Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Gender Equality in Mosque Management: Women's Involvement in Masjid Raya Mujahidin Pontianak Nurjamilah, Cucu
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 1 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.1.1336

Abstract

In the context of da’wah management, the functions of the mosque are not optimal yet. The activities of the masjid are only focused on the center of worship, religious activities, but have not touched the equality yet. In order to answer the problems above, the researcher used fieldwork with the method of case studies. Through an in-depth interview technique, participant observation and study of documentation found that Masjid Mujahidin Pontianak has involved women in the management of masjid, and succeeded in increasing the functions of a mosque. Involving women in the management of mosque will strengthen one dimension that is important in Islam that is Islam seriously upholds the equality of degree in various aspect, including Islam is a religion that highly responsive gender. When the management of mosque is filled with a variety of different groups, including giving places to women, then frictions and clashes caused by differences in the understanding in the society will be minimized, and then the role and function of masjid will be able to touch various aspects such as economics, health, and education. Dalam konteks pengelolaan dakwah, fungsi masjid sebagai media dakwah belum diberdayakan secara optimal. Kegiatan masjid yang ada hanya digunakan sebagai pusat ibadah dan aktivitas keagamaan, selebihnya belum menyentuh pada persoalan gender. Guna menjawab permasalahan di atas, dilakukan studi lapangan dengan metode studi kasus. Melalui teknik wawancara mendalam, observasi partisipan dan dokumentasi, ditemukan bahwa Masjid Raya Mujahidin Pontianak telah melibatkan perempuan dalam kepengurusan masjidnya, dan berhasil dalam peningkatan fungsi masjid. Melibatkan perempuan dalam pengelolaan masjid, akan menguatkan satu dimensi penting dalam Islam yaitu Islam menjunjung tinggi persamaan derajat dalam berbagai segi, termasuk Islam adalah agama yang responsif gender. Ketika kepengurusan masjid diisi dari berbagai golongan, termasuk mengapresiasi kaum perempuan, maka gesekan-gesekan yang disebabkan perbedaan pemahaman di masyarakat akan dapat diminimalisir, serta fungsi dan peran masjid akan mampu menyentuh berbagai aspek seperti bidang ekonomi, kesehatan, dan pendidikan.
HALAQAH KELUARGA DI ERA MILENIAL PERSPEKTIF PSIKOLOGI DAKWAH Cucu Cucu; Isyatul Mardiyati
Raheema Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : PSGA LP2M IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.244 KB) | DOI: 10.24260/raheema.v6i2.1399

Abstract

The halaqah method in practice has been applied in various joints of human life, including in formal educational institutions to da'wah institutions. However, the application of the halaqah method in the home seems to be very rare. In terms of family law a strong bond between father and mother will be formed as da'i with mad'u (recipient of the message) who is also his children. The focus of his research is how halaqah is applied at home as an effort to strengthen family Islam. Through field research with the approach of psychological proselytizing, it was found that in family halaqah activities not only messages are easily absorbed, but mental contact between da'i to mad'u, even between mad'u and other mad'u will be absorbed well. In addition, in halaqah not only is the understanding of family Islam increasing, but the communication and intimacy of family members are increasingly well realized. Furthermore, from this study found a new formulation in strengthening Islamic through halaqah, namely: The house became the center of the formation of family quran personality, and the stronghold of negative social media, and the House as a medium of family counseling. Keywords: Halaqah, and the Formation of the Soul Qur'ani Metode halaqah pada praktiknya telah diterapkan di berbagai sendi kehidupan manusia termasuk di lembaga-lembaga pendidikan formal hingga di lembaga-lembaga dakwah. Namun penerapan metode halaqah dalam rumah nampaknya masih sangat jarang Padahal dalam halaqah keluarga akan terbentuk suatu ikatan yang kuat antara ayah dan ibu sebagai da’i dengan mad’u (penerima pesan) yang juga merupakan anak-anaknya. fokus penelitiannya adalah bagaimana halaqah diterapkan di rumah sebagai upaya penguatan keislaman keluarga. Melalui penelitian lapangan dengan pendekatan psikologi dakwah, ditemukan bahwa dalam kegiatan halaqah keluarga tidak hanya pesan yang mudah diserap, tetapi kontak mental antara da’i terhadap mad’u, bahkan antar mad’u dengan mad’u yang lain akan terserap secara baik. Selain itu, dalam halaqah bukan hanya pemahaman keislaman keluarga yang meningkat, tetapi komunikasi dan keintiman anggota keluarga semakin terealisasi dengan baik. Selanjutnya dari penelitian ini ditemukan adanya formulasi baru dalam penguatan keislaman melalui halaqah, yaitu: Rumah menjadi pusat pembentukan kepribadian qur’ani keluarga, dan benteng arus negatif media sosial, serta Rumah sebagai media konseling keluarga. Kata Kunci: Halaqah, dan Pembentukan Jiwa Qur’ani
Gender Equality in Mosque Management: Women's Involvement in Masjid Raya Mujahidin Pontianak Cucu Nurjamilah
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 25, No 1 (2017)
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.25.1.1336

