Antonius Eddy Kristiyanto
Driyarkara School Of Philosophy

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

IDE DAN PRAKSIS TOLERANSI Pengalaman Eropa Pasca-Reformasi Martin Luther Eddy Kristiyanto
Studia Philosophica et Theologica Vol 2 No 2 (2002)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v2i2.152

Abstract

One of theses that would be presented here in this article is within the historiography of the modern era of religious tolerance the Protestant Reformation era has always been considered of paramount important for the developments which led to the achievement of a liberal and tolerant society. The history shows, however, that the first century of the Reformation was followed by the intolerence, and some nations like Germany, France, England put into practice the political, economic interets which corelatted with religious belief. The break-up of the near monolithic structure of medieval Western Christianity for the first time presented contemporary lay and ecclesiastical rulers with the practical problem of how to deal with religious plurality. The aspects of religious toleration, such as freedom of conscience and freedom of worship, are something new. This article presents the efforts of Western Christians to give the solution.
Kebahagiaan: Paradoks Dalam Sejarah Manusia1 Antonius Eddy Kristiyanto
Seri Filsafat Teologi Vol. 24 No. 23 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembicaraan mengenai kebahagiaan (dan demikian juga mengenaipenderitaan) sebagai pengalaman insani merupakan hal yang sangat lumrah.Kelumrahan itu bisa jadi disebabkan oleh kedekatan, bahkan kesatuannyayang tak terceraikan dengan hidup sehari-hari manusia. Namun tak mudahmenetapkan dengan serba pasti apa yang merupakan tanda-tanda danukurannya yang kasatmata. Sepertinya segala sesuatunya serba relatif danbersifat subyektif. Mengapa? Sebab “tingkat” kepuasan yang dialami olehseseorang tidak merupakan jaminan bahwa yang lain akan mengalamikepuasan yang sama, jika mengalami hal yang sama.
Joas Adiprasetya, An Imaginative Glimpse: The Trinity and Multiple Religious Participation, Introduction by Amos Yong, Eugene, Oregon: Pickwick, 2013, xiv+202 hlm. Eddy Kristiyanto
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 13 No. 2 (2014): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.908 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v13i2.86

