Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Penerapan Well-Being Therapy Untuk Meningkatkan Psychological Well-Being pada Penderita Kanker Payudara Maqhfirah DR
JUPIIS: JURNAL PENDIDIKAN ILMU-ILMU SOSIAL Vol 7, No 2 (2015): JUPIIS (Jurnal Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial) DESEMBER
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jupiis.v7i2.3122

Abstract

Having breast cancer have a huge impact on quality of life of survivors. One of it is decreased psychological well-being. Psychological well-being is a description of the psychological health of individuals based on the fulfillment of the criteria that individual positive psychological functioning, encompassing  self-acceptance, positive relations with others, autonomy, environmental mastery, purpose in life and personal growth. Well-being therapy can apply to increase the level of psychological well-being in breast cancer survivors. Participants this study are two women with post-mastectomy breast cancer, metastases experienced last year, and is undergoing medical treatment such as chemotherapy. Well-being therapy conducted within a month, in five sessions. Results indicate that application of well-being therapy has changed their psychological well-being level to the better. They were more accepting with their health condition and have better relationships with the significant people. This is clout by good motivation, support from their significant  people during the therapy of process and using of religious aspects as one way in eudomanic approach to well-being therapy. In addition, the good rapport between researcher and participants is important to supported therapeutic effect.
Hubungan Antara Kecerdasan Emosi dengan Kualitas Hidup Pada Pasien Terapi Hemodialisa di Unit Rumah Sakit Pabatu Leny Andika Damanik; Maqhfirah DR
Jurnal Diversita Vol 3, No 1 (2017): Diversita Juni
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/diversita.v3i1.1173

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan antara kecerdasan emosi dengan kualitas hidup pada pasien terapi hemodialisa di unit RS Pabatu. Kualitas hidup merupakan persepsi individu mengenai posisi dalam hidup dan hubungannya dengan tujuan, harapan, standar yang ditetapkan dan perhatian seseorang mulai dari fisik, psikologis, hingga sosial yang mendukung kegiatan sehari-hari, sedangkan kecerdasan emosi adalah serangkaian kemampuan pribadi, emosi dan sosial yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil dalam mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan. Penelitian ini dilakukan terhadap pasien terapi hemodialisa di Unit RS Pabatu dengan jumlah sampel sebanyak 48 orang pasien. Berdasarkan hasil perhitungan korelasi Product Moment diketahui bahwa terdapat hubungan positif antara kecerdasan emosi dengan kualitas hidup korelasi rxy = 0, 292 p = 0,002 < 0,050. Hasil perhitungan mean hipotetik dan mean empirik, diketahui kecerdasan emosi sampel penelitian tergolong tinggi karena memiliki niali rata-rata hipotetik < nilai rata-rata empirik yaitu 13,5 < 24,145 dengan selisih SB/SD melebihi bilangan satu yaitu 5,701, begitupun untuk kualitas hidup yang memiliki nilai rata-rata hipotetik < nilai rata-rata empirik yaitu 17,5 < 23,979 dengan selisih SB/SD melebihi bilangan satu yaitu 6,651. Berdasarkan analisa data yang dilakukan diketahui bahwa kecerdasan emosi memberikan kontribusi sebesar 8,5% terhadap kualitas hidup para pasien terapi hemodialisa di Unit RS Pabatu, dengan demikian maka hipotesis diterima.
Makna Hidup pada Wanita Dewasa yang Terlambat Menikah Maqhfirah DR
Jurnal Diversita Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Diversita Desember
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/diversita.v4i2.1573

Abstract

This research was a qualitative research regarding the meaning of life for unmarried woman. There are four components that were explored, the causes and psychological effect they experienced, coping strategy that used and the meaning of life that was owned by those women. The technique for collecting data using interview and observation sheet. The respondents was above 40 years old and unmarried. This research was supported by logotherapy theory of Victor Frankl. The meaning of life for these respondents was a kind of full life experiences that came from their suffering of being not married yet. The result of the this research showed thet the factors affecting both respondents had not get married because they want to be established before get married, dedication to their parents, and having a high standard factors. But for respondent I, study oriented factor and difficulty of married was also of factors. Both respondents enjoyed their unmarried status became they have freedom and autonomy in determining this own decision. But they have negative effect such as difficulty to fulfill their sexual need and difficulty when they got sick wothout any help from other people and feeling uncomfortable because of the norms from their religion and culture which considered unmarried woman as unlucky and incomplete as a woman. 
Hubungan Lingkungan Kerja Non Fisik dengan Kepuasan Kerja pada Perawat RSJ Prof.Dr.Muhammad Ildrem Sumatera Utara Najmah Medina Sari Nasution; Maqhfirah DR
Jurnal Diversita Vol 3, No 2 (2017): Diversita Desember
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/diversita.v3i2.1259

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan lingkungan kerja non fisik dengan kepuasan kerja pada perawat di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Muhammad Ildrem Provinsi Sumatera Utara. Lingkungan Kerja Non Fisik adalah  lingkungan kerja yang tidak dapat ditangkap dengan panca indera manusia tetapi dapat dirasakan oleh para pekerja melalui hubungan-hubungan sesama pekerja maupun dengan atasan.Kepuasan Kerja merupakan suatu sikap, persepsi atau emosi yang dimiliki seseorang terhadap pekerjaannya.Subjek penelitian adalah perawat di RS. Jiwa Prof. Dr. Muhammad Ildrem Provinsi Sumatera Utara sejumlah 150 perawat. Pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan total sampling. Berdasarkan hasil perhitungan Analisis Korelasi Product Moment, dapat diketahui bahwa terdapat hubungan positif yang sangat signifikan antara lingkungan kerja non fisik dengan kepuasan kerja. Hasil ini dibuktikan dengan koefisien korelasi rxy =  rxy =  0,510 ; sig 0,000. Dengan demikian maka hipotesis yang diajukan, dinyatakan diterima. Lingkungan kerja non fisik memberikan pengaruh  terhadap kepuasan kerja sebesar 26%. Dari hasil ini berarti diketahui bahwa masih terdapat 74% pengaruh dari faktor lain.
Edukasi Konsep Rumah Sehat untuk Meningkatkan Kesadaran Hidup Sehat pada Siswa SMA Negeri 1 Kisaran, Kabupaten Asahan Mufti Ali Nasution; Saufa Yardha Moerni; Yunita Syafitri Rambe; Nanda Novita; Yuan Annisa; Maqhfirah DR
Wahana Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2026): Edisi Juni
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/wahana.v5i1.1879

