Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

HUBUNGAN ASUPAN ENERGI, STATUS GIZI DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN DAYA TAHAN (ENDURANCE) PADA ATLET SEPAK BOLA PSSI KABUPATEN ACEH PIDIE Mira Abdullah; Heni Diansyah Putri
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 3, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v3i1.1014

Abstract

AbstrakDaya tahan (endurance) adalah keadaan atau kondisi tubuh yang mampu untuk bekerja lama tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan setelah menyelesaikan suatu kegiatan. Status gizi dan daya tahan  atlet sepak bola di Banda Aceh berjumlah 18 orang, menunjukkan bahwa daya tahan   pada atlet sebesar 71,3% berada pada kategori kurang. Untuk mengetahui hubungan asupan asupan energi, status gizi dan aktivitas fisik dengan daya tahan (endurance) pada atlet sepak bola PSSI kabupaten Aceh Pidie. Penelitian ini menggunakan desain dengan cross sectional dengan populasi yaitu seluruh pemain sepak bola di Klub Binaan PSSI Cabang Aceh Pidie, berjumlah 30 orang, usia 16-19 tahun. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 22-31 Maret 2017. Pada masa atlet sedang tidak ada pertandingan. Cara pengumpulan data dengan metode kuesioner. Selanjutnya dilakukan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% dan batas kemaknaan (α=0,05). Ha diterima bila p-value < 0,05.: Dari hasil penelitian  menunjukkan bahwa  atlet  dengan  asupan  energi  kurang  dan  memiliki  daya  tahan (endurance) cukup berjumlah 13 orang (87,6%). Atlet dengan status gizi kurus dan memiliki daya tahan (endurance) kurang berjumlah 8 orang (57,1%). Atlet dengan aktivitas fisik ringan dan memiliki daya tahan (endurance) kurang berjumlah 9 orang (60%). Terdapat hubungan asupan energi dengan daya tahan (endurance) pada atlet sepat bola dengan nilai (p = 0,023), tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan daya tahan (endurance) pada atlet sepak bola  dengan nilai (p = 0,072), ada hubungan antara aktivitas fisik dengan daya tahan (endurance) pada atlet sepak bola dengan nilai (p = 0,023). Diharapkan atlet dapat meningkatkan asupan energi, status gizi dan aktivitas fisik serta memotivasi diri agar dapat meningkatkan daya tahan (endurance) menjadi lebih baik. Kata Kunci : Asupan Energi, Status Gizi, Aktivitas Fisik, Daya Tahan (endurance), Atlet Sepak Bola
DETERMINAN STATUS GIZI BALITA DI DESA ALUE NAGA BANDA ACEH Mira abdullah; Erni Salfitri
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 4, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v4i2.1001

Abstract

ABSTRAKPerkembangan masalah gizi di Indonesia semakin kompleks saat ini, selain masih menghadapi masalah kekurangan gizi, masalah kelebihan gizi juga menjadi persoalan yang harus di tangani dengan serius. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014, perbaikan status gizi masyarakat merupakan salah satu prioritas dengan menurunkan prevalensi balita gizi kurang (underweight) menjadi 15 % dan prevalensi balita pendek (stunting) menjadi 32% pada tahun 2014. Untuk mengetahui determinan status gizi balita di Desa Alue Naga Banda Aceh.Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan crossectional. Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 2 Juni tahun 2016. Sampel dalam penelitian ini adalah balita yang berjumlah 68 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner. Kemudian di uji statistik mengunakan chi-quare. Hasil penelitian analisa data univariat menunjukkan bahwa responden yang mengalami status gizi kurang yaitu 68,6% berjenis kelamin laki-laki. Dan responden dengan status gizi kurang yaitu 71,8% pada ibu yang multipara. Sedangkan responden dengan status gizi kurang yaitu 72,5% tidak diberikan imunisasi. Sedangkan hasil analisa data bivariat menunjukkan bahwa hubungan jenis kelamin dengan status gizi balita didapatkan hasil p-value 0,030. Hubungan paritas dengan status gizi balita didapatkan p-value = 0,002. Sedangkan hubungan imunisasi dengan status gizi balita didapatkan p-value = 0,001. Ada hubungan status gizi balita dengan jenis kelamin, paritas, dan imunisasi. Untuk itu diharapkan kepada ibu balita agar lebih memperhatikan status gizi balita seperti mengatur jumlah anak dan memberikan imunisasi yang lengkap. Kata Kunci: Status gizi balita, Jenis kelamin, Paritas dan Imunisasi
Hubungan Antara Pola Asuh Dan Status Ekonomi Dengan Status Gizi Anak Di Sekolah Dasar Negeri Uleegle Mira Abdullah; Elly Ratna Sari
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 2, No 2 (2016): Oktober 2016
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v2i2.1006

