam yang dilepaskan ke atmosfir oleh proses biologi yang terjadi pada lingkungan anaerobik melalui proses metanogenesis. Metana mempunyai kekuatan  21 kali lebih besar terhadap kenaikan suhu dibandingkan COdalam periode waktu 100 tahun.Landfill adalah sumber kegiatan manusia terbesar yang menghasilkan metana. Salah satu cara yang sederhana dan murah untuk mengurangi gas metana dari landfill yang lepas ke alam  adalah dengan mengoksidasi metana dengan memanfaatkan tanah penutup landfill sebagai media mikroorganisma pengoksidasi metana, sehingga dapat mengurangi kontribusi metana pada pemanasan global. Tujuan penelitian yaitu untuk mengidentifikasi empat jenis sampah lama (kompos landfill mining)dari beberapa TPA di Kota dan Kabupaten Bandung sebagai alternatif untuk tanah penutup landfill yang dapat mendukung oksidasi metana.Sampel yang akandiidentifikasi  adalah sampah lama dari 4 (empat) TPA (Tempat Pemrosesan Akhir Sampah) yaitu TPA Jelekong, TPA Pasir Impun , TPA Leuwi Gajah  dan TPA Sarimukti. Hasil identifikasimenunjukkan bahwa sampah lama dari keempat TPA mempunyai karakteristik untuk dapat menjadi alternatif  tanah penutup landfill sebagai media yang mendukung oksidasi metana dan sampah lama dari TPA Jelekong mempunyai potensi oksidasi yang lebih besar dibandingkan  dari TPA lainnya
PERFORMA OKSIDASI METAN PADA REAKTOR KONTINYU DENGAN PENINGKATAN KETEBALAN LAPISAN BIOCOVER LANDFILL Opy Kurniasari; Tri Padmi; Edwan Kardena; Enri Damanhuri
Reaktor Volume 14, No. 3, APRIL 2013
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.05 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.14.3.179-186

