Ibnu Pratikto
Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Small Islands Landscape Use Mapping and Its Patches Spatial Structure Analysis at Parang Islands, Karimunjawa National Park, Indonesia Muhammad Helmi; Nurfatin Adibah; Rikha Widiaratih; Hariyadi Hariyadi; Ibnu Pratikto
Indonesian Journal of Oceanography Vol 2, No 1 (2020): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.614 KB) | DOI: 10.14710/ijoce.v2i1.7300

Abstract

The results of small islands landscape ecology analyses within remote sensing science are not widely discovered on the inferential capabilities of such research. This issue presents a series of papers on the use of landscape ecology techniques to explore the landscape use and its patches spatial structure patterns. The aim of this research are to map the landscape use patches based on GeoeEye-1 high resolution satellite image and to assess its patches spatial structure. This prototype research was conducted at Parang Islands, Karimunjawa National Park that was inhabitant and used for complex anthropogenic activities long time before the national park status establish. Significant accuracy for landscape use map has done using overall accuracy, producer and user accuracy, and Kappa index methods. The analyses focus on the variation and composition of landscape use and the value of its patch spatial structure to dealing with national park policy and management.  
Simpanan Karbon Pada Tegakan Vegetasi Mangrove di Desa Pasar Banggi Rembang Nur Rahmat; Ibnu Pratikto; Chrisna Adi Suryono
Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i3.35172

Abstract

Vegetasi mangrove mempunyai kemampuan menyerap dan menyimpan gas karbon yang terdapat di atmosfer. Informasi mengenai kandungan karbon pada tegakan mangrove dapat dijadikan data dalam menunjang kegiatan pengelolaan hutan secara berkelanjutan yang dapat berperan dalam pengurangan konsentrasi CO2 di atmosfer untuk upaya mitigasi pemanasan global. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui simpanan karbon pada tegakan mangrove yang berada di Vegetasi Mangrove Pasar Banggi Rembang. Pengambilan data dilakukan pada plot transek ukuran 10x10 di 6 lokasi yang mewakili 3 kelas kerapatan yaitu jarang, sedang dan tinggi. Data yang diambil berupa diameter batang, jenis mangrove, dan jumlah tegakan dalam plot transek. Perhitungan simpanan karbon dilakukan menggunakan rumus alometrik. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan total simpanan karbon pada tegakan Vegetasi Mangrove Pasar Banggi sebesar 4001.37 tonC dengan rata-rata simpanan karbon sebesar 193.47 tonC/Ha. Mangroves have the ability to absorb and stores carbon gas from the atmosphere. Information about carbon storage in mangroves can be used as data to support sustainable forest management activities that can be utilized in reducing CO2 concentrations in the atmosphere to mitigate global warming. This study aims to determine the carbon storage of mangroves in the Mangrove Vegetation on Pasar Banggi Rembang Sampling was carried out on a 10x10 m transect plot in 6 locations representing 3 density classes, that is rare, medium and high. The data taken were diameter at breast height, mangrove species, and total stands in the transect plot. Calculation of carbon storage using the allometric formula. Based on the results of the study, it was found that the total carbon storage in Magrove Vegetation on Pasar Banggi Rembang was 4001.37 tonsC with an average carbon storage of 193.47 tonsC/Ha. 
Analisa Kesehatan Mangrove di Kawasan Ujung Piring dan Teluk Awur Menggunakan Sentinel-2A Abista Ahmad Romadoni; Raden Ario; Ibnu Pratikto
Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i1.35040

