Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

SOSIALISASI DAN PELATIHAN PEMBUATAN PUPUK ORGANIK CAIR SERTA AKSI SOSIAL PEMBERSIHAN LINGKUNGAN Deny Kurniawan; Ratna Yuliawati; Vita Pramaningsih; Marjan Wahyuni; Muhammad Habibi; Muh. Teddy Ekarizky Ramadhan; Febby Suryati; Rabiatul Adawiyah
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 1 (2023): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i1.11580

Abstract

ABSTRAKLimbah rumah tangga seperti sisa sampah makanan buah-buahan dan sayur-sayuran pada umumnya langsung dibuang oleh warga ke tempat sampah sehingga hal ini menjadi permasalahan utama yang dihadapi oleh warga Kelurahan Mugirejo. Untuk menghindari tumpukan sampah, maka limbah tersebut dapat diolah kembali menjadi pupuk organik cair (POC) sehingga dapat dimanfaatkan oleh warga sebagai pengganti pupuk sintetis yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Pelatihan pembuatan pupuk ini dilaksanakan di RT. 39 Kelurahan Mugirejo, Kecamatan Sungai Pinang Luar,  Kota Samarinda pada hari Minggu, 3 Juli 2022 yang diikuti oleh 15 orang warga RT. 39. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengedukasi masyarakat mengenai pemanfaatan limbah rumah tangga dan memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik cair (POC) dari limbah rumah tangga serta aksi sosial pembersihan lingkungan RT. 39. Metode yang digunakan adalah dengan pelatihan atau workshop pembuatan pupuk organik cair serta kerja bakti membersihkan lingkungan. Berdasarkan hasil pengabdian ini terlihat antusiasme peserta untuk mencoba membuat sendiri dan menggunakan hasil pupuk organik cair pada tanaman warga. Kata kunci: sampah; POC; pupuk organik. ABSTRACTHousehold waste, such food waste, fruits and vegetables, are generally disposed of directly by the people in the trash, so this is the main problem faced by the residents of the Mugirejo Village. To avoid piles of garbage, this waste can be reprocessed into liquid organic fertilizer (POC) so that they can use it as a substitute for synthetic fertilizers which can increase plant growth. Fertilizer making training was held at RT. 39 Mugirejo Village, Sungai Pinang Luar District, Samarinda City on Sunday, 3 July 2022 which was attended by 15 of people in RT. 39. The purpose of this activity is to educate the public about the use of household waste and provide training in making liquid organic fertilizer (POC) from household waste as well as social actions to clean up the environment around RT. 39. The method used is training or workshops for making liquid organic fertilizer and community service to clean up the environment. Based on the results of this service, the enthusiasm of the participants to try to make their own and use the results of liquid organic fertilizer on residents' plants was evident. Keywords: waste; POC; organic fertilizer.
Pendampingan dan Inspeksi Sanitasi Pemukiman Pasien ISPA di Kecamatan Muara Bengkal, Kalimantan Timur Vita Pramaningsih; Deny Kurniawan; Andira Apriliana; Muhammad Habibi
Wikrama Parahita : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2023): November 2023
Publisher : Universitas Serang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30656/jpmwp.v7i2.5529

Abstract

Sanitasi lingkungan merupakan kondisi lingkungan yang bersih dan sehat. Salah satunya adalah lingkungan fisik pemukiman meliputi pencahayaan, suhu dan kelembaban. Hal Ini merupakan usaha preventif dalam upaya pencegahan penyakit. Kecamatan Muara Bengkal Ilir, Kalimantan Timur merupakan wilayah kerja Klinik Sentral MBE milik PT. Talen Prima Sawit. Kondisi masyarakat di daerah ini masih kurang informasi tentang sanitasi lingkungan dan Kesehatan. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah mengetahui penyakit yang sering muncul dan pengukuran inspeksi sanitasi pemukiman serta pendampingan ke pasien. Metode yang digunakan melalui beberapa tahap, pertama pencarian data penyakit yang sering muncul di Klinik Sentral MBE; kedua wawancara pasien dan penelusuran tempat tinggal pasien; ketiga melakukan pendampingan ke pasien dan pengukuran inspeksi sanitasi pemukiman untuk parameter pencahayaan, suhu dan kelembaban di ruang tamu, ruang tidur dan dapur. Hasil yang diperoleh adalah penyakit yang sering muncul di wilayah kerja Klinik Sentral MBE adalah ISPA sebesar 53%. Sanitasi pemukiman untuk parameter lingkungan fisik terutama pencahayaan masih memenuhi standar, suhu memenuhi standar kecuali dapur memiliki suhu lebih tinggi dan kelembaban tidak memenuhi syarat kesehatan berdasar Permenkes. Ventilasi dan jendela yang jarang dibuka mempengaruhi pencahayaan, suhu dan kelembaban di dalam ruangan. Suhu dan kelembaban tertinggi terjadi di dapur, dimana di dapur tidak ada ventilasi. Kondisi ini yang menjadi salah satu faktor kejadian ISPA di masyarakat.
KANDUNGAN NITRIT, NITRAT, DAN FOSFAT AIR SUNGAI KARANG MUMUS DARI HULU SAMPAI HILIR Chindy Sanjaya; Vita Pramaningsih; Reni Suhelmi; Deny Kurniawan
EnviroScienteae Vol 19, No 2 (2023): ENVIROSCIENTEAE VOLUME 19 NOMOR 2, MEI 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/es.v19i2.14886

