Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Pemanfaatan Drone dalam Pemetaan Kontur Tanah Andrew Stefano Andrew
Jurnal Loupe Vol 16 No 02 (2020): Edisi Desember 2020
Publisher : Jurusan Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Kampus Sei Keledang Jalan Samratulangi, Kotak Pos 192 Samarinda 75123

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/buletinloupe.v16i02.76

Abstract

Sejak tahun 2016 pemerintah melaksanakan percepatan pendaftaran tanah sistematik lengkap hingga pada tahun 2025 seluruh bidang tanah di Indonesia telah terdaftar. Pada tahun 2018 saja pemerintah menargetkan 7 juta bidang, dan tahun 2019 menargetkan 9 juta. Untuk mencapai target tersebut diperlukan teknologi yang bisa mengatasi hal tersebut. Drone, yang lebih dikenal Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau teknologi pesawat tanpa awak sebagai solusi untuk pemetaan tanah dengan target yang banyak, feksibilitas waktu dan areal pemotretan yang diinginkan, dan hasil pemotretan resolusi spasial yang detail serta biaya yang relatif lebih murah dibandingkan harga perekaman dengan satelit. Penggunaan drone untuk percepatan pemetaan tanah adalah pilihan yang tepat karena hasil pemotretan drone punya resolusi spasial yang tinggi sehingga sesuai dengan aturan pemetaan bidang tanah dan harganya murah.
Perencanaan Pengembangan Kawasan Pesisir Andrew Stefano
Jurnal Loupe Vol 13 No 01 (2016): Edisi April 2016
Publisher : Jurusan Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Kampus Sei Keledang Jalan Samratulangi, Kotak Pos 192 Samarinda 75123

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/buletinloupe.v13i01.91

Abstract

Wilayah pantai/pesisir mempunyai karakter yang spesifik dibandingkan dengan kawasan yang lain. Wilayah ini merupakan agregasi dari berbagai komponen ekologi dan fisik yang saling terkait dan saling berinteraksi. Pembangunan dengan memanfaatkan sumberdaya pantai tanpa memperhatikan prinsip-prinsip ekologis akan dapat merusak fungsi ekosistem pantai. Pengembangan wilayah pada kawasan pesisir sebagaimana pengembangan wilayah pada kawasan lainnya, mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan ini dilakukan melalui perencanaan pengembangan dalam suatu proses yang didalamnya terdapat berbagai pendekatan yang harus diperhatikan. Dewasa ini pembangunan pada kawasan pantai berkembang sangat pesat dan ditunjukkan dengan adanya multi kegiatan, misalnya usaha tambak, nelayan, pengusaha industri, hotel dan rekreasi wisata, dan usaha-usaha. Dengan semakin meningkat dan kompleksitas kegiatan didalamnya maka perlu dilakukan perencanaan pengembangan kawasan pantai/pesisir. Pengelolaan wilayah pantai secara terpadu (Intergrated Coastal Zone Management) merupakan kunci bagi pembangunan melalui pemecahan problem dan konflik di wilayah pantai yang sangat pelik dan kompleks.
Pemanfaatan Global Positioning System (GPS) untuk Menghitung Panjang dan Luas Lahan Andrew Stefano Andrew
Jurnal Loupe Vol 17 No 01 (2021): Edisi Juni 2021
Publisher : Jurusan Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Kampus Sei Keledang Jalan Samratulangi, Kotak Pos 192 Samarinda 75123

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/buletinloupe.v17i01.260

Abstract

Menghitung luas tanah dapat dilakukan dengan beberapa metode, salah satunya menggunakan metode titik koordinat. Titik koordinat digunakan sebagai patokan untun menentukan luas tanah. Kelebihan dari perhitungan menggunakan titik koordinat adalah kecepatan proses perhitungan dan biaya yang dikeluarkan tidak begitu besar. Aplikasi menghitung panjang dan luas tanah menggunakan GPS (Global Positioning System) merupakan aplikasi yang dapat membantu pengguna smartphone untuk menghitung luas tanah. Pengembangan aplikasi Luas Tanah ini menggunakan pendekatan prototype. Aplikasi Luas Tanah ini memanfaatkan fasilitas dari Google Map API, yang menerapkan system client- server, terdiri dari sisi server sebagai penyedia dan pengelola informasi dan sisi client sebagai pengguna informasinya.
Evaluation of Surface Carbon Model Based on GIS and Remote Sensing in Kendari City Working Area Sri Endayani; Mahmud; Andrew Stefano
JURNAL AGRIMENT Vol. 10 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/jurnalagriment.v10i1.3270

