Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Eksplorasi Beberapa Jalur Potensi Wisata Birdwatching di Bandealit, Taman Nasional Meru Betiri Agung S. Kurnianto; Faldy Alifianto; Hamdani D. Prasetyo; Brian Rahardi
Journal of Indonesian Tourism and Development Studies Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : Program Pascasarjana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia adalah salah satu dari negara tropis dunia yang memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat tinggi. Salah satu kawasan yang memiliki biodiversitas tinggi dan dijadikan cagar alam adalah Meru Betiri. Kawasan ini tidak hanya terkenal dengan perlindungan terhadap Harimau Jawa, tetapi juga berbagai keindahan panorama alam dan lokasi hutan  hujan tropis yang masih terlindung, salah satunya adalah wilayah Bandealit. Penelitian ini bertujuan menentukan jalur strategis yang dapat disarankan sebagai jalur birdwatching di Bandealit. Pengamatan dilakukan selama dua hari, yaitu pada tanggal 16-17 Nopember 2012. Pengamatan dilakukan dengan menjelajahi jalur-jalur yang dinilai berpotensi sebagai lokasi pengembangan birdwatching. Selain itu, juga dilakukan wawancara terhadap orang-orang kunci untuk mengetahui fluktuasi jumlah spesies di kawasan, konfirmasi jenis, serta mencari informasi terkait spesies yang belum dapat ditemukan. Kami telah menentukan tiga jalur yang berpotensi sebagai jalur birdwatching, yaitu Muara Timur (jalur 1), Savana (jalur 2), dan Lintasan Satwa (jalur 3). Jalur 1 tidak direkomendasikan karena kuantitas dan kualitas spesies yang ditemukan tidak terlalu baik. Jalur 2 dan jalur 3 direkomendasikan untuk pengembangan wisata birdwatching di Bandealit. Kata kunci: Bandealit, birdwatching, jalur birdwatching
PRELIMINARY OBSERVATION ON NESTING ECOLOGY OF ENDANGERED BROWN-CHEEKED BULBUL (ALOPHOIXUS BRES) IN JATIMULYO AGROFORESTRY Nurrofik, Agus; Arifianto, Adityas; Aninnas, Afina; Suparno, Kelik; Kurnianto, Agung S.; Septiadi, Luhur; Kurniawan, Nia
TREUBIA Vol 50, No 1 (2023)
Publisher : National Research and Innovation Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/treubia.v50i1.4560

Abstract

We found an active nest of endangered Brown-cheeked Bulbul (Alophoixus bres) with two chicks in nest-adoption program at Jatimulyo village, Yogyakarta province, Indonesia on 19 December 2021. It was placed on the lateral branch of apus bamboo (Gigantochloa apus) 1.5 m high. The nest was cup-shaped, with outer diameter of ± 8 cm, inner diameter of ± 6 cm, and depth of ± 3 cm. It was made of living non-vascular plants and plant fragments. Our observation revealed that the food of the chicks was primarily comprised of insects (in the morning) and fruits (at midday). The insect preys include caterpillars, Lepidoptera, Coleoptera, Orthoptera and Diptera. The fruits were mangir, lempeni, and senggani.
Penguatan budidaya kopi organik dan pengendalian hama berbasis pemberdayaan masyarakat di Desa Pace, Jember Kurnianto, Agung S.; Dewi, Nilasari; Haryadi, Nanang Tri; Sari, Sasmita
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 4 (2024): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i4.26684

Abstract

Abstrak Desa Pace, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, merupakan salah satu wilayah penghasil kopi utama di Indonesia. Namun, pada tahun 2023 terjadi penurunan signifikan dalam produktivitas kopi akibat serangan hama Penggerek Buah Kopi (PBKo) dan tingginya harga pupuk subsidi. Untuk mengatasi tantangan ini, dilakukan program pengabdian masyarakat berbasis mahasiswa yang berfokus pada pengenalan metode pertanian organik. Program ini mencakup sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan bagi kelompok tani "Abadi" dan "Taman Tirto" untuk menerapkan budidaya kopi organik yang terintegrasi. Pelatihan meliputi pembuatan bibit kopi organik, pupuk organik dari bahan lokal, serta pengendalian hama secara hayati menggunakan Beauveria bassiana dan sarang semut. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan produktivitas dari 5,47 kuintal per hektar menjadi 6,0 kuintal per hektar pada kelompok "Abadi" dan 6,1 kuintal per hektar pada kelompok "Taman Tirto." Selain itu, serangan PBKo berhasil dikendalikan dengan penurunan kerusakan dari 60% menjadi 36% dan 34%. Program ini juga meningkatkan manajemen kelompok tani melalui pembentukan badan pengelola input organik dan sertifikasi pertanian organik, yang berkontribusi pada peningkatan keberlanjutan dan nilai ekonomi petani kopi di Desa Pace. Kata Kunci :  kopi organik;  penggerek buah kopi;  beauveria bassiana; pupuk organik;  manajemen kelompok tani AbstractPace Village, Silo District, Jember Regency, is one of the main coffee producing areas in Indonesia. However, in 2023 there was a significant decline in coffee productivity due to attacks by the Coffee Berry Borer (PBKo) pest and the high price of subsidized fertilizers. To overcome this challenge, a student-based community service program was carried out that focused on introducing organic farming methods. This program includes socialization, training, and mentoring for the "Abadi" and "Taman Tirto" farmer groups to implement integrated organic coffee cultivation. The training includes making organic coffee seeds, organic fertilizers from local materials, and biological pest control using Beauveria bassiana and ant nests. The results of the activity showed an increase in productivity from 5.47 quintals per hectare to 6.0 quintals per hectare in the "Abadi" group and 6.1 quintals per hectare in the "Taman Tirto" group. In addition, the PBKo attack was successfully controlled with a decrease in damage from 60% to 36% and 34%. This program also improves the management of farmer groups through the establishment of an organic input management body and organic farming certification, which contributes to increasing the sustainability and economic value of coffee farmers in Pace Village. Keywords: organic coffee; coffee berry borer; beauveria bassiana; organic fertilizer; farmer group management
Eksplorasi Beberapa Jalur Potensi Wisata Birdwatching di Bandealit, Taman Nasional Meru Betiri Kurnianto, Agung S.; Alifianto, Faldy; Prasetyo, Hamdani D.; Rahardi, Brian
Journal of Indonesian Tourism and Development Studies Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : Graduate School, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jitode.2013.001.01.03