Abstract

ABSTRAKMasalah  gizi  pada  usia   sekolah  dapat   menyebabkan rendahnya kualiatas tingkat pendidikan, tingginya angka absensi dan tingginya angka putus sekolah, penyebab gizi kurang dipengaruhi oleh faktor langsung yaitu pola asuh, dan faktor tidak langsung status ekonomi. Untuk mengetahui Hubungan Antara Pola Asuh Dan Status Ekonomi Dengan Status Gizi Anak Sekolah Dasar Negeri Ulee Gle. Penelitian ini bersifat analitik, dengan populasi 164 siswa, dalam penelitian ini jumlah sampel sebanyak 62 siswa. Tehnik pengambilan sampel adalah Random Sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengukur TB,BB dan membagikan kuisioner. Penelitian ini dilakukan disekolah dasar SD Negeri Ulee Gle mulai tanggal 12 Desember s.d. 17 Desember 2016, dari hasil penelitian menunjukkan. Bahwa hasil dari 62 responden yang diteliti terdapat hubungan antara pola asuh makan dengan status gizi anak sekolah dasar dimana p-value = 0,024 <  0,05 dan juga Ada hubungan status ekonomi dengan status gizi anak sekolah dasar dimana p-value 0,07 < 0,05. Di  harapkan  kepada  para  institusi  pendidikan,responden, pihak sekolah, dan praktisi kesehatan agar terus meningkatkan pelayanan kesehatan terutama tentang status gizi anak sekolah dasar. Karena status gizi dapat memicu kecerdasan pada anak. Kata Kunci      : Pola asuh, status ekonomi, status gizi anak sekolah dasar
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BAITURRAHMAN KOTA BANDA ACEH Mira Abdullah; Elly Ratna Sari
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 3, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v3i2.1020

Abstract

AbstrakStunting atau pendek merupakan indikator status gizi kronis yang dapat menggambarkan pertumbuhan yang tidak optimal karena malnutrisi jangka panjang. Dinkes kota Banda Aceh menemukan prevelensi angka stunting pada balita di tahun 2016 menjadi 27,1%. stunting  pada balita di Kota banda Aceh masih menjadi masalah masyarakat. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian stunting pada balita di wilayah kerja puskesmas Baiturrahman  Kota Banda Aceh tahun 2018. Metode  Penelitian : Penelitian ini menggunakan desain case control  dengan populasi yaitu seleuruh anak balita di wilayah kerja puskesmas Baiturrahman  , total sampel adalah 53 balita sampel  case dan 53 balita sampel control. Tehnik pengambilan sampel adalah teknik matching dan simple random sampling. Penelitian dilakukan pada tanggal 5  November –  9 Desember  2017. Cara pengumpulan data dengan metode wawancara. Selanjutnya dilakukan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% dan mencari nilai OR pada tabulasi 2x2. Ha diterima p value <0,05. Hasil Penelitian : Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa balita dengan asupan energi tidak adekuat dan mengalami stunting berjumlah 13 balita (24,5%). Balita dengan asupan protein tidak adekuat dan mengalami stunting berjumlah 38 balita (71,7%). Balita yang terkena penyakit infeksi dan mengalami stunting berjumlah 24 balita (45,3%). Balita yang tidak memiliki riwayat ASI ekslusif berjumlah 35 balita (66%). Balita yang memiliki riwayat BBLR dan mengalami stunting berjumlah 12 balita (22,6%).Kesimpulan dan saran : Faktor yang mempengaruhi kejadian stunting pada balita adalah asupan protein (p value= 0,000, OR= 0,103), penyakit infeksi (p value= 0,003, OR= 4,046), riwayat ASI ekslusif (p value= 0,011, OR= 2,963),BBLR (p value= 0,026, OR= 4,878). Asupan energi (p value= 0,816, OR= 0,806) bukan merupan faktor yang mempengaruhi kejadian stunting pada balita di wilayah kerja puskesmas Baiturrahman  Kota Banda Aceh tahun 2018. Diharapkan Ibu balita untuk memperhatikan tumbuh kembang balita dengan pemenuhan asupan makanan sesuai kebutuhan, menjaga lingkungan dan membawa balita ke pelayanan kesehatan.  Kata Kunci        : stunting, faktor pengaruh, balita
HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR DAN PEKERJAAN IBU DENGAN STATUS GIZI BALITA DI PUSKESMAS KUTA BARO ACEH BESAR Mira Abdullah; Heni diansyah putri
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 3, No 1 (2017): April 2017
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v3i1.1013