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan ekosistem dengan komponen sumberdaya alam meliputi bentang alam, flora, fauna, dan masyarakat sekitar dengan beragam fungsi seperti ekologis, ekonomis dan sosial. Alih fungsi lahan mangrove untuk tambak dan pemukiman yang masif dilakukan mengakibatkan kondisi mangrove di Ujung Piring dan Teluk Awur mengalami penurunan kualitas ekosistem mangrove. Informasi spasial kondisi terkini ekosistem mangrove yang belum tersedia mengakibatkan upaya pencegahan kerusakan dan konservasi ekosistem mangrove tidak berjalan maksimal. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sebaran, luas, dan kondisi kesehatan mangrove di kawasan Ujung Piring dan Teluk Awur menggunakan citra Sentinel 2A melalui penginderaan jauh dan validasi lapangan. Pendekatan penginderaan jauh memadukan composite band dengan supervised classification dilakukan untuk mengetahui sebaran dan metode Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) untuk mengetahui luas dan kondisi kesehatan mangrove. Validasi lapangan menerapkan hemispherical photography untuk menganalisa tutupan kanopi mangrove di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan mangrove kawasan Ujung Piring tersebar di area pantai, ekowisata, dan tambak. Luas mangrove di kawasan Ujung Piring sebesar 21,004 ha terdiri dari 17,519 ha (83,41%) kategori lebat; 2,527 ha (12,03%) kategori sedang; dan 0,958 ha (4,56%) kategori jarang. Mangrove kawasan Teluk Awur dapat dijumpai di area pantai, daerah konservasi mangrove, tambak, aliran sungai, pemukiman, dan lahan terbuka. Mangrove di kawasan Teluk Awur memilki luas 10,657 ha tersusun oleh 8,013 ha (75,1% kategori lebat); 0,688 ha (6,5%) kategori sedang; dan 1,956 ha (18,4%) kategori jarang.  The mangrove ecosystem contains various natural resource components including landscapes, flora, fauna, and its surrounding communities with various ecological, economic, and social functions. Massive conversion of mangrove area for ponds and settlements has reduced the ecosystem quality of mangroves in Ujung Piring and Teluk Awur. The lack or even inexistence of spatial information regarding the current condition of the mangrove ecosystem has hindered the efforts to prevent damage and conserve mangrove ecosystem from running optimally. This research sought to examine the distribution, area, and health condition of mangroves in Ujung Piring and Teluk Awur areas using Sentinel-2A imagery by means of remote sensing and field validation. The remote sensing approach combined composite bands with supervised classification to determine the distribution and the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) method to determine the extent and health conditions of mangroves. The field validation applied hemispherical photography to analyze mangrove canopy cover in the field. The research results revealed that the mangroves in Ujung Piring area were distributed in coastal, ecotourism, and pond areas. The mangroves in Ujung Piring area measured 21.004 ha consisting of 17.519 ha (83.41%) in the dense category; 2,527 ha (12.03%) medium category; and 0.958 ha (4.56%) in sparse category. The mangroves in Teluk Awur area were found in coastal, mangrove conservation, pond, river, settlement, and open areas. The mangroves in Teluk Awur measured 10,657 ha consisting of 8,013 ha (75.1% dense category); 0.688 ha (6.5%) medium category; and 1,956 ha (18.4%) in sparse category.
Analisis Tekstur Sedimen terhadap Kelimpahan Gastropoda di Ekosistem Mangrove Desa Pasar Banggi, Rembang Vira Meillyana Mustofa; Nirwani Soenardjo; Ibnu Pratikto
Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i1.35003

Abstract

Karakteristik sedimen mangrove terdiri dari fraksi pasir, lumpur dan liat. Kelimpahan gastropoda dipengaruhi oleh substrat sebagai habitat dari gastropoda, serta kandungan bahan organik yang berbeda pada tiap fraksi. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai analisa tekstur sedimen terhadap kelimpahan gastropoda di kawasan mangrove Desa Pasar Banggi, Rembang, mengingat gastropoda berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekologi ekosistem mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tekstur sedimen dengan kelimpahan gastropoda di ekosistem mangrove Desa Pasar Banggi, Rembang yang dilakukan pada bulan Desember 2021. Metode penentuan lokasi sampling menggunakan metode purposive sampling pada 3 lokasi sesuai dengan kerapatan mangrove yang berbeda. Pengukuran ekosistem mangrove menggunakan transek berukuran 15x15 m, dengan 3 subplot gastropoda dalam transek 1x1 m. Hasil penelitian menunjukkan fraksi pasir , lumpur silt dan lempung clay. Genus gastropoda yang ditemukan yaitu Littoria, Nodilittorina, Cerithidea, Trochus, Cassidula dan Telescopium. Nilai rata-rata kelimpahan berkisar antara 106-346 ind/m2. Nilai indeks keanekaragaman dan indeks keseragaman termasuk kedalam kategori rendah. Nilai indeks dominansi menunjukkan adanya pola dominansi dengan pola sebaran mengelompok. Hubungan tekstur sedimen ketiga fraksi dengan kelimpahan gastropoda diperoleh nilai r=0,947–0,991 yang berkorelasi kuat. Semakin tinggi presentasi fraksi diikuti dengan kenaikan kelimpahan gastropoda.   The characteristics of mangrove sediments consists of sand, mud and clay fractions. The abundance of gastropods is influenced by the substrate as the habitat of the gastropods, as well as the different organic matter content in each fraction. Therefore, it is necessary to conduct research on sediment texture analysis of gastropods in the mangrove area of Pasar Banggi Village, Rembang, considering that gastropods are important in maintaining the balance of the mangrove ecosystem. This study aims to determine the relationship between sediment texture and gastropods in the mangrove ecosystem of Pasar Banggi Village, Rembang, which was conducted in December 2021. The sampling location method used the purposive sampling method at 3 locations according to the different mangrove densities. Measurement of the mangrove ecosystem using a transect measuring 15x15 m, with 3 gastropod subplots in a 1x1 m transect. The results showed the fraction of sand, silt and clay. The gastropod genera found were Littoria, Nodilittorina, Cerithidea, Trochus, Cassidula and Telescopium. The average value ranges from 106-346 ind/m2. The diversity index and uniformity index values are included in the low category. The dominance index value indicates a dominant pattern with a clustered distribution pattern. Sediment texture of the three fraction values with gastropod relationship obtained r = 0.947 - 0.991 which is strongly correlated. 
Strategi Pengembangan Ekowisata Rekreasi Pantai Berbasis Keterlibatan Stakeholder di Pantai Bandengan, Jepara Maulana Muhammad Isa; Ibnu Pratikto; Agus Indarjo
Journal of Marine Research Vol 14, No 2 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i2.41809

