Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Nanotechnology in Metformin Delivery: Fasting Blood Glucose and Neutrophil-Lymphocyte Ratio of Diabetic Rat Model David Pakaya; Laurents Christovel Iban Demen; Haerani Harun; Sarifuddin Anwar; Gabriella Bamba Ratih Lintin
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 22, No 1 (2022): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v22i1.13358

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) is a chronic inflammatory disease characterized by hyperglycemia and increasing the neutrophil-lymphocyte ratio (NLR). Metformin has been widely used to treat hyperglycemia. Metformin nanoparticles can improve bioavailability and may reduce inflammation. This study aims to analyze the effectiveness of metformin nanoparticles delivery through fasting blood glucose (FGB) level and NLR in the diabetic rat model. This study used 16 white male Wistar rats, 8 weeks of age, and body weight (BW) 250-350 grams. The streptozotocin (STZ) 40 mg/kg BW were injected i.p. Rats were divided into 4 groups; K1: normal control; K2: negative control (diabetes model); K3: diabetes model treated with metformin 100mg/Kg BW; K4: diabetes model treated with nanoparticle metformin 100mg/kg BW. Blood analysis tests were conducted using the Pentra hematology analyzer. Data were analyzed using the Graphpad Prism program with the nonparametric Kruskal Wallis test. The K3 group showed a periodical decrease in FBG level from day 7 to day 28 by 122 ± 11.31 mg/dL, and the mean NLR value was 0.48 ± 0.3 x 103/uL. Group of K4 periodically decreased in FBG level, indicating that it was closer to normal than K3. The result showed that at day 28.79 ± 15.39 mg/dL, the mean NLR value slightly increased compared to the K3 group by 0.54 ± 0.3 x103/uL. The statistical tests showed a significant difference between the level of FBG (p 0.0089) but no significant difference in NLR (p 0.347). Metformin nanoparticles could decrease FBG levels and effectively reduce the NLR in the diabetic rat model.
Analisis Faktor Risiko Tingginya kasus Tuberkulosis Paru di Indonesia : Literatur Revieu M. Sabir; Sarifuddin
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 6 No. 6: JUNI 2023 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v6i6.3662

Abstract

Pendahuluan : Penyakit Tuberkulosis Paru disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis masih menjadi masalah Kesehatan dan diduga banyak faktor yang menjadi pencetus sehingga kasus tersebut masih sangat tinggi di Indonesia. Tujuan : Tujuan kajian literatur ini adalah untuk menganalisis faktor risiko yang mempengaruhi tingginya kasus tuberkulosis Paru. Hasil : Hasil pencarian dengan menggunakan database yang berkaitan dengan kata kunci, selanjutnya di lakukan proses skrining, analisis jurnal, dan eliminasi. Diperoleh 15 jurnal yang dikategori layak digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini. Kesimpulan : Faktor risiko penyebab terbanyak tingginya kasus TB paru yakni riwayat merokok aktif dan pasif, riwayat kontak dengan pasien TB, riwayat pengobatan pasien TB, Status gizi (kurang), Pengetahuan tentang TB, dan pendapatan rendah.
Understanding Rural Perspectives and Practices of Health in Banggai Laut, Indonesia M. Sabir; Muh. Ardi Munir; Tri Setyawati; Muhammad Nasir; Ary Anggara; Ressy Dwiyanti; Rosa Dwi Wahyuni; Rahma; Vera Diana Towidjojo; Sarifuddin; Aristo; Mochammad Hatta
International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS) Vol. 5 No. 3: July 2023 - International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/ijhess.v5i3.3734

