Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

THE USEFULL OF WASTE OF MUSHROOMS FOR WORM SOIL PRODUCTION Evi Kurniati
Journal of Innovation and Applied Technology Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (886.279 KB) | DOI: 10.21776/ub.jiat.2017.003.01.13

Abstract

In order to support conservation programs and activities, in 2011 the National Park Meru Betiri undertake community development activities by forming productive business in the form of oyster mushroom cultivation is coordinated by the Center for Rural Forestry Extension. Curahnongko village, Jember, East Java formed four groups of oyster mushroom cultivation with technology that is still traditional and opportunities to be developed. Obstacles faced by oyster mushroom cultivation is on the low efficiency of the process of watering, temperature and humidity measurement processes and packaging oyster mushrooms. In addition, baglog waste thrown away by a group of oyster mushroom cultivation due to the limited knowledge and the ability to tap into other products, among others as compost and media for the cultivation of earthworms. Through this activity, carried out innovations over technology in oyster mushroom cultivation, such as water pumps mechanical, thermometer and hygrometer, vacuum sealer for packaging of oyster mushrooms and cages permanently to the cultivation of earthworms measuring 3 x 8 x 2 m3 according to the land already owned by SMEs. The hope will be able to improve productivity and increase production of oyster mushrooms and earthworms so that the market expansion of both quality and quantity can be achieved maximum. The results of the implementation of activities is mentoring about production systems oyster mushrooms and earthworms with maximum quality results. When this has been achieved for the physical infrastructure and the provision of seeds for cultivation worms. Monitoring and evaluation of the successful implementation of activity internally and externally conducted periodically to evaluate the success of the implementation of the facility so that production equipment will have an impact on the cultivation of oyster mushrooms and earthworms
Pengaruh Penambahan Bioenzim dan Daun Lamtoro (L. Leucocephala) terhadap Kandungan Unsur Hara Makro (C,N,P Dan K) pada Pupuk Organik Cair (POC) Lindi (Leachate) Evi Kurniati; Angga Dheta Shirajjudin Aji; Esta Safitri Imani
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.16 KB)

Abstract

Salah satu sumber sampah yaitu sampah organik yang diolah menjadi pupuk dan kompos, kebanyakan berasal dari kegiatan domestik, pengolahan sampah di TPA yang biasa dilakukan adalah pengolahan air lindi. Penelitian ini bertujuan untuk mengolah lindi itu sendiri menjadi pupuk organik cair dengan perlakuan mengolah air lindi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tlekung Batu dengan menganalisis pemberian dosis bioenzim dan daun lamtoro. Tujuan dilakukannya uji analisis ini agar dapat menentukan dosis optimal dari pemberian bioenzim dan bahan alami daun lamtoro untuk kadar makro hara berupa C,N,P dan K dari pupuk organik cair agar keberadaanya dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat terutama petani. Metode yang digunakan dalam penelitian yakni metode eksperimental laboratorik yaitu percobaan dengan skala laboratorium. Pengambilan sampel air lindi menggunakan metode grab sample atau sampel sesaat. Percobaan dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL Faktorial) dengan 9 perlakuan dan 2 kali pengulangan. Hasil yang diperoleh dianalisis dengan tabel ANOVA dan diuji menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) kepercayaan 95% untuk mengetahui pengaruh perlakuan dan perbedaan kemampuan pemberian dosis. Hasil penelitian menunjukkan proses pembuatan pupuk cair organik dengan penambahan bioaktivator bioenzim dan daun lamtoro (L. leucocephala) yang dilakukan memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap kadar C, N, P, dan K. Perbedaan signifikasi ini dipengaruhi oleh beberapa hal seperti efektifitas kinerja bioenzim dan kandungan unsur hara pada daun lamtoro yang dilakukan aerasi selama 7 hari. Pada perhitungan penentuan terbaik didapat perlakuan terbaik dari penelitian ini adalah pupuk cair organik dengan bioenzim 0,233 ml dengan penambahan daun lamtoro 50 g (B1L2) meskipun hasilnya masih lebih kecil dari kriteria pupuk organik cair baku mutu PERMENTAN NO 70 Tahun 2011. 
PENGOMPOSAN SAMPAH ORGANIK PASAR DENGAN PENGONTROLAN SUHU TETAP DAN SUHU SESUAI FASE PENGOMPOSAN Sutrisno Hadi Wibisono; Wahyunanto Agung Nugroho; Evi Kurniati; Joko Prasetyo
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.882 KB)