Abstract

Potensi pariwisata sebagai salah satu sumber devisa negara dan promosi panorama keindahan alam dan budaya bangsa. Salah satu potensi wisata yang ada di Indonesia yaitu Pantai Bandengan yang berada di Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Potensi yang ada perlu dikembangkan dan dikelola secara berkelanjutan dengan sinergitas antar stakeholder. Penelitian ini dilakukan dari bulan Juli hingga September 2023, bertujuan untuk mengetahui indeks kesesuaian wisata, keterlibatan stakeholder serta perumusan konsep dan strategi pengembangan di Ekowisata Rekreasi Pantai Bandengan Jepara. Pengumpulan data dilakukan melalui survei lapangan dengan menggunakan 3 stasiun dan wawancara (kuesioner). Analisis data menggunakan analisis kesesuaian wisata dan analis swot untuk mengetahui rumusan strategi pengembangan. Hasil pengukuran Indeks Kesesuain Wisata atau IKW untuk Pantai Bandengan diperoleh nilai 94,4 %. Hasil terhadap analisis keterlibatan stakeholder di Pantai Bandengan Jepara menunjukkan stakeholder yang terlibat dalam pengelolaan berasal dari unsur pemerintahan (government) dan masyarakat (community). Stakeholder yang terlibat adalah: Pemerintah Daerah Kabupaten Jepara melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara, Pengelola Objek Ekowisata Rekreasi Pantai Bandengan dan komunitas PKL Objek Ekowisata Rekreasi Pantai Bandengan serta masyarakat lokal. Pemetaan stakeholder berdasarkan kepentingannya terdiri dari stakeholder primer yaitu komunitas PKL dan masyarakat lokal, serta stakeholder sekunder yaitu Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara dan Pengelola Objek Ekowisata Rekreasi Pantai Bandengan. Adapun hasil analisis stakeholder berdasarkan kepentingan dan pengaruh, yakni sebagai subyek (subjects) dan pemain kunci (key player). Hasil SWOT untuk strategi pengembangan Ekowisata Rekreasi Pantai Bandengan Jepara yaitu: pengoptimalan kelestarian alam kawasan wisata, sinergitas antar stakeholder dalam pelaksanaan dan pengembangan pemberdayaan masyarakat akan sadar wisata dengan diaktifkan kembali pokdarwis, pengoptimalan daya jual kawasan dalam menarik investor dan promosi kawasan. The potential for tourism as a source of foreign exchange for the country and the promotion of a panoramic view of the nation's natural and cultural beauty. One of the tourism potentials in Indonesia is Bandengan Beach which is located in Jepara Regency, Central Java Province. Existing potential needs to be developed and managed sustainably with synergy between stakeholders. This research was conducted from July to September 2023, aiming to determine the tourism suitability index, stakeholder involvement and the formulation of development concepts and strategies in Bandengan Beach Jepara Recreational Ecotourism. Data collection was carried out through field surveys using 3 stations and interviews (questionnaires). Data analysis uses tourism suitability analysis and SWOT analysis to determine the formulation of development strategies. The results of measuring the Tourism Suitability Index or IKW for Bandengan Beach obtained a value of 94.4%. The results of the analysis of stakeholder involvement at Bandengan Beach in Jepara show that the stakeholders involved in management come from government and community elements. The stakeholders involved are: Jepara Regency Regional Government through the Jepara Tourism and Culture Office, Bandengan Beach Recreational Ecotourism Object Management and the Bandengan Beach Recreational Ecotourism Object PKL community as well as the local community. Stakeholder mapping based on their interests consists of primary stakeholders, namely the street vendor community and local communities, as well as secondary stakeholders, namely the Jepara Tourism and Culture Office and the Bandengan Beach Recreational Ecotourism Object Manager. The results of the stakeholder analysis are based on interests and influence, namely as subjects and key players. The SWOT results for the Bandengan Jepara Beach Recreational Ecotourism development strategy are: optimizing the natural sustainability of the tourist area, synergy between stakeholders in the implementation and development of community empowerment to become aware of tourism by re-activating the local community groups, optimizing the selling power of the area in attracting investors and promoting the area.
Kajian Morfometri Rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Kabupaten Pemalang Jawa Tengah Khansa Yatita Hira; Ibnu Pratikto; Ita Riniatsih
Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i1.37986