Abstract

ABSTRAKNegara Indonesia butuh generasi yang baik maka perlu anak yang sehat, maka dalam hal ini perlu diketahui gizi kurang dan gizi buruk pada balita yang berakibat terganggunya pertumbuhan jasmani dan kesehatan. tujuan penelitian ini Untuk mengetahui hubungan berat badan lahir dan pekerjaan ibu dengan status gizi balita di Puskesmas Kuta Baro Aceh Besar Tahun 2017. Jenis penelitian yang dilakukan adalah analitik dengan pendekatan crossectional. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas kuta baro dari tanggal 2 Mei s.d 9 Mei 2017 dengan jumlah sampel 63 orang. Hasil penelitian didapatkan hubungan berat badan lahir dengan status gizi (p= 0.084), hubungan pekerjaan ibu dengan status gizi (p= 0.891). kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah tidak ada hubungan antara berat badan lahir dan pekerjaan ibu dengan status gizi balita.  Kata Kunci      : Berat badan lahir, status gizi, pekerjaan, ekonomi
Pengaruh Kesesuaian Pemberian MP-ASI dan Riwayat Pemberian ASI Eklusif Terhadap Kejadian Stunting Pada Anak Usia 6-59 Bulan di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Simpang Jaya Kec. Tadu Raya Kab. Nagan Raya Eva Rosdiana; Mira Abdullah; Nurina Nurina
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 9, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v9i1.2973