Abstract

PERFORMANCE OF METHANE OXIDATION IN CONTINUOUS REACTOR BY BIOCOVER LANDFILL FILM THICKNESS IMPROVEMENT. Municipal solid waste (MSW) handling in Indonesia is currently highly dependent on landfilling at the final disposal facility (TPA), which generally operated in layer-by-layer basis, allowing the anaerobic (absent of oxygen) process. This condition will certainly generate biogas in the form of methane (CH4) and CO2. Methane is a greenhouse gas with a global warming potential greater than CO2, and can absorb infrared radiation 23 times more efficient than CO2 in the period of over 100 years. One way that can be done to reduce methane gas from landfills that escape into nature is to oxidize methane by utilizing landfill cover material (biocover) as methane-oxidizing microorganism media. Application of compost as landfill cover material is a low-cost approach to reduce emissions so are suitable for developing countries. The compost used in this study was compost landfill mining, which is degraded naturally in landfill. The purpose of this study was to evaluate the ability of biocover to oxidize the methane on a certain layer thickness with a continuous flow conditions. Three column reactors were used, which were made of flexy glass measuring 70 cm in high and 15 cm in diameter. The methane flowed from the bottom of the reactor continuously at a flow rate of 5 ml/minute. The columns were filled with biocover compost landfill mining with layer thickness of 5, 25, 35 and 60 cm. The results showed that the thicker layer of biocover, the higher the efficiency of methane oxidation. The oxidation efficiency obtained in each layer thickness of 15, 25, 35 and 60 cm was 56.43%, 63.69%, 74.58% and 80, 03% respectively, with the rate of oxidation of 0.29 mol m-2 d-1 and the fraction of oxidation of 99%. The oxidation result was supported by the identification of bacteria isolated in this experiment, namely metanotrophic bacteria that have the ability to oxidize methane through the form of methanol metabolite. ABSTRAKPenanganan sampah kota di Indonesia pada umumnya dilakukan pada tempat pemrosesan akhir sampah (TPA), yang sebagian besar dilakukan dengan cara pengurugan (landfilling) yang cenderung bersifat anaerob (tidak ada oksigen). Cara pengurugan ini biasanya dioperasikan lapis perlapis sehingga memungkinkan terjadinya proses anaerob. Pada kondisi ini dipastikan biogas, yaitu gas metana (CH4) dan CO2, akan muncul. Metana adalah gas rumah kaca dengan potensi pemanasan global lebih besar dari CO2, dan dapat mengabsorpsi radiasi infra merah 23 kali lebih efisien dari CO2 pada periode lebih dari 100 tahun. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi gas metana dari landfill yang lepas ke alam adalah dengan mengoksidasinya dengan memanfaatkan material penutup landfill (biocover) sebagai media mikroorganisma pengoksidasi metana. Aplikasi kompos sebagai material penutup landfill merupakan pendekatan dengan biaya rendah untuk mereduksi emisi gas dari landfill sehingga cocok untuk negara berkembang. Biocover yang digunakan pada penelitian ini adalah kompos landfill mining, yaitu kompos yang terdegradasi secara alami di landfill. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi kemampuan biocover kompos landfill mining dalam mengoksidasi metana pada ketebalan lapisan tertentu dengan kondisi aliran kontinyu. Tiga buah reaktor kolom yang digunakan terbuat dari flexy glass berukuran tinggi 70 cm dan diameter 15 cm. Gas metana dialirkan dari bawah reaktor secara kontinyu dengan laju alir 5 ml/menit. Kolom diisi dengan biocover kompos landfill mining dengan ketebalan lapisan 5, 25, 35 dan 60 cm. Hasil percobaan menunjukkan bahwa semakin tebal lapisan biocover, semakin tinggi efisiensi oksidasi metana. Efisiensi oksidasi yang diperoleh pada setiap ketebalan lapisan 15, 25, 35 dan 60 cm adalah masing-masing 56,43%, 63,69%, 74,58% dan 80,03%, dengan laju oksidasi 0,287 mol m-2 d-1 dan fraksi oksidasi 97%. Hasil oksidasi yang diperoleh tersebut diperkuat  dengan identifikasi bakteri yang berhasil diisolasi, yaitu bakteri metanotrofik yang memiliki kemampuan dalam mengoksidasi metana melalui metabolit antara berupa metanol.  
PENGARUH JENIS ANODA PADA PROSES PEMULIHAN LOGAM NIKEL DARI TIRUAN AIR LIMBAH ELECTROPLATING MENGGUNAKAN SEL ELEKTRODEPOSISI Djaenudin Dhaenudin; Mindriany Syafila; Edwan Kardena; Isdiriayani Nurdin
Reaktor Volume 14, No. 3, APRIL 2013
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.661 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.14.3.211-217

Abstract

EFFECT OF ANODES TYPES ON NICKEL RECOVERY FROM SYNTHETIC ELECTROPLATING WASTE ELECTRODEPOSITION CELLS. A study concerning the recovery of nickel from electroplating wastewater artificial solution. The study was conducted with a batch system using electrodeposition cell consisting of two spaces separated by water hyacinth leaf, copper cathode plate, H2SO4 solution anolyte, catholyte solution of NiSO4 plus NaCl supporting electrolyte and anode varied. Electrodeposition performed at the direct current of 5V power for 4 hours each run. The research objective was to obtain the best anode in nickel electrodeposition process of electroplating waste artificial solution. Graphite, stainless steel type AISI 316 and the lead were used as a variation of the anode. Concentration of nickel in the catholyte at baseline 2200 mg/L. The results showed that the anode was a graphite anode with best value decreased by 72.44% nickel concentration, deposition of nickel on the cathode of 0.188 grams and specific energy values ​​of 6.1625 kWh/kg.nickel.   Telah dilakukan penelitian tentang pemulihan logam nikel dari larutan tiruan air limbah electroplating. Penelitian dilakukan dengan sistem batch menggunakan sel elektrodeposisi yang terdiri dari dua ruang yang dipisahkan dengan daun eceng gondok, katoda pelat tembaga, anolit larutan H2SO4, katolit larutan NiSO4 ditambah elektrolit pendukung larutan NaCl dan anoda divariasikan. Elektrodeposisi dilakukan pada listrik searah sebesar 5V selama 4 jam setiap tempuhan. Tujuan penelitian adalah memperoleh anoda terbaik pada proses elektrodeposisi nikel dari larutan tiruan limbah electroplating. Grafit, Stainless Steel  tipe AISI 316 dan timbal digunakan sebagai variasi jenis anoda. Konsentrasi nikel dalam katolit pada awal penelitian 2200 mg/L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anoda grafit merupakan anoda yang paling baik dengan nilai penurunan konsentrasi nikel sebesar 72,44%, deposisi nikel di katoda sebesar 0,188 gram dan nilai energi spesifik sebesar 6,1625  kWh/kg.nikel.
Improving the Effectiveness of Crude-Oil Hydrocarbon Biodegradation Employing Azotobacter chroococcum as Co-Inoculant PUJAWATI SURYATMANA PARNADI; EDWAN KARDENA; ENNY RATNANINGSIH; . WISJNUPRAPTO
Microbiology Indonesia Vol. 1 No. 1 (2007): April 2007
Publisher : Indonesian Society for microbiology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.311 KB) | DOI: 10.5454/mi.1.1.2