Abstract

In the context of da’wah management, the functions of the mosque are not optimal yet. The activities of the masjid are only focused on the center of worship, religious activities, but have not touched the equality yet. In order to answer the problems above, the researcher used fieldwork with the method of case studies. Through an in-depth interview technique, participant observation and study of documentation found that Masjid Mujahidin Pontianak has involved women in the management of masjid, and succeeded in increasing the functions of a mosque. Involving women in the management of mosque will strengthen one dimension that is important in Islam that is Islam seriously upholds the equality of degree in various aspect, including Islam is a religion that highly responsive gender. When the management of mosque is filled with a variety of different groups, including giving places to women, then frictions and clashes caused by differences in the understanding in the society will be minimized, and then the role and function of masjid will be able to touch various aspects such as economics, health, and education. 
Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Masjid dalam Perspektif Dakwah Nabi saw. Cucu Nurjamilah
Journal of Islamic Studies and Humanities Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1701.941 KB) | DOI: 10.21580/jish.11.1375

Abstract

Da’wah of social empowerment is the real action in order to make the improvements. Historically, da’wah in the form of social empowerment based on mosque has been portrayed by the Prophet in the Nabawi Mosque Madinah. Muhammad saw. has successfully repaired and changed the conditions of the Medina people into a new powerfull society. Forms of empowerment included empowering spiritual aspect, social (of unity and equality), education, economics, politics and defense. The steps in empowerment, was to grow and to build the spiritual potential of Tawheed communities, providing access to (social institutions) building a mosque, made peace agreement with the various parties, established markets around the mosque, formed and trained defense forces, and togetherness.Dakwah pemberdayaan masyarakar merupakan gerakan dakwah yang bersifat tindakan nyata, guna mewujudkan perubahan. Secara historis, dakwah dalam bentuk pemberdayaan masyarakat berbasis masjid telah diperankan oleh Rasulullah saw. di Masjid Nabawi Madinah. Nabi telah mampu memperbaiki dan mengubah kondisi masyarakat Madinah dan sekitarnya menjadi sebuah masyarakat baru yang maju dari semua sisi. Bentuk pemberdayaan yang dilakukan meliputi pemberdayaan dalam aspek spiritual, aspek sosial (persatuan dan kesetaraan), pendidikan, ekonomi, politik dan pertahanan. Adapun langkah yang ditempuh dalam melakukan pemberdayaan, adalah menumbuhkan dan mem­bangun potensi spiritual Tauhid masyarakat, menyediakan akses (pra­nata sosial) dengan: membangun masjid, membuat perjanjian damai dengan berbagai pihak, mendirikan pasar di sekitar masjid, membentuk dan melatih pasukan pertahanan, dan kebersamaan.
ANALISIS GENDER TERHADAP MANAJEMEN DAKWAH MASJID: SEBUAH PENDEKATAN MODEL NAILA KABEER DI KOTA PONTIANAK Cucu Nurjamilah
Jurnal MD Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.518 KB) | DOI: 10.14421/jmd.2018.41-05