Abstract

Rajungan (Portunus pelagicus) adalah komoditas hasil tangkapan perikanan laut yang bernilai  ekonomi yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi ukuran lebar karapas dan berat tubuh, rasio jenis kelamin, dan tingkat kematangan gonad dari rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Desa Danasari Pemalang dan sekitarnya. Penelitian ini mempergunakan metoda deskriptif kuantitatif untuk mengetahui tingkat kematangan gonad rajungan dan metode purposive sampling untuk menentukan titik pengambilan sampel. Penelitian dilakukan pada satu periode di bulan Juni 2022. Pengambilan data rajungan yang dilakukan meliputi lebar karapas dan berat tubuh, jenis kelamin, dan tingkat kematangan gonad. Sampel rajungan yang telah dikumpulkan berjumlah 1283 ekor (759 ekor rajungan jantan dan 524 ekor rajungan betina). Hasil dari penelitian ini menunjukkan rajungan yang paling banyak ditemukan memiliki ukuran lebar karapas yang berkisar antara 107-115 milimeter dan berat tubuh 73-93 gram dengan persamaan hubungan lebar karapas dan berat tubuh sebesar 0,0003L2,6983 untuk rajungan betina dan 0,0002L2,7431 untuk rajungan jantan. Rajungan yang ditemukan lebih banyak berkelamin jantan dibandingkan betina. Rajungan betina yang ditemukan sudah dalam usia dewasa dengan TKG kategori 2 (Matured). Hasil tersebut menunjukkan kondisi rajungan (Portunus pelagicus) di Perairan Desa Danasari Pemalang memiliki komposisi berdasarkan ukuran, dan tingkat kematangan gonad yang cukup ideal, namun untuk rasio jenis kelamin didapatkan tidak ideal karena menunjukkan hasil perbandingan rajungan jantan dengan rajungan betina tidak seimbang.  Blue swimming crab (Portunus pelagicus) is a marine fisheries product which has high economic value. The purpose of this study was to determine variations in carapace width and body weight, sex ratio, and gonadal maturity level of blue swimming crab (Portunus pelagicus) in the waters of Danasari Pemalang Village and its surroundings. The method used in this research is descriptive quantitative to determine the level of maturity of the gonads and purposive sampling method to determine the point of sampling. The research was conducted in one period in June 2022. Data collection for blue swimming crabs included carapace width and body weight, sex, and gonadal maturity level. The total number of crab samples collected was 1283 (759 male crabs and 524 female crabs). The results of this study showed that the most commonly found crabs had a carapace width ranging from 107-115 millimeters and a body weight of 73-93 grams with an equation for the relationship between carapace width and body weight of 0,0003L2,6983 for female crabs and 0,0002L2,7431 for the male crab. The crabs found were more male than female. The female swimming crab found was in adulthood with TKG category 2 (Matured). These results indicate that the condition of the blue swimming crab (Portunus pelagicus) in the waters of Danasari Pemalang Village has a composition based on size, and the level of gonadal maturity is quite ideal, but the sex ratio is not ideal because it shows the results of the comparison between male and female crabs are not balanced. 
Pemanfaatan Citra Sentinel-2 Untuk Pemetaan Sebaran Padang Lamun Di Perairan Pulau Panjang, Jepara Juan Syamsul Huda; Ibnu Pratikto; Ita Riniatsih
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.36212

