Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

INTERFERENSI BAHASA BUGIS DALAM PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA LISAN MAHASISWA JURUSA PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FKIP UNISMUH MAKASSAR Muhammad Akhir; Supriadi Supriadi
JURNAL KONFIKS Vol 4, No 1 (2017): KONFIKS
Publisher : LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/konfiks.v4i1.1221

Abstract

This study aims to describe the forms of syntactic interference in the use of Indonesian spoken Indonesian Student Department of Language Education and Literature Indonesia, FKIP Unismuh Makassar. The data in this study were obtained from oral speech that meet the criteria: (1) native speakers of Bugis language, (2) have studied Bugis language, (3) being open, friendly, and not easily offended. The data in this study were collected through observation, interview, and elicitation techniques. Further analyzed by using contrastive analysis to find forms of syntactic interference then incorporated into syntactic patterns. From the results of this research data analysis obtained some form of Bugis language syntax interference in the use of Indonesian language oral Indonesian Department of Education and Literature FKIP Unismuh Makassar which includes: (1) subject dating, (2) word order, (3) use of pronouns (4) the use of the same agentive particles to replace the agentive particles by, (5) the use of the same particles to represent to, (6) the use of the same particles to represent with, (7) the use of the proposition particles in to replace the prepositioned particles to. (8) the use of preposition particles in to express the preposition particles in, (9) the use of preposition particles in to express the preposition particles of (10) the date of the particle in to time, (11) the use of the new word as the sentence word, the preposition dating by in passive mandatory sentence, (13) denial at the beginning of the sentence. (14) the use of pronouns.
Analisis Saluran Pemasaran Bawang Merah di Kabupaten Enrekang Supriadi Supriadi; Syarifuddin Sulaiman; Andi Risfan Rizaldi
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.6427

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis saluran pemasaran bawang merah di Kabupaten Enrekang, khususnya Kecamatan Masalle, melalui identifikasi kondisi internal dan eksternal serta perumusan strategi pemasaran yang sesuai dengan karakteristik petani dan lembaga pemasaran. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan data primer yang diperoleh melalui observasi dan wawancara kepada petani, pedagang pengumpul, pengecer, serta pelanggan, sedangkan data sekunder berasal dari literatur dan instansi terkait. Analisis dilakukan menggunakan kerangka SWOT untuk memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam pemasaran bawang merah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan utama terletak pada pengalaman petani, hubungan kepercayaan dengan pengepul, dukungan koperasi dan pedagang lokal, kapasitas produksi pada musim panen, serta preferensi konsumen terhadap produk lokal. Kelemahannya meliputi ketergantungan pada tengkulak, belum tersedianya fasilitas penyimpanan, kualitas produk yang belum konsisten, lemahnya posisi tawar petani, dan pemasaran yang masih dilakukan secara individual. Peluang pemasaran berasal dari tingginya permintaan di Makassar dan Palopo, berkembangnya pasar modern, potensi pembentukan koperasi, serta akses transportasi yang semakin terbuka. Ancaman utama berupa fluktuasi harga, cuaca buruk, persaingan produk luar daerah, keterbatasan informasi asal produk, dan ketergantungan pada pasar utama. Strategi yang direkomendasikan mencakup penguatan kelembagaan petani, standardisasi kualitas, penyediaan fasilitas pascapanen, perluasan pasar, pemanfaatan pemasaran digital, pengaturan jadwal tanam, dan pengembangan kontrak pemasaran. Penerapan strategi tersebut diharapkan memperpendek saluran pemasaran, meningkatkan posisi tawar petani, serta menciptakan sistem pemasaran bawang merah yang lebih efisien dan berkelanjutan.