Abstract

Proses pengomposan secara alami membutuhkan waktu lama untuk membuat kompos dari bahan organik. Pengembangan pengomposan dengan cara yang benar perlu mempercepat dan memperbaiki proses pengomposan untuk mendapatkan kompos berkualitas. Pengomposan dengan mengendalikan suhu kompos dapat memberi efek pada proses pengomposan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui metode pengomposan pengendalian suhu menurut warna, bau, suhu, analisis kandungan kimia rasio N, P, K, C / N, bahan organik, C. Organik dan pH, serta mengetahui perbedaannya. dari suhu kompos kontrol terkendali dan kontrol suhu berdasarkan pengomposan fasa melalui pengujian kandungan kimia kompos. Hasil akhir diharapkan dapat mengetahui proses pengomposan dan hasil kompos dengan mengendalikan suhu dengan kontrol suhu dan pengendalian suhu tetap berdasarkan fase pengomposan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode percobaan dengan dua perlakuan kontrol suhu tetap dengan suhu 40-43oC dan pengatur suhu berdasarkan fase pengomposan. Mengontrol suhu fase mesofilik dengan suhu 37-40oC untuk periode 1-2 dan 7-14 hari sedangkan fase termofilik pada suhu 41-44oC untuk periode 3-6 hari. Hasil kompos dengan mengendalikan suhu tetap tidak berbeda nyata dengan perlakuan kontrol berdasarkan suhu fase pengomposan kecuali kadar air, susut dan phosfor. Hal ini diketahui dengan perhitungan menggunakan analisis keragaman. Hasil pengendalian suhu perlakuan kompos tetap berwarna coklat kehitaman, ketebalan penyusutan 56,75% dan berat 63,33%, kadar air 53,65%, pH 7,6, kadar N 1,82%, C Organik 12,10%, rasio C / N 6 , bahan organik 20,94%, P 1,47% dan K 0,12%. Tahap perlakuan kontrol suhu pengomposan berdasarkan kehitam-hitaman coklat; mengecilkan ketebalan 59,55% dan berat 68,75%, kadar air 56,10%, pH 7,3, kadar N 1,83%, C. Organik 13,48%, C / N ratio 7, bahan organik 23,31%, P 3,68% K 0,71%.
Rancang Bangun Kinerja Alat Adsorpsi Limbah Cair Pewarnaan Industri Batik Tulis Sidoarjo . Rosydiena; Wahyunanto Agung Nugroho; Evi Kurniati
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.208 KB)

Abstract

Adsorpsi adalah fenomena fisik yang terjadi saat molekul-molekul gas atau cair dikontakkan dengan suatu permukaan padatan dan sebagian dari molekul-molekul tadi mengembun pada permukaan padatan tersebut (Suryawan. 2004). Adsorben yang digunakan yaitu zeolit. Pemilihan zeolit dikarenakan kemampuan zeolit untuk mengadsorpsi limbah pewarnaan batik tulis jauh lebih efektif dibandingkan dengan karbon aktif yang bisa dibeli dipasaran. Adanya alat adsorbsi yang digunakan pada penelitian sebelumnya dirasa kurang efektif untuk penurunan baku mutu limbah. Selain itu penelitian tersebut sebagian hanya pada skala laboratorium. Desain rancang bangun alat adsorpsi ini terdiri atas 4 komponen utama meliputi kerangka alat, kolom adsorpsi, pompa, dan bak penampung yang dirancang seperti anak tangga. Prinsip kerja alat adsorpsi ini yaitu Recirculated Batch menggunakan bantuan pompa air. Empty Bed Contact Time (EBCT) dalam penelitian ini ditetapkan 23 jam. Dalam satu siklus resirkulasi dibutuhkan waktu 1-1,5 menit. Sehingga dalam 23 jam akan terjadi 1045-1314 siklus. Uji kinerja alat ini ditentukan melalui tiga kali ulangan untuk hasil limbah pewarnaan yaitu limbah pewarna coklat+kuning, biru, dan ungu dengan parameter penurunan terhadap BOD 58,27%; COD 53,31%; TSS 93,93%; dan Warna 62,98%. Untuk adsorpsi isoterm dengan menggunakan persamaan Freudlich dengan adsorben zeolit diperoleh 0,6506 mg/liter untuk BOD; 0,8687 mg/liter untuk COD; 0,536 mg/liter untuk TSS; 1,5581 mg/liter untuk warna. Sehingga dari hasil ini dapat menjadi parameter untuk solusi alternatif alat adsorpsi limbah cair batik dan dapat menurunkan parameter kandungan limbah dibawah standart air limbah yang sesuai untuk baku mutu air limbah. Kata kunci: Adsorpsi, Limbah Batik, Rancang Bangun, Zeolit
PENENTUAN PENGARUH ALIH FUNGSI LAHAN TERHADAP DEBIT BANJIR MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG) Evi Kurniati
Purifikasi Vol 8 No 2 (2007): Jurnal Purifikasi
Publisher : Department of Environmental Engineering-Faculty of Civil, Environmental and Geo Engineering. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25983806.v8.i2.129