Abstract

Latar Belakang : Stunting merupakan suatu kondisi dimana tinggi badan anak tidak sesuai dengan umur atau biasa disebut dengan kondisi pendek menurut umur anak. Berdasarkan Data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, 13 kabupaten/kota di Aceh masuk dalam kategori merah karena memiliki prevalensi stunting di atas kisaran 30 persen. Daerah berstatus merah antara lain Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Jaya, Aceh Barat Daya, Nagan Raya, Aceh Besar, serta Aceh Tamiang Tujuan : mengetahui tentang Pengaruh Kesesuaian Pemberian Mp-Asi Terhadap Kejadian Stunting Pada Anak Usia 6-59 Bulan Di Wilayah Kerja Uptd Puskesmas Simpang Jaya Kec. Tadu Raya Kab. Nagan Raya Metode Penelitian : Jenis penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan menggunakan desain case control untuk melihat ‘‘hubungan riawayat kesesuaian pemberian MP-ASI dengan kejadian stunting” Penelitian di laksanakan pada tanggal 01 s/d 07 Juli 2023. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita usia 6-59 bulan di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Simpang Jaya Kec. Tadu Raya Kab. Nagan Raya. Sampel di ambil dengan tekni menggunakan rumus lameshow dengan perbandingan 1:1 sehingga diperoleh total sampel sebanyak 60 responden. Analisa data menggunakan analisa univariat dan bivariate. Hasil Penelitian : analisis univariat diperoleh jumlah anak yang menderita stunting adalah sebanyak 30 (50%) responden, riwayat kesesuaian pemberian MP-ASI mayoritas pada kategori tidak sesuai yaitu sebanyak 41 (68.3%). Analisa bivariate menunjukan ada hubungan antara riwayat kesesuaian pemberian MP-ASI dengan kejadian stunting. Bagi petugas kesehatan agar dapat meningkatkan lagi pendidikan dan penyuluhan kesehatan tentang pentingnya pemberian MP-ASI yang sesuai dan tepat agar anak usia 6-59 bulan memperoleh asupan gizi yang cukup dan terhindar dari kejadian stunting.Kata Kunci : MP-ASI, StuntingBackground: Stunting is a condition where a child's height does not match the age or commonly referred to as a short condition according to the child's age. Based on the 2021 Indonesian Nutrition Status Study Data (SSGI), 13 districts/cities in Aceh are included in the red category because they have a stunting prevalence above the 30 percent range. Areas with red status include Pidie, North Aceh, East Aceh, Central Aceh, Southeast Aceh, Aceh Jaya, Southwest Aceh, Nagan Raya, Aceh Besar, and Aceh Tamiang Objective: to find out about the effect of the suitability of giving MP-ASI on the incidence of stunting in children aged 6-59 months in the work area of the Uptd Puskesmas Simpang Jaya Kec. Tadu Raya Kab. Nagan Raya Research Method: This type of research is descriptive analytic by using a case-control design to see ''the relationship between the history of the suitability of complementary feeding and the incidence of stunting. toddlers aged 6-59 months in the Simpang Jaya Health Center UPTD Working Area, Kec. Tadu Raya Kab. Nagan Raya. The samples were taken technically using the lameshow formula with a ratio of 1:1 so that a total sample of 60 respondents was obtained. Data analysis using univariate and bivariate analysis. Research results: univariate analysis showed that the number of children suffering from stunting was 30 (50%) respondents, the history of suitability for giving MP-ASI was mostly in the inappropriate category, namely 41 (68.3%). Bivariate analysis showed that there was a relationship between the suitability history of complementary feeding and the incidence of stunting. For health workers to be able to improve further education and health counseling about the importance of providing appropriate and appropriate MP-ASI so that children aged 6-59 months receive adequate nutrition and avoid stunting.Keywords: MP-ASI, Stunting
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PEMBERIAN MP-ASI YANG TEPAT DAN SESUAI BAGI IBU YANG MEMILIKI ANAK USIA 6-12 BULAN DI DESA LAMBADA LHOK ACEH BESAR TAHUN 2020 Eva Rosdiana; Mira Abdullah; Febri Yusnanda
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER 2020
