Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Age, Gender and Children Opinion with Social-Emotional Development among Preschool Children in Flood-Prone Areas Yuniske Penyami; Maslahatul Inayah; Mardi Hartono
JENDELA NURSING JOURNAL Vol 7, No 2 (2023): DECEMBER 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jnj.v7i2.10387

Abstract

Background: Preschool children are at a risk of social-emotional problems at 58.8%, with 72.2% of post-flood disaster children experiencing emotional behavior problems. In flood-affected areas, the self-concept of preschool children shows poor self-image (53.4%), low self-esteem (56.8%), and a negative self-role (52.3%).Purpose: To understand the overview and factors correlation to the social-emotional development of preschool children in flood-prone areas.Methods: This research was designed as a descriptive cross-sectional study. A total of 125 preschool children living in flood-prone areas were the research subjects. The ASQ-SE questionnaire was used to measure the social-emotional development of children. Spearman tests were conducted to determine the correlation between respondent characteristics and social-emotional development.Result: This study shows 88% of preschool children living in flood-prone areas are at risk of experiencing social-emotional problems. The questions with the highest scores in the 36-month, 48-month, and 60-month questionnaires were related to children intentionally hurting themselves. Gender is significantly correlated with the social-emotional development of children in flood-prone areas (p 0.05).Conclusion: Preschool children in flood-prone areas are more likely to experience social-emotional problems. Gender plays a role in the social-emotional development of children. The results provide insight for pediatric nurses in developing interventions to prevent social-emotional problems in children with a family-centered care approach.
PEMBERDAYAAN KELUARGA MELALUI GERAKAN SAYANG IBU HAMIL (GESIB) DALAM UPAYA MEWUJUDKAN IBU HAMIL BEBAS ANEMIA DI KELURAHAN BENDAN KERGON KOTA PEKALONGAN Maslahatul Inayah; Nur Zakiyah; Muhammad Yusuf Ibrahim; Yuniske Penyami
Jurnal Lintas Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2023): NOVEMBER 2023 - APRIL 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jlpm.v3i1.10792

Abstract

Latar Belakang : Angka Kematian Ibu (AKI) dapat menjadi alat ukur untuk mengetahui kualitas pelayanan kesehatan baik pada masa kehamilan maupun masa nifas. Meningkatnya derajat kesehatan ibu merupakan salah satu tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) yang ingin dicapai pada tahun 2030. Anemia pada kehamilan merupakan salah satu faktor dari kehamilan risiko tinggi . Hasil Survei Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa secara nasional prevalensi anemia ibu hamil masih cukup tinggi yaitu sebesar 48,9 %. Intervensi yang dilakukann melibatkan ibu hamil beserta pasangannya dalam rangka peningkatan status kesehatan ibu hamil. Hasil kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan keluarga ( suami ) tentang anemia  pada kehamilan.Tujuan : Pemberdayaan keluarga dalam upaya pencegahan dan penanganan  anemia pada ibu hamil.Metode : Bentuk kegiatannya meliputi pemeriksaan kesehatan, monitoring Hb, pemberian materi tentang manfaat bahan makanan berbahan dasar kacang-kacangan bagi ibu hamil,  membuat olahan makanan berbahan dasar kacang-kacangan untuk meningkatkan kadar hemoglobin serta melakukan KIE pada keluarga ( suami ) tentang anemia pada ibu hamil.Hasil : Hasil kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan keluarga (suami) tentang anemia  pada kehamilan.Kesimpulan : Keluarga perlu waspada terhadap gangguan kesehatan pada ibu hamil serta memperhatikan kebutuhan pada ibu hamil. Kata Kunci :  Gerakan Sayang ibu hamil (GESIB), anemia
PEMBERDAYAAN IBU BADUTA DALAM MEWUJUDKAN PERIODE EMAS MELALUI PRAKTIK PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DAN MAKANAN PENDAMPING ASI Tri Anonim; Suryo Pratikwo; Sumarni Sumarni; Erni Nuryanti; Maslahatul Inayah
Jurnal Lintas Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2024): MEI 2024 - OKTOBER 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jlpm.v3i2.11476