Abstract

Azotobacter chroococcum has a great potential as biosurfactant producing bacteria and was used as co-inoculant to promote the rate of hydrocarbon biodegradation. The rate of hydrocarbon biodegradation were 0.01212, 0.01582, and 0.01766 per day for Acinetobacter sp., Bacillus cereus and the consorsium culture respectively. On the other hand, the rates of biodegradation using Azotobacter as co-inoculant were 0.1472, 0.01612, and 0.02709 g per day. Azotobacter chroococcum co-inoculant has the capability of increasing biodegradation efficiency of crude oilhydrocarbon. The biodegradation efficiency of petroleum hidrocarbon was increated by 13.4, 14.6, and 14.4% within the Petrobacter cultures.
PENGARUH PENAMBAHAN BIOSURFAKTAN SEBAGAI PRAPENGOLAHAN LUMPUR DALAM MENURUNKAN TPH MELALUI OIL RECOVERY PADA TEKNIK BIOREMEDIASI FASE SLURRY Merry Sianipar; Edwan Kardena
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 17 No. 1 (2011)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2011.17.1.3

Abstract

Abstrak: Limbah lumpur berminyak atau COCS adalah polutan yang harus mendapat perhatian dalam industri perminyakan karena jumlah dan kandungan hidrokarbonnya tinggi. Konsep oil recovery sebagai prapengolahan COCS didasarkan pada tingginya minyak yang terkandung dalamnya. Studi ini tidak hanya bertujuan mencegah pencemaran lingkungan tetapi juga bernilai ekonomi. Pada studi ini, dilakukan pengujian pengaruh biosurfaktan dalam menurunkan konsentrasi TPH pada COCS melalui oil recovery dan pengaruhnya pada degradasi mikroorganisme (petrea) pada bioremediasi Fase Slurry. Dosis pencampuran biosurfaktan meliputi rasio 1:1 dan 2:1 antara biosurfaktan dan COCS. Kecepatan pencampuran 32 rpm selama 18 jam dan didiamkan selama 24 jam. Hasil percobaan menunjukkan terbentuknya 3 fase setelah pencampuran yakni minyak (atas), air (tengah) dan solid (dasar). Sebesar 15 ml net oil berhasil diambil (rasio 1:1) dan 35 ml pada rasio 2:1. Penurunan TPH terjadi dari 20-22% menjadi 11,06-15,86% setelah penambahan biosurfaktan (rasio 1:1) dan turun kembali menjadi 7,5% (hari ke-32) setelah bioremediasi. Sedangkan penurunan TPH menjadi 11,73-14,94% pada rasio 2:1 dan turun kembali menjadi 5,6% (hari ke-9) setelah bioremediasi. Penurunan TPH yang signifikan selama bioremediasi kemungkinan disebabkan oleh biosurfaktan yang melarutkan hidrokarbon sehingga memudahkan bakteri mendegradasinya pada bioremediasi Fase Slurry. Konsentrasi logam berat yang rendah serta kondisi reaktor yang dikontrol pH (6-8) dan kelembabannya (30-80%) mendukung kerja bakteri. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa biosurfaktan sangat efektif sebagai prapengolahan lumpur untuk menurunkan TPH melalui oil recovery dan juga membantu petrea mendegradasi hidrokarbon.Kata kunci: Bioremediasi Fase Slurry, biosurfaktan, lumpur berminyak, oil recovery prapengolahan Abstract : Oily Sludge or COCS is a pollutant that should be concerned in the petroleum industry becaused a large amount and high contaminant content. The concept of oil recovery as a pretreatment of oily sludge is based on the high oil contain in COCS so it is not only aimed at the environmental pollution prevention but also economically. In this study, the focus are the influence of biosurfactant in reducing the TPH through