Yody Rizkianto
Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, Jl. Padjajaran, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta 55283

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

The Sedimentary Process of Sand Deposits in Bogowonto River, Purworejo, Central Java, and Progo River, Kulonprogo, Yogyakarta Using Granulometric Analysis Muchamad Ocky Bayu Nugroho; Yody Rizkianto; Riyan Ranggas Yuditama; Akbar Ryan; Agam Maulana
EKSPLORIUM Vol 42, No 2 (2021): November 2021
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2021.42.2.6436

Abstract

ABSTRACT. Sedimentation is the most traditional separation technique and it is relying on efficient coagulation and flocculation to produce flocs with good settling properties. Bogowonto River and Progo River belong to South Serayu Area. There are similar geological processes that affected the river forming process i.e., erosional process, provenance, and fault systems. The sand sedimentation process for each river could be different due to geometry and river morphology. This research aims to reveal the possible parameters that affected the sedimentary process and sediment material along the stream river. Granulometric analysis was done in this research. Samples were taken from 3 points (upstream, middle, and downstream) of Bogowonto river and Progo river. Statistically, the upstream and middle stream of Bogowonto River shows more dunes and beach environment characters than Progo River. It could be interpreted if Bogowonto has more deposit plain like point bar than Progo River. The downstream area has been interpreted as the upper part of estuarine due to river and beach environment. The volcanic arc (Tertiary & Quarternary) is the main sediment source for these rivers. The sediment supply of the Progo River is strongly influenced by Merapi’s eruption whereas Bogowonto river is dominated by reworked Old Andesite Formation (OAF) & Sumbing’s material. Morphologically, Bogowonto has more meandering features than Progo that indicates the development of river stage in a long time and wide distributed sediment materials.ABSTRAK. Sedimentasi adalah teknik pemisahan yang paling tradisional dan tergantung pada koagulasi dan flokulasi yang efisien untuk menghasilkan flok dengan sifat pengendapan yang bagus. Sungai Bogowonto dan Sungai Progo termasuk dalam wilayah Serayu Selatan Selatan. Proses pembentukan sungai dipengaruhi oleh proses geologi seperti proses erosi, batuan asal, dan sistem sesar. Proses sedimentasi pasir yang terjadi pada kedua sungai tersebut dapat berbeda berdasarkan faktor geometri dan morfologi sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai parameter yang mempengaruhi proses sedimentasi dan material sedimen di sepanjang aliran sungai. Metode yang digunakan adalah analisis granulometri pada sampel sedimen yang diperoleh dari 3 titik pada masing-masing sungai (hulu, tengah, dan hilir). Secara statistik, bagian hulu dan tengah Sungai Bogowonto memiliki karakter lingkungan pantai atau bukit pasir yang lebih banyak daripada Sungai Progo. Sungai Bogowonto diinterpretasikan memiliki lebih banyak dataran endapan seperti point bar dibandingkan Sungai Progo. Daerah hilir yang merupakan bagian atas dari muara menunjukkan karakter lingkungan sungai dan pantai yang dominan. Busur vulkanik (Tersier & Kuarter) merupakan sumber sedimen utama. Pasokan sedimen sungai Progo sangat dipengaruhi oleh erupsi Merapi sedangkan sungai Bogowonto didominasi hasil rombakan OAF & material Sumbing. Secara morfologi, Kali Bogowonto memiliki ciri lebih berkelok-kelok daripada Kali Progo yang menggambarkan tahap kedewasaan sungai dengan waktu yang lama dan penyebaran material sedimen yang luas.
Paleobatimetri Satuan Batupasir Karbonatan Formasi Sambipitu di Lintasan Kali Ngalang, Gedangsari, Gunungkidul, Yogyakarta Yody Rizkianto; Muchamad Ocky Bayu Nugroho; Muhammad Gazali Rachman; Jendri Pratama; Anggi Tasya Margaretha Marpaung
Jurnal Geosains dan Teknologi Vol 5, No 1 (2022): Maret 2022
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgt.5.1.2022.42-52

Abstract

Litologi penyusun Formasi Sambipitu yang terletak di Kali Ngalang, Gedangsari, Gunungkidul, Yogyakarta tersusun oleh batupasir kasar, lalu semakin ke atas menjadi batupasir halus dengan perselingan serpih, batulanau, dan batulempung. Hal inilah yang menjadi dasar untuk melakukan studi perkembangan lingkungan pengendapan Formasi Sambipitu di lintasan Kali Ngalang, Gedangsari, Gunung. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif–kuantitatif dengan membuat kolom stratigrafi terukur, analisis petrografi dan analisis mikropaleontologi. Hasil analisis penampang stratigrafi terukur menunjukkan perubahan litologi dari batupasir karbonatan (arkosic wacke dan lithic wacke) dengan sisipan batulanau dan breksi fragmen andesit dan koral berangsur menjadi batupasir karbonatan dengan sisipan batugamping klastik (grainstone, packestone, dan wackestone). Hasil analisis mikropaleontologi menunjukkan bahwa daerah telitian berumur Miosen Awal–Miosen Tengah (N8-N12) dengan lingkungan pengendapan neritik tengah–neritik tepi (27,45–183 m).
Trace Fossils Of The Selorejo Formation, Rembang Zone, North East Java Basin, Indonesia Siti Umiyatun Choiriah; Yody Rizkianto; Achmad Subandrio; Intan Paramita Haty; Desi Kumala Isnani; Nanda Ajeng Nurwantari; Muhammad Ardiyan Syah Darmawa; Hendry Wirandoko
Journal of Geoscience, Engineering, Environment, and Technology Vol. 8 No. 3 (2023): JGEET Vol 08 No 03 : September (2023)
Publisher : UIR PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/jgeet.2023.8.3.10454

