Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search
Journal : e-CliniC

PREVALENSI DEPRESI PADA PASIEN STROKE YANG DI RAWAT INAP DI IRINA F RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO PERIODE NOVEMBER – DESEMBER 2012 Dudung, Jeffking; Kaunang, Theresia M. D.; Dundu, Anita E.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.7610

Abstract

Abstract: Depression is one of the most common mental disorders associated in chronic diseases such as stroke. Symptoms of post-stroke depression often unnoticed by clinicians, whereas early management, accurate and integrated, will be more effective. Post-stroke depressive patients who receive good treatment will have better quality of life. This was a descriptive quantitative study with a cross sectional design by using the HDRS instrument. The data were processed by using a univariat analysis. The results showed that 45.8% respondents had mild depression, 25% had medium depression, 4,2% had severe depression, and 25% not had depression.Keywords: depression, stroke, HDRSAbstrak: Depresi merupakan gangguan mood yang sering dikaitkan dengan penyakit kronis seperti stroke.Gejala depresi pasca stroke sering luput dari perhatian para klinisi, padahal penanganan yang lebih awal, tepat dan terpadu akan berhasil lebih efektif. Pasien depresi pasca stroke yang mendapatkan penanganan dengan baik mengalami peningkatan kualitas hidup. Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang dan menggunakan instrumen HDRS. Data penelitian diolah dengan analisis univariat. Hasil penelitian memperlihatkan sebanyak 45,8% responden mengalami depresi ringan, 25% responden mengalami depresi sedang, 4,2% responden mengalami depresi berat, dan 25% responden tidak mengalami depresi.Kata kunci: depresi, stroke, HDRS
Profil Clinical Scales Minnesota Multiphasic Personality Inventory-2 (MMPI-2) Adaptasi Indonesia pada Komunitas Public United not Kingdom (punk) di Kawasan Megamas Manado Polakitang, Aprilia; Dundu, Anita; Kaunang, Theresia M.D.
e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.1.2017.15812

Abstract

Abstract: Punk community is a social phenomenon that is prevalent in major cities in Indonesia. Members of the punk community are of a certain opinion that they have discovered their concepts and their thoughts on the highlighted unique and distinctive style. This study was aimed to obtain the status of mental health among the punk community based on Minnesota multiphasic personality inventory-2 (MMPI-2) Indonesia adaptation in order to detect any possible mental disorders. This was a descriptive observational study with a cross sectional design. The study population included members of the punk community at Megamas Manado aged ≥18 years. The results showed that of 30 respondents, the majority were males (86.67%), aged 20-39 years (83.33%), parents worked in private sectors (43.33%), did not have a certain job (73.33%), three siblings (43.33%), stayed in Manado (16.67%), senior high school graduated, and freedom as the reason to join the community (63.33%). Distribution of the MMPI-2 clinical scales Indonesia adaptation obtained a scale with high t-scores, as follows: Pd (40%), D (16.67%), MF (6.67%). Hy G.33%), and Si (3.33%). Conclusion: There were three clinical scales with the highest psychopathology: schizophrenia, paranoia, and psychasthenia. The majority were males, senior high school graduated, and stayed in Manado.Keywords: punk community, profile, clinical scales, MMPI-2 Indonesian adaptation.Abstrak: Komunitas Punk merupakan sebuah fenomena sosial yang tengah mewabah di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Generasi muda yang tergabung dalam komunitas punk merasa telah menemukan konsep dan pemikiran terhadap gayanya yang unik dan khas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan status kesehatan mental anggota komunitas punk berdasarkan clinical scales Minnesota multiphasic personality inventory-2 (MMPI-2) adaptasi Indonesia sebagai deteksi adanya kemungkinan gangguan mental. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Populasi penelitian ialah anggota komunitas Punk di kawasan Megamas Kota Manado yang berusia >18 tahun ke atas. Hasil penelitian mendapatkan dari 30 responden komunitas Punk, distribusi anggota berdasarkan sosio-demografik terbanyak ialah: laki-laki (86,67%), usia 20-39 tahun (83,33%), pekerjaan orang tua di bidang swasta (43,33%), mempunyai pekerjaan tidak tetap (73,33%), bersaudara tiga orang (43,33%), beralamat di kota Manado (76,67%), pendidikan terakhir SMA (83,33%), dan alasan bergabung pada komunitas Punk karena menginginkan kebebasan (63,33%). Distribusi clinical scales MMPI-2 adaptasi Indonesia memperlihatkan skala dengan t-skor yang tinggi dengan persentase tertinggi hingga terendah sebagai berikut: Sc (90%), Pt (80%), Pa (80%), Ma 73,33%), Hy (46,67%), Pd (40%), D (16,67%), Mf (6,67%), Hy (3,33%), dan Si (3,33%). Simpulan: Terdapat tiga clinical scales yang memiliki psikopatologi tertinggi yaitu: schizophernia, paranoia, dan psychastenia. Mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki, berpendidikan terakhir hingga SMA, dan beralamat tempat tinggal di Manado.Kata kunci: komunitas Punk, MMPI-2 adaptasi Indonesia
Hubungan Konsumsi Makanan Manis sebagai Faktor Risiko Terjadinya Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas pada Anak di 9 Sekolah Dasar Kota Manado Hidayat, Pearensia E. P.; Kaunang, Theresia M. D.; Dundu, Anita E.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.1.2020.27137