oil recovery and its effects at the petrea in degrading hydrocarbon at Slurry Phase Bioremediation. The ratio between biosurfactant and COCS based on  1:1 and 2:1 ratio. The mixing speed was 32 rpm for 18 hours and stand for 24 hours. The experiment results shows the three separate phases after the addition of biosurfactant the oil (top), water (middle) and solid (bottom). For 15 ml of net oil successfully recovered  at 1:1 ratio and 35 ml at  2:1 ratio. TPH was deceased from 20-22% to 11.06-15,86% by biosurfactant and fell back to 7.5% (day 32 of the bioremediation process). In the 2:1 ratio, 11.73-15.49% TPH is achieved and fell back to 5.6% (day 9). The significantly TPH decreased during the bioremediation may be caused by the hydrocarbon dissolution of biosurfactant process so help the bacteria degradated the hydrocarbon. The low concentration of heavy metal and the controlling of pH (range 6-8) and moisture  (30-80%) were also supporting the work of bacteria. From this study, shown that biosurfactant is very effective as a pretreatment to decrease TPH through oil recovery and also help the petrea degradated the hydrocarbon Key words: Biosurfactant, oil recovery,  oily sludge, pretreatment, slurry phase bioremediation.
PENGARUH INTENSITAS CAHAYA TERHADAP PENYERAPAN GAS KARBONDIOKSIDA OLEH MIKROALGA TROPIS Ankistrodesmus sp. DALAM FOTOBIOREAKTOR Amalia Muchammad; Edwan Kardena; Astri Rinanti
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 19 No. 2 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.2.1

Abstract

Abstrak: Mekanisme CCS secara biologis didapat dengan menggunakan mikroalga. Ankistrodesmus sp. adalah mikroalga tropis terpilih yang merupakan hasil isolasi dari kolam fakultatif 2b IPAL Bojongsoang. Pada proses fotosintesis, mikroalga menggunakan bahan anorganik yakni CO2 sebagai bahan utamanya yang akan dirombak menjadi bahan organik dan menghasilkan energi. Intensitas cahaya merupakan faktor yang sangat penting dalam mekanisme fotosintesis. Dilakukan penelitian mengenai pengaruh cahaya untuk mengetahui efektifitas penyerapan CO2 yang ditandai dengan respon kultur. Dari penelitian awal diketahui bahwa fase pertumbuhan  Ankistrodesmus sp. memiliki waktu generasi 7.93 per jam, Laju pertumbuhan spesifik (µs) memiliki nilai sebesar 0.9913 sel/hari dan umur inokulum 3 hari. Pada percobaan selanjutnya diperoleh bahwa efisiensi penyerapan CO2 tertinggi terjadi pada konsentrasi 5% pada intensitas 4000 luks (23.38%). Penambahan 5% konsentrasi CO2 menunjukkan pertumbuhan sel yang tinggi bila dibandingkan dengan konsentrasi 2 dan 0 %. Nilai biomassa kering mengalami kenaikan masing-masing 32.3% pada 2% CO2 dan 21.67% pada CO2 5% setelah intensitas dinaikkan menjadi 4000 luks.Pada variasi 2% CO2 terjadi peningkatan kandungan klorofil sebesar 28.24% ketika intensitas cahaya dinaikkan menjadi 4000 lux 24/0. Sebaliknya pada variasi 0 dan 5 % CO2 kandunganklorofil mengalami penurunan. Intensitas cahaya  4000 luks dengan periodisasi 24/0 dapat menyebabkan CO2  terserap secara optimum.
ANALISIS HASIL ISOLASI BAKTERI LOKAL TERHADAP KEMAMPUANNYA MENDEGRADASI BERBAGAI JENIS MINYAK BUMI Himawan Ganjar P; Edwan Kardena
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 20 No. 1 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2014.20.1.10