Abstract

The river found in Samarinda City is the Karang Mumus River. This river is a tributary of the Mahakam River which divides Samarinda City in East Kalimantan. The polluting source of the Karang Mumus River comes from domestic activities such as settlements, markets, shopping centers, and hotels. The purpose of this study is to determine the water quality of the Karang Mumus river in terms of predetermined parameters, namely nitrites, nitrates and phosphates in waters. This type of research is a descriptive study with a qualitative approach to see the concentration of nitrite, nitrate, and phosphate parameters in the water of the Karang Mumus River from Upstream to Downstream. The results showed that the highest nitrite value based on eight segments was in segment 3 is 0.026 mg/L. The lowest value of nitrite was in segment 8 with a concentration of 0.0095 mg/L. Based on PerDa KalTim No. 02 of 2011 class II nitrite value in all segments is still meet the quality standard of 0.06 mg/L. The highest concentration of nitrate is upstream, in segment 2 with a concentration of 0.155 mg/L. Lowest nitrate concentration is in the middle of segment 5, which is 0.069 mg/L. Based on PerDa KalTim No. 02 of 2011 class II nitrate value in all segments is still meet the quality standard of 10 mg/L. The lowest phosphate concentration in the middle of segment 5, is 0.031 mg/L. The highest phosphate concentration is upstream of segment 1, which is 0.098 mg/L.  Based on PerDa KalTim No. 02 of 2011 class II, the phosphate value in all segments is still meet the quality standard of 0.2 mg/L.
PENDAMPINGAN DONASI JELANTAH BAGI WARGA KAMPUS MELALUI PROGRAM JENGRINDA (JELANTAH MEMBANGUN SAMARINDA) Vita Pramaningsih; Sri Sunarti; Deny Kurniawan; Rabiatul Adawiyah; Muhammad Risky
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 3 (2023): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i3.15393