Abstract

Abstract: Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) is one of the most common psychiatric disorders in childhood and can be associated with sweetened food consumption. This study was aimed to determine the prevalence of ADHD children and the association between sweetened food consumption and children in nine elementary schools in Manado. This was an analytical study with a cross-sectional design. Samples were students of elementary schools that represented nine districts in Manado and were randomly selected using the multi-stage random sampling technique. The results showed that there wre 20.1% of elementary school students in Manado that had ADHD. Statistical analysis obtained a p-value of 0.000 (<0.05) and OR(CI 95%) = 23.61 (OR>1). In conclusion, the prevalence of ADHD children in Manado was still high and there was a positive correlation between sweetened food consumption as a risk factor of children with ADHD in elementary schools in Manado.Keywords: ADHD, sweetened food consumption, elementary school student Abstrak: Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) adalah salah satu gangguan psikiatri anak yang paling sering dan dihubungkan dengan konsumsi makanan manis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi GPPH pada anak dan hubungan konsumsi makanan manis sebagai faktor risiko terjadinya GPPH pada anak di sembilan sekolah dasar di Kota Manado. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Sampel yang digunakan ialah siswa Sekolah Dasar yang mewakili sembilan Kecamatan di Kota Manado yang dipilih secara acak dengan teknik multi stage random sampling. Penelitian dilakukan dengan uji asosiasi Fisher Exact. Hasil penelitian mendapatkan 20,1% anak Sekolah Dasar di Kota Manado menyandang GPPH. Hasil analisis data mendapatkan nilai p=0,000 (<0,05) dan OR=23,61 (OR>1). Simpulan penelitian ini ialah angka kejadian GPPH di Manado cukup tinggi dan terdapat hubungan positif antara seringnya mengonsumsi makanan manis sebagai faktor risiko terjadinya GPPH pada anak.Kata kunci: GPPH, makanan manis, anak sekolah dasar
GAMBARAN TINGKAT DEPRESI PADA WANITA PEKERJA SEKS DI KALANGAN REMAJA DI KOTA MANADO Wardoyo, Serly; Kaunang, Theresia M. D.; Munayang, Herdy
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.2.2014.5041