Abstract

Health is always an important value for human beings and the most fundamental condition of life. Health is perceived differently influenced by many factors including education, experience, knowledge, culture, and environment. The study aimed to explore community perception of health, including causes of diseases, and choices of help for health problems in rural setting in Central Sulawesi, Indonesia. The study is a qualitative ethnography with several data collection methods including semi structured in-depth interviews, small group discussion, informal conversations, photography, and direct observation. Study location was in Bangkurung sub-district. The study found that health is perceived as a power, energy, normal physiology of human body, and ability to work normally. Participants understood and believed that health is influenced by many factors including environment, food, lifestyle, social interaction and the rise of megycism, traditionally prohibited behaviors, religious belief, mind, and workload. Community members commonly used both medical treatment and traditional healing methods.
Karakteristik dan Etiologi Dominan Penyebab Individu Suspek Infeksi di Rumah Sakit Undata Palu: Characteristics and Etiology of Dominant Causes of Individuals Suspected of Infection at Undata Hospital, Palu Sarifuddin; Aristo; M. Sabir; Ary Anggara; Siti Nurhasanah; Ratna Sari Dewi; Mufdiah Nurriza
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 7 No. 1: JANUARI 2024 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v7i1.4883

Abstract

Latarbelakang. Pandemi Covid-19 menyebabkan pembatasan kegiatan masyarakat, termasuk pemberian layanan Kesehatan yang terbatas dalam mengurangi penyebaran penyakit dan memberikan dampak terhadap penurunan tingkat layanan di Rumah Sakit khususnya pasien yang menjalani rawat jalan dan rawat inap. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik suspek infeksi rawat jalan dan rawat inap Selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Kota Palu. Metode Penelitian dengan pendekatan penelitian deskriptif, data rawat jalan dan rawat inap diperoleh dari rekam medis sebanyak 190 responden selama periode 2020-2021 yang memiliki sifat karakteristik tertentu (sesuai kriteria)inklusi penelitian. Hasil didapatkan dari 190 responden berdasarkan jenis kelamin (laki-laki 82.1%, perempuan 17.9%), Usia terbanyak (41-55 tahun) 67(35.3%), layanan (Rawat Jalan 132 (69.5%) dan Rawat Inap 58 (30.5%), keluhan Demam 89 (46.8%), kultur Feses 152 (80%), bakteri terbanyak E.coli 129 (67.9%), Stapylococcus aureus 23 (12.1%), Streptococcus pneumoniae 13 (6.8%), Pseudomonas aeruginosa 8(4.2%), Proteus mirabilis 7(3.7%), Klebsiella sp 6(3.2%), S.typhi 4(2.1%), kebiasaan merokok (ya 121(63.7%) tidak 45(23.7%), Cuci tangan (selalu 149(78.4%) kadang-kadang 27(14.2%, tidak tahu 14(7.4%), Pekerjaan (PNS 96(50.5%) dan buruh harian dan nelayan masing-masing 14(7.4%) lain-lain 3(1.6%), konsumsi antiviral 177(93.2%), konsumsi analgetik 169(88.9%), Riwayat konsumsi antibiotik 182(95.8%), tes swab antigen 186(97.9%), suspek diagnosis infeksi ditemukan TB Paru 90(47.4%), Diare 19(10%), ISK 23(12.1%), Psoriasis 13(6.8%), tifoid 12(6.3%), dan terendah Pneumonia 3(1.6%), kusta 2(1.1%). Isolat terbanyak di layanan rawat jalan ditemukan terbanyak adalah E.coli 38(28.8%) dan Stapylococcus aureus 7(5.3%) sedangkan di layanan Rawat Inap terbanyak E.coli 28(48.3%) dan Staphylococcus aureus 5(8.6%). Kesimpulan: Suspek infeksi Rawat Jalan sebanyak 132(69.5%) dan Rawat Inap sebanyak 58(30.5%), suspek penyakit terbanyak Rawat Jalan adalah tuberculosis 88(66.7%) dan Rawat Inap ISK 23(39.6%) dan isolat terbanyak Rawat Jalan adalah E.coli dan S.aureus (28.8%) dan 5.3%) dan Rawat Inap isolat terbanyak E.coli dan S.aureus (48.3%) dan (8.6%).