Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Unraveling Vincent Mosko's Thoughts on the Commodification of Content, Audience and Workers: A New Phenomenon of the Digital Age in Indonesia Marsefio Luhukay; Udi Rusadi
Journal of Content and Engagement Vol 1 Issue 2 (2023): August 2023
Publisher : Communication Science Department - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/joce.1.2.84-98

Abstract

This paper in the form of a scientific article discusses Vincent Mosko's thoughts on commodification in three main dimensions, namely content, audience, and workers. The concept of commodification is a subject of debate in the contemporary world, especially in the context of media and communication. This paper presents a critical analysis of Mosko's thinking on how the process of commodification has shaped and changed mindsets and practices in these three important aspects. First, this article reviews the concept of content commodification in the digital age. Mosko highlighted how content, which was initially individual and personal, underwent transformation into a commodity that could be monetized by industry players and social media platforms. This discussion covers the use of content as a means of marketing by companies and influencers, as well as its impact on the quality and integrity of the information presented. Secondly, this article explores Mosko's views on the commodification of audiences. In his perspective, the audience has gone from being mere recipients of messages to consumers directed and manipulated by marketing strategies. Mosko identifies how audience profiles are used to improve advertising effectiveness and how their engagement is measured in the context of marketing and sales. Third, this paper looks at how Mosko's approach in formulating the commodification of workers, especially in the creative and media sectors. Through literature analysis, this article highlights the workings of labor exploitation in the creative industries, including the role of digital platforms in shaping working conditions and influencing the sharing of economic value among workers. The results of the analysis in this article show how Vincent Mosko's thinking provides deep insight into the complexity and consequences of the process of commodification of content, audiences, and workers in the digital age. Further understanding of these concepts is expected to provide a foundation for academics, media practitioners, and policymakers to address the challenges and potential negative impacts arising from commodification in the world of media and communication.
BERSAMA MEMBANGUN WARGA MASYARAKAT YANG KUAT: IMPLEMENTASI PELATIHAN COMMUNITY DEVELOPMENT PROGRAM RESCUE (RESPONSIBLE CITIZENS UNDER ENHANCEMENT) luhukay, marsefio sevyone; Athalia Pakpahan, Clarissa Elizabeth
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 6 (2023): INOVASI PERGURUAN TINGGI & PERAN DUNIA INDUSTRI DALAM PENGUATAN EKOSISTEM DIGITAL & EK
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v6i0.2218

Abstract

Dalam era perubahan sosial yang cepat, peran mahasiswa dalam pengembangan masyarakat menjadi semakin penting. Program "Student Leadership for Service Learning" telah menjadi sarana utama dalam membekali mahasiswa dengan keterampilan kepemimpinan dan pelayanan untuk memajukan masyarakat. Namun, untuk mencapai tujuan ini, pemahaman yang kuat mengenai konsep Community Development (Pengembangan Masyarakat) menjadi landasan yang tak tergantikan. Konsep ini melibatkan pendekatan holistik dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui program-program yang berkelanjutan. Tulisan ini merupakan hasil dari pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berupa pelatihan Community Development bagi mahasiswa. Dalam kaitannya dengan program Student Leadership for Service Learning (SLC) Universitas Pelita Harapan, terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi. Pertama, terdapat perlunya penguatan pemahaman mahasiswa mengenai prinsip-prinsip dasar Community Development dan bagaimana mengaplikasikannya dalam praktik. Kedua, keterampilan pelayanan kasih dan empati menjadi penting dalam membentuk relasi yang kuat dengan masyarakat yang beragam. Selanjutnya, pentingnya pemetaan kebutuhan masyarakat sebagai dasar perencanaan program pembangunan juga ditekankan. Tulisan ini juga menggarisbawahi nilai positif dari pendekatan Community Development, dengan menekankan pada pemberdayaan masyarakat, partisipasi bersama, dan penghargaan terhadap keberagaman. Melalui pemahaman yang mendalam mengenai isu-isu ini, program pelatihan dapat disusun dengan lebih baik, mempersiapkan mahasiswa untuk menghadapi tantangan pengembangan masyarakat dengan lebih efektif, siap terjuan bersama komunitas yang membutuhkan. Sehingga pemberdayaan komunitas makin meningkat. Diharapkan contoh implementasi dalam tulisan ini memberikan pandangan yang komprehensif mengenai pentingnya pemahaman konsep Community Development dalam membentuk pemimpin muda yang mampu membangun masyarakat yang berkelanjutan dan kuat.
Wacana Relasi Kuasa Foucault dalam Bingkai Profesi Public Relations Perempuan di Indonesia [Foucault's Power Relations Narrative in the Framing of Women Public Relations Professions in Indonesia] Luhukay, Marsefio Sevyone
Verity: Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (International Relations Journal) Vol. 14 No. 28 (2022): July - December
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/verity.v14i28.6571