Abstract

Abstract: Depression is a mental disorder that is predicted by the World Health Organization which will be ranked first in the burden of disease on a global scale in 2030. Emotional maturity of the teens which is still unstable, highly susceptible to depression. Especially for those who work as female sex workers and often receive negative pressure when they work. Method: This research is a descriptive study with cross-sectional design. Depression among 30 adolescent FSWs will be assessed using the Beck Depression Inventory II questionnaire. Results: Results showed that 10.0%  FSWs are normal, 30.0% FSWs have mild depression, 36.7% FSWs have moderate depression and 23.3% FSWs have severely depression. Keywords: Depression, Female Sex Worker, adolescent, Beck Depression Inventory.   Abstrak: Depresi merupakan gangguan mental yang diprediksikan oleh World Health Organization kelak menduduki peringkat pertama beban penyakit dalam skala global pada tahun 2030. Usia remaja yang kematangan emosionalnya masih labil, sangat rentan mengalami depresi. Apalagi bagi remaja yang berprofesi sebagai Wanita Pekerja Seks yang kerap mendapat berbagai tekanan negatifdalam pekerjaannya. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain penelitian cross-sectional. Tingkatan depresi pada 30 remaja WPS akan dinilai dengan menggunakan kuesioner Beck Depression Inventory II. Hasil: Didapatkan sebanyak 10.0%  WPS normal, 30.0% WPS mengalami depresi ringan, 36.7% WPS mengalami depresi sedang dan 23.3% WPS mengalami depresi berat. Kata Kunci: Depresi, Wanita Pekerja Seks, remaja, Beck Depression Inventory.
Gambaran Mental Emosional pada Orang Tua yang Anaknya dirawat di Instalasi Gawat Darurat RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Suputra, I Dewa G. Adi; Kaunang, Theresia ` M. D.; Munayang, Herdy
e-CliniC Vol 6, No 1 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.6.1.2018.18635

Abstract

Abstract: Emotional mental disorder is a condition that indicates psychological changes in an individual. This disorder can manifest as symptoms of depression, psychosomatic disorders, and anxiety. Having a child hospitalized for a life-threatening illness or injury can cause deep psychological reactions to the parents. This study was aimed to determine the mental emotional profile among the parents whose children were treated at the Emergency Installation of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital from October to November 2017. This was a quantitative descriptive study with a cross sectional design. This study involved all parents whose children were treated in the emergency installation who met the inclusion criteria as many as 72 respondents. The instruments of the study were Self Reporting Questionnaire (SRQ) and Depression Anxiety Stress Scale (DASS). Univariate and bivariate analyzes were performed using SPSS. Based on SRQ and DASS questionnaire data filled by 72 respondents, 54 parents (75%) had emotional mental disorders, consisting of 49 parents (68.1%) suffering from anxiety from mild to very severe and 18 parents (25 %) suffering from mild to very severe depression. The most dominant diseases of the children that caused anxiety to the parents were diarrhea, bronchopneumonia, and febrile seizures. Conclusion: The conditions of children treated in the Emergency Installation of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital could cause psychological stress in the form of anxiety and depression for the parents.Keywords: emotional mental disorders, anxiety, depression, parentsAbstrak: Gangguan mental emosional adalah kondisi yang mengindikasikan perubahan psikologik pada seseorang. Gangguan mental emosional dapat berupa gejala depresi, gangguan psikosomatik, dan kecemasan. Pengalaman memiliki anak yang dirawat di rumah sakit karena penyakit atau cedera yang mengancam jiwa dapat menyebabkan reaksi psikologik yang mendalam pada orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mental emosional pada orang tua yang anaknya dirawat di IGD RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou periode Oktober-November 2017. Jenis penelitian ialah deskriptif kuantitatif dengan studi potong lintang. Penelitian ini melibatkan semua orang tua yang anaknya dirawat di IGD dan memenuhi kriteria inklusi yaitu 72 responden orang tua. Instrumen yang digunakan ialah kuesioner Self Reporting Qustionnaire (SRQ) dan Depression Anxiety Stress Scale (DASS). Analisis univariat dan bivariat dilakukan dengan menggunakan SPSS. Berdasarkan perolehan data kuesioner SRQ dan DASS dari 72 responden, 54 orang tua (75%) mengalami gangguan mental emosional, yang terdiri dari 49 orang tua (68,1%) dengan kecemasan dari ringan hingga sangat berat dan 18 orang tua (25%) dengan depresi ringan hingga sangat berat. Dari penelitian ini didapatkan diagnosis penyakit anak yang paling dominan menye-babkan kecemasan dan depresi pada orang tua, yaitu diare, bronkopneumonia, dan kejang demam. Simpulan: Kondisi anak yang dirawat di Instalasi Gawat Darurat RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou dapat menimbulkan stres psikologik berupa kecemasan dan depresi pada orang tua.Kata kunci: gangguan mental emosional, kecemasan, depresi, orang tua
HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN MORBUS HANSEN DAN FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA DI BAGIAN KULIT DAN KELAMIN BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE NOVEMBER – DESEMBER 2012 Hardy, Shinta Purnama; Dundu, Anita E.; Kaunang, Theresia M.D.
e-CliniC Vol 1, No 2 (2013): Jurnal e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.1.2.2013.3309

