Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Pengaruh Proses Reduksi Kandungan Kalsium Oksalat Pada Tepung Talas dan Produk Olahannya Tita Aviana; Enny Hawani Loebis
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 34, No 1 (2017)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.869 KB) | DOI: 10.32765/warta ihp.v34i1.4082

Abstract

Pada penelitian ini dilakukan beberapa perlakuan proses pada pembuatan tepung talas dengan tujuan untuk mengurangi kandungan kalsium oksalat pada tepung dihasilkan. Tepung talas dibuat untuk memudahkan penyimpanan dan pengolahan lanjut menjadi produk makanan lainnya. Rasa gatal karena tingginya kandungan kalsium oksalat pada tepung talas merupakan kendala bagi daya terima produk olahan talas. Percobaan perlakuan perendaman dengan larutan asam sitrat dan garam dilakukan untuk mengurangi kandungan kalsium oksalat.  Tepung yang dihasilkan kemudian diolah menjadi produk pangan berupa kukis dan brownies.  Analisa yang dilakukan meliputi kandungan kalsium oksalat dan uji organoleptik pada tepung, kukis dan brownies yang dihasilkan. Penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan perendaman menggunakan sitrat dan larutan garam pada proses pembuatan tepung talas mengurangi lebih banyak kandungan kalsium oksalat dibandingkan perlakuan lainnya. Adapun hasil uji kandungan kalsium oksalat terhadap produk kukis dan brownies adalah tidak terdeteksi.
Pengaruh Proses Pengolahan Singkong (Manihot esculenta Crants) Terhadap Kandungan Skopoletin Tita Aviana; Hitler Guring Pohan
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 29, No 02 (2012)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3822.089 KB) | DOI: 10.32765/warta ihp.v29i02.2502

Abstract

Penelitian mengenai pengaruh proses pengolahan terhadap kandungan skopoletin pada produk singkong telah dilakukan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik perubahan kandungan skopoletin pada pasca panen dan pengolahan singkong. Ruang lingkup penelitian mencakup pembuatan produk antara ( mokaf dan tapioka) dan produk olahan dari singkong (singkong goreng, kripik singkong, singkong rebus dan singkong kukus) serta analisis kandungan skopoletin pada tahapan proses pembuatan produk antara dan produk akhir sedangkan hasil analisis kandungan skopoletin pada produk menunjukkan adanya penurunan kandungan skopoletin. Persentase kandungan skopoletin produk antara dan produk akhir terhadap kandungan awal pada bahan baku bervariasi antara 5,77% (keripik singkong) sampai 97,10% (mokaf) Proses pengolahan singkong untuk konsumsi langsung yang dapat mempertahankan kandungan skopoletin cukup tinggi adalah proses kukus (72,35%)
Evaluasi Aspek Sanitasi pada Pengembangan Lini Proses Mocaf Berbasis 4.0 di Balai Besar Industri Agro Yuliasri Ramadhani Meutia; Santi Ariningsih; Reno Fitri Hasrini; Tita Aviana
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 37, No 2 (2020)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v37i2.5994

Abstract

ABSTRAK: Balai Besar Industri Agro (BBIA) mengembangkan lini proses mocaf berbasis 4.0 sebagai unit percontohan dalam pengembangan ekosistem 4.0, dimana ekosistem inovasi sebagai salah satu langkah strategis dalam transformasi 4.0 untuk mengimplementasikan revolusi industri 4.0 sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0. Lini proses mocaf berbasis 4.0 tersebut, berkaitan dengan proses pengolahan pangan, maka tetap harus mempertimbangkan kesesuaian desain peralatan dan permesinan tersebut dengan prinsip-prinsip sanitasi pangan. Aspek sanitasi merupakan hal penting yang harus diperhatikan dalam industri pangan. Tulisan ini bertujuan untuk mengevaluasi desain alat pada lini proses tersebut, metode sanitasi, serta rekomendasi kegiatan sanitasi yang diharapkan dapat berguna untuk perbaikan dan pengembangan lini proses mocaf 4.0 tersebut. Metode yang digunakan melalui pengamatan lini proses dengan membandingkan dengan Peraturan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik. Data pengamatan dibahas secara deskriptif analitik. Berdasarkan hasil evaluasi beberapa aspek sanitasi pada lini proses mocaf 4.0 ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu dari segi infrastruktur, desain peralatan, verifikasi hasil sanitasi, dan juga akses masuknya hama pada lini proses.Kata kunci: evaluasi, GMP, industri 4.0, mocaf, sanitasiABSTRACT: Center for Agro-based Industry (CABI) developed the 4.0-based mocaf process line as a pilot project in the development of ecosystem 4.0, where the innovation ecosystem as one of the strategic steps in transformation 4.0 to implement the 4.0 industrial revolution according to the Making Indonesia 4.0 road map. Sanitation aspect is an important thing that must be considered in the food industry. This paper aims to evaluate the design of process line, sanitation methods, and recommendations for sanitation activities that are expected to be useful for the improvement and development of the mocaf 4.0 process line. The method is through a process line observation by comparing with the Rules for Good Manufacturing Processed Food. Observational data were discussed in a descriptive analytic manner. Based on the evaluation of several aspects of sanitation in the mocaf 4.0 process line, there are a number of things that need to be considered that are the infrastructure, equipment design, verification of sanitation results, and also pest control on the line process area.Keywords:  evaluation, GMP, industry 4.0, mocaf, sanitation
Pengaruh Perlakuan Blansing dan Variasi Penggunaan Gula Terhadap Karakteristik Organoleptik dan Daya Terima Dendeng Jamur Tiram Tita Aviana; Susi Heryani
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 33, No 02 (2016)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (979.948 KB) | DOI: 10.32765/warta ihp.v33i02.3822

Abstract

Pada penelitian ini dilakukan formulasi dan karakterisasi dendeng berbahan baku jamur tiram (Pleurotus ostreotus). Penggunaan jamur tiram sebagai bahan baku menjadikan produk dendeng jamur sebagai salah satu pangan alternatif vegetarian. Bau langu khas jamur yang kurang disukai merupakankendala, dandiperlukan perlakuan pendahuluan untuk menghilangkan bau langu agar menghasilkan produk dendeng dengan mutu organoleptik yang disukai, dengan proses blansing. Formulasi dendeng menambahkan gula merah dan gula pasir sebagai pengikat dan pembentuk tekstur dendeng. Proses pengolahannya adalah penyortiran, blansing, penirisan, pengecilan ukuran, pencampuran bumbu, pencetakan, pengeringan, dan pengemasan. Analisa yang dilakukan meliputi analisa proksimat dan ujiorganoleptik melalui uji kesukaan terhadap 20 orang panelis produk dendeng jamur. Hasil uji sensori menyatakan bahwa dendeng menggunakan jamur giling dengan penambahan gula merah dan gula pasir (D2G2) disukai panelis . Hasil analisa sifat fisik dan kimia terhadap produk akhir menunjukkan bahwa produk D2G2 memiliki kadar air 12,8%, kadar abu 4,72%, kadar protein 4,58%, kadar lemak 0,98%, karbohidrat 76,9%, kadar serat makanan 8,06% dan vitamin B2 <0,25 mg/kg