Articles
ESTIMASI HUBUNGAN SIFAT FISIKA KIMIA MINYAK KAYU PUTIH PADA INDUSTRI KECIL PENYULINGAN DI MALUKU
Syarifuddin Idrus;
Husein Smith
Majalah BIAM Vol 15, No 1 (2019): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (727.71 KB)
|
DOI: 10.29360/mb.v15i1.5237
Tanaman kayu putih (Melalauca leucadendron Linn.) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang digunakan sebagai bahan baku industri minyak atsiri di Indonesia. Tanaman kayu putih merupakan produk hasil hutan bukan kayu yang memiliki prospek cukup baik untuk dikembangkan .Potensi tanaman kayu putih di Indonesia cukup besar. Di Maluku potensi terbesar terdapat pada Kabupaten Buru, kemudian diikuti Kabupaten Seram Bagian Barat, Kabupaten Maluku Tenggara Barat dan Kabupaten Maluku Tengah. Minyak kayu putih dihasilkan dari proses penyulingan daun kayu putih yang merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui derajat korelasi dan kontribusi/pengaruh antar sifat fisika kimia/parameter mutu minyak kayu putih yang berasal dari berbagai desa pada Kabupaten Buru, Seram Bagian Barat dan Maluku Tenggara Barat sebagai penghasil minyak kayu putih di Maluku. Data Penelitian di analisis menggunakan regresi korelasi terhadap karakteristik fisika kimianya meliputi kadar sineol, bobot jenis (BJ), putaran optik dan indeks bias. Hasil penelitian menunjukkan Model matematik garis regresi dan keeratan hubungan antar sifat fisik kimia minyak kayu putih berbeda pada Kabupaten penghasil minyak kayu putih di Maluku yaitu Kabupaten Buru, Seram Bagian Barat dan Maluku Tenggara Barat. Kecenderungan arah garis regresi pada tiga Kabupaten penghasil minyak kayu putih di Maluku tersebut hampir sama walaupun konstanta regresi dan koefisien arah berbeda yaitu hubungan antara sineol vs putaran optik, bobot jenis vs putaran optik dan indeks bias vs putaran optik. Sedangkan Hubungan antara sineol vs indeks bias, trend garis yang berbeda hanya terdapat pada minyak kayu putih dari Kabupaten Maluku Barat Daya Begitupun hubungan antara sineol vs bobot jenis, perbedaan tren garis regresi hanya terdapat pada minyak kayu putih dari Kabupaten Buru yang menunjukkan hubungan positif antar kedua variabel tersebut. Hasil analisis data sifat fisika kimia minyak kayu putih pada Kabupaten Buru, Seram Bagian Barat dan Maluku Tenggara Barat sebagai penghasil minyak kayu putih di Maluku menunjukkan bahwa ada korelasi dan kontribusi antar setiap parameter mutu/sifat fisik kimia dengan derajat korelasi dan besarnya persentase kontribusi yang berbeda di setiap Kabupaten tersebut.
PENGARUH PENGGUNAAN PEREKAT SAGU DAN TAPIOKA TERHADAP KARAKTERISTIK BRIKET DARI BIOMASSA LIMBAH PENYULINGAN MINYAK KAYU PUTIH DI MALUKU
Husein Smith;
Syarifuddin Idrus
Majalah BIAM Vol 13, No 2 (2017): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (492.665 KB)
|
DOI: 10.29360/mb.v13i2.3546
ABSTRAKBiomassa adalah materi biologis yang dapat digunakan sebagai sumber bahan bakar, baik secara langsung maupun melalui proses yang dikenal sebagai konversi biomassa. Biomassa di Maluku yang dapat dikonversi menjadi sumber energi panas alternatif adalah limbah daun penyulingan minyak kayu putih untuk mengatasi kebutuhan bahan bakar dipedesaan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi optimum perlakuan yang dicobakan dan karakteristik biobriket dari limbah penyulingan minyak kayu putih yang dibuat dengan perekat sagu dan tapioka. Desain experimen yang digunakan pada penelitian ini adalah completelly randomized design dengan perlakuan persentase penggunaan perekat tapioka dan sagu masing-masing 80 – 130% terhadap serbuk limbah penyulingan minyak kayu putih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jumlah perekat sagu dan tapioka berpengaruh sangat signifikan terhadap kadar air, kadar abu, density dan zat yang hilang pada pemanasan . Hubungan antara penggunaan jumlah perekat sagu maupun tapioka pada pembuatan biobriket dengan berbagai variabel respon tersebut mengikuti pola linier dengan trend garis yang berbeda antar setiap variabel. Penggunaan perekat tapioka 130% terhadap serbuk limbah penyulingan minyak kayu putih menghasilkan briket dengan kerapatan dan zat yang hilang pada pemanasan tertinggi sedangkan kadar air dan kadar abu terendah masing-masing 0,52 8,95%, 5,88% dan 6,82%. Rata-rata nilai kalor limbah penyulingan minyak kayu putih 4567,19 kal/g. Briket yang dibuat dengan perlakuan tersebut kadar air, zat yang hilang dan nilai kalor limbah daun sisa penyulingan minyak kayu putih memenuhi standar karakteristik briket untuk rumah tangga.