Abstract

Abstract : Relationship between Anxiety Level and Morbus Hansen and the Influencing Factors in Dermatologic Division Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado period of November – December 2012. Introduction : anxiety is defined as a emotional tension that often accompained by physical, sweating, increase of pulse rate. Morbus Hansen (hanseniasis), or well known as leprosy, is a chronic infectious disease caused by Mycobacterium Leprae. In Indonesia leprosy are endemic disease, the number of leprosy patients estimated to be greater than that recorded in the health department, because of the high leprofobi and stigma againstleprosy. Method : this study is analytical, with a cross sectional approach. Result : based of the chi square test the results are no significant association (p>0,05) between anxiety and age, sex, education, and employment. Conclusion : There is no significant association between anxiety and Morbus Hansen.Keyword: Anxiety, HRS-A, Leprosy.  Abstrak : Hubungan tingkat kecemasan dengan morbus hansen dan faktor – faktor yang mempengaruhinya di Bagian Kulit dan Kelamin BLU RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado periode November – Desember 2012. Pendahulan : kecemasan didefinisikansebagai suatu keadaan ketegangan emosional yang sering disertai dengan gejala fisik, seperti ketegangan, tremor, palpitasi, berkeringat dan peningkatan denyut nadi. Penyakit Morbus Hansen (hanseniasis), atau yang lebih dikenal dengan penyakit lepra atau kusta, merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium Leprae. Di Indonesia penyakit kusta bersifat endemis, jumlah penyakit kusta diperkirakan lebih besar daripada yang tercatat di Departemen Kesehatan, karena adanya leprofobi dan stigma yang tinggi terhadap kusta. Metode : penelitian ini  bersifat analitik, dengan pendekatan cross sectional. Hasil : berdasarkan hasil uji chi square di dapatkan tidak ada hubungan yang bermakna (p>0,05) antara kecemasan dengan umur, jenis kelamin, pendidikan  dan pekerjaan. Kesimpulan : Tidak ada hubungan yang bermakna antara kecemasan dengan Morbus Hansen. Kata kunci: HRS-A, Kecemasan, Kusta.
Hubungan Faktor-faktor yang Berperan untuk Terjadinya Dismenore pada Remaja Putri di Era Normal Baru Kojo, Nancy H.; Kaunang, Theresia M. D.; Rattu, Angelheart J. M.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.34433