Abstract

The aim of this research was to model the flood discharge estimation caused by landuse change by using Geographical Information System (GIS). The research was conducted from May to August 2006 in Lesti Hulu watershed. The methods included three steps, comprising data (spatial and attribute) gathering in year 2000 and 2004, data processing, and validity test. The validity test was conducted using SIMODAS-ITB software. The biggest change was settlement areas that increase 9.21 %. The flood peaks n the same rainfall condition of 92.22 mm were 202.54 m3/sec in year 2000 and 208.66 m3/sec in year 2004. The model used in this research had a high accuracy. This statement was espoused by a simulated hydrograph, which was almost similar to observed hydrograph; with R2 values of 86.22% and 72.02% in years 2000 and 2004 respectively. The rational test showed that the ratio between direct v value of 2.402.775 m3 and modeled v value of 2.385.081,6 m3 was 0.993. This meant that the mathematical model for determining flood discharge using SIMODAS-ITB software was valid, and provided an accurate output.
KAJIAN EKONOMI USAHATANI KACANG TANAH (Arachis hypogaea L) DI KELURAHAN BAGAN PETE KECAMATAN ALAM BARAJO Rogayah Rogayah; Evi Kurniati
Jurnal MeA (Media Agribisnis) Vol 4, No 2 (2019): Oktober
Publisher : Universitas Batangahari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.482 KB) | DOI: 10.33087/mea.v4i2.57

Abstract

Bagan Pete Village Alam BarajoSubditrict JambiCity Is one of the centers ofpeanut farmingin Jambi City.However,the farmer never details the costsincurred and never calculates the amount ofreceipts ina single harvest. The purpose of this study was to describe peanut farming and analyze the income of peanut farming in Bagan Pete Village,Alam  Barajo Subdistrict, Jambi City.This Study used a Survey method carried out in the Bagan Pete Sub-District of Alam BarajoSubdistrict wherethe kelurahan was farmers whocultivated peanut.The number of samplestaken in this study were 35 farmer households (RTP)oe the entire populatianin Bagan Pete Village by census. The results ofyhestudy showthat theaverage total cost is Rp 1,589,505 /Mt. Consisting of fixed costs of Rp 63,662/Mt and variable costs of Rp1,525,989/ Mt. The everage income obtained by farmers is Rp 4,498.000/Mt,whit and average income of Rp 2,908,238/Mt,Keywords : Kajian Ekonomi ,Usahatani Kacang Tanah Abstrak           Kelurahan bagan pete Kecamatan Alam Barajo Kota Jambi merupakan salah satu sentra usahatani kacang tanah di Kota Jambi. Namun petani belum membuat perincian biaya-biaya yang dikeluarkan serta menghitung jumlah penerimaan dalam satu kali musim tanam.Tujuan dari penelitian ini untuk menggambarkan kegiatan usahatani kacang tanah serta menganalisis pendapatan usahatani kacang tanah dengan menggunakan metode servay. Jumlah sampel sebanyak 35 rumah tangga petani(RTP) atau seluruh jumlah populasi yang ada dengan cara sensus.           Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata total biaya adalah sebesar Rp1.589.505-,/Mt yang terdiri dari biaya tetap sebesar Rp63.662-,/Mt dan biaya tidak tetap sebesar Rp1.525.986-,/Mt. Rata-rata penerimaan yang diperoleh petani sebesar Rp 4.498.000-,/Mt dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp 2.908.238,-/MtKata Kunci:Kajian Ekonomi, Usahatani, Kacang tanah
Karakterisasi dan Evalusasi Kinerja Ekstrak Tanin dari Daun Teh (Camellia sinensis L.) Terimobilisasi pada Lempung Aktif (Activated Clay) untuk Penyisihan Kromium Heksavalen Devianto, Luhur Akbar; Tan, Reynold Tantra; Kurniati, Evi; Anugroho, Fajri
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 12, No 1 (2025)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jsal.2025.012.01.7

