Komunikasi digital telah menjadi bagian penting dalam aktivitas usaha mikro yang memberikan peluang pengembangan bisnis sekaligus meningkatkan risiko ancaman keamanan siber. Di Kota Semarang, pelaku UMKM mikro memanfaatkan aplikasi pesan instan, media sosial, transaksi daring, dan marketplace digital untuk mendukung kegiatan usaha serta komunikasi dengan pelanggan. Namun, rendahnya literasi keamanan digital menyebabkan pelaku usaha rentan terhadap ancaman spam, phishing, scam transaksi, dan berbagai bentuk penipuan digital lainnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemanfaatan Satspam sebagai media edukasi dalam meningkatkan kesadaran keamanan komunikasi digital pada UMKM mikro di Semarang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus terhadap 25 pelaku usaha mikro yang bergerak di bidang kuliner, fesyen, jasa rumahan, dan perdagangan daring. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Satspam tidak hanya berfungsi sebagai alat pendeteksi spam dan scam, tetapi juga sebagai media edukasi yang mampu meningkatkan literasi digital dan kesadaran keamanan siber pengguna. Responden menunjukkan peningkatan kewaspadaan terhadap pesan mencurigakan, kebiasaan verifikasi informasi yang lebih baik, kehati-hatian dalam transaksi digital, serta kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam mengelola komunikasi bisnis. Meskipun masih terdapat kendala berupa keterbatasan pemahaman teknologi dan kebiasaan keamanan digital yang belum konsisten, Satspam memiliki potensi sebagai instrumen edukasi keamanan digital yang praktis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi Satspam dengan program literasi digital berkelanjutan dapat mendukung terciptanya komunikasi bisnis yang lebih aman bagi UMKM mikro.