Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pemanfaatan Potensi Kali Geruh Sebagai Sumber Energi Listrik Terbarukan untuk Mendukung Desa Wisata Terpadu (Studi Kasus: Lembah Mbencirang, Desa Kebontunggul, Kabupaten Mojokerto) Novi Andriany Teguh; Mahendra Andiek Maulana; Mohamad Bagus Ansori; Anak Agung Ngurah Satria Damarnegara; Nadjadji Anwar
Sewagati Vol 6 No 2 (2022)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.565 KB) | DOI: 10.12962/j26139960.v6i2.195

Abstract

Lembah Mbencirang merupakan suatu kawasan wisata edukasi terpadu yang terletak di Desa Kebontunggul, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Pembangunan kawasan wisata ini merupakan salah satu langkah yang ditempuh oleh Kepala Desa Kebontunggul demi terciptanya kemakmuran dan kesejahteraan penduduk dengan meningkatkan perekonomian desa. Salah satu bentuk pengembangan yang direncanakan pada kawasan ini adalah pemanfaatan Kali Geruh sebagai pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) untuk desa wisata sebagai alternatif pengembangan sumber energi yang terbarukan. Pemanfaatan Kali Geruh sebagai PLTMH diharapkan dapat meminimalisir biaya suplai energi listrik untuk kawasan wisata Lembah Mbencirang, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan wisata Lembah Mbencirang. Hasil perhitungan potensi daya listrik pada Kali Geruh sebagai sumber tenaga listrik masyarakat Desa Kebontunggul Mojokerto, dengan tinggi jatuh efektif direncanakan sebesar 8,764 m dan debit andalan 75% sebesar 0,785 m3/detik, dapat dihasilkan energi listrik per hari sebesar 1268,88 kWh atau 463141,2 kWh per tahun, setara dengan pemenuhan kebutuhan energi listrik sekitar 436 orang. Selanjutnya dilakukan sosialisasi dengan menyebarkan booklet mengenai tingginya potensi yang ada tersebut agar masyarakat Desa Kebontunggul memperoleh informasi dan timbul kesadaran untuk memanfaatkan Kali Geruh sebagai sumber energi listrik terbarukan.
Modeling of Flood Inundation Due to the Overflow of the Bengawan Madiun River Using HEC-HMS and HEC-RAS 2D Aviar Yusuf Affendi; Mahendra Andiek Maulana; Mohamad Bagus Ansori
Jurnal Teknologi dan Manajemen Vol 7, No 2 (2026): July
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat ITATS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.jtm.2026.v7i2.9188

Abstract

Bengawan Madiun is one of the main tributaries of the Bengawan Solo River, playing a critical role in the hydrological system of the Bengawan Solo Watershed. Limited river capacity, upstream land-use change, and increasing rainfall intensity have caused recurrent flooding in Ngawi Regency, particularly in Kwadungan and Pangkur Districts. A significant flood event occurred on 29 March 2025, inundating settlements, farmland, and infrastructure across the study area. This study aims to model flood inundation resulting from the overflow of the Bengawan Madiun River, evaluate model reliability, and analyze inundation characteristics under various return period discharge scenarios as a basis for flood mitigation recommendations. The average watershed rainfall of 72.80 mm was distributed into hourly rainfall using the Sri Harto method as input for HEC-HMS modeling. Calibration of the daily discharge model for the flood event of 29 March 2025 yielded an NSE of 0,85 and R² of 0,89, indicating that the model accurately represents the rainfall-runoff relationship of the Bengawan Madiun Watershed with a very high degree of accuracy. The HEC-RAS 2D simulation under existing conditions revealed a total inundation area of 6.329 km², concentrated in the lowland areas of Kwadungan and Pangkur Districts, with model validation yielding an RMSE of 0,03 m and NSE of 0,73. Return period discharge simulations demonstrated a consistent increase in inundation area from 1.654 km² at Q5 to 15.038 km² at Q50, with the 29 March 2025 flood event hydrologically identified as equivalent to a return period of 10 to 25 years. Based on these findings, river normalization and embankment construction along the critical segments of Bengawan Madiun are recommended as structural mitigation measures to significantly reduce flood inundation risk in Ngawi Regency.