Abstract

This study aims to evaluate the surface carbon stock estimation model in Kendari City working area using Geographic Information Systems (GIS) and remote sensing approaches. Spatial analysis was carried out using Sentinel-2A satellite imagery with a resolution of 10 meters per pixel, employing the vegetation index method as the primary indicator for estimating carbon stocks. Field data were used as reference and validation for image interpretation results, which were processed using spatial statistical methods to produce an accurate and reliable surface carbon distribution model. The research findings indicate that the Kendari City area has a significantly varied distribution of carbon stocks, with values ranging from low to high at 203.669 tons of carbon per pixel. Areas with high vegetation cover, such as urban forests and green open spaces, exhibited higher carbon concentrations compared to settlement areas and densely urbanized regions. Model evaluation conducted through field validation methods revealed a high correlation between model predictions and actual field conditions. This research demonstrates that the integration of GIS and remote sensing is effective for rapidly and accurately mapping and evaluating potential surface carbon stocks. Spatial information about carbon reserves is crucial as a basis for formulating sustainable environmental management policies and climate change mitigation strategies in Kendari City. The results of this study recommend wider adoption of this method to support spatial data-based environmental management in other regions across Indonesia
Pemetaan Kawasan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Menggunakan Drone: Mapping the Samarinda State Agricultural Polytechnic Area Using Drones Andrew Stefano Andrew
Jurnal Loupe Vol 18 No 01 (2022): Edisi Juni 2022
Publisher : Jurusan Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Kampus Sei Keledang Jalan Samratulangi, Kotak Pos 192 Samarinda 75123

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/buletinloupe.v18i01.892

Abstract

Perubahan penggunaan lahan pada dasarnya tidak dapat dihindarkan dalam pelaksanaan pembangunan. Politeknik Pertanian Negeri Samarinda berdiri 1989-2021 beralamatkan di Gunung Panjang Provinsi Kalimantan Timur. Penelitian ini bertujuan pemetaan kawasan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Metode menggunakan overlapping data pengukuran GPS dengan Peta BAPPEDA Kota Samarinda 2011-2031, pengolahan data drone dengan agisoft photoscan, overlay data drone dengan hasil data GPS dan peta BAPPEDA, dan hasil analisis kawasan di crosscheck dengan Citra Quick Bird. Hasil penelitian diperoleh peta kawasan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda seluas 28,44 Ha, dengan batas wilayah sebelah Utara Politeknik Negeri Samarinda, sebelah Selatan pemukiman penduduk, sebelah timur pemukiman penduduk dan sebelah barat jalan. Karena belum adanya peta pengukuhan kawasan sehingga penelitian ini perlu dibuat. Pengukuhan suatu kawasan harus berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2021 tentang hak pengelolaan, hak atas tanah, satuan rumah susun, dan pendaftaran tanah.
Pemetaan Topografi di Area Perkebunan Kelapa Sawit Wanasari, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur : Topography Mapping in The Palm Oil Plantation Area of Wanasari, Muara Wahau Subdistrict, Kutai Timur District, East Kalimantan Province Andrew Stefano; Sri Endayani
Jurnal Loupe Vol 19 No 01 (2023): Edisi Juni 2023
Publisher : Jurusan Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Kampus Sei Keledang Jalan Samratulangi, Kotak Pos 192 Samarinda 75123

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/buletinloupe.v19i01.2419

Abstract

Pemetaan merupakan bagian pekerjaan yang sangat penting pada bidang pembangunan, khususnya di zaman modern ini. Pemetaan yang akurat dan baik akan menghasilkan data-data yang baik pula, sehingga dapat dijadikan sebagai acuan dalam bidang pembangunan baik dalam skala kecil, menengah maupun besar. Oleh karena itu, dalam melaksanakan pemetaan hendaknya menggunakan alat yang mampu mengaplikasikan teknik-teknik pengukuran yang benar. Total station merupakan salah satu alat yang digunakan dalam pemetaan tersebut. Total station merupakan alat digital yang mampu mengukur jarak dan sudut secara sekaligus dan dapat merekam data secara elektronik. Pemetaan ini bertujuan untuk memetakan suatu bidang tanah dengan output yang dihasilkan berupa peta topografi di area perkebunan kelapa sawit Wanasari Kecamatan Muara Wahau Kabupaten Kutai Timur Provinsi Kalimantan Timur. Metode pengukuran menggunakan alat Total Station Sokkia Tipe CX 103 dengan menggunakan prisma dan pengolahan data menggunakan software PC-CDU, SOKKIA Link SOKKIA Tools, dan Land Dekstop. Hasil pengukuran didapatkan data elevasi permukaan tanah asli dengan luas 230,64 Ha. Titik terendah permukaan tanah berada pada titik P9 dengan elevasi 2,01 m. Hal ini disebabkan pada daerah tersebut merupakan daerah rawa-rawa. Sedangkan elevasi tertinggi permukaan tanah berada pada titik Bench Mark (BM) dengan Elevasi 3,00 m. Hal ini disebabkan pada daerah tersebut merupakan permukaan tanah yang berbukit.
Surface Temperature Distribution Through Vegetation Density and Building growth in Makassar City Andrew Stefano; Sri Endayani
Jurnal Loupe Vol 20 No 01 (2024): June 2024
Publisher : Jurusan Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Kampus Sei Keledang Jalan Samratulangi, Kotak Pos 192 Samarinda 75123

