Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Desain Bangunan Eks Kolonial Terkait Kenyamanan Visual dengan Pencahayaan Alami - Studi Kasus Gedung Negara Cirebon Nur Laela Latifah; Ramadhan Paskal Dinda Wigna; Teguh Darmawan; Saefulloh Karim Mundika
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 2, No 2 (2021)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v2i2.4654

Abstract

Bangunan eks kolonial merupakan warisan bernilai sejarah tinggi yang harus dilestarikan, salah satunya Gedung Negara Cirebon. Fungsi bangunan ini sebagai tempat penginapan tetap dipertahankan, di samping terdapat ruang yang menjadi area kerja dan pada masa depan direncanakan menjadi fasilitas sumber budaya. Dalam melakukan aktivitas dan kerja visual dibutuhkan cahaya alami dengan kuantitas dan sesuai agar pengguna tetap dapat memperoleh kenyamanan visual, dan hal ini sangat ditentukan oleh desain bangunan terutama orientasi bangunan dan bukaan cahaya; alokasi dan kedalaman ruang; dimensi, bentuk, posisi, dan spesifikasi bukaan cahaya; serta reflektansi permukaan. Terkait Gedung Negara yang telah ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya dimana kondisi fisiknya harus dipertahankan, penting untuk dikaji apakah dengan desain yang ada sebagai bangunan eks kolonial, dapat memberikan kuat penerangan yang mendukung perolehan kenyamanan visual bagi penggunanya. Metoda analisis dilakukan baik kuantitatif dan kualitatif, dan pada analisis kuantitatif dilakukan pengukuran di loksi juga simulasi model menggunakan software Revit 2020 dan DIALux evo 8.2 yang hasilnya dibandingkan dengan standar kenyamanan visual terkait kuat penerangan. Diharapkan melalui penelitian ini diperoleh nilai manfaat agar dapat mengoptimalkan potensi cahaya alami bagi pengguna bangunan eks kolonial dengan tetap menjaga kelestariannya sebagai bangunan cagar budaya.  Kata kunci: desain bangunan eks kolonial, kenyamanan visual, pencahayaan alami
Implementasi Arsitektur Neo Vernakular Sunda di Wisata Edukasi Pawon Historical Area Efafras, Dian Nitta; Latifah, Nur Laela
TERRACOTTA Journal of Architecture Vol 5, No 1
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v5i1.10990

Abstract

AbstrakSeiring perkembangan zaman generasi sekarang cenderung makin kurang tertarik untuk mengenal budaya asli daerah di Indonesia. Fenomena ini makin bertambah dangan adanya pandemi COVID-19 yang telah memberi dampak signifikan terhadap penurunan kunjungan ke tempat wisata budaya. Dampak pandemi ini adalah terpaksa harus ditutup sementara atau diberlakukan pembatasan jumlah pengunjung ke tempat-tempat pariwisata. Dengan adanya pengaruh asing pada gaya hidup maka sudut pandang terhadap pentingnya nilai sejarah juga menjadi memudar. UNESCO menyatakan bahwa dari peninggalan bersejarah yang langka di situs arkeologi Goa Pawon Kabupaten Bandung Barat maka kawasan tersebut layak untuk dijadikan cagar alam. Hal ini menjadikan Goa Pawon memiliki potensi untuk diolah sebagai tempat wisata yang informatif dan menarik. Melalui analisis deskriptif kualitatif dilakukan proses desain kawasan wisata edukasi Pawon Historical Area yang menerapkan tema neo vernakular Sunda, dengan bangunan utama berupa museum berisi ruang pamer, perpustakaan, dan pottery workshop, serta visitor centre. Konsep perancangan tapak dan seluruh bangunan kawasan wisata ini mengacu pada adat istiadat dan filosofi arsitektur Sunda di Kampung Tonggoh, tetapi diselesaikan dengan penggunaan material dan konstruksi modern termasuk adanya sentuhan teknologi pada fasilitas untuk pengunjung di ruang pamer museum dan perpustakaan. Berdasarkan fungsinya yang penting diharapkan Pawon Historical Area dapat mendukung pelestarian budaya asli Sunda dan menjadi model perencanaan kawasan wisata edukasi lainnya di Indonesia.Kata kunci: Arsitektur sunda, Goa pawon, Neo vernakular, Wisata edukasi AbstractAlong with the times, the current generation tends to be less and less interested in getting to know the indigenous culture of the region in Indonesia. This phenomenon has been exacerbated by the COVID-19 pandemic, which has significantly impacted the decline in visits to cultural tourism sites because they were forced to be temporarily closed or restrictions imposed on the number of visitors. With foreign influences on lifestyles, the perspective on the importance of historical values also fades. UNESCO states that from the rare historical heritage in the archaeological site of Goa Pawon, West Bandung Regency, the area is worthy of being used as a nature reserve, so it has the potential to be processed as an informative and interesting tourist spot. Through qualitative descriptive analysis, the design process of the Pawon Historical Area educational tourism area applies the neo-vernacular Sundanese theme, with the main building as a museum containing a showroom, library, pottery workshop, and visitor center. The design concept of the site and the entire building of this tourist area refers to the customs and philosophy of Sundanese architecture in Tonggoh Village but is completed with modern materials and construction, including a touch of technology in the facilities for visitors in the museum and library showrooms. Based on its important function, it is hoped that the Pawon Historical Area can support the preservation of Sundanese indigenous culture and become a model for planning other educational tourism areas in Indonesia.Keywords: Sundanese architecture, Pawon cave, Neo vernacular, Educational tourism
Energy Saving Building Strategies through The Application of Solar Control Glass LATIFAH, NUR LAELA; RAHADIAN, ERWIN YUNIAR
ELKOMIKA: Jurnal Teknik Energi Elektrik, Teknik Telekomunikasi, & Teknik Elektronika Vol 8, No 2: Published May 2020
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/elkomika.v8i2.388