MIKROENKAPSULASI MINYAK IKAN YANG MENGANDUNG ASAM LEMAK OMEGA-3 MENGGUNAKAN GUM ARAB SEBAGAI BAHAN PELAPIS
syarifuddin idrus
Majalah BIAM Vol 9, No 1 (2013): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1337.229 KB)
|
DOI: 10.29360/mb.v9i1.1997
Minyak ikan yang mengandung asam lemak omega -3 sangat mudah mengalami oksidasi dengan adanya oksigen diudara dan sinar ultra violet. Mikroenkapsulasi merupakan salah satu cara untuk melindungi asam lemak dari terjadi oksidasi. Penelitian ini dilakukan untuk melindungi minyak ikan yang mengandung asam lemak omega-3 dengan enkapsulasi. Minyak ikan diekstraksi adri ikan make/lemuru (sardinella sp.) dan dicampur dengan bahan pengkapsul gum arab. Pencampuran dilakukan pada kondisi vakum (50-70°C, 5-10 mmHg) dan dikeringkan menggunakan sprydrayer pada 185°C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 30% (b/b) penggunaan gumarab (fller) dan 50% (b/b) minyak ikan memberikan stabilitas emulsi mencapai 24 jam. Granule yang dihasilkan dapat dibuat menjadi tablet.
KARAKTERISTIK OBAT NYAMUK BAKAR BERBAHAN BAKU INSEKTISIDA ALAMI DARI LIMBAH PENYULINGAN MINYAK KAYU PUTIH
Husein Smith;
Syarifuddin Idrus
Majalah BIAM Vol 15, No 1 (2019): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29360/mb.v15i1.5250
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang banyak dijumpai di daerah tropis dan sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa. Pemerintah membutuhkan partisipasi masyarakat dalam upaya pengendalian Demam Berdarah Dengue melalui pemeriksaan jentik secara berkala dan berkesinambungan serta menggerakan masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk. Penggunaan insektisida nabati sebagai repelen menolak gigitan nyamuk penular penyakit. banyak memberikan keuntungan diantaranya ramah lingkungan, tidak berdampak buruk pada kesehatan dan bahan bakunya mudah di dapat. Untuk itu dilakukan penelitian pemanfaatan limbah penyulingan minyak kayu putih di Maluku sebagai insektisida alami menolak gigitan nyamuk. Fokus Penelitian ini untuk mempelajari karakteristik fisik (lama bakar, berat per pasang, kadar air, keutuhan) anti nyamuk bakar yang dibuat dari serbuk limbah penyulingan minyak kayu putih dengan menggunakan factorial complete randomized design. Variabel respon sifat fisik diukur menggunakan SNI No 06-3566-1994. Hasil penelitian menunjukkan penambahan perekat organik dan suhu pengeringan produk berpengaruh signifikan sampai tidak signifikan terhadap variabel respon anti nyamuk bakar. Berat per pasang anti nyamuk pada berbagai perlakuan berkisar 25,23 – 31,54 gram, lama bakar 6,44 – 8,52 jam dan kadar air 4,43 – 9,77%.