Abstract

Dalam pembacaan saya, karya yang sedang saya timang-timang ini tidak berlebihan jika diberi tajuk, “Belajar Mencipta Refleksi Ilmiah Teologis dari Joas Adiprasetya.” Oleh karena itu, pada tempat pertama, kepada Joas Adiprasetya saya menyampaikan proficiat atas dipublikasikannya hasil studi yang memahkotai ikhtiar menimba ilmu di School of Theology, Boston University, Massachusetts (USA), pada 2009 yang lalu. Studi formal Joas Adiprasetya bukan hanya sekedar selesai asal selesai, melainkan dengan kualifikasi maxima cum laude. Hal ini dapat ditilik dan dibuktikan dengan opus magnum yang sedang kita bicarakan hic et nunc. Bagaimana tidak? Karya ini mengangkat ke permukaan dua tema besar, yang kemudian dijadikan fokus kajian dan perhatiannya. Kedua tema itu berkenaan dengan Trinitas dan Teologi Agama-Agama. Di satu pihak, mengulas Trinitas tak ubahnya bagaikan mengawali perjalanan dalam kegelapan dan mengakhirinya dalam kegelapan. Pembicaraan tentang Trinitas mengesankan tidak semakin memperjelas pemahaman pembicara tentang Trinitas, apalagi memperjelas Trinitas pada dirinya sendiri. Trinitas tetap Trinitas. Titik. Ia tetap misteri. Di lain pihak, manusia yang percaya telah (sedang dan akan) mengalami siapakah Trinitas dalam peri hidupnya. Jadi, ada semacam lubang yang memungkinkan manusia dalam keterbatasannya scapato via (lepas, melejit, melarikan diri) mencapai gugus tertinggi dalam puncak-puncak sekelebatan sinar yang barang kali imaginatif. Akan tetapi kedua “kebenaran” itu sah. Artinya, dapat diverifikasikan dan dapat pula dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Oleh karena itu, sangat besar kekeliruan UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang membuat kategorisasi baru, yang sangat bertentangan dengan akal sehat dan kebiasaan ilmiah, yakni memasukkan (ilmu) Teologi dalam rumpun ilmu Agama. Namun, apa mau dikata, para pengambil kebijakan di negeri ini akhir-akhir ini seakan tidak pernah belajar dari ilmu, kecuali bagaimana mengakali agar kepentingan kelompok diakomodasi dengan imbalan uang. Justru, studi dan karya Joas Adiprasetya ini, di mata saya, dapat memperlihatkan kekeliruan dan kerancuan berpikir para anggota parlemen sekaligus Kementerian Agama Republik Indonesia. Coba simak saja kajian Joas Adiprasetya dan lihat sendiri bagaimana tema teologis ini tidak bersangkut paut dengan “rumpun ilmu agama,” sebab studi ini bersifat keilmuan, “metapraksis” yang melampaui premis-premis agama sebagai suatu lembaga, yang tentu saja telah dibuktikan di Indonesia dapat dipolitisasi. Dalam studi Joas Adiprasetya ini, tak terbilang jumlah tokoh besar (dalam sejarah doktrin Kristen) yang mengulas, merefleksikan, meneliti, serta menulis dengan ketelitian yang mengagumkan dan ketajaman yang memukau, akan tetapi pada akhirnya sama gelapnya, dan yang lebih menakjubkan adalah jumlah orang percaya dan oleh karena itu mengalami tidak berkurang, bahkan sebaliknya. Itulah sebabnya Anselmus Canterburry menyatakan Credo ut intelligam; artinya, saya percaya supaya dengan itulah saya memahami. ........... Joas Adiprasetya pun, dalam bidikan saya, menyenggol