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak MP-ASI merupakan makanan pendamping Air Susu Ibu yang berperan penting untuk menunjang kebutuhan nutrisi bagi anak terutama usia 6-24 bulan. MP-ASI yang tepat dan sesuai dapat membantu pertumbuhan anak menjadi optimal karena anak mendapatkan nutrisi yang tepat sesuai dengan usianya. Namun sebaliknya MP-ASI yang kurang tepat akan mempengaruhi status Gizi Pada anak. Sehingga anak- anak yang tidak mendapatkan MP-ASI yang tepat cenderung mengalami gizi buruk dan stunting. Beberapa penelitian juga menyatakan bahwa keadaan kurang gizi dapat disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya kebiasaan pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) yang tidak tepat. Desa Lambada Lhok merupakan salah satu desa yang berada di wilayah kerja Puskesmas Baitussalam yang merupakan wilayah dengan kasus stunting tinggi di Aceh. Tujuan pengabdian ini adalah untuk memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu tentang pemberian MP-ASI yang tepat agar bayi mendapatkan nutrisi yang sesuai untuk pertumbuhannya serta dapat mencegah dari kejadian gizi buruk dan stunting. Sebelum diberikan pendidikan kesehatan pengetahuan ibu tentang pemberian MP-ASI yang tepat dan sesuai hanya 30,6%, namun setelah diberikan pendidikan kesehatan pengetahuan ibu mengenai pemberian MP-ASI yang tepat meningkat menjadi 80%. Kata Kunci : Pendidikan Kesehatan, MP-ASI Yang Tepat
PROMOSI KESEHATAN MELALUI MEDIA MASSA UB ONTV DENGAN TEMA “CEGAH INFEKSI MENULAR SEKSUAL DENGAN SAY NO TO FREE SEKS” Eva Rosdiana; Nana Afridayanti; Mira Abdullah
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER 2021
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan penyakit infeksi menular yang terjadi akibat penularan virus, bakteri dan jamur melalui hubungan seksual yang dilakukan oleh pasangan yang bukan suami istri. Penyakit ini dapat ditularkan melalui hubungan seksual baik secara anal maupun oral, baik sesama jenis maupun berlawanan jenis. Dewasa ini penyakit IMS semakin merebak di masyarakat khususnya kalangan remaja. Sebagian besar remaja telah terlibat dalam pergaulan bebas yang menjerat mereka ke dalam infeksi menular seksual. Pergaulan bebas sendiri bermakna menjalin hubungan pertemanan antara lawan jenis secara bebas tanpa mematuhi norma dan aturan agama. Pergaulan bebas merupakan tindakan yang menyimpang dan melewati batas, karena pergaulan bebas merupakan pintu masuk ke dalam perilaku seks bebas pada remaja yang menyebabkan sebagian besar remaja menderita penyakit IMS. Perilaku seks bebas sendiri adalah perilaku seksual yang di lakukan karena adanya dorongan hasrat dan nafsu seksual baik sesama jenis maupun lawan jenis yang dilakukan pada pasangan yang belum memiliki ikatan nikah secara sah. Bentuk-bentuk dari perilaku ini dapat beraneka ragam dimulai dari tingkatan paling rendah seperti berciuman, berpelukan hingga ketingkatan paling tinggi yaitu melakukan hubungan layaknya suami istri.  Perilaku seks bebas selain memberikan dampak psikologis pada remaja ternyata juga memberikan dampak fisik yang sangat berbahaya bagi kesehatan remaja yaitu penyakit IMS. Adapun jenis penyakit IMS yang dapat ditularkan melalui perilaku seks bebas diantaranya penyakit gonorhoe, sifilis, kandiloma akuminata, klamidia, kutil kelamin, infeksi jamur (candida), herpes simplex, hepatitis B bahkan yang lebih berbahaya lagi yaitu HIV-AIDS. Upaya yang dilakukan agar tidak terjadinya Infeksi Menular Seksual (IMS) maka satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah dengan tidak melakukan perilaku seks bebas. Namun yang menjadi tantangan saat ini adalah apakah kita mampu untuk menghindari diri agar tidak terjerumus ke dalam perilaku seks bebas. Salah satu cara yang bisa dilakukan agar generasi bangsa dapat terhindar dari perilaku seks bebas adalah dengan memberikan pendidikan dan penyulusan kesehatan tentang bahaya seks bebas. Untuk itu perlu dilakukan promosi kesehatan kepada masyarakat khususnya remaja agar dapat mencegah penyakit IMS dengan tidak melakukan perilaku seks secara bebas serta menghindari pergaulan bebas pada remaja.  