Abstract

The Rembang Zone of the North East Java Basin is a zone that develops as a petroleum system and is one of the areas with Indonesia’s largest oil reserves. One of the lithologies in the Rembang Zone is a sedimentary rock carbonated as a marker of marine sediments. The outcrop is continuous and rich in trace fossils, especially in the Ledok and Selorejo Formations. The existence of trace fossil outcrops is crucial for the learning process of earth science, biology, and other sciences, but recently these outcrops have been closed and have become damaged. Their numbers are decreasing due to community mining activities, so unique research on trace fossils in the Rembang Zone must be done immediately. This research aims to discover the variation of trace fossils found in the Selorejo Formation. The methods used are field mapping, measured stratigraphic measurements, rock sampling, and laboratory analysis (sedimentology, petrography, and paleontology). The research shows trace fossils in Planolites, Helminthopsis, Thalassinoides, Conichnus, Chondrites, Macaronichnus, Bergauria, Ophiomorpha, Skolithos, Terebellina, Palaeophycus, and Asterosoma.
PEMETAAN MIKROZONASI BAHAYA GEMPABUMI SEBAGAI UPAYA PENGURANGAN RISIKO BENCANA DI YOGYAKARTA Herry Riswandi; Ikhsan Ikhsan; Yohana Noradika Maharani, Ph.D; Wijayanto Wijayanto; Bambang Sunardi; Ayu Kresno Ekarsti; Yody Rizkianto; Muhamad Syaifudin
Jurnal Mineral, Energi dan Lingkungan Vol 7, No 1 (2023): Juni
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional (UPN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmel.v7i1.7743

Abstract

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan salah satu wilayah di indonesia yang memiliki tingkat risiko bencana gempabumi yang tinggi, hal ini disebabkan karena wilayah nya yang berbatasan langsung dengan zona subduksi lempeng dunia yang sangat aktif yaitu lempeng indo australia yang menyusup kebagian bawah lempeng auresia, selain itu terdapat sesar Opak yang sangat aktif di darat. aktivitas sesar Opak inilah yang di duga menjadi penyebab gempabumi besar yang terjadi pada 27 Mei 2006. Gempa 2006 ini menghancurkan Yogjakarta dan sekitarnya yang menyebabkan 5.782 korban jiwa, puluhan luka-luka, dan ratusan ribu rumah rusak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya gempa bumi menggunakan metode mikrozonasi untuk mengevaluasi dan memetakan daerah di DIY yang memiliki risiko gempa tinggi berdasarkan perhitungan nilai percepatan tanah maksimum (PGA) pada batuan dasar dan data Vs30 sebagai karakterisasi lokasi akibat pengaruh kondisi tanah setempat. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah dengan menggunakan perhitungan Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA), metode inversi HVSR dan Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW). hasilnya adalah peta percepatan tanah maksimum (PGA) di batuan dasar dan peta percepatan tanah maksimum di permukaan tanah di daerah istimewa yogyakarta yang dapat digunakan sebagai informasi awal sebagai pertimbangan pertimbangan dalam menentukan aturan mengenai desain/standar gempa- bangunan tahan gempa sebagai upaya mitigasi gempa struktural.
PEMETAAN MIKROZONASI BAHAYA GEMPABUMI SEBAGAI UPAYA PENGURANGAN RISIKO BENCANA DI YOGYAKARTA Herry Riswandi; Ikhsan Ikhsan; Yohana Noradika Maharani, Ph.D; Wijayanto Wijayanto; Bambang Sunardi; Ayu Kresno Ekarsti; Yody Rizkianto; Muhamad Syaifudin
Jurnal Mineral, Energi dan Lingkungan Vol 7, No 1 (2023): Juni
Publisher : Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional (UPN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmel.v7i1.7743

Abstract

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan salah satu wilayah di indonesia yang memiliki tingkat risiko bencana gempabumi yang tinggi, hal ini disebabkan karena wilayah nya yang berbatasan langsung dengan zona subduksi lempeng dunia yang sangat aktif yaitu lempeng indo australia yang menyusup kebagian bawah lempeng auresia, selain itu terdapat sesar Opak yang sangat aktif di darat. aktivitas sesar Opak inilah yang di duga menjadi penyebab gempabumi besar yang terjadi pada 27 Mei 2006. Gempa 2006 ini menghancurkan Yogjakarta dan sekitarnya yang menyebabkan 5.782 korban jiwa, puluhan luka-luka, dan ratusan ribu rumah rusak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya gempa bumi menggunakan metode mikrozonasi untuk mengevaluasi dan memetakan daerah di DIY yang memiliki risiko gempa tinggi berdasarkan perhitungan nilai percepatan tanah maksimum (PGA) pada batuan dasar dan data Vs30 sebagai karakterisasi lokasi akibat pengaruh kondisi tanah setempat. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah dengan menggunakan perhitungan Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA), metode inversi HVSR dan Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW). hasilnya adalah peta percepatan tanah maksimum (PGA) di batuan dasar dan peta percepatan tanah maksimum di permukaan tanah di daerah istimewa yogyakarta yang dapat digunakan sebagai informasi awal sebagai pertimbangan pertimbangan dalam menentukan aturan mengenai desain/standar gempa- bangunan tahan gempa sebagai upaya mitigasi gempa struktural.