Abstract

ABSTRAKPenggunaan minyak goreng terus meningkat terutama dalam industri makanan. Minyak sisa hasil penggorengan disebut dengan minyak jelantah. Ibu-ibu biasanya akan membuang minyak jelantah ke selokan, wastafel cuci piring maupun ke tempat pembuangan sampah. Hal ini dapat menyumbat pipa buangan rumah tangga dan mencemari lingkungan. Pemerintah Kota Samarinda memiliki program Jengrinda dengan mengajak masyarakat berdonasi jelantah untuk membangun kota Samarinda. Penelitian ini bertujuan untuk mengajak warga kampus mengumpulkan minyak jelantah dalam upaya mengendalikan pencemaran lingkungan dari hal kecil dan ikut berpartisipasi dalam program Pemerintah Kota Samarinda. Metode yang digunakan adalah melakukan sosialisasi dan pendampingan untuk mengumpulkan minyak jelantah melalui pengajian rutin mingguan kampus. Kemudian menyediakan derigen, mengkoordinir pengambilan jelantah melalui pick up atau pengambilan ke rumah maupun secara mandiri, koordinasi dengan PT. GSP sebagai pengelola minyak serta evaluasi dengan kuesioner. Kegiatan ini melibatkan seluruh warga kampus baik mahasiswa, dosen, tendik, klining servis, satpam. Hasil kuesioner setelah 4 minggu kegiatan menunjukkan bahwa 88,43% responden mengetahui tentang program jelantah membangun Samarinda, serta ikut mendonasikan minyak jelantah. Jelantah terkumpul sebanyak 2 derigen atau setara dengan 25 liter selama 4 minggu. Kesimpulannya warga kampus menyadari bahwa jelantah menyebabkan pencemaran lingkungan dan bersedia berpartisipasi dalam program donasi jengrinda. Kata kunci: minyak goreng; jelantah; program jengrinda. ABSTRACTThe cooking oil continues to increase, especially a food industry. The leftover oil from frying is called used cooking oil. Mothers will usually throw used cooking oil the gutter, dishwashing or landfill. This household waste pipes, pollute the environment. Samarinda City Government has Jengrinda program inviting people donate used cooking oil to build city of Samarinda. The study to invite campus residents to collect used cooking oil an effort to control environmental pollution from small things and participate the Samarinda City Government program. Method used is to conduct socialization and assistance to collect used cooking oil through weekly campus recitation. Then provide derigants, coordinate the collection of used cooking oil through pick up or to the house independently, coordinate with PT GSP the oil manager and evaluate a questionnaire. Activity all campus residents including students, lecturers, staff, clining service, and security. The results of questionnaire after 4 weeks of activity showed 88.43% respondents about used cooking oil program Samarinda, participated donating used cooking oil. Used cooking oil collected as 2 derigants the equivalent of 25 liters for 4 weeks. Conclusion, residents are used cooking oil environmental pollution and willing to participate the jengrinda donation program. Keywords:ABSTRAKPenggunaan minyak goreng terus meningkat terutama dalam industri makanan. Minyak sisa hasil penggorengan disebut dengan minyak jelantah. Ibu-ibu biasanya akan membuang minyak jelantah ke selokan, wastafel cuci piring maupun ke tempat pembuangan sampah. Hal ini dapat menyumbat pipa buangan rumah tangga dan mencemari lingkungan. Pemerintah Kota Samarinda memiliki program Jengrinda dengan mengajak masyarakat berdonasi jelantah untuk membangun kota Samarinda. Penelitian ini bertujuan untuk mengajak warga kampus mengumpulkan minyak jelantah dalam upaya mengendalikan pencemaran lingkungan dari hal kecil dan ikut berpartisipasi dalam program Pemerintah Kota Samarinda. Metode yang digunakan adalah melakukan sosialisasi dan pendampingan untuk mengumpulkan minyak jelantah melalui pengajian rutin mingguan kampus. Kemudian menyediakan derigen, mengkoordinir pengambilan jelantah melalui pick up atau pengambilan ke rumah maupun secara mandiri, koordinasi dengan PT. GSP sebagai pengelola minyak serta evaluasi dengan kuesioner. Kegiatan ini melibatkan seluruh warga kampus baik mahasiswa, dosen, tendik, klining servis, satpam. Hasil kuesioner setelah 4 minggu kegiatan menunjukkan bahwa 88,43% responden mengetahui tentang program jelantah membangun Samarinda, serta ikut mendonasikan minyak jelantah. Jelantah terkumpul sebanyak 2 derigen atau setara dengan 25 liter selama 4 minggu. Kesimpulannya warga kampus menyadari bahwa jelantah menyebabkan pencemaran lingkungan dan bersedia berpartisipasi dalam program donasi jengrinda. Kata kunci: minyak goreng; jelantah; program jengrinda. ABSTRACTThe cooking oil continues to increase, especially a food industry. The leftover oil from frying is called used cooking oil. Mothers will usually throw used cooking oil the gutter, dishwashing or landfill. This household waste pipes, pollute the environment. Samarinda City Government has Jengrinda program inviting people donate used cooking oil to build city of Samarinda. The study to invite campus residents to collect used cooking oil an effort to control environmental pollution from small things and participate the Samarinda City Government program. Method used is to conduct socialization and assistance to collect used cooking oil through weekly campus recitation. Then provide derigants, coordinate the collection of used cooking oil through pick up or to the house independently, coordinate with PT GSP the oil manager and evaluate a questionnaire. Activity all campus residents including students, lecturers, staff, clining service, and security. The results of questionnaire after 4 weeks of activity showed 88.43% respondents about used cooking oil program Samarinda, participated donating used cooking oil. Used cooking oil collected as 2 derigants the equivalent of 25 liters for 4 weeks. Conclusion, residents are used cooking oil environmental pollution and willing to participate the jengrinda donation program. Keywords: cooking oil; used cooking oil; jengrinda program.
Edukasi pencegahan stunting melalui sanitasi pengelolaan sampah dan higiene di SD Muhammadiyah 4 Samarinda Vita Pramaningsih; Fitriyati Agustina; Harun Saputra; Najwa Aulia; Nizar Atoillah; Deny Kurniawan
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 2 (2024): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i2.23352