Abstract

ABSTRAK Produksi teh di Indonesia mencapai 144.1 ton/tahun pada 2020, dengan asumsi sekitar 1-2% menjadi limbah, terdapat banyak limbah teh yang perlu digali pontensinya untuk dimanfaatkan. Teh memiliki kandungan senyawa-senyawa aktif, termasuk tanin. Tanin merupakan senyawa fenol yang dapat menyisihkan logam berat salah satunya kromium heksavalen. Penelitian ini dilakukan untuk melihat karakteristik tanin terimobilisasi pada lempung dan kinerjanya dalam penyisihan kromium heksavalen. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan variasi konsentrasi limbah artifisial 10, 40, 70, dan 100 ppm dengan variasi waktu kontak 15, 30, 60, 120, dan 180 menit dengan dosis 6 g.L-1. Dari hasil pengujian Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive X-ray (SEM-EDX) menunjukkan bahwa partikel adsorben lempung aktif sesudah pengontakan cenderung lebih besar dibandingkan sebelum perlakuan karena adanya ikatan dengan unsur-unsur. Hasil experiment menunjukkan, efektivitas penyisihan tertinggi didapatkan pada konsentrasi 100 ppm dengan waktu kontak 180 menit yaitu 68.816 ppm dengan kapasitas penyerapan mencapai 1.147 mg.g-1. Sedangkan efisiensi penyisihan terbesar pada konsentrasi 10 ppm dengan waktu kontak 180 menit sebesar 99.271%. Model isoterm adsorpsi yang sesuai dengan penelitian ini adalah model isoterm Langmuir dan model kinetika adsorpsi mengikuti ordo pertama pada konsentrasi 70 dan 100 ppm dan ordo kedua pada konsentrasi 10 dan 40 ppm. Kata kunci: adsorpsi, kromium heksavalen, tanah liat, tanin, teh  ABSTRACT Tea production in Indonesia reached 144.1 tons/year in 2020. Assuming that around 1–2% becomes waste, a significant amount of tea waste exists that has potential to be utilized. Tea is a commodity that contains active compounds, including tannins. Tannins are phenolic compounds that can remove heavy metals, one of which is hexavalent chromium. This study was conducted to examine the characteristics of immobilized tannins on clay and their performance in removing hexavalent chromium. The research was carried out experimentally using variations of artificial wastewater concentrations at 10, 40, 70, and 100 ppm, with contact times of 15, 30, 60, 120, and 180 minutes, and a dosage of 6 g.L-1. Results from Scanning Electron Microscope–Energy Dispersive X-ray (SEM-EDX) analysis showed that the size of the activated clay adsorbent particles after contact tended to be larger than before treatment due to bonding with certain elements. The results showed that the highest removal effectiveness was achieved at a concentration of 100 ppm with a contact time of 180 minutes, resulting in 68.816 ppm removed which equal to sorption capacity of 1.147 mg.g-1. Meanwhile, the highest removal efficiency was obtained at a concentration of 10 ppm with a contact time of 180 minutes, reaching 99.271%. The adsorption isotherm model that best fits this study is the Langmuir isotherm model, and the adsorption kinetics followed a first-order model at concentrations of 70 and 100 ppm, and a second-order model at concentrations of 10 and 40 ppm. Keywords:  adsorption, chromium hexavalent, clay, tannin, tea
Effect of Acid-Base Activation on Extracted Tea (Camellia sinensis) Leaf Biosorbent for Hexavalent Chromium Removal Devianto, Luhur; Eunice, Samella; Haji, Alexander; Wirosoedarmo, Ruslan; Kurniati, Evi; Anugroho, Fajri
The Journal of Experimental Life Science Vol. 15 No. 2 (2025)
Publisher : Graduate School, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jels.2025.015.02.06