Abstract

ABSTRAKSesuai dengan konsep Green Building, desain bangunan harus memperhatikan penghematan energi operasional bangunan. Semakin besar beban termal, maka semakin boros konsumsi energi listrik. Salah satu cara untuk menurunkan energi listrik adalah dengan mengurangi beban termal eksternal, sehingga pemilihan jenis solar control glass merupakan aspek yang sangat penting. Metoda analisis dilakukan secara kuantitatif. Sebagai kasus studi yaitu Gedung Kantor Pengelola Bendungan Sei Gong di Batam, dan berdasarkan perhitungan Calculator OTTV akan ditentukan alternatif solar control glass yang tepat agar memenuhi syarat dengan batas maksimal OTTV di Indonesia (45 Watt per meter persegi). Manfaat penelitian ini adalah memperoleh masukan pemilihan tipe kaca yang tepat berdasarkan SHGC, pada kasus bangunan kantor.Kata kunci: Hemat energi operasional bangunan, Overall Thermal Transfer Value, Solar Control Glass, Solar Heat Gain Coefficient ABSTRACTIn accordance with the Green Building concept, building designs must pay attention to building operational energy savings. The greater the thermal load, the more wasteful the electricity consumption of the AC system. One way to reduce AC loads is to reduce external thermal loads, then choosing the type of solar control glass is a very important aspect. The method of analysis is done quantitatively. As a case study is Sei Gong Dam Management Office Building in Batam, and based on OTTV Calculator calculation an appropriate solar control glass alternative will be determined to meet the requirements with the maximum OTTV limit in Indonesia (45 Watt per square meter). The benefit of this research is to get input on selection of the right type of glass based on SHGC, in the case of office buildings.Keywords: Energy saving on building operation, Overall Thermal Transfer Value, solar control glass, Solar Heat Gain Coefficient
Pendekatan Arsitektur Neo Vernakular pada Rancangan Islamic Center Fachrozy, Muhammad Rahfi; Latifah, Nur Laela; Jamaludin, Jamaludin
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 10, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v10i3.7529

Abstract

ABSTRAK Sambas merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Hal ini menyebabkan di sana banyak dilaksanakan kegiatan ke-Islaman, tetapi masih belum tersedia suatu wadah yang dapat menunjang ibadah sekaligus meningkatkan kualitas hidup umat muslim. Sehingga, diperlukan Islamic center yang merupakan pusat peribadatan, pendidikan, kemasyarakatan, dan penyiaran agama serta budaya Islam. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu kualitatif. Pendekatan tema yang dipilih untuk perancangan ini adalah arsitektur neo vernakular yang merupakan penggabungan antara arsitektur tradisional dan modern. Arsitektur tradisional yang diacu berasal dari suku asli Kalimantan Barat yaitu suku Dayak dan suku Melayu Tradisional. Neo vernakular dipilih dengan tujuan menghasilkan desain Islamic center yang modern dan fungsional sesuai kebutuhan di zaman modern tanpa mengabaikan unsur/ nilai lokalitas tradisional setempat. Tema ini diterapkan pada pola sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki yang dapat menjangkau seluruh bangunan seperti sungai, massa bangunan yang mengadaptasi bentuk rumah Panjang suku Dayak bernama Ompuk Domuk, atap yang bentuknya mengadaptasi dari rumah suku Melayu Tradisional (atap Potong Limas, atap Potong Godang) dan Ompuk Domuk, pola batik Pucuk Rebung pada ornamen arsitektural, penerapan neo pada struktur dan material bangunan yang lebih modern, serta adanya paduan warna material alami dan kontras.Kata kunci: islamic center, islam, kabupaten sambas, neo vernakular ABSTRACT Sambas is one of the regencies in West Kalimantan Province, where the majority of the population is Muslim. This demographic condition has led to the frequent organization of Islamic activities; however, the region still lacks a dedicated facility that can simultaneously support religious practices and enhance the quality of life of the Muslim community. Therefore, the development of an Islamic Center—which functions as a hub for worship, education, social activities, and the dissemination of Islamic religion and culture—is required. The data collection for this study employed a qualitative approach. The design adopts a neo-vernacular architectural theme, which integrates traditional and modern architectural elements. The traditional references are drawn from the indigenous ethnic groups of West Kalimantan, namely the Dayak and the traditional Malay communities. The goal of using neo-vernacular architecture is to create a modern and functional design for an Islamic Center that still respects the cultural and traditional values of the area. This theme is reflected in several design aspects: a circulation pattern for vehicles and pedestrians inspired by river networks; building masses adapted from the longhouse form of the Dayak Ompuk Domuk; roof forms derived from traditional Malay houses (Potong Limas and Potong Godang) and Ompuk Domuk; architectural ornamentation incorporating the Pucuk Rebung batik motif; and modern interpretations in building structure and material selection. The design also emphasizes the combination of natural material tones with contrasting colors to reinforce both modernity and regional identity. Keywords: architecture, modern, tropic, education