Abstract

Abstrak: Salah satu yang kasus yang sering terjadi di Indonesia yang berkaitan dengan minyak bumi adalah terjadinya kontaminasi minyak ke tanah. Salah satu cara penanganannya adalah dengan pengolahan secara biologi dengan menggunakan bakteri. Sebelum dilakukan pengolahan, bakteri harus diuji terlebih dahulu untuk mengetahui kemampuannya dalam mendegradasi minyak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh isolat terbaik yang mampu mendegradasi beberapa jenis minyak bumi.  Penelitian ini menggunakan bakteri lokal yang terdapat pada tanah yang diindikasikan tercemar oleh oli. Penelitian diawali dengan mengisolasi bakteri yang berasal dari tanah tercemar oli ke media agar kaya nutrisi. Bakteri yang tumbuh dipilih beberapa untuk kemudian dimurnikan dan diuji pada media cair SBS (Standar Basal Salt) dengan tambahan berbagai jenis minyak yang akan diuji. Minyak yang akan diujikan berupa minyak tanah, solar, dan oli. Masing-masing minyak yang diujikan akan divariasikan dengan komposisi 0,1%, 0,2%, 0,3%, 0,4%, 0,5%, dan 0,6%. Uji degradasi minyak dilakukan selama 7 hari dengan rentang waktu 1 hari sekali. Hasilnya pertumbuhan diperoleh dua isolat yang memiliki kemampuan mendegradasi minyak yaitu isolat A-1 (Bacillus simplex) dan A-2 (Bacillus firmus). Uji pendegradasian bakteri terhadap minyak tanah, solar, dan oli dilakukan untuk mengetahui kinetika pertumbuhan bakteri. Hasil dari kinetika menunjukkan bahwa Bacillus simplex memiliki Ks = 4,26 g/L dan µmaks = 0,090/hari pada minyak tanah, Ks = 3,68 g/L dan µmaks = 1,240/hari pada solar, dan Ks = 2,06 g/L dan µmaks = 0,240/hari pada oli. Untuk Bacillus firmus Ks = 0,69 g/L dan µmaks = 0,056/hari pada minyak tanah, Ks = 8,00 g/L dan µmaks = 1,127/hari pada solar, dan Ks = 13,36 g/L dan µmaks = 0,543/hari pada oli. Dari hasil tersebut diketahui bahwa Bacillus simplex paling baik untuk mendegradasi minyak terutama pada jenis solar. Kata kunci: bakteri lokal, degradasi, isolat bakteri, minyak , Standard Basal Salt  Abstract : One of the cases that often occur in Indonesia which associated with petroleum is oil contaminated to soil. One of the methode to handling this is with biology process using the bacteria. Before do the process, bacteria must have tested before to know that ability for petroleum degradation. The purpose of this research is to get the best isolate for degrading some kind of petroleum. This reasearch is used local bacteria that obtained from soil indicated contaminated with oil. The research begin with isolation bacteria from contaminated soil with oil to rich nutrition agar. Bacteria were grown selected some for later purified and tested in liquid SBS medium with the addition of various types of oil to be tested. The oil will be tested in the form of kerosene, diesel, and oil. Each oil is tested to be varied with the composition of  0.1%, 0.2%, 0.3%, 0.4%, 0.5%, and 0.6%. Oil degradation test performed for 7 days with 1 day of observation time span once. The results are found two kind of isolates that have skill to degradation oil that isolates are isolate A-1 (Bacillus simplex) and A-2 (Bacillus firmus). Bacteria degaradation test of kerosene, diesel, and oil did to know kinetic growth bacteria. Result from kinetic growth show that Bacillus simplex had Ks = 4,26 g/L and µmaks = 0,090/day on kerosene, Ks = 3,68 g/L and µmaks = 1,240/day on diesel, and Ks = 2,06 g/L and µmaks = 0,240/day on oil. For Bacillus firmus Ks = 0,69 g/L and µmaks = 0,056/day on kerosene, Ks = 8,00 g/L and µmaks = 1,127/day on diesel, and Ks = 13,36 g/L and µmaks = 0,543/day on oil. From that result know Bacillus simplex is the best for petroleum degradation especially for diesel.Keywords : bacterial isolates, degradation, local bacteria, oil , Standard Basal Salt
PENYISIHAN PEWARNA TEKSTIL REAKTIF OLEH JAMUR PELAPUK PUTIH DAN EKSTRAK KASAR ENZIM LAKASE YANG DIPRODUKSI PADA SUBMERGED FERMENTATION FORM Edwan Kardena; Intan Lestari Dewi
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 25 No. 2 (2019)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2019.25.2.1

