Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

The Representation of Lakes as Traces of Curses and Punishments in Indonesia Folklore: An Ecocritical Study Rahma Nurul Aini; Wachid Eko Purwanto
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8556

Abstract

This study is motivated by the existence of folktales about the origins of lakes in the Indonesian archipelago, which not only explain geographical phenomena but also represent the relationship between human behavior and environmental change as a consequence of violations of moral and social values. This study aims to uncover narratives of curses and punishments in the folktales of lakes in the Indonesian archipelago through an ecocritical literary approach using six concepts from Garrard (2012) namely pollution, wilderness, apocalypse, dwelling, animals, and earth. The study employs a qualitative descriptive method with data consisting of seven folktales: The Origin of Lake Toba, Lake Laut Tawar, Lau Kawar, Lake Maninjau, The Legend of Bulalo La Limutu, Telaga Warna, and Lake Tes. The results of the study indicate that lakes in folk tales are not merely interpreted as moral consequences of human actions but also represent ecological responses to the disruption of environmental balance and function as new ecological spaces that sustain the social and economic lives of surrounding communities. Furthermore, folklore serves as a pedagogical device that instills moral values, social norms, and ecological awareness, emphasizing that humans are part of nature, not its rulers (anthropocentric). Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keberadaan cerita rakyat asal-usul danau di Nusantara yang tidak hanya menjelaskan fenomena geografis, tetapi juga merepresentasikan hubungan antara perilaku manusia dan perubahan lingkungan sebagai konsekuensi pelanggaran nilai moral dan sosial. Penelitian ini bertujuan mengungkap narasi kutukan dan hukuman dalam cerita rakyat danau di Nusantara melalui pendekatan ekokritik sastra menggunakan enam konsep Garrard (2012), yaitu pollution, wilderness, apocalypse, dwelling, animals, dan earth. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan data berupa tujuh cerita rakyat, yaitu Asal-Usul Danau Toba, Danau Laut Tawar, Lau Kawar, Danau Maninjau, Legenda Bulalo La Limutu, Telaga Warna, dan Danau Tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa danau dalam cerita rakyat tidak hanya dimaknai sebagai konsekuensi moral atas tindakan manusia, tetapi juga merepresentasikan respons ekologis terhadap terganggunya keseimbangan lingkungan serta berfungsi sebagai ruang ekologis baru yang menopang kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Selain itu, cerita rakyat berfungsi sebagai sarana pendidikan (pedagogical device) yang menanamkan nilai moral, norma sosial, serta kesadaran ekologis bahwa manusia merupakan bagian dari alam, bukan penguasa alam (anthropocentric).
REPRESENTASI PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS LINGKUNGAN PADA CERITA RAKYAT PAPUA Hasrul Rahman; Wachid Eko Purwanto; Zahroh Nur Annisa; Nabila Kirana Rakhmadiena
Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 11 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/lgrm.v11i2.6622

Abstract

Saat ini pendidikan karakter yang berbasis lingkungan perlu dikuatkan lagi agar dampak dari pengembangan daerah tidak merugikan lingkungan alamnya. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui dan mendeskripsikan serta menguatkan pendidikan karakter yang fokus terhadap lingkungan pada cerita rakyat Papua. Jenis penelitian ini ialah penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini yaitu pendidikan karakter dalam cerita rakyat papua. Sumber data dalam penelitian ini yaitu cerita rakyat papua yaitu Asal-Usul Persebaran SukuSuku di Merauke, Cipriw yang Malang (Terjadinya Pohon Kelapa), Bertha Menjelma Seekor Burung Cenderawasih, Sre Saring, Musnahnya Kampung Habele, Cabo dan Batu Ajaib, Dame dan Dufun, Asal Mula Pohon Sagu, Patung Mbis dan Burung Kasuari, Konwuk dan Konweng. Teknik pengumpulan data penelitian iniyaitu teknik baca dan catat. Sedangkan teknik analisis data penelitian ini yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan simpulan. Hasil dari penelitian ini berupa bentuk pendidikan karakter berbasis lingkungan yang dapat menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan alamnya serta membudayakan literasi untuk menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan , khususnya pada cerita rakyat Papua. Terdapat dua cara dalam upaya menumbuhkan Pendidikan karakter berbasis lingkungan melalui cerita rakyat Papua, 1) Menggunakan isi dari cerita rakyat Papua yang di dalamnya mengandung nilai kearifan lokal, 2) Menumbuhkan kecintaan terhadap budaya literasi pada cerita rakyat Papua.Kata kunci: Pendidikan Karakter, Cerita Rakyat Papua