paradigma teologi tentang agama-agama di bawah istilah eksklusivisme, inklusivisme, and pluralisme. Seiring dengan perkembangan waktu, yang memperlihatkan bahwa teologi pun menganut asas semper reformanda et reformata sicut signum temporis (senantiasa membarui dan diperbarui seturut tanda zaman), maka dipopulerkan era pasca pluralisme. Dengan terminologi pasca pluralisme, sejumlah peristilahan yang pernah dikecam seperti sinkretisme, kafir (baca: bukan kita), murtad, proselitisme, dan lain sebagainya perlu ditinjau kembali. Di sini, Joas Adiprasetya melihat tersedianya lahan untuk berdialog, juga tentang Trinitas. Tentu hal ini merupakan tantangan tersendiri jika “minoritas”—seperti Joas Adiprasetya—menawarkan kepada publik sebuah keterkaitan “niscaya” antara teologi tentang Trinitas dengan teologi tentang agama-agama. Ternyata Joas Adiprasetya yang kreatif berhasil menyingkapkan kata kunci yang dapat berlaku umum, yaitu sosial untuk kemudian masuk dalam the great design, yakni misteri perichoresis. Tidak tanggung-tanggung, Joas Adiprasetya menyihir para pembaca dengan ungkapan magis yang diturunkan dari Leonardo Boff, “The holy Trinity is our social program” (Nicolas Federov dikutip oleh Boff dalam “Trinity” dalam Systematic Theology: Perspectives from Liberation Theology, hlm. 78). Meski demikian, hal itu tidak berarti Saudara Joas Adiprasetya sedang tidak menyimpan bom waktu, sebab relasi sosial yang diterapkan dalam signifikansi perichoresis dapat melahirkan suatu cara pandang yang menyamakan saja antara Sang Alpha dan Omega dengan makhluk ciptaan; dan hal ini salah satu butir notasi tentang Teologi Pembebasan, yang sepenuhnya didukung oleh Leonardo Boff. Sekali lagi, dengan memanfaatkan senjata pamungkas dari para teolog kenamaan tersebut (Raimundo Panikkar, Gavin D’Costa, Mark Heim, yang masing-masing menggunakan person-, nature-, reality-perichoresis), Joas Adiprasetya berhasil mengeksplorasi dan menemukan seberkas cahaya terang, yang ternyata sejalan dengan penemuan Richard Kearney (Allah yang mungkin ada) dan Jürgen Moltmann (Trinitas terbuka). Sampai di sini, Joas Adiprasetya dapat menawarkan temuannya sebagai suatu bentuk teologi Indonesia! Akhirnya, karya ini tidak sesederhana, tidak sesingkat Daftar Isi (hlm. vii), sebab penelusuran Joas Adiprasetya mengalir sampai jauh, sampai saling merasuki pribadi-pribadi tanpa melebur menjadi satu, tanpa menghilangkan identitas, justru karena prinsip perichoretik itu bersatu tanpa saling meniadakan. Karya Ketua Sekolah Tinggi Teologia Jakarta ini merupakan salah satu model unggul berteologi dalam konteks dan ranah multipluralisme, yang diakui dan dipuji di Indonesia, namun tidak banyak dipraktikkan. (A. Eddy Kristiyanto, Program Studi Teologi, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).
Julianus Mojau Meniadakan atau Merangkul?: Pergulatan Teologis Protestan dengan Islam Politik di Indonesia, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012, xxvi + 447 hlm. Eddy Kristiyanto
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 12 No. 1 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v12i1.128