Abstract

Secara fungsional partisipasi perempuan dalam dakwah masjid nampaknya semakin eksis. Namun secara struktural akses bagi perempuan masih terbatas. Sekalipun tidak ada pembatasan bagi perempuan untuk jadi pengurus masjid, namun nampaknya masyarakat masih mengutamakan laki-laki. Ketika perempuan masuk dalam kepengurusan masjid, maka ada kesempatan bagi perempuan untuk dapat terlibat lebih luas dalam mengelola masjid dalam seluruh bidang garapan masjid yaitu idarah, imarah dan ri’ayah masjid. Dengan demikian permasalahan perempuan dan anak pun akan lebih banyak menjadi perhatian masjid. Fokus kajian ini adalah bagaimana manajemen masjid yang responsif gender melalui analisis gender dengan pendekatan Naila Kabeer. Dari hasil penelitian ditemukan beberapa masjid di Kota Pontianak secara pengelolan telah responsif gender. Dari struktur kepengurusan, program kegiatan, dan penyediaan sarana prasarana masjid telah memberikan akses yang sama antara laki-laki dan perempuan. Keseimbangan yang ada berkaitan dengan beberapa prinsip yang telah dijalankan pengurus masjid, yaitu: Prinsip kesamaan dalam memakmurkan masjid, Prinsip Mengutamakan laki-laki, dan Prinsip kemudahan dan kenyamanan dalam koordinasi, serta adanya faktor lingkungan psikososial.
BUDAYA KHURUJ JAMA’AH TABLIGH: DIALEKTIKA ANTROPOLOGIS DAKWAH ISLAM Cucu Cucu
Khatulistiwa Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : The Pontianak State Institute of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.315 KB) | DOI: 10.24260/khatulistiwa.v7i1.946

Abstract

Dalam konteks penerimaan dan penolakan terhadap kegiatan dakwah Jama’ah Tabligh, kajian dakwah sebagai sebuah fenomena, fakta social budaya Islam menjadi penting. Budaya Islam merupakan refleksi nilai Islam yang diaktualisasikan dalam berbagai aspek kehidupan kultural manusia. Islam sebagai realitas kultural merupakan produk dialektika antropologis Islam. Guna menjawab permasalahan di atas, dilakukan studi lapangan dengan metode studi kasus. Melalui teknik wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi, ditemukan bahwa kesungguhan komunitas jama’ah tabligh dalam dakwahnya merupakan refleksi ketauhidan dan kethaatan, serta kemanusiaan mereka terhadap seruan dakwah dalam Al-Qur’an dan Hadis. Simbol-simbol yang selalu mereka tampilkan selama khuruj merupakan pemikiran dan pemahaman mereka terhadap etika dan metode dakwah.
PAUD DAN MASJID: ANALISIS MANAJEMEN PAUD DAN TERBENTUKNYA REGENERASI MUSLIM Cucu Cucu
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 12, No 2 (2018): NEW METHOD AND STRATEGY
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.116 KB) | DOI: 10.24260/al-hikmah.v12i2.1166

Abstract

Kehadiran Pendidikan Anak Usia Dini/PAUD di lingkungan masjid nampaknya lebih sedikit jumlahnya dibanding PAUD yang umum. Secara pengelolaan pun PAUD umum nampaknya lebih menonjol dan lebih diminati. PAUD yang dikelola di masjid dan notabene PAUD Islam sebenarnya memiliki keistimewaan tersendiri, yaitu berperan dalam mencetak kader dai. Untuk itu, sudah saatnya para pengelola masjid memberikan perhatian yang lebih dalam mengelola PAUD. Melalui penelitian lapangan, wawancara dan observasi, penulis menemukan pengelolaan di PAUD Mujahidin yang menerapkan prinsip-prinsip manajemen modern. Dengan pengelolaan yang baik: Pertama, PAUD Mujahidin telah mampu bertahan dan sejajar dengan PAUD-PAUD yang berada di Kota Pontianak. Kedua PAUD Mujahidin telah melahirkan tenaga guru yang profesional. Ketiga, PAUD Mujahidin telah berperan dalam membentuk regenerasi muslim dan Keempat PAUD Mujahidn telah menjadi pusat studi PAUD-PAUD Islami di Kalimantan Barat
KEUNIKAN DAKWAH HALAQAH TARBIYAH: STUDI PADA HALAQAH TARBIYAH PKS Cucu Nurjamilah
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 8, No 1 (2014): FAITH AND INFORMATION SYSTEM
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/al-hikmah.v8i1.71

Abstract

Dinatara faktor kesuksesan dakwah adalah pemilihan metode dakwah yang tepat yang disesuaikan dengan kondisi mad’unya. Kesuksesan dakwah terbuka Nabi Saw disebabkan adanya tenaga da’i yakni para shahabat yang memiliki ketangguhan dalam berbagai hal. Pembentukan tenaga da’i pada masa Nabi ini , dilakukan melalui metode halaqah yang dilakukan Nabi secara intensif di rumah Al-Arqam, dan juga halaqah tarbiyah di periode Madinah. Melalui metode halaqah tarbiyah, bukan sekedar pertemuan untuk menyampaikan materi dakwah, namun pada halaqah tarbiyah terdapat kedekatan yang dibangun antara da’i dengan mad’unya, dan keadaan ini dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat kader dakwah.
MANAJEMEN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS MASJID DI KOTA PONTIANAK Cucu Cucu; Santa Rusmalita
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 13, No 2 (2019): NEWSPAPERS AND SOCIETAL DYNAMICS
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.655 KB) | DOI: 10.24260/jhjd.v13i2.1471

