Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

The Meaning of the Philosophy of Bhuppha’, Bhabhu’, Ghuru, Ratoh in the Context of Decision Making Regarding Child Marriage in Bangkalan Fitriyah Amin Daman; Ali Imron
Metafora: Education, Social Sciences and Humanities Journal Vol. 6 No. 2 (2022)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Child marriage is still prevalent in Indonesia. According to the NTCR data of Galis District 2019, Kelbung Village, Galis District, Bangkalan Regency still holds the highest percentage for child marriage in Galis District of 65.8 %, The Madurese people still firmly hold their philosophyregarding decision makers and figures to be respected in everyday life, namely bhuppha’, bhabhu’, ghuru, ratoh, which depict the hierarchy of figures whom shall be respected and whose decision shall be obeyed. Based on the philosophy, Madurese girls have the obligation to not to oppose any decisions that have been made by their parents, especially their fathers. This study aims to describe the meaning of the philosophy of bhuppha’, bhabhu’, ghuru, ratoh in the process of decision-making regarding child marriage in Kelbung Village, Galis District, Bangkalan Regency. This study used qualitative approached which took place inKelbung Village, Galis District, Bangkalan Regency, Madura. The study used purposive method to obtain informants. The study used a participatory observation techniqueand in-depth interviews to obtain the data. The author analyzed the data using Milles and Huberman interactive technique (reduction, presentation, and conclusion drawing). The philosophy of bhuppha’, bhabhu’, ghuru, ratoh in the context of decision making regarding child marriage inKelbung Village, Galis District, Bangkalan Regency have a meaning that the decision makers regarding child marriage in Kelbung Village are based on these philosophical values.Decision making regarding child marriage in Kelbung Village adheres to the hierarchy within the philosophy of bhuppha’, bhabhu’, ghuru, ratoh where the bhuppha’ figure or the father becomes the first figure who make decisions and his decisions must be obeyed by the daughter to be married. The approach based on the philosophy of bhuppha’, bhabhu’, ghuru, ratoh can be implemented to reduce the number of child marriage by approaching the bhuppha’ figure or the father to provide knowledge and understanding about child marriage.
Penurunan Prevalensi Stunting Di Desa Sudimoroharjo Kabu-paten Nganjuk Sebagai Luaran Program Pendampingan Intensif Lintas Sektor Kepada Ibu Dengan Baduta Stunting Cleonara Yanuar Dini; Farida Farah Zakiya; Dwi Apriliani; Aisyaturida Amelia; Larastiti Windatari; Cindy Gita Chayani; M. Thoriq Aqilalhasib; Decca Pinky Nugroho; Shannon Ellya Marolop; David Aditya; Maulana Suryananda R; Dwi Anindya A; Azalia Putri Salsabila; Reza Dwi Ramadhan; Alfiyah Nahdah Kamilah; Arma Andi Kusuma; Choirul Anna Nur Afifah; Amalia Ruhana; Satwika Arya Pratama; Galuh Impala Bidari; Ali Imron
Media Gizi Indonesia Vol. 17 No. 1SP (2022): Media Gizi Indonesia (National Nutrition Journal) Special Issue: Internation
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgi.v17i1SP.221-229