Abstract

Satu lagi, buku teologi (sosial) yang berbobot terbit! Berawal dari penelitian yang dimaksudkan untuk penyusunan disertasi pada The South East Asia Graduate School of Theology (SEAGST), 2004, Pendeta Gereja Masehi Injili di Halmahera, Julianus Mojau menyodorkannya kepada khalayak ramai di Indonesia. Argumen utama buku ini dapat diformulasikan dalam pertanyaan berikut ini: bagaimana model teologi sosial sebagaimana dihasilkan oleh tokoh-tokoh Kristen Protestan dan dokumen-dokumen yang meretas dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia selama kurun waktu tiga dasawarsa, konkretnya semasa pemerintahan Orde Baru? Selama kurun waktu tersebut, Mojau mengenali tiga model teologi sosial di lingkungan Kristen Protestan, yakni teologi sosial modernisme, liberatif, dan pluralis. Ketiga model itu diuraikan dengan sangat runtut, gamblang, sistematis, kritis, berikut logika analitik yang memperlihatkan keluasan dan kedalaman wawasan penulis. Terminologi “teologi sosial” ramai dimanfaatkan dalam blantika percaturan keilmuan di lingkungan Kristen Protestan Indonesia setelah (alm.) Pendeta Eka Darmaputera, Bernard Adeney-Risakotta, Martin Lukito Sinaga, dan Th. Sumartana menggantangnya pada awal tahun 2000.Ditunjukkannyadengan sangat jelas, bahwa “praksis” yang mengawali suatu proses berteologi sudah muncul jauh sebelum angka tahun tersebut. Pada prinsipnya segala teologi adalah teologi sosial, menurut kesimpulan A.G. Hoekema, (hlm. xv), meskipun J.S. Aritonang memberikan batasan simpel dan meyakinkan, yang intinya: “Berteologi di tengah realitas sosial yang kompleks,” itulah Teologi Sosial, (hlm. xiii). Setelah Pendahuluan yang panjang (26 halaman), yang memaparkan duduk perkara dan hal ikhwal diskursus yang diusung, berturut-turut dari Bab 1 (tentang teologi sosial modernisme, hlm. 27-142), Bab 2 (tentang teologi sosial liberatif, hlm. 143-279) dan Bab 3 (teologi pluralis, hlm. 280-365), Bab 4 (retrospeksi dan prospek teologi sosial pasca Orde Baru, hlm. 366-403) penulis memperlihatkan kajian dan analisis secara kritis ketiga model kategori teologi sosial Kristen Protestan di Indonesia. Ketiga model teologi tersebut ditempatkan oleh penulis dalam babak Orde Baru Indonesia (tahun 1969-1990-an) di bawah rezim Soeharto dan dalam pertautannya dengan Islam Politik. .............. Sebagai paparan dan kajian ilmiah yang mengedepankan pandangan putera-puteri terbaik Kristen Protestan berikut dokumen-dokumen DGI/PGI, karya Mojau ini tidak mampu menyembunyikan keyakinannya bahwa kebangkitan Islam Politik hanyalah sebuah euforia artikulasi kesadaran politis-humanistis yang sedang mencari format yang cocok dalam perubahan zaman di tengah proses transisional. Justru karena itulah Gereja-gereja perlu merangkul dan membuka komunikasi serta dialog yang tulus dengan saudara-saudara penganut Islam Politik sebagai sesama yang merindukan kedamaian, kebaikan, dan keadilan. Perjuangan bersama itulah yang dimaksudkan agar politik sebagai kearifan menatalayani kehidupan bersama tercapai. Dalam pembacaan saya, buku ini sangat inspiratif, kaya dengan informasi, mengedepankan pandangan secara komprehensif tanpa menghilangkan sikap kritis dan tajam. Ini fenomenal dan monumental! Mungkin inilah satu-satunya karya yang “berani” mengritik karya T.B. Simatupang. Mojau sendiri, menurut saya, memperlihatkan diri sebagai pribadi yang memegang teguh spirit Protestan sejati, yakni selalu bersikap kritis terhadap segala bentuk deifikasi. Karya ini akan lebih baik lagi jika ada indeks nama atau masalah pada halaman-halaman akhir. Selain itu, istilah “modernisme” yang diimbuhkan pada Teologi Sosial di mata saya memiliki konotasi lain, yakni aliran modernisme yang dikecam oleh (alm.) Pius X sebagai “biang dari segala kesesatan.” Tetapi di atas segala-galanya, analisis Mojau yang tajam membuat lorong-lorong kebuntuan koeksistensi damai dan adil dengan Islam Politik dapat diurai. Dengan demikian tanda tanya pada judul buku ini terjawab dengan pasti. (A. Eddy Kristiyanto, Program Studi Ilmu Teologi, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).
ASAL MUASAL DAN PERKEMBANGAN ORDO KETIGA REGULAR FRANSISKUS ASSISI Antonius Eddy Kristiyanto
Jurnal Teologi (Journal of Theology) Vol 11, No 02 (2022)
Publisher : P3TK, Sanata Dharma University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/jt.v11i02.4638