Abstract

Latar Belakang : Usia dibawah 24 bulan sangat penting bagi bayi karena di masa inilah upaya menciptakan sumber daya manusia yang baik dan berkualitas. Masa itu merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat sehingga kerap diistilahkan sebagai “Periode Emas” sekaligus “periode kritis”. Untuk mencapai tumbuh kembang optimal, Global Strategy for Infant and Young Child Fedding WHO/UNICEF merekomendasikan perlunya 4 hal penting yang harus dilakukan, antara lain: memberikan ASI kepada bayi segera dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir, memberikan hanya ASI saja atau pemberian ASI eksklusif sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, memberikan makanan pendamping ASI (MP ASI) sejak bayi berusia 6 bulan sampai 24 bulan, dan meneruskan pemberian ASI sampTujuan: Meningkatkan pengetahuan ibu Baduta dalam upaya perbaikan gizi anaknya melalui praktik pemberian ASI Eksklusif dan MPASI agar terwujud Periode Emas.Metode: Penyuluhan kesehatan dan Praktik pemberian ASI eksklusif dan MPASI melalui ceramah, tanya jawab, demomnstrasi membuat MPASI usia  6-9 bulan, 9-12 bulan dan 12-24 bulan.ai anak berusia 24 bulan atau lebih.Hasil Kegiatan: Hasil evaluasi nilai rata-rata pre test sebesar 76,6 ( baik) menjadi 87,4 (sangat baik) pada nilai rata-rata post-testKesimpulan: Penyuluhan tentang Pemberian ASI Eksklusif dan MPASI dapat meningkatkan pengetahuan pada Ibu Baduta, nilai rata-rata pre tes dibanding pos tes terjadi peningkatan signifikan.
Skrining Kecemasan Pada Mahasiswa Baru Prodi Keperawatan Pekalongan Program Diploma III Sebagai Upaya Deteksi Dini Masalah Kesehatan Mental Lis Triasari; Maslahatul Inayah; Sudirman Sudirman; Sumarni Sumarni; Afiyah Sri Harnany
Jurnal Lintas Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2025): MEI 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jlpm.v4i2.13062

Abstract

Latar Belakang : Mahasiswa baru melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi, akan memasuki masa transisi perubahan status dan proses pembelajaran dari siswa menuju mahasiswa. Mahasiswa akan merasa lebih dewasa, lebih bereksplorasi terhadap gaya hidup dan dengan adanya tugas-tugas akademik, mereka merasa lebih tertantang secara intelektual namun mahasiswa juga dapat mengalami kesulitan, karena adanya culture shock terhadap masalah sosial dam psikologis dalam status baru tersebut. Penilaian dini bertujuan untuk mendeteksi secara cepat dan akurat kondisi kesehatan mental mahasiswa, sehingga intervensi yang tepat dapat diberikan sebelum masalah berkembang lebih lanjut. Penilaian dini merupakan langkah awal yang esensial dalam memahami kondisi mental mahasiswa.Metode : Metode kegiatan ini dilakukan dengan Skrining menggunakan kuesioner Depression Anxiety Stress Scales (DASS 42) untuk menilai tingkat kecemasan pada mahasiswa baru Prodi Keperawatan Pekalongan Program Diploma III Kemenkes Poltekkes Semarang, mengelompokkan dan menganalisa hasil dari skrining tersebut serta menyimpulkan hasil analisa terhadap tingkat kecemasan pada mahasiswa baru Prodi Keperawatan Pekalongan Program Diploma III Kemenkes Poltekkes Semarang. Hasil :Berdasarkan hasil skrining terdapat 15 mahasiswa dengan tingkat kecemasan normal (12%), 25 mahasiswa dengan tingkat kecemasan ringan (21%), 61 mahasiswa dengan tingkat kecemasan sedang (50%), 12 mahasiswa dengan tingkat kecemasan parah (10%), dan 8 mahasiswa dengan tingkat kecemasan sangat parah (7%).Simpulan : Dengan adanya kegiatan screening yang terstruktur dan berkelanjutan, diharapkan mahasiswa dapat menghadapi tantangan akademis dan kehidupan sehari-hari dengan lebih baik, sehingga mampu berkontribusi secara optimal di kampus dan di masa depan. Program ini juga berperan penting dalam menciptakan lingkungan kampus yang sehat mental, di mana setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk berkembang secara holistik, baik secara akademis, sosial, maupun emosional.Keyword : Screening, Kecemasan, Mahasiswa Baru