Abstract

Rumah sehat merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung kesejahteraan fisik, mental, dan sosial masyarakat, namun pemahaman mengenai konsep dan kriteria rumah sehat masih rendah, termasuk di kalangan siswa sekolah menengah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran hidup sehat siswa SMA Negeri 1 Kisaran, Kabupaten Asahan, mengenai konsep rumah sehat melalui metode penyuluhan/ceramah. Kegiatan dilaksanakan pada Rabu, 11 Februari 2026, dengan melibatkan 60 siswa sebagai peserta. Pelaksanaan kegiatan terdiri atas tiga tahap, yaitu persiapan, penyajian materi disertai sesi tanya jawab, dan evaluasi menggunakan post-test berbentuk soal pilihan ganda sebanyak 10 item. Hasil post-test menunjukkan rata-rata persentase jawaban benar sebesar 92,4%, dengan capaian tertinggi pada indikator manfaat membuka jendela (100%) dan capaian terendah pada indikator fungsi ventilasi, manfaat pencahayaan alami, serta syarat rumah sehat (masing-masing 86,7%). Hasil ini mengindikasikan bahwa siswa memiliki pemahaman yang baik terhadap materi rumah sehat setelah mengikuti kegiatan penyuluhan, khususnya pada aspek pemahaman (C2) dan penerapan (C3). Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya awal dalam menumbuhkan kesadaran hidup sehat pada generasi muda, khususnya terkait pengelolaan tempat tinggal yang sehat di masa mendatang.
Resilience as a Predictor of Psychological Recovery among Trauma Survivors: A Cross-Sectional Quantitative Study Maqhfirah DR
Golden Ratio of Social Science and Education Vol. 6 No. 2 (2026): June - November
Publisher : Manunggal Halim Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52970/grsse.v6i2.2520

Abstract

Traumatic experiences often result in psychological distress that impairs individuals' emotional, social, and daily functioning. Nevertheless, not all trauma survivors experience prolonged psychological difficulties, as many demonstrate the capacity to achieve psychological recovery. Resilience has been widely recognized as an important protective factor that facilitates positive adaptation following traumatic experiences. Therefore, this study aimed to examine the role of resilience in predicting psychological recovery among trauma survivors. A quantitative, cross-sectional, correlational design was employed, involving 128 trauma survivors selected using purposive sampling. Resilience was assessed using the Connor–Davidson Resilience Scale-10 (CD-RISC-10), whereas psychological recovery was measured using the Questionnaire about the Process of Recovery (QPR-15). Data were analyzed using descriptive statistics, Pearson correlation, and simple linear regression. The findings revealed that resilience was positively and significantly associated with psychological recovery (r = .624, p < .001) and emerged as a significant predictor (β = .624, p < .001), explaining 38.9% of the variance in psychological recovery (R² = .389). These findings indicate that individuals with higher resilience are more likely to achieve better psychological recovery following traumatic experiences. The study provides empirical evidence supporting resilience as a key psychological resource in post-traumatic adaptation and highlights the importance of resilience-based interventions to facilitate psychological recovery among trauma survivors.
Resilience dan Quarter Life Crisis : Studi pada Mahasiswa Psikologi yang Bekerja Maqhfirah DR; Deby Lestari Br Sukatendel
Jurnal Penelitian Pendidikan, Psikologi Dan Kesehatan (J-P3K) Vol 6, No 4 (2025): J-P3K
Publisher : Yayasan Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/j-p3k.v6i4.927

Abstract

Fenomena quarter life crisis merupakan respon alami terhadap tekanan dan tuntutan tugas perkembangan yang harus dihadapi pada masa dewasa awal. Pada mahasiswa yang bekerja, tekanan untuk berhasil dalam kedua peran yakni akademik dan profesional dapat memicu tanda quarter life crisis yang lebih kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara resilience dengan quarter life crisis pada mahasiswa yang bekerja. Penelitian ini melibatkan 133 orang mahasiswa aktif Fakultas Psikologi Universitas Medan Area berusia 20–29 tahun dan memiliki pekerjaan full time ataupun part-time. Data dikumpulkan menggunakan skala resilience dan skala quarter life crisis. Hasil uji analisis korelasi Product Moment Pearson menunjukkan adanya hubungan negatif antara resilience dan quarter life crisis, dengan nilai koefisien korelasi r = -0,605 dan signifikansi p = 0,001 (p < 0,05). Artinya, semakin tinggi resilience, semakin rendah quarter life crisis yang dialami mahasiswa bekerja. Kontribusi efektif resilience terhadap quarter life crisis sebesar 36,6%. Secara umum, mahasiswa yang diteliti memiliki tingkat resilience yang tinggi dan mengalami quarter life crisis dalam tingkat rendah. Temuan ini menegaskan pentingnya resilience sebagai faktor pelindung dalam menghadapi tekanan selama masa transisi menuju dewasa awal.