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/buletinloupe.v20i01.3065

Abstract

The high temperature phenomenon is an event where the temperature in the city area is hotter than the surrounding area. Indonesia is located in a tropical climate, so several cities have the potential for temperatures to rise during the dry season. The city of Makassar is one of the cities with a high level of urbanization. With residents' enthusiasm for looking for work in the city, the land around the city has been converted into built-up land. Conditions like this make the existence of green open space uneven. This research aims is to determine the distribution of high-temperature phenomena through a spatial approach using remote sensing technology and geographic information systems. This research uses Landsat imagery for 2022 with the Land Surface Temperature (LST), Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), and Normalized Difference Built-up Index (NDBI) methods. The results of the research explain that the large number of existing buildings has caused an increase in urban temperatures, from an initial temperature of 29.93 oC to 39.51 oC.The increase in temperature occurs throughout the year, with the hottest peak temperature reaching 37 oC on April 15, 2022. The condition of vegetation density decreased by 0.05, starting from 0.66 in 2012 to 0.61 in 2022; this is in line with the increase in building area to 15,368 ha in 2022. This condition makes Makassar City one of the hottest cities in Indonesia. With an increasingly high need for built-up land and high mobility, it has the potential to accelerate temperature changes, so it is necessary to provide green open space in densely built areas by creating public open spaces. open private.
Utilization of GIS and Information Technology in Optimizing the Location of Durian Peel Raw Materials for Environmentally Friendly Architecture-Based Industries Andrew Stefano; Sri Endayani
Jurnal Loupe Vol 20 No 02 (2024): December 2024
Publisher : Jurusan Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Kampus Sei Keledang Jalan Samratulangi, Kotak Pos 192 Samarinda 75123

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/buletinloupe.v20i02.3160

Abstract

Durian peel is one of the agricultural wastes that has great potential to be processed into high-value products. However, its utilization is still not optimal due to the lack of information about the strategic location of this raw material. This article aims to discuss the use of Geographic Information System (GIS) and IT technology in identifying the optimal location of durian peel raw materials. GIS is a very effective tool for collecting, managing, and analyzing spatial data related to the location of raw materials, making it easier to determine strategic points for durian shell collection. Architectural design that considers aspects of sustainability, energy efficiency, and minimizing environmental impact, treatment facilities can operate more efficiently and environmentally friendly. Industrial engineering also plays an important role in improving the efficiency of the processing process. By applying the right industrial techniques, the production process can be optimized to produce high-value products at a lower cost. The use of GIS and IT technology, coupled with the principles of environmentally friendly architecture and industrial engineering, can provide a comprehensive solution to optimize the use of durian peel as a raw material for high-value products.
Vegetation Dynamics in the Unmul Samarinda Botanical Garden through Quantitative Analysis of Plant Distribution Andrew Stefano; Sri Endayani
Jurnal Loupe Vol 21 No 01 (2025): Juni 2025
Publisher : Jurusan Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Kampus Sei Keledang Jalan Samratulangi, Kotak Pos 192 Samarinda 75123

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/buletinloupe.v21i01.3244

Abstract

The Unmul Samarinda Botanical Garden (KRUS) holds a strategic role in the conservation of tropical biodiversity in East Kalimantan. This study specifically analyzes the dynamics of shrub, herbaceous, and tree vegetation using a quantitative approach through the quadrat method, which remains rarely applied comprehensively in conservation areas across eastern Indonesia. This research offers a novel approach by integrating vegetation structure metrics (including Shannon-Wiener, Pielou’s evenness, and Simpson’s dominance indices) with an assessment of environmental variables—such as soil pH, water supply, and light levels—within a spatial analysis based on ecological zoning. The results indicate that shrub and herbaceous vegetation tend to have a more even distribution, while trees exhibit clustered patterns, with overall high biodiversity levels (index >2.5). Tree vegetation is dominated by native Kalimantan species, whereas shrubs and herbs demonstrate greater species diversity, including the presence of invasive species. The practical contribution of this research includes providing a scientific foundation for KRUS management in formulating more adaptive and data-driven conservation strategies, particularly in mitigating invasive species. Furthermore, the findings may serve as a reference for sustainable green space planning in other tropical conservation areas and promote the integration of quantitative approaches into vegetation preservation policies.