Abstract

Abstrak: Pengolahan air limbah tekstil yang mengandung antrakuinon dan pewarna azo merupakan tantangan besar karena struktur aromatik dan toksisitasnya yang kompleks. Penelitian ini mempelajari penyisihan pewarna antrakuinon reactive blue 4 (RB4), single azo reactive orange 16 (RO16), dan diazo reactive red 120 (RR120) juga reactive black 5 (RB5) dengan konsentrasi awal 150 mg/L dalam medium padat (PDA) dan submerged fermentation form (SFF) menggunakan berbagai jamur pelapuk putih (JPP). T. versicolor memiliki aktivitas enzim dominan terbaik (lakase) di antara JPP lain (186 U.l-1). Studi penyisihan warna diamati pada kondisi SFF dan hanya menggunakan ekstrak kasar enzim lakase. Untuk kultur cairan jamur menggunakan medium kirk, T. versicolor secara positif dapat menyisihkan pewarna tekstil reaktif. Diantara empat pewarna yang digunakan, RB4 memiliki persentase penyisihan warna tertinggi (99,99%), dibandingkan dengan RB5 (98,03%), RR120 (90,56%) dan RO16 (63,52%). Uji stabilitas pH dan suhu menunjukkan bahwa ekstrak kasar enzim lakase memiliki aktivitas terbaik dalam kisaran pH 2,4 dan suhu 20 0C. Persentase penyisihan warna terbaik menggunakan ekstrak kasar enzim lakase adalah RB4 yaitu 99,84% dengan waktu inkubasi selama 60 menit. Metabolit yang terbentuk setelah biotransformasi oleh ekstrak kasar enzim lakase diamati menggunakan FTIR. Hasil spektra FTIR menunjukkan bahwa struktur antrakuinon, ikatan nitrogen, dan gugus amina RB4 dapat dipecah oleh ekstrak kasar enzim lakase. Studi toksisitas menggunakan Bacillus sp. menegaskan bahwa produk biotransformasi RB4 berkurang toksisitasnya dibandingkan dengan pewarna induk sebelum dilakukan pengolahan. Kata kunci: Azo, Antrakuinon, Jamur pelapuk putih, Lakase Abstract: Treatment of textile wastewater containing anthraquinone and azo dye is quite a huge challenge due to its complex aromatic structure and toxicity. This study investigated the decolorization of anthraquinone dye reactive blue 4 (RB4), Single azo reactive orange 16 (RO16), and diazo reactive red 120 (RR120) also reactive black 5 (RB5) with initial concentration of 150 mg/l in solid medium (PDA) and Submerged fermentation form (SFF) by various white rot fungi (WRF). T. versicolor has the best dominant enzyme activity (laccase) among others WRF (186 U.l-1). Decolorization study was observed in both SFF condition and using only crude enzyme. For SFF using kirk medium T. versicolor positively degrading reactive textile dyes. Among four different dyes, RB4 has the highest decolorization percentage (99.99%), compared to RB5 (98.03 %), RR120 (90.56 %) and RO16 (63.52 %). pH and thermo stability test show that laccase crude enzyme has the best activity in pH range 2.4 and temperature of 20 0C. The best decolouration percentage using crude enzyme is RB4 as obtained 99.84% in 60 min. The metabolites formed after biotransformation was characterized by FT-IR. The results of FTIR spectra showed that the anthraquinone structures, nitrogen linkages and amino groups of RB4 were destroyed by laccase crude enzyme. Toxicity study using Bacillus sp. confirmed that biotransformation product of RB4 is less toxic compared to parent dye.   Keywords: Azo, Anthraquinone, Laccase, White rot fungi
IMOBILISASI KULTUR CAMPURAN MIKROBA DAN KARAKTERISTIK AKTIFITASNYA DALAM MENURUNKAN ORGANIK DAN AMONIAK PADA LIMBAH CAIR DOMESTIK Edwan Kardena; Himawan G Prabowo; Qomarudin Helmy
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 26 No. 1 (2020)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2020.26.1.5