Abstract

AbstractThis historical research has focused on the religious movement of the Third Order Regular Francis of Asisi. The followers of the Poor man of Assisi consist of four Franciscan Orders, known today as the Order of Friars Minor, the Order of St. Clare, the Third Order Regular of St. Francis, and the Secular Franciscan Order (formerly known as the Third Order Secular). More than that, the religious vision and Francis’ inspiration are being put into practice by a certain Lutheran denomination and an Anglican church. The research which applied the method of spiritual-historical theology has narrated the emancipatory movements that were realized by the Third Order (penitence) of St. Francis. In fact, there were lay people who would imitate Francis’s way of life within their state of life, in their works, and within their family. This is the origin of Tersiaris (the Secular Franciscan Order). Then, there were some people who would be religious in the spirit of St. Francis by living the holy gospel. In reality, some interventions by the Holy See took part in determining the development of the Third Order Regular of St. Francis, besides the active roles of the members of the First Order (as spiritual fathers) and local bishops. Throughout its long history, the Third Order Regular has served as a kind of sanctity school for its own members as well as those who completely immerse themselves in their service to the world. So, the primary characteristic of the Third Order remains penance, that is the spiritual ideals of Francis of Assisi.AbstrakKajian historis ini menfokuskan perhatian pada gerakan religius Ordo Ketiga Regular Fransiskus Assisi. Para pengikut Si Miskin Assisi terdiri atas empat kelompok, yakni Ordo Pertama (Saudara-saudara Dina), Kedua (Claris), dan Ketiga (Ordo Regular St. Fransiskus), dan Ordo Fransiskan Sekular. Bahkan visi religius dan inspirasi Fransiskus dihayati pula oleh para penganut denominasi Lutheran dan Anglikan. Riset dengan metode teologi historis-spiritual ini menarasikan gerakan emansipatoris yang diwujudkan oleh Ordo Ketiga (Pentobat) Fransiskus. Pada mulanya ada orang-orang awam yang ingin meneladan cara hidup Fransiskus dengan tetap hidup di dunia, dalam pekerjaan sehari-hari dan berkeluarga. Inilah cikal-bakal Tersiaris (Ordo Fransiskan Sekuler). Kemudian ada pula orang-orang yang mau hidup religius dalam prasetia kepada Gereja-Nya dengan semangat Fransiskus, yakni dengan menghayati nasihat-nasihat Injil suci. Dalam praktiknya, selain intervensi-intervensi Takhta Suci ikutserta menentukan perkembangan Ordo Ketiga Regular St. Fransiskus, juga peranan para anggota Ordo Pertama sebagai pendamping rohani, dan ordinaris wilayah. Ordo Ketiga Regular tersebut secara kontinyu menjadi sekolah kesucian bagi para anggota dan mereka yang terlihat sepenuhnya dalam pelayanan pada dunia. Jadi, ciri pembeda utama Ordo Ketiga adalah pertobatan, yang merupakan cita-cita rohani Fransiskus Assisi.
F.X. Armada Riyanto, CM: Sejarah Misi Surabaya. Jilid I: 1810-1961. 100 Tahun CM Indonesia. Jilid II: 1962-2022.: (Jakarta: Obor, 2023, xvi + 816 hlm.; xvi + 473 hlm.) Kristiyanto, Eddy
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 19 No. 1 (2023): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36383/diskursus.v19i1.396

Abstract

Ikhtiar Membangun Teologi Sosial Kon(multi)tekstual dengan Memanfaatkan Epistemologi Barat demi Kedalaman Bersama Eddy Kristiyanto, Antonius
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 9 No. 2 (2024): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2024.92.1209

Abstract

AbstractThe main object of this research is to efford to give foundation to the praxis of social theology here, now, and beyond (hic, nunc, et tunc). On regarding the state of question and content of epistemology and theology do not assume each other, so the focus of this research could be formulated as follow: How could epistemology give the positive roles in any discourse about in the extending dan profounding the social theologywhich characterized by some con(multi)textual? Either epistemology or theology constitute two the autonom clusters. Each of them has the special method. The historical method through this research, however, builds bridge  between philosophy in one hand and the theology in the other. This method is due to the principles for the convergence of sources. State of the art elaborates the reflections of Wolfhard Pannenberg and Johann Baptis Metz which would be confrontated with the concept of proflection. This research finally promotes two patters which are intercomplementary. AbstrakKajian ini bermaksud mengikhtiarkan pendasaran praksis teologi sosial di sini, sekarang, dan melampaui (hic, nunc, et tunc). Mengingat duduk perkara dan isi epistemologi dan teologi tidak saling mengasumsikan, maka fokus kajian ini dirumuskan begini: Bagaimana epistemologi dapat berperan positif dalam diskursus tentang pengembangan dan pendalaman teologi sosial yang bercorak kon(multi)tekstual? Baik epistemologi maupun teologi merupakan dua rumpun ilmu yang otonom. Mereka memiliki metodologi yang berbeda. Namun, metode historis dalam kajian ini menjembatani antara arus filosofis dengan teologis. Metode ini sesuai dengan asasnya, yakni konvergensi sumber. State of the art berangkat dari pengolahan atas refleksi, misalnya Wolfhart Pannenberg dan Johann Baptis Metz, yang akan dikonfrontasikan dengan konsep tentang profleksi. Akhirnya kajian ini menyodorkan dua pola yang saling melengkapi.
Absolutisme Negara dan Lembaga Agama: Pasca Aufklärung di Eropa Barat Kristiyanto, Eddy
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 2 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1443.544 KB) | DOI: 10.26593/mel.v21i2.1024.211-230