Abstract

Indonesia adalah salah satu dari negara tropis dunia yang memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat tinggi. Salah satu kawasan yang memiliki biodiversitas tinggi dan dijadikan cagar alam adalah Meru Betiri. Kawasan ini tidak hanya terkenal dengan perlindungan terhadap Harimau Jawa, tetapi juga berbagai keindahan panorama alam dan lokasi hutan hujan tropis yang masih terlindung, salah satunya adalah wilayah Bandealit. Penelitian ini bertujuan menentukan jalur strategis yang dapat disarankan sebagai jalur birdwatching di Bandealit. Pengamatan dilakukan selama dua hari, yaitu pada tanggal 16-17 Nopember 2012. Pengamatan dilakukan dengan menjelajahi jalur-jalur yang dinilai berpotensi sebagai lokasi pengembangan birdwatching. Selain itu, juga dilakukan wawancara terhadap orang-orang kunci untuk mengetahui fluktuasi jumlah spesies di kawasan, konfirmasi jenis, serta mencari informasi terkait spesies yang belum dapat ditemukan. Kami telah menentukan tiga jalur yang berpotensi sebagai jalur birdwatching, yaitu Muara Timur (jalur 1), Savana (jalur 2), dan Lintasan Satwa (jalur 3). Jalur 1 tidak direkomendasikan karena kuantitas dan kualitas spesies yang ditemukan tidak terlalu baik. Jalur 2 dan jalur 3 direkomendasikan untuk pengembangan wisata birdwatching di Bandealit. Kata kunci: Bandealit, birdwatching, jalur birdwatching
Phylogenetics and Biogeography of Cobra (Squamata: Naja) in Java, Sumatra, and Other Asian Region Kurniawan, Nia; Putri, Mulyadiane M.; Kadafi, Ahmad M.; Chrestella, Dea J.; Fauzi, Muhammad A.; Kurnianto, Agung S.
The Journal of Experimental Life Science Vol. 7 No. 2 (2017)
Publisher : Graduate School, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1441.886 KB) | DOI: 10.21776/ub.jels.2017.007.02.06

Abstract

The separation of Sumatra and Java occurred at the end of the Miocene (10 mya) to the end of Pliocene (1.8 mya). The existence of ecological variations and geographic barriers inhibits gene flow through the isolation of adaptation, geography, reproduction, inbreeding, and leading to population segregation. Cobra (genus Naja) distribution became greatly influenced by the geologic condition and sea level. This study was conducted by phylogenetic analysis towards the 16S rRNA gene. Survey was done with Visual Encounter Survey (VES) method on 6 localities. There were 3 locations in Sumatra Island and the others in Java Island. Sample from other Asian region was obtained from Genbank, which are 11 individuals from China, Thailand, and Nepal. DNA extraction was done according to the QIAmp® DNA Mini Kit standard protocol. The forward and reverse 16S sequences are combined with the SequencherTM version 4.1.4 program, then in BLAST (Blast Local Alignment Search Tool) at www.ncbi.nlm.nih.gov.  Phylogenetic analyzes of clade A (MP = 60, ML = 54, BI = 88) indicate the presence of division into two monophyletic subclade (AI and AII). Subclade AI consists of groups of Cobra  from Sunda (Thailand, Sumatra and Java). Subclade AII is a group of species N. kaouthia originating from Chumpon Province, Southern Thailand with (MP = 96, ML = 95, BI = 100). Clade B is divided into two subclasses (BI and BII). The result is supported by bootstrap value MP = 93, ML = 99, BI = 100. N. atra of Fujian Province is a sister lineage of the same species from Jiangxi Province (MP = 86, ML = 86, BI = 100).Keywords: Asian, 16s rRNA, Java, Cobra, Sumatra.