Abstract

Abstrak. Air limbah domestik yang mengandung senyawa organik dapat berpotensi mencemari lingkungan dan menyebabkan eutrofikasi bila tidak diolah. Salah satu upaya untuk mengurangi kandungan organik dari air limbah adalah dengan menggunakan IPAL yang memanfaatkan proses biologi. Proses biologi dinilai baik karena kandungan organik dari air limbah dapat berguna untuk pertumbuhan mikroba, operasionalnya murah, dan tidak menghasilkan produk sampingan yang berbahaya. Teknologi pengolahan air limbah secara konvensional umunya menggunakan prinsip pertumbuhan mikroba tersuspensi, adapun perkembangan teknologi pengolahan dewasa ini mengarah pada prinsip pertumbuhan mikroba terlekat, termasuk diantaranya adalah teknologi imobilisasi mikroba. Penggunaan mikroba terimobilisasi ini dinilai memiliki kelebihan yaitu konsentrasi selnya yang tinggi dan mampu berinteraksi dengan lingkungan ekstrim. Pada penelitian ini dibuat imobilisasi mikroba dengan tujuan untuk menurunkan kadar organik dari air limbah domestik, dengan 3 macam variasi penggunaan mikroba terimobilisasi sebanyak 3 g, 6 g, dan 9 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reaktor dengan mikroba sebanyak 3 g, 6 g, dan 9 g mampu menurunkan kandungan organik COD dengan efisiensi sebesar 81,3%, 87,5%, dan 87,5%; BOD sebesar 83,96%, 93,75%, dan 93,34%; dan amonia sebesar 71,14%, 75,31%, dan 78,29%. Mikroba campuran yang terjerat dalam matriks alginate serta lama penyimpanan matriks tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah dan viabilitas sel mikroba. Kata kunci: alginat, imobilisasi, kultur campuran, limbah domestic, senyawa organik  Abstract. Domestic wastewater that contains organic compounds can potentially pollute the environment and cause eutrophication if not treated. One effort to reduce the organic content of wastewater is to use WWTP which utilizes biological processes. Biological processes are considered good because the organic content of wastewater can be useful for microbial growth, is inexpensive and does not produce harmful byproducts. Conventional wastewater treatment technology generally uses the principle of suspended microbial growth, while the development of treatment technology today leads to the principle of embedded microbial growth, including microbial immobilization technology. The use of immobilized microbes is considered to have advantages, namely high cell concentration and being able to interact with extreme environments. In this study microbial immobilisation was made with the aim of reducing organic content from domestic wastewater, with 3 variations of the use of immobilized microbes of 3 g, 6 g, and 9 g. The results showed that reactors with microbes of 3 g, 6 g and 9 g were able to reduce the organic content of COD with efficiencies of 81.3%, 87.5%, and 87.5%; BOD of 83.96%, 93.75% and 93.34%; and ammonia at 71.14%, 75.31% and 78.29%. Mixed microbes that are trapped in the alginate matrix and the length of storage of the matrix have no significant effect on the number and viability of microbial cells. Keywords: Alginate, domestic wastewater, immobilization, mixed culture, organic compound