Abstract

Abstrak Stunting merupakan masalah kesehatan global yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak, dengan dampak jangka panjang terhadap kesehatan dan produktivitas manusia. Salah satu faktor yang berkontribusi pada tingginya angka stunting adalah kurangnya akses dan praktik kebersihan sanitasi yang baik, termasuk pengelolaan sampah. Lingkungan yang kotor dan tercemar dapat menyebabkan penyebaran penyakit, mengganggu penyerapan nutrisi. Maka perlu mengedukasi masyarakat sejak dini terkhusus pada siswa SD dan lingkungan sekolah. Metode pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan kegiatan penyuluhan, ceramah, diskusi dan demonstrasi praktek langsung tentang sanitasi pengelolaan sampah. Hasil menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pemahaman tentang stunting dan pengelolaan sampah di kalangan siswa setelah dilakukan edukasi. Hal ini tercermin pada hasil pre test dan post test yang menunjukan peningkatan pemahaman pengetahuan. Pemahaman siswa, guru sebelum pemberian edukasi tentang stunting masih kurang dibandingkan pemahaman tentang pengelolaan sampah. Responden yang menjawab benar pada pretest untuk materi stunting lebih rendah kurang dari 50% dibanding dengan materi pengelolaan sampah. Kegiatan edukasi baik berupa penyuluhan maupun pendampingan perlu dilakukan pada lingkungan masyarakat sekolah maupun masyarakat umum, untuk mendukung penurunan stunting. Pemahaman yang dimikili siswa dan masyarakan menjadi modal awal untuk merubah perilaku mereka untuk menyadari akan pentingnya hidup bersih dan sehat dengan mewujudkan sanitasi dan hygiene. Kata kunci: edukasi; stunting; sampah; hygiene. Abstract Stunting is a global health problem that affects children's growth and development, with long-term impacts on human health and productivity. One of the factors contributing to the high rate of stunting is the lack of access to and practice of good sanitation hygiene, including waste management. A dirty and polluted environment can lead to the spread of disease, disrupting the absorption of nutrients. So it is necessary to educate the community from an early age, especially for elementary school students and the school environment. This community service method is carried out through counseling activities, lectures, discussions, and practical demonstrations on waste management and sanitation. The results showed a significant increase in understanding of stunting and waste management among students after education. This is reflected in the pre-test and post-test results, which show an increase in knowledge and understanding. The understanding of students and teachers before providing education about stunting is still less than the understanding of waste management. Respondents who answered correctly on the stunting material were lower than the waste management material. Educational activities in the form of counseling and mentoring need to be carried out in the school community and with the general public to support the reduction of stunting. The understanding that students and the community have is the initial capital to change their behavior to realize the importance of living clean and healthy by realizing sanitation and hygiene. Keywords: education; stunting; waste; hygiene.
Tingkat Pendidikan Penjamah dengan Cemaran Bakteri Coliform pada Depot Air Minum Isi Ulang di Kelurahan Air Putih Fika Afifah; Deny Kurniawan; Rusdi Rusdi
Buletin Keslingmas Vol 43, No 4 (2024): BULETIN KESLINGMAS VOL. 43 NO.4 TAHUN 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/keslingmas.v43i4.12414

Abstract

Penjamah depot air minum bertanggung jawab atas penanganan air dan peralatan, termasuk persiapan, pembersihan, dan pengelolaan. Peran mereka sangat penting dalam memastikan standar kualitas air minum yang sehat. Penjamah dengan pendidikan tinggi cenderung lebih sadar akan risiko kesehatan yang berkaitan dengan kebersihan air minum serta lebih mungkin mengambil langkah untuk menjaga kebersihan  Depot juga memahami regulasi dan standar kesehatan. Selain itu pendidikan tinggi juga dapat memberikan akses kepada teknologi dan metode pengolahan air yang lebih baik dan tepat untuk dapat membantu mengurangi kontaminasi bakteri pada air minum isi ulang. Di kelurahan Air Putih, Kota Samarinda, terdapat 14 DAMIU, 9 DAMIU belummemiliki sertifikat yang sesuai dan 5 sudah memiliki sertifikat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara Tingkat Pendidikan penjamah dengan kontaminasi bakteri Coliform. Dengan menggunakan metode eksperimen laboratorium dan desain potong lintang, penelitian ini tidakmenemukan hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan penjamah dengan kontaminasi bakteri. Bakteri Coliform, 9 sampel memenuhi standar dan 5 sampel melebihi standar. Analisis deskriptif kuantitatif tentangkontaminasi Coliform dengan tingkat pendidikan penangan tidak signifikan (nilai signifikansi 0,872). Hal ini menunjukkan bahwa Tingkat Pendidikan penjamah tidak memiliki efek signifikan pada kontaminasi bakteri Coliform, sehingga menunjukkan bahwa ada faktor lain yang mungkin memiliki hubungan yang lebih besar.