Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Agroplasma

Morfologi dan Aktifitas Makan Larva Spodoptera frugiperda (Lepidoptera: Noctuidae) pada Beberapa Inang Tanaman Pangan dan Hortikultura Firman Putra Irawan; Lutfi Afifah; Tatang Surjana; Budi Irfan; Dwi Priyo Prabowo; Aditya Bagus Widiawan
JURNAL AGROPLASMA Vol 9, No 2 (2022): AGROPLASMA VOL 9 NO 2
Publisher : UNIVERSITAS LABUHANBATU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36987/agroplasma.v9i2.3166

Abstract

Ulat grayak (Spodoptera frugiperda) merupakan salah satu spesies jenis serangga invasif yang menyebabkan kehilangan hasil tanaman pangan khususnya tanaman jagung. Tanaman yang dapat menjadi inang bagi hama S. frugiperda yaitu terdapat 83 spesies dari 23 famili tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian inang S. frugiperda terhadap beberapa jenis tanaman inang. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal yang terdiri dari 4 perlakuan dalam 5 kali ulangan; A (daun jagung var. Pioner 27), B (daun kacang tanah var. Bison), C (daun Pakcoi var. Nauli), D (daun kangkung var. Laris). Data dianalisis menggunakan analisis ragam dan uji lanjut LSD (Least Significant Different) pada taraf 5%. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian beberapa jenis tanaman inang pangan dan hortikultura memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap rata-rata bobot tubuh larva S. frugiperda pada instar 6 dengan kisaran bobot tubuh 0,14 – 0,33 g. Pemberian beberapa jenis tanaman inang memberikan pengaruh tidak berbeda nyata terhadap bobot tubuh larva instar 2 dengan kisaran bobot 0,10 - 0,13 g dan larva instar 4 dengan kisaran bobot 0,05 – 0,09 g. Pemberian beberapa jenis tanaman inang memberikan pengaruh tidak berbeda nyata terhadap  panjang tubuh larva  instar 2 dengan kisaran 0,63 - 0,75 cm, larva instar  4 dengan kisaran panjang 1,77 - 1,87 cm dan larva instar 6 dengan kisaran panjang 2,37 - 2,53. Hasil percobaan aktifitas makan menunjukkan aktifitas makan yang lebih aktif pada perlakuan daun jagung dan perlakuan daun pakcoy pada instar 3 dan instar 4 pada jam ke-1 dan jam ke-2 setelah pemberian pakan.Kata Kunci: Spodoptera frugiperda, Jagung, Kacang Tanah, Pakcoi, Kangkung
Uji Efektivitas Ekstrak Daun Kipahit (Tithonia diversifolia) Terhadap Mortalitas dan Intensitas Serangan Keong Mas (Pomacea canaliculata L.) Pada Tanaman Padi (Oryza sativa L.) Varietas Inpari 32 Nirmala Putri Maharani Setiakusuma; Lutfi Afifah; Sugiarto Sugiarto; Anton Yustiano
JURNAL AGROPLASMA Vol 10, No 2 (2023): JURNAL AGROPLASMA VOLUME 10 NO 2 TAHUN 2023
Publisher : UNIVERSITAS LABUHANBATU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36987/agroplasma.v10i2.4738

Abstract

Paddy (Oryza sativa L.) is a staple food crop and the primary source of fuel for the Indonesian economy. One of the many strategies that needs to be developed to decrease yield loss is pest control for rice. An extremely problematic pest of rice crops is the golden snail (Pomacea canaliculata L.). The golden snail attack on rice plants has the potential to reduce yields and even fail to harvest. In most cases, chemical pesticides are still used to control golden snails, but their overuse can lead to pest resistance. The objective of this research was to identify Kipahit leaf extract (Tithonia diversifolia) concentrations effective in reducing golden snail P.canaliculat) mortality and attack intensity on Inpari 32 rice varieties. The study employed a Randomised Block Design (RAK) with 5 replicates and 6 treatments to examine a single factor. Treatment levels A (Control/No Treatment), B (Kipahit Leaf Extract 40 g/L), C (Kipahit Leaf Extract 50 g/L), D (Kipahit Leaf Extract 60 g/L), E (Kipahit Leaf Extract 70 g/L) and F (Kipahit Leaf Extract 80 g/L) had a significant effect on mortality and intensity of golden snail P.canaliculat attack on plants rice (Oryza sativa L.) Inpari 32 variety. Treatment F (80 g/L Kipahit leaf extract) resulted in the highest mortality rate (74.00%) and the weakest attack intensity (59.67%).