Abstract

Along her history, the Catholic Church has hardly been able to get rid of political interests and power. The struggle to do so had in fact led her to even deeper involvement in the political world. Particularly in the ear after the Enlightenment the Church was more and more subordinated to the state by means of various juridical measures. The tensions between the state and the church, however, more often than not turned out to be a blessing in disguise, for thereby the Church was compelled to revisit her essential mission: to deal only with the moral and religious dimension of the civil society. It is this mission which calls for the Church to be continuously involved in the human affairs.
Gereja sebagai “Casta Meretrix” menurut Hans Urs von Balthasar Gabriel, Vincentius; Kristiyanto, Antonius Eddy; Atawolo, Andreas Bernadinus
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 9, No 2 (2025): April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v9i2.1421

Abstract

Abstract. The holiness of the Church, in the Scripture and magisterium, could be explained in its depiction as the bride of Christ. With the same depiction, Hans Urs von Balthasar was observantly concerned with the sins of the Church as summarized in his essay, “Casta Meretrix.” This research is a literature study with a historical-critical approach, seeking to explore Balthasar's perspective and its novelty. The study found a new angle offered by Balthasar in understanding the reality of the sinful Church, which centered on the figure and saving action of Jesus Christ, the Bridegroom. Balthasar's view influenced the renewal of the Church in real life, especially during the pontificate of Pope John Paul II. The Church confessed and asked for forgiveness for sins that have been committed as the way of the cross. Finally, we offer two antinomies to understand the nature of the Church. At the same time, the Church: is made up of sinners, but is always called to holiness; and she is historical on earth, but seeks her holiness in union with God in heaven.Abstrak. Kodrat Gereja yang kudus, dalam Kitab Suci dan ajaran resmi Gereja, dapat dijelaskan dalam penggambarannya sebagai mempelai Kristus. Dengan penggambaran yang sama, secara jeli Hans Urs von Balthasar menaruh perhatian pada dosa-dosa Gereja sebagaimana terangkum dalam esainya, “Casta Meretrix.” Kajian ini, dengan metode studi pustaka dan pendekatan historis-kritis, berusaha menggali pandangan Balthasar beserta kebaruannya. Studi ini menemukan cara pandang baru yang ditawarkan Balthasar dalam memahami realitas Gereja yang berdosa, yakni berfokus pada figur dan tindakan penyelamatan Yesus Kristus, Sang Pengantin Laki-laki. Pandangan Balthasar berpengaruh pada pembaruan Gereja secara real, secara khusus pada masa pontifikat Paus Yohanes Paulus II. Gereja melakukan pengakuan dan permohonan pengampunan atas dosa-dosa yang pernah dilakukan sebagai sebuah jalan salib. Akhirnya, kami menawarkan dua antinomi untuk memahami kodrat Gereja. Pada saat bersamaan Gereja: terdiri atas orang-orang berdosa, tetapi selalu dipanggil menuju kekudusan; dan ia menyejarah di dunia, tetapi berusaha mengusahakan kesuciannya dalam kesatuan dengan Allah di surga.
Absolutisme Negara dan Lembaga Agama: Pasca Aufklärung di Eropa Barat Kristiyanto, Eddy
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 2 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v21i2.1024.211-230

Abstract

Along her history, the Catholic Church has hardly been able to get rid of political interests and power. The struggle to do so had in fact led her to even deeper involvement in the political world. Particularly in the ear after the Enlightenment the Church was more and more subordinated to the state by means of various juridical measures. The tensions between the state and the church, however, more often than not turned out to be a blessing in disguise, for thereby the Church was compelled to revisit her essential mission: to deal only with the moral and religious dimension of the civil society. It is this mission which calls for the Church to be continuously involved in the human affairs.