Kata Kunci : Infeksi Menular Seksual, Promosi Kesehatan, Pergaulan bebasSexually Transmitted Infections (STIs) are infectious infectious diseases that occur due to transmission of viruses, bacteria and fungi through sexual intercourse by non-husband and wife partners. This disease can be transmitted through oral and anal intercourse, both same-sex and opposite-sex. Currently, STIs are increasingly spreading in society, especially among teenagers. Most of the teens have engaged in promiscuity that ensnares them into sexually transmitted infections. Promiscuity itself means establishing friendships between the opposite sex freely without complying with religious norms and rules. Promiscuity is an act that deviates and crosses boundaries, because promiscuity is the entrance to free sex behavior in adolescents which causes most teenagers to suffer from STIs. Free sex behavior itself is sexual behavior that is carried out because of the encouragement of sexual desire and lust both of the same sex and the opposite sex which is carried out on couples who do not have a legal marriage bond. The forms of this behavior can vary starting from the lowest level such as kissing, hugging to the highest level of having relationships like husband and wife. Free sex behavior in addition to having a psychological impact on adolescents, it also has a very dangerous physical impact on adolescent health, namely STDs. The types of STIs that can be transmitted through free sex include gonorrhea, syphilis, candidoma acuminata, chlamydia, genital warts, fungal infections (candida), herpes simplex, hepatitis B and even more dangerous, namely HIV-AIDS. Efforts are being made to prevent Sexually Transmitted Infections (STIs) from occurring, the only way that can be done is not to engage in free sex. But the challenge now is whether we are able to avoid ourselves so as not to fall into free sex behavior. One way that can be done so that the nation's generation can avoid free sex behavior is to provide education and health counseling about the dangers of free sex. For this reason, it is necessary to promote health to the community, especially adolescents so that they can prevent STIs by not engaging in sexual behavior freely and avoiding promiscuity in adolescents.Keywords: Sexually Transmitted Infections, Health Promotion, Promiscuity
PROMOSI KESEHATAN TENTANG “FLOUR ALBUS” PADA REMAJA SISWI SMK NEGERI 1 MESJID RAYA KABUPATEN ACEH BESAR Eva Rosdiana; Desi Rosmawi; Mira Abdullah
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Flour Albus atau yang biasa dikenal dengan istilah keputihan adalah cairan yang keluar dari liang vagina selain darah. Keputihan biasanya berwarna putih dan tidak berbau namun dapat berubah baik dari segi warna maupun baunya jika mengalami gangguan atau patologis. Keputihan patologi merupakan gejala gangguan alat kelamin yang di alami oleh wanita yang berupa cairan berwarna putih kekeuningan atau kelabu.Keputihan pada wanita sering dikaitkan dengan pH pada vagina. Selain itu juga dapat disebabkan oleh penggunaan obat-obatn tertentu seperti Pil KB, IUD, penyakit menular serta kurangnya menjaga kebersihan di sekitar organ wanita seperti menggunakan celana dalam yang tidak menyerap keringat, jarang mengganti celana dalam, menggunakan pembilas vagina dan lain sebagainya.Untuk mencegah terjadinya keputihan maka wanita diharapkan untuk selalu menjaga kebersihan daerah kewanitaan, menghindari kondisi yang lembab, tidak menggunakan celana dalam yang ketat dan tidak bergantian pasangan seksual. Namun masih banyak wanita terutama remaja yang tidak tau tentang penyebab terjadinya keputihan. Sehingga pelu untuk dilakukan promosi kesehatan terntang keputihan “ Folur Albus” untuk mencegah terjadinya keputihan. Tujuan promosi kesehatan ini untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang flour albus. Pelaksanaan kegiatan promosi kesehatan ini dilakukan pada tanggal 03 Januari 2022. Sasaran nya adalah remaja siswi yang berjumlah 25 orang. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa prodi D-III Kebidanan. Pelaksanaan kegiatan berjalan lancar dan remaja siswa mendapatkan pengetahuan tentang flour albus.Kata Kunci: Promosi Kesehatan, Keputihan Flour Albus or commonly known as vaginal discharge is fluid that comes out of the vaginal canal in addition to blood. Vaginal discharge is usually white and odorless but can change in terms of both color and smell if it is disturbed or pathological. Vaginal discharge is a symptom of genital disorders experienced by women in the form of a white or yellowish white liquid. Vaginal discharge in women is often associated with the pH of the vagina. In addition, it can also be caused by the use of certain drugs such as birth control pills, IUDs, infectious diseases and not maintaining cleanliness around the female organs using underwear that does not absorb sweat, rarely changing underwear, using vaginal rinses and so on. vaginal discharge, women are expected to always maintain the cleanliness of the feminine area, avoid humid conditions, do not use tight underwear and do not alternate with partners. However, there are still many women, especially teenagers, who do not know about the causes of vaginal discharge. So it is necessary to carry out health promotion regarding "Folur Albus" vaginal discharge to prevent the occurrence of vaginal discharge. The purpose of this health promotion is to increase adolescent knowledge about flour albus. The implementation of this health promotion activity was carried out on January 3, 2022. The target was students who were carried out 25. This activity involved students of the D-III Midwifery study program. The implementation of activities is smooth and the youth gain knowledge about flour albus.Keywords: Helath Education, Flour Albus
EDUKASI KESEHATAN TENTANG BAHAYA MEROKOK PADA REMAJA DI SMAN 1 BAITUSSALAM Eva Rosdiana; Alfitri Wahyuni; Mira Abdullah; Febri Yusnanda; Ratna Willis; Ismail Ismail
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN Vol 7, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perilaku merokok pada remaja merupakan masalah kesehatan masyarakat yang semakin mengkhawatirkan. Aktivitas yang dahulu identik dengan orang dewasa kini telah merambah ke kalangan pelajar, bahkan pada usia sekolah dasar. Data global menunjukkan sekitar 38 juta remaja berusia 13–15 tahun merupakan perokok aktif, dengan tren peningkatan dari tahun ke tahun (Wijayanti & Ronoatmodjo, 2025). Di Indonesia, prevalensi perokok remaja mencapai lebih dari 20% dan menempatkan negara ini sebagai peringkat ketiga tertinggi di dunia (Fauziah et al., 2020; Vivy Maharani et al., 2021). Sebagian besar remaja mulai merokok pada usia sangat muda, yaitu 12–15 tahun (Rahayuwati & Castillo, 2020), yang meningkatkan risiko penyakit kronis di usia dewasa (Winelis, 2021). Melihat tingginya angka tersebut, diperlukan upaya promotif dan preventif melalui edukasi kesehatan tentang bahaya merokok. Kegiatan edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa mengenai dampak negatif merokok terhadap kesehatan fisik, mental, dan masa depan mereka. Dengan pelaksanaan edukasi di SMA Negeri 1 Baitussalam Kabupaten Besar, diharapkan siswa mampu memahami risiko merokok serta menumbuhkan sikap menolak terhadap perilaku merokok sejak dini. Tujuan pelaksanaan pengabdian ini adalah untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman yang lebih luas kepada para siswa-siswi tentang merokok dan dampak negative yang dapat muncul akibat merokok sehingga siswa/i SMAN 1 Baitussalam terhindar dari perilaku merokok. Pelaksanaan pengabdian dilakukan dengan cara memberikan edukasi kesehatan secara langsung ke pada siswa-siswi SMAN 1 Baitussalam pada tanggal 22 Februari 2025. Jumlah siswa yang mengikuti kegiatan ini adalah sebanyak 30 siswa/i. Hasil pelaksanaan kegiatan terlihat bahwa siswa/i menjadi paham tentang bahaya merokok dan dampaknya bagi kesehatan. Hal ini terlihat dari hasil nilai pretes dan postes yaitu 78% remaja mengetahui tentang bahaya merokok saat pretes dan meningkat menjadi 98% pada saat dilakukan postest. Kesimpulan dari pelaksanaan pengabdian ini siswa/i terlihat antusias mendengarkan edukasi kesehatan yang disampaikan, dan mereka yang sudah terlanjur merokok menyatakan menyesal sudah mengenal rokok dan akan berusaha untuk berhenti merokok. Kata Kunci : Bahaya Merokok, Edukasi Kesehatan, Remaja