Abstract

Industrial wastewater often contains heavy metals such as hexavalent chromium [Cr(VI)], a toxic and carcinogenic pollutant widely generated from activities including electroplating, leather tanning, and pigment manufacturing. Due to its high solubility and mobility in aquatic environments, Cr(VI) poses significant environmental and public health hazards, even at low concentrations. There is increasing interest in sustainable, low-cost alternatives for heavy metal removal, such as biosorption using agricultural waste materials. Tea leaves (Camellia sinensis L.), one of the most consumed beverages globally, generate a large volume of organic waste that is rich in functional groups capable of metal binding. This study investigates the potential of extracted tea leaf biomass as a biosorbent for Cr(VI) removal from aqueous solutions. The research aims to characterize the effect of acid-base activation on biosorbent by determining the optimal activation method, evaluating adsorption performance under different operational parameters, and identifying the most appropriate adsorption isotherm model. The biosorbent was prepared from ethanol-extracted green tea leaf waste (for tannin extraction that will be used for other applications) and activated using sodium hydroxide (NaOH) or sulfuric acid (H₂SO₄) at various concentrations.  Fourier Transform Infra Red analysis revealed key functional groups as hydroxyl (-OH) bond responsible for metal ion binding. Activation using 0.1 M NaOH resulted in the adsorption capacity range 1.22 – 12.43 mg.g-1. The maximum Cr(VI) removal efficiency of 99.42% was achieved at a contact time of 180 minutes and an initial metal concentration of 100 ppm. Adsorption equilibrium data closely followed the Langmuir isotherm model (R² = 0.999), indicating monolayer adsorption on a homogeneous surface. These findings demonstrate that NaOH-activated of extracted tea leaf biomass still has a potential biosorbent for Cr(VI) removal, offering an option of an eco-friendly solution for wastewater treatment applications.  
Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengolahan Limbah Rumah Tangga Menuju Green Village di Desa Pengadegan Latif, Elok Ainur; Muhibun, Ahmad; Istiqomah, Rahmah Sari; Kurniati, Evi; Kharisma, Lutfia Nur; Rofikoh, Ainur; Anandani, Akmal; Muraniasih, Arni; Setiawan, Edi; Maghfiroh, Hibatul; Ivana, Rajendra Ahnaf; Mubarok, Rezky; Larasati, Rheika Mosa; Muamala, Usriyanida; Safira, Veren Permata
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan Vol 5, No 5 (2025): JPM: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpm.v5i5.1975

Abstract

Household waste management remains a major challenge in many rural areas, including Pengadegan Village, Wangon District, Banyumas Regency. Organic waste is often discarded without treatment, leading to environmental pollution. To address this issue, the Community Service Program (Kuliah Kerja Nyata – KKN) of Universitas Nahdlatul Ulama Al-Ghazali (UNUGHA) was designed to empower local communities through household waste processing as a strategy to develop a Green Village. This program applied a Participatory Action Research (PAR) approach by involving women’s community groups (PKK) as the primary participants. The activities included socialization, training, practical workshops on producing liquid organic fertilizer (POC), and mentoring in the use of polybags for horticultural cultivation. Data were collected through pre–post questionnaires, observation, and interviews, then analyzed using descriptive quantitative and qualitative methods. The findings reveal significant improvements across several indicators. Community knowledge of POC increased from 28% to 82%, while 81% of participants successfully produced POC independently. In addition, 87% of households applied polybag planting, and 90% expressed strong commitment to continue the program. Field observations also showed positive behavioral changes in waste sorting and processing, accompanied by enhanced social interactions that fostered collaboration among residents. This study concludes that community-based household waste management not only reduces waste but also strengthens household food security and creates opportunities for local economic development. With consistent support from village authorities, this model has strong potential for replication in other rural areas to promote environmentally sustainable Green Villages.ABSTRAKPengelolaan limbah rumah tangga masih menjadi tantangan di banyak desa, termasuk Desa Pengadegan, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas. Limbah organik umumnya dibuang tanpa pengolahan, sehingga berpotensi mencemari lingkungan. Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Nahdlatul Ulama Al-Ghazali (UNUGHA) dirancang untuk memberdayakan masyarakat melalui pengolahan limbah rumah tangga sebagai upaya mewujudkan konsep Green Village. Metode yang digunakan adalah pendekatan Participatory Action Research (PAR) dengan melibatkan kelompok Ibu PKK sebagai partisipan utama. Kegiatan dilakukan melalui sosialisasi, pelatihan, praktik pembuatan pupuk organik cair (POC) serta pendampingan pemanfaatan polybag untuk budidaya tanaman hortikultura. Data diperoleh melalui kuesioner pra–pasca, observasi, dan wawancara, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada berbagai indikator. Pengetahuan warga tentang POC naik dari 28% menjadi 82%, keterampilan membuat POC berhasil dikuasai oleh 81% peserta, dan 87% warga mampu memanfaatkan polybag untuk bercocok tanam. Selain itu, 90% peserta menyatakan kesediaan melanjutkan program secara mandiri. Observasi lapangan juga memperlihatkan perubahan perilaku warga dalam memilah dan mengolah sampah organik, disertai peningkatan interaksi sosial yang lebih produktif. Temuan ini menegaskan bahwa pengolahan limbah rumah tangga berbasis partisipasi masyarakat tidak hanya berkontribusi pada pengurangan sampah, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan keluarga dan membuka peluang ekonomi lokal. Dengan dukungan berkelanjutan dari pemerintah desa, model ini berpotensi direplikasi di wilayah lain untuk mewujudkan desa ramah lingkungan dan berkelanjutan.