Abstract

Abstract: Since Covid-19 is still a pandemic worldwide, people are required to familiarize themselves with new normal lifes or new normal conditions that have been implemented in Indonesia. Observation at Tincep Village of Minahasa during April to October 2020 revealed that the village government was very strict in implementing social restrictions; therefore, teenagers or young people were rarely doing physical activity outdoors. Moreover, teenagers with low physical activity tended to prefer indoor activities. This study was aimed to analyze the relationship between influencing factors of dysmenorrhea in female teenagers in the new normal era. This was a quantitative analytical and descriptive study with a cross sectional design. This study was conducted from November to December 2020 at Tincep Village. Subjects were 40 female teenagers aged 12-18 years. Independent variables were physical activity, nutritional status, age of menarche, length of menstruation, and depression meanwhile dependent variables was dysmenorrhea. Data were statistical analyzed univariately and bivariately. The results showed that significant relationships were only obtained between physical activity and depression and dysmenorrhea among female teenagers at Tincep Village, Minahasa in the new normal era. In conclusion, factors associated with dysmenorrhea were physical activity (most dominant) and depression meanwhile factors that were not associated with dysmenorrhea included nutritional status, age of menarche, and duration of menstruation. Keywords: new normal; dysmenorrhea; Covid-19  Abstrak: Covid-19 masih menjadi wabah yang belum dapat diatasi di seluruh dunia. Oleh karena itu masyarakat dituntut untuk membiasakan diri dengan hidup new normal atau keadaan normal baru yang sudah diterapkan di Indonesia. Dari hasil pengamatan di desa Tincep Kabupaten Minahasa selama bulan April sampai Oktober 2020, ternyata pemerintah desa sangat ketat menjalankan kebijakan yaitu pembatasan sosial sehingga jarang remaja atau pemuda melakukan aktivitas fisik di luar rumah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor-faktor yang berperan untuk terjadinya dismenore pada remaja desa di era normal baru. Jenis penelitian ialah kuantitatif deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tincep Kabupaten Minahasa pada November - Desember 2020. Subyek penelitian ini yaitu 40 remaja putri yang berusia 12-18 tahun. Variabel bebas penelitian ini yaitu aktivitas fisik, status gizi, usia menarche, lama menstruasi, dan depresi dan variabel terikat ialah dismenore. Data hasil penelitian dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Penyajian data dibuat dalam bentuk tabel dan narasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan bermakna hanya didapatkan antara aktivitas fisik dan depresi dengan dismenore pada remaja putri di Desa Tincep Kabupaten Minahasa di era normal baru. Simpulan penelitian ini ialah faktor-faktor yang berhubungan dengan dismenore ialah aktivitas fisik (yang terutama) dan depresi. Faktor-faktor yang tidak berhubungan dengan dismenore meliputi status gizi, usia menarche, serta lama menstruasi.Kata kunci: new normal; dismenore; Covid-19
Gambaran Kejadian Bullying dan Aspek Mental Siswa Sekolah Dasar Kelas 5 dan 6 George, Omega K. M.; Kaunang, Theresia M. D.; Dundu, Anita E.
e-CliniC Vol. 14 No. 1 (2026): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v14i1.65847

Abstract

Abstract: Bullying among elementary school students is a frequent issue and has a significant impact on children’s emotional condition, behavior, and mental health. This phenomenon needs to be examined comprehensively to understand its types and implications among fifth- and sixth-grade students. This study employed a mixed-methods approach, specifically an explanatory sequential design. Quantitative samples were obtained through stratified random sampling using the Olweus Bully/Victim Questionnaire-Revised (OBVQ-R), and interviews were conducted with selected victims and perpetrators to explore their mental aspects and subjective experiences. The results obtained 437 students of fifth- and sixth- grade at Malalayang as respondents. Bullying occurred quite frequently, predominantly in the form of verbal bullying, followed by emotional and physical bullying, with students involved as perpetrators, victims, or both. The mental impacts identified included anxiety, fear of attending school, decreased concentration, low self-esteem, and emotional distress, with several cases showing more severe symptoms. In conclusion, bullying among fifth- and sixth-grade students at Malalayang area still occurs and has a significant impact on students’ mental well-being.  Keywords: bullying; mental aspect; elementary school students    Abstrak: Bullying pada siswa sekolah dasar merupakan masalah yang sering terjadi dan berdampak signifikan terhadap kondisi emosional, perilaku, dan kesehatan mental anak. Fenomena ini perlu ditinjau secara komprehensif untuk memahami bentuk kejadian serta implikasinya pada siswa kelas 5 dan 6 di wilayah Malalayang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian campuran, khususnya desain sekuensial eksplanatori. Sampel kuantitatif diperoleh melalui stratified random sampling dengan menggunakan kuesioner Olweus Bully/Victim Questionnaire-Revised (OBVQ-R), serta dilakukan wawancara pada korban dan pelaku terpilih untuk menggali aspek mental dan pengalaman subjektif mereka. Hasil penelitian mendapatkan 437 siswa kelas 5 dan 6 di wilayah Malalayang sebagai responden. Bullying cukup banyak terjadi dengan bentuk yang dominan berupa bullying verbal, diikuti emosional dan fisik, dan siswa terlibat sebagai pelaku, korban, maupun pelaku sekaligus korban. Dampak mental yang muncul meliputi kecemasan, ketakutan bersekolah, penurunan konsentrasi, rendah diri, dan distress emosional, dengan beberapa kasus menunjukkan gejala yang lebih berat. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa bullying pada siswa Sekolah Dasar kelas 5 dan 6 di wilayah Malalayang masih terjadi dan memberikan dampak signifikan terhadap aspek mental siswa. Kata kunci: bullying; aspek mental; siswa sekolah dasar