UJI KOMPRESIBILITAS DAUN DALAM KETEL SULING DAN BEBERAPA VARIABEL PREDIKTOR TERHADAP LAJU ALIR AIR DISTILAT DAN RENDEMEN MINYAK KAYU PUTIH
Husein Smith;
Sumarsana Sumarsana;
Syarifuddin Idrus
Majalah BIAM Vol 15, No 2 (2019): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1058.202 KB)
|
DOI: 10.29360/mb.v15i2.5653
Minyak kayu putih yang dihasilkan dari proses penyulingan daun kayu putih merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia. Di Maluku industri penyulingan minyak kayu putih cukup banyak tersebar di beberapa kabupaten, namun teknologi penyulingan minyak kayu putih belum berkembang, masih mengikuti cara tradisionil. Untuk dapat meningkatkan rendemen pada indutri kecil tersebut, perlu penguasaan teknologi penyulingan minyak kayu putih. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari hubungan berbagai variabel prediktor terhadap laju alir disitilat dan rendemen minyak kayu putih. Untuk mengetahui pola dan keerataan hubungan antar variabel, data penelitian di analisis menggunakan analisis regresi korelasi. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh kompresibilitas dan variabel prediktor lainnya terhadap laju alir distilat dan rendemen minyak kayu putih. Kisaran rendemen setiap jam selama 4 jam penyulingan pada kompresibilitas daun dalam ketel 5% - 20% yaitu 0,63% - 0,13% dengan jumlah rendemen setelah penyulingan 1,46%. Sedangkan kisaran laju alir distilat pada kompresibilitas daun 5% Image 20% dalam ketel suling adalah 14,5 ml/menit Image 6,63 ml/menit.
ESTIMASI PRODUKSI MINYAK KAYU PUTIH PADA INDUSTRI KECIL PENYULINGAN DI MALUKU
Husein Smith;
Syarifuddin Idrus
Majalah BIAM Vol 12, No 1 (2016): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (465.077 KB)
|
DOI: 10.29360/mb.v12i1.2322
Produksi minyak kayu putih pada sektor industri kecil turut mempengaruhi pembangunan di Maluku yang akan memperkokoh struktur industri. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan produksi minyak kayu putih di Maluku dengan menggunakan metode estimasi regresi dan nisbah. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling pada industri kecil penyulingan minyak kayu putih di empat kabupaten, satu kota dan dua puluh desadi Maluku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan metode estimasi regresi kemampuan produksi minyak kayu putih di Maluku sebesar 251,71 - 260,79 liter/hari atau 226,59 - 234,35 kg/hari dengan tingkat kepecayaan 95%, sedangkan dengan menggunakan metode estimasi nisbah diperoleh kemampuan produksi minyak kayu putih di Maluku sebesar 248,94 - 262,92 liter/hari atau 224,05 - 236,63 kg/hari.
KONTRIBUSI LAMA PEMERAMAN DAUN DAN MODIFIKASI SARINGAN KETEL TERHADAP LAJU DISTILAT DAN RENDEMEN MINYAK NILAM ASAL MALUKU
Husein Smith;
Syarifuddin Idrus;
Leopold M. Seimahuira
Majalah BIAM Vol 15, No 2 (2019): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (662.024 KB)
|
DOI: 10.29360/mb.v15i2.5659
Minyak daun nilam merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang sering disebut dengan minyak eteris atau minyak terbang. Proses pengambilan minyak daun nilam dapat dilakukan dengan dIstilasi air, dIstilasi uap-air dan dIstilasi uap. Untuk menaikkan pendapatan penyuling minyak daun nilam dan mengoptimalkan pemanfaatan potensi minyak atsiri tersebut di Maluku, maka perlu dilakukan usaha untuk menaikkan rendemen dan mutu minyak sesuai dengan Standart Nasional Indonesia. Salah satu cara adalah memperbaiki teknik distilasi dan memperbaiki kondisi operasi agar proses distilasi dapat menghasilkan rendemen minyak yang optimal dengan standart mutu yang berlaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh modifikasi saringan pada alat suling minyak nilam dan lama pemeraman daun nilam terhadap rendemen dan laju distilat selama proses penyulingan. Penyulingan minyak nilam menggunakan sistim air-uap dengan perlakuan modifikasi penyaring (selongsong dan datar) pada alat distilasi dan lama pemeraman daun. Data penelitian dianalisis secara deskriptif berupa trend grafik. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh dari modifikasi saringan pada alat suling dan lama pemeraman daun-ranting nilam terhadap rendemen dan laju distilat. Laju destilat terindikasi dipengaruhi oleh tipe saringan, lama pemeraman daun-ranting dan kerapatan bahan dalam ketel suling. Warna minyak dari perlakuan penyulingan memenuhi SNI No 06-2385- 2006.