Abstract

The function of sosilal masjidcan be played precisely when modern management principles are applied in the management of masjid. The function of the masjid is not only a function of worship, but also a masjid can be used as a media for empowering da'wah. Da'wah empowerment of the community is a missionary movement that is a real action carried out professionally in a da'wah institution by implementing modern management functions, in order to bring about change, namely the improvement of religious quality and social quality. Community empowerment is motivated by various weaknesses in the community. Through zakat and infaq funds, masjid administrators can manage it as a source of community empowerment. Through field interviews found at the Daarul Falah Masjid in Pontianak City, there is a community empowerment program that has two objectives, namely increasing mosque funding and improving the quality of the community. The types of empowerment intended consisted of: Business capital assistance, basic food subsidy assistance, scholarship assistance, medical assistance, kiosk rental, multipurpose building rentals. In its management Daarul Falah Masjid has implemented modern management principles, namely: planning, internal and external coordination, formal and non-formal direction, and evaluation. Keywords: Management, Community Empowerment and Masjid Fungsi sosilal masjid dapat diperankan dengan tepat dikala prinsip-prinsip manajemen modern diterapkan dalam pengelolaan masjid. Fungsi masjid bukan hanya fungsi ibadah mahdlah, tetapi juga masjid dapat difungsikan sebagai media dakwah pemberdayaan. Dakwah pemberdayaan masyarakar merupakan gerakan dakwah yang bersifat tindakan nyata yang dilakukan secara professional dalam sebuah lembaga dakwah dengan menerapkan fungsi-fungsi manajemen modern, guna mewujudkan perubahan yakni peningkatan kualitas keagamaan dan kualitas sosial. Pemberdayaan masyarakat dilatarbelakangi adanya berbagai kelemahan pada masyarakat. Melalui dana zakat dan infak umat, pengurus masjid dapat mengelolanya menjadi sumber pemberdayaan masyarakat. Melalui wawancara lapangan ditemukan di Masjid Daarul Falah Kota Pontianak terdapat program pemberdayaan masyarakat yangmemiliki dua sasaran, yaitu peningkatan dana masjid dan peningkatan kualitas masyarakat. Jenis pemberdayaan dimaksud terdiri dari : Bantuan modal usaha, bantuan subsidi sembako, bantuan beasiswa, bantuan pengobatan, penyewaan kios, penyewaan gedung serbaguna. Dalam pengelolaannya Masjid Daarul Falah telah menerapkan prinsi-prinsip manajemen modern yaitu: perencanaan, koordinasi intern dan ekstern, pengarahan formal dan non formal, dan evaluasi. Kata Kunci: Manajemen, Pemberdayaan masyarakat dan Masjid
Mosque as a Place To Build Moderate Community Cucu Cucu; Hesty Nur Rahmi
Jurnal Hikmatuna Vol 7 No 2 (2021): HIKMATUNA: Journal for Integrative Islamic Studies, December 2021
Publisher : Postgraduate Program, Universitas Islam Negeri (UIN) K. H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.157 KB) | DOI: 10.28918/hikmatuna.v7i2.3606

Abstract

This study was to investigate the influence of mosques in developing moderate communities in West Kalimantan. Mosques are Da'wah institutions that are aligned with the community's values. Aside from serving as a place of prayer, the mosque is also a source of empowerment for women. Threrefore, the focus of this article is on the role of mosques in the development of Islam and the adoption of models of religious moderation in mosques. This study used a sociological approach. This study reveals that, despite the fact that a certain group was responsible for the mosque's construction, the mosque's management does not take sectarianism into consideration. A significant indication that mosques play a vital role in the development of moderate Islam is their refusal to join sides with particular parties. The mosque serves as a social institution in addition to serving as a place of prayer. The successful implementation of modern mosque administration principles is a model that may be adopted by a number of other mosques to enhance their facilities as a location to foster the development of a moderate community. When modern management ideas are used to mosque management operations, the realization of the mosque's existence is possible to achieve