Abstract

There is a premise in public space that Public Relations (PR) profession exclusively ”˜belongs’ to women, yet at the same time, this premise acts as a constraint for women. The Glass Ceiling theory suggests that there is a power relations idea constructed in people’s minds in Indonesia and even around the world that supports the premise. Strategic positions such as Corporate Communications are dominated by men whereas women only have a bigger chance as subordinates. This indicates a patriarchal system and that men are the hegemon in Corporate Communications and women can only hold the PR professions. Moreover, women have a challenging time getting to top-level management. This leads to a question, asking what kind of knowledge the PR corporations live by that preserves the previous premise. From the literature study, the research finds that women are perceived to be more suitable for certain professions, such as pers, journalism, and media relations, and even serve as the ”˜face’ for their institutions, without bringing big concepts. Foucault’s idea on the obligation for women to be presentable seems to be relevant here. Women’s looks are the main consideration for companies’ hiring decisions. Men, on the other hand, are comfortably put in Corporate Communications positions. This must be deconstructed. Women must have strategies for bigger opportunities in their institutions, broaden their horizons, and improve their capabilities. This is aligned with the theory from Cutlip et. Al that it is imperative to continuously develop Skills, Knowledge, Abilities, and Qualities.Bahasa indonesia Abstract: Dalam ruang ruang publik, pertarungan wacana yang menyebutkan bahwa profesi Public Relations (PR) adalah profesi “milik” perempuan sekaligus profesi PR adalah profesi yang menjadi justru merupakan hambatan bagi praktisi PR perempuan menurut Glass Ceiling Theory, menunjukkan bahwa ada relasi kuasa yang terbangun dalam pemikiran dan pengetahuan yang sudah berlangsung bertahun-tahun dalam profesi PR di Indonesia, bahkan di dunia. Relasi kuasa yang terjadi di ruang publik bahwa posisi penting PR atau Corporate Communications adalah milik laki-laki masih menjadi pernyataan yang terus ada sampai saat ini, sedangkan perempuan dianggap sebagai subordinat semata. Artinya, dominasi, patriarki dan hegemoni laki-laki masih kental dalam profesi PR, maupun Corporate Commmunications, jika berbicara mengenai wacana kuasa sebagai pemimpin dalam organisasi. Sedangkan perempuan dipandang subordinat yang masih memiliki keterbatasan untuk menjadi PR setingkat manajemen papan atas. Namun, jika kembali melihat pernyataan bahwa pengetahuan apa yang dilestarikan oleh perusahaan di Indonesia sehingga praktisi PR dipersepsikan sebagai profesi khusus bagi perempuan? Dari studi literatur yang dilakukan, ditemukan bahwa PR masih dipandang sebagai profesi teknisi komunikasi (communication technician) yang lebih banyak dititikberatkan pada aktivitas media relations semata, di mana menjalin relasi atau hubungan baik dengan pers, wartawan, hingga menjalin relasi, menjadi “wajah” bagi organisasi dan bukan konsep “besar” seperti pemikiran strategis dan eksekusi program. Sehingga, wacana relasi kuasa Foucault terlihat di sini bahwa praktisi PR haruslah tampil cantik dan elegan masih mengemuka di masyarakat dan menjadi poin pertimbangan ketika akan mencari pekerjaan yang “terlihat” lebih menjanjikan bagi perempuan. Sementara posisi yang lebih strategis adalah wilayah laki-laki. Ketika menempati posisi manajemen papan atas, posisi PR dan Corporate Communications kebanyakan dipercayakan pada laki-laki. Oleh karena itu, praktisi PR perempuan perlu untuk lebih mengedepankan aktivitas yang strategis, memiliki pandangan yang cemerlang dan kemampuan yang setara dengan laki-laki dalam menjalankan profesinya sehari-hari. Termasuk yang dikatakan oleh Cutlip, et al, bahwa praktisi PR perlu terus mengasah Skill, Knowledge, Abilities, and Qualities.
DIGITAL CITIZENSHIP DAN OPTIMALISASI TEKNOLOGI DALAM PEMBELAJARAN UNTUK SISWA SMP DAN SMA DI SEKOLAH LENTERA HARAPAN (SLH) RANTEPAO - TORAJA Luhukay, Marsefio Sevyone; Pakan, Novatri Gayang; Raphyta Munthe, Yohana; Tandrian, Ivan
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 7 (2024): PKMCSR2024: Kolaborasi Hexahelix dalam Optimalisasi Potensi Pariwisata di Indonesia: A
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v7i0.2417