Abstract

Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang hidup diperairan dangkal dengan pengaruh sinar matahari. Ekosistem padang lamun memiliki fungsi penting seperti produktivitas primer, sumber makanan, penstabil perairan, tempat asuhan dan habitat biota laut. Ekosistem lamun menjadi ekosistem penting sehingga sebarannya di perairan perlu dikaji. Sebaran lamun yang yang terdapat di Pulau Panjang tersebut harus dikelola dengan baik agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan. Pemantauan untuk melihat kondisi atau tutupan lamun dapat menggunakan metode penginderaan jauh. Metode penginderaan jauh telah dinilai efektif dan efisien untuk memperoleh informasi spasial karena kecepatan untuk memperoleh data dan cakupan yang luas dan telah menjadi pelengkap metode konvensional atau berdasarkan transek survei. Lokasi penelitian yaitu di Pulau Panjang perlu adanya kajian untuk memberikan informasi mengenai sebaran lamun dengan dilakukannya pemetaan menggunakan data citra Sentinel- 2. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan monitoring dan memetakan ekosistem padang lamun di Pulau Panjang menggunakan metode line transek sehingga dapat mengetahui komposisi lamun dan kerapatan lamun. Pengolahan data spasial menggunakan citra Sentinel- 2 yang diolah dengan algoritma lyzenga dan validasi data lapangan. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa di Pulau Panjang telah ditemukan empat jenis lamun dengan komposisi lamun yang paling banyak dijumpai adalah Thalassia hemprichii dan paling jarang dijumpai adalah Enhalus acoroides. Uji akurasi juga dilakukan untuk mengetahui keakuratan data hasil klasifikasi citra satelit dengan kondisi lapangan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa citra yang digunakan memilki tingkat akurasi 70% dan akurasi kappa sebesar 0,4. Seagrass is a flowering plant that lives in shallow waters under the influence of sunlight. Seagrass ecosystems have important functions such as primary productivity, food sources, water stabilizers, nurseries and habitats for marine biota. Seagrass ecosystems are important ecosystems so that their distribution in waters needs to be studied. The distribution of seagrass in Panjang Island must be managed properly so that it can be utilized optimally and sustainably. Monitoring to see the condition or cover of seagrass can use remote sensing methods. Remote sensing methods have been assessed as effective and efficient for obtaining spatial information due to the speed to obtain data and wide coverage and have become complementary to conventional methods or based on survey transects. The research location is on Panjang Island, there needs to be a study to provide information about the distribution of seagrass by mapping using Sentinel-2 image data. seagrass. Spatial data processing uses Sentinel-2 imagery which is processed with the lyzenga algorithm and field data validation. Based on the research, it is known that in Panjang Island four species of seagrass have been found with the composition of the most common seagrass being Thalassia hemprichii and the least common being Enhalus acoroides. Accuracy tests were also carried out to determine the accuracy of the data from the classification of satellite imagery with field conditions. Based on the results of the study, it can be concluded that the image used has an accuracy rate of 70% and a kappa accuracy of 0.4. 
Jenis Substrat dan Tingkat Kerapatan Mangrove di Kawasan Konservasi Mangrove Baros Yogyakarta Zigtharinta Agiska Velati; Suryono Suryono; Ibnu Pratikto
Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i4.43088