Abstract

Berdasarkan hasil SSGI (2021), prevalensi stunting di Kabupaten Nganjuk yaitu 25,3%. Salah satu desa yang ditetapkan sebagai lokus stunting adalah Sudimoroharjo dengan prevalensi sebesar 13,5%. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara, observasi dan focus group discussion secara langsung kepada ibu bayi dan balita stunting. Sebanyak 52 kader, 3 bidan dan 15 mahasiswa dari universitas negeri surabaya (unesa) berpartisipasi dalam program dan dibagi ke dalam 8 kelompok di setiap rukun tetangga (RT) selama 3 bulan. Sebelum dilakukan pendampingan, ibu bayi dan balita kurang berusaha untuk memberikan makan kepada anak baik dari segi frekuensi maupun komposisi. Program pendampingan yang dilakukan terdiri dari: penyuluhan mengenai isi piringku dengan prinsip beragam, bergizi, seimbang dan aman di setiap posyandu setiap hari, pendampingan stunting dari rumah ke rumah, melakukan layanan konsultasi gizi setiap hari di puskesmas pembantu (pustu). Selain itu juga diberikan makanan tambahan berupa susu 1x/minggu dan biskuit bagi bayi dan balita dengan gizi buruk dan stunting sekali dalam satu bulan. Monitoring dilakukan dengan meminta ibu dan anak untuk datang setiap satu atau dua minggu sekali ke pustu setelah PMT habis untuk melakukan pengecekan status gizi anak. Selanjutnya kader, bidan dan mahasiswa mengunjungi rumah ibu dengan anak stunting dalam 1 kali sebulan untuk menanyakan apakah pmt yang diberikan dikonsumsi habis atau tidak. Setelah diberikan pendampingan secara langsung ibu dapat memahami bagaimana menerapkan B2SA baik dari segi jumlah, jenis lauk serta frekuensi makan anak. Ibu juga memberikan pmt kepada anak sampai habis, sehingga prevalensi stunting turun menjadi 9,21%.
Ethnicity-Based Multicultural Education Model Muhammad Diwanul Mujahidin; Andika Supriadi; Ali Imron
Metafora: Education, Social Sciences and Humanities Journal Vol. 7 No. 1 (2023): Sosial Academic
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Multicultural education is one of the foundations of education that must be instilled to provide insight and knowledge about diversity in community life, besides that multicultural education also contains a way to live in harmony with differences in ethnicity, ras, religion, culture, diverse social values in a society, especially in a family. The purpose of this research is to find out the values of multicultural education conducted at the family level between Javanese and English ethnic groups at Sugihwaras Village, this study uses qualitative methods and literature studies with the result of key research of interethnic multicultural education of the family are 1) communication between family members, 2) mutual respect between people, both in terms of religious, cultural, racial differences, the ethnicity, and social values of each other, 3) Mingle with society or always socialize.
Pengaruh Penggunaan E-LKPD Berbasis Kearifan Lokal Tradisi Nyadran Untuk Meningkatkan Kemampuan Melestarikan Budaya Lokal Annisa Febrianti Putri; Ketut Prasetyo; Sukma Perdana Prasetya; Ali Imron
Sosio-Didaktika: Social Science Education Journal Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sd.v10i1.32284

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan E-LKPD berbasis kearifan lokal terhadap hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran menumbuhkan IPS dan mengembangkan semangatnya serta perbedaan menganalisis hasil belajar antara penggunaan E-LKPD dan LKPD non elektronik dalam pembelajaran IPS. Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen. Desain penelitian menggunakan rancangan Pretest-postest nonequivalent control group design (menggunakan dua kelas) .  Subyek penelitian ini peserta didik kelas VIII dari SMP Negeri 2 Sidoarjo. Teknik pengumpulan data menggunakan tiga teknik, yaitu Observasi, Tes, dan Dokumentasi. Analisis data menggunakan uji validitas, uji N-gain, uji normalitas, uji homogenitas, dan uji independent t-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan E-LKPD cukup efektif dari hasil penelitian yang telah diterapkan pada peserta didik di kelas VIII SMP Negeri 2 Sidoarjo dalam meningkatkan kemampuan menghasilkan budaya lokal. Sedangkan di kelas pembanding menunjukkan hasil dari data penelitian yang kurang efektif dari hasil penelitian dalam penggunaan non E-LKPD. Berdasarkan data hasil penelitian nilai post-test kedua kelas menunjukkan adanya perbedaan dengan menggunakan E-LKPD dalam meningkatkan kemampuan mengatasi budaya lokal. Maka,