Abstract

Teknologi digital telah menjadi bagian integral dari sistem pendidikan global, dan Indonesia tidak terkecuali. Namun, integrasi kewarganegaraan digital dan optimalisasi penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran tetap menjadi tantangan, terutama di daerah terpencil seperti Toraja. Makalah ini menyajikan hasil program pengabdian kepada masyarakat (PKM) yang dilakukan pada November 2023 di Sekolah Lentera Harapan Toraja, yang melibatkan 300 siswa dari SMP dan SMA. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang kewarganegaraan digital dan mengoptimalkan penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran mereka. Kewarganegaraan digital dapat didefinisikan sebagai norma-norma yang sesuai, serta perilaku yang bertanggung jawab dalam penggunaan teknologi informasi. Hal ini mengacu pada warga negara yang dapat menggunakan internet secara teratur dan efektif (Ribble, M., 2015). Lanskap pendidikan saat ini di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, termasuk keterbatasan akses terhadap teknologi dan kurangnya literasi digital di kalangan siswa dan pendidik. Tantangan ini lebih terasa di daerah terpencil seperti Toraja, di mana kesenjangan digital menghambat kualitas pendidikan. Oleh karena itu, program PKM dirancang untuk mengatasi kesenjangan ini dengan memberikan pelatihan komprehensif tentang kewarganegaraan digital, mencakup keamanan online, penggunaan teknologi yang etis, dan komunikasi digital yang efektif. Hasil dari kegiatan Pengabdian pada Masyarakat (PKM) ini sangat positif. Siswa menunjukkan antusiasme dan partisipasi aktif sepanjang sesi. Mereka menunjukkan minat yang tinggi dalam diskusi dan sharing mengenai pemanfaatan platform digital yang dapat meningkatkan pengalaman pendidikan mereka. PKM ini juga menyoroti perlunya pelatihan dan dukungan berkelanjutan bagi siswa dan guru untuk mengikuti perkembangan lanskap digital yang cepat. Selain itu, diskusi dengan siswa mengungkapkan bahwa literasi digital juga penting bagi orang tua, yang sering kali kesulitan dengan teknologi. Wawasan ini menekankan perlunya program-program di masa depan untuk melibatkan orang tua, memastikan pendekatan holistik terhadap pendidikan digital dalam komunitas. Dengan memberdayakan siswa dan orang tua dengan keterampilan digital, komunitas dapat lebih baik menghadapi tantangan era digital. Kesimpulannya, program PKM di Sekolah Lentera Harapan Toraja terbukti sangat bermanfaat, menumbuhkan pemahaman yang lebih baik tentang kewarganegaraan digital dan mengoptimalkan penggunaan teknologi dalam pendidikan. Inisiatif di masa depan sebaiknya melibatkan orang tua, memastikan literasi digital yang komprehensif di seluruh komunitas.