Abstract

Kawasan Konservasi Mangrove Baros memiliki tingkat kerapatan dan jenis substrat yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis substrat dan kerapatan serta adanya pengaruh antara keduanya. Metode yang digunakan untuk mengetahui tingkat kerapatan dan jenis substrat dilakukan dengan pengamatan langsung. Penentuan lokasi stasiun menggunakan metode purposive sampling dengan pertimbangan perbedaan tingkat kerapatan dari jarang, sedang hingga rapat. Stasiun I terletak di ujung barat dan berbatasan langsung dengan lautan Samudra Hindia memiliki kerapatan jarang, stasiun II berada di antara stasiun I dan stasiun III memiliki kerapatan rapat dan stasiun III yang terletak di ujung timur dan terpengaruh langsung oleh aliran Sungai Opak memiliki kerapatan sedang. Pengambilan sampel sedimen dilakukan menggunakan sekop dengan kedalaman 10-30 cm dari permukaan substrat lalu dilakukan analisis ukuran butir dengan metode pengayakan kering untuk mengetahui jenis substrat dan metode Loss on Ignition untuk mengetahui kandungan bahan organik. Stasiun I diketahui bersubstrat pasir, stasiun II lumpur berpasir dan stasiun III pasir berlumpur. Jenis substrat juga sangat berpengaruh pada kandungan bahan organik yang berperan penting untuk pertumbuhan mangrove, substrat dengan fraksi lumpur yang tinggi cenderung memiliki kandungan bahan organik yang juga tinggi. Substrat stasiun I yang didominasi oleh fraksi pasir memiliki kerapatan dan bahan organik paling rendah yaitu 733,33ind/ha dan 1,22%, sedangkan stasiun II didominasi fraksi lumpur memiliki kerapatan dan bahan organik tertinggi yaitu 2633,33ind/ha dan 8,54%. Fraksi sedimen pada substrat memiliki hubungan yang sangat kuat dan berpengaruh 97,5%-98% dengan kerapatan tingkat pohon.   The Baros Mangrove Conservation Area has different levels of density and substrate types. This research aims to determine the substrate types, density levels, and the influence between them. The method used to assess the density levels and substrate types is through direct observations. Station locations are determined using purposive sampling method considering varying density levels from sparse to dense. Station I is located at the western end directly bordering the Indian Ocean with sparse density, Station II is between Station I and Station III with dense density, and Station III at the eastern end directly influenced by the Opak River flow with moderate density. Sediment sampling is done using a shovel at a depth of 10-30 cm from the substrate surface, followed by grain size analysis using dry sieving method to determine substrate types and Loss on Ignition method to assess organic content. Station I is known to have sandy substrate, Station II has sandy mud, and Station III has muddy sand substrate. The substrate type significantly affects the organic content crucial for mangrove growth; substrates with high mud fraction tend to have high organic content. Station I, dominated by sandy fraction, has the lowest density and organic content at 733.33 ind/ha and 1.22%, respectively, while Station II dominated by mud fraction has the highest density and organic content at 2633.33 ind/ha and 8.54%. The sediment fraction in the substrate has a very strong relationship influencing 97.5%-98% of tree density levels.
Perbandingan Nilai Indeks Kesehatan Ekosistem Lamun antara Perairan di Pantai Prawean Bandengan dengan Pulau Panjang Muhammad Dhiaulhaq Fakhruddin Nashih; Ibnu Pratikto; Ita Riniatsih
Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i1.39012

Abstract

Ekosistem lamun memegang peranan penting sebagai produsen primer, tempat pemijahan, tempat tinggal biota perangkap sedimen, serta penahan erosi. Kondisi kesehatan lamun menjadi penting berdasarkan perannya tersebut. Indeks kesehatan lamun dapat memberikan informasi yang merepresentasikan kondisi ekosistem lamun yang meliputi komposisi spesies lamun, tutupan lamun, tutupan makroalga, tutupan epifit, dan intensitas cahaya perairan. Tujuan dilakukannya penelitian ini sebagai informasi perbandingan kondisi indeks kesehatan lamun yang ada pada perairan Pantai Prawean dengan Pulau Panjang. Teknik sampling pada penelitian ini dilakukan dengan metode transek garis yang pada pelaksanaannya menggunakan transek kuadran berukuran 50 x 50 cm yang dilakukan pada dua stasiun di setiap lokasinya dan terdapat tiga line transek pada setiap stasiunnya. Beberapa spesies lamun yang terlihat di lokasi adalah Enhalus acoroides, Oceana serrulata, Thalassia hemprichii, dan Cymodocea rotundata. Hasil dari penelitian ini yaitu nilai indeks kesehatan ekosistem lamun di Pulau Panjang adalah 0,62 dengan kategori sedang dan di Pantai Prawean adalah 0,5 dengan kategori buruk. The seagrass ecosystem plays an important role as a primary producer, a spawning ground, a habitat for sediment-trapping biota, and erosion control. The health condition of seagrass is crucial based on its roles. The seagrass health index can provide information representing the condition of the seagrass ecosystem in the area. The purpose of this study is to compare the seagrass health index values between the waters of Pantai Prawean and Pulau Panjang. The sampling technique in this study was conducted using the LIPI line transect method, which used 50 x 50 cm quadrat transects at two stations in each location, and there were three line transects at each station. Some seagrass species observed at the location were Enhalus acoroides, Oceana serrulata, Thalassia hemprichii, and Cymodocea rotundata. The required variable data for calculating the seagrass health index value are the number of seagrass species, seagrass coverage, macroalgae coverage, epiphyte coverage, and water clarity. The results of this study showed that the seagrass ecological quality index (SEQI) in Pulau Panjang was 0.62 with a moderate category, while in Pantai Prawean, it was 0.5 with a poor category.