ANALISIS RESPON RENDEMEN DAN BEBERAPA VARIABEL LAINNYA PADA PENYULINGAN MINYAK KAYU PUTIH ASAL BIMA
Husein Smith;
Sumarsana Sumarsana;
Syarifuddin Idrus
Majalah BIAM Vol 16, No 2 (2020): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29360/mb.v16i2.6627
Minyak kayu putih dihasilkan dari proses penyulingan daun kayu putih, merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia. Di Kabupaten Bima terdapat beberapa industri penyulingan minyak kayu putih dari daun Melaleuca cajuputi, untuk itu perlu ada informasi komprehensif tentang teknologi penyulingan minyak kayu putih dari spesies tersebut yang berasal dari Bima, maka penelitian ini dilakukan agar dapat mengetahui kontribusi dari berbagai variabel pada proses penyulingan minyak kayu putih tersebut terhadap rendemen dan variabel respon lainnya. Untuk dapat meningkatkan rendemen minyak, perlu diketahui kondisi optimum teknologi penyulingan minyak kayu putih. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari hubungan berbagai variabel prediktor terhadap laju alir kondensat dan rendemen minyak kayu putih. Untuk mengetahui pola hubungan dan korelasi antar variabel, data penelitian di analisis menggunakan analisis regresi korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh lama penyulingan dan variabel prediktor lainnya terhadap laju alir kondensat dan rendemen minyak kayu putih. Kisaran rendemen setiap jam selama 4 jam penyulingan yaitu 1,56% - 0,001% dengan jumlah rendemen setelah penyulingan 1,82%. model hubungannya ; R= 0,83. Sedangkan kisaran laju alir kondensat selama penyulingan adalah 46,67 ml/menit 5,88 ml/menit model hubungan antar variabel tersebut ; R= 0,99.
OPTIMASI PRODUKSI RIBOFLAVIN (VITAMIN B2) DENGAN SUBSTRAT IKAN MENGGUNAKAN Eremothecium gossypii
syarifuddin idrus
Majalah BIAM Vol 13, No 1 (2017): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (416.016 KB)
|
DOI: 10.29360/mb.v13i1.2800
Produksi riboflavin melalui proses fermentasi terus meningkat disebabkan karena lebih murah biaya produksinya, limbah yang dihasilkan lebih sedikit, dan energi untuk produksi lebih rendah. Disamping itu, proses fermentasi juga menggunakan substrat dari sumber yang dapat diperbaharui. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi produksi riboflavin menggunakan ikan sebagai substrat. Proses fermentasi diamati pada 0-120 jam untuk memperoleh waktu optimal dan substrat optimal untuk produksi riboflavin. Riboflavin hasil fermentasi diuji menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 445 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu optimal untuk produksi riboflavin adalah 72 jam. Glukosa sebagai sumber karbon optimal pada 10 g/L dengan jumlah riboflavin yang diperoleh sebesar 40,5 mg/L. Penggunaan ikan sebagai sumber karbon optimal pada 10 g/L dengan jumlah riboflavin 24,8 mg/L. Penggunaan substrat campuran glukosa dan ikan sebagai sumber karbon optimal pada 10 g/L dengan jumlah riboflavin yang dihasilkan sebesar 51,2 mg/L.
PEMETAAN KUALITAS MINYAK KAYU PUTIH (Melaleuca leucadendra) DI MALUKU
Febry R Torry;
Syarifuddin Idrus
Majalah BIAM Vol 12, No 1 (2016): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (370.682 KB)
|
DOI: 10.29360/mb.v12i1.2323
Komponen yang memiliki kandungan cukup besar didalam minyak kayu putih adalah sineol dan dijadikan sebagai penentu kualitas minyak kayu putih dalam perdagangan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kualitas minyak kayu putih hasil penyulingan pada industri kecil skala rumah tangga di Maluku untuk memetakan kualitas minyak kayu putih di Maluku. Pengambilan sampel minyak kayu putih dilakukan disetiap lokasi penyulingan dan wawancara dengan perajin untuk memperoleh data. Pengujian kualitas minyak kayu putih menggunakan SNI 06-3954-2001 dan kadar sineol menggunakan GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas minyak kayu putih di Pulau Buru dengan sistem penyulingan masih menggunakan ketel berbahan kayu menghasilkan kadar sineol tergolong pada level pertama (P) dengan kisaran 24-44%. Dari 9 lokasi dijumpai 6 lokasi berkualitas baik dan 3 lokasi telah melakukan pencampuran dengan minyak yang lain dengan kadar sineol 8-16%. Di Seram Bagian Barat kualitas minyak kayu putih sangat baik dengan kadar sineol tergolong pada level pertama (P) dan utama (U) dengan kisaran 24-64%. Dari enam belas lokasi dijumpai 7 lokasi yang masih menggunakan ketel kayu. Di Maluku Barat Daya (MBD) dan Maluku Tenggara Barat (MTB) kualitas minyak kayu putih sangat baik dengan kadar sineol tergolong pada level pertama (P) dan utama (U) dengan kisaran kadar sineol 36-60%.