Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Personal Hygiene Education Sebagai Persiapan Menghadapi Menstruasi Di Wilayah Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya Surtikanti; Ariyanti, Sri; Kardiatun, Tutur; Wahyuni, Tri; Makmuriana, Lestari; Kuswida Bhakti, Wida
TRIMAS: Jurnal Inovasi dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2023): Trimas: Jurnal Inovasi dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Indra Institute Research & Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.841 KB) | DOI: 10.58707/trimas.v3i1.264

Abstract

Menstrual Hygiene Management (MHM) is an important issue related to the education, health, and dignity of young women and adult women in Indonesia (Unicef, 2017). UNICEF research in Indonesia (2015) found that 1 in 6 girls experience problems during menstruation, one of which is the absence of proper latrines in schools, the unavailability of water for self-cleaning and blood-stained skirts, the unavailability of spare pads when needed, and  unavailability of trash cans and wrappers to dispose of used sanitary napkins. Data shows that 1 in 4 girls never discuss with friends or parents about menstruation before getting their first menstruation, Taboos and stigma also make limited the activities of female students during menstruation (Women and Child Protection, 2021). The purpose of this community service program is to provide counseling to school-age children about reproductive organ hygiene, provide education on how to clean the reproductive organs during menstruation and change adolescent behavior towards clean and healthy living behaviors. The method of implementing this Community service program is by providing education to adolescents. This activity was carried out from January to March 2022 in Punggur Kecil Village, Sungai Kakap District, Kubu Raya Regency.
PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DALAM MENCEGAHAN TERJADINYA ISPA PADA BALITA Sari, Rahmada; Makmuriana, Lestari; Puspita, Dinarwulan
Jurnal Riset Keperawatan dan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Riset Keperawatan dan Kesehatan
Publisher : Literasi Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71203/jrkk.v2i1.23

Abstract

Latar Belakang: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan gangguan pernapasan yang sering terjadi di masyarakat dan sering dianggap tidak berbahaya. Namun, ISPA dapat menyebabkan penurunan berat badan anak hingga 10%. Selain itu, ISPA juga dapat mengganggu kualitas tidur balita, yang pada akhirnya berdampak pada tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, keterlibatan keluarga, khususnya ibu, sangat diperlukan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan ISPA pada anak. Pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan ISPA harus dimiliki oleh setiap anggota keluarga, terutama ibu yang memiliki peran utama dalam merawat anak-anaknya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu dengan perilaku pencegahan ISPA pada balita di Puskesmas Siduk, Kayong Utara. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 56 responden. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada rentang usia 26-35 tahun (31 responden, 55,4%). Sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan SMA (29 responden, 51,8%) dan tidak bekerja atau berstatus sebagai ibu rumah tangga (IRT) (39 responden, 69,6%). Seluruh responden beragama Islam, dan mayoritas berasal dari suku Melayu (35 responden, 62,5%). Hasil uji statistik menggunakan uji Chi-Square (α = 0,05) menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p-value = 0,001) dan sikap (p-value = 0,000) dengan perilaku ibu dalam mencegah ISPA pada balita. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap ibu dengan perilaku pencegahan ISPA pada balita di Puskesmas Siduk, Kayong Utara. Kata Kunci: ISPA; Pengetahuan dan Sikap; Pencegahan ISPA.
APAKAH PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU MENENTUKAN KEBERHASILAN TOILET TRAINING PADA ANAK USIA? Ranita, Adia; Makmuriana, Lestari; Pratama, Kharisma
Jurnal Riset Keperawatan dan Kesehatan Vol. 1 No. 3 (2024): Jurnal Riset Keperawatan dan Kesehatan
Publisher : Literasi Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71203/jrkk.v1i3.77

Abstract

Background: Toilet training should be introduced early to instill good hygiene habits in children. Failure in toilet training can lead to negative parental behavior, such as harsh treatment or inappropriate discipline, potentially disrupting the child’s personality and fostering introversion. Improper toilet training can also result in long-term behavioral and psychological issues, including dependency, low self-control, and emotional distress related to defecation and urination. Objective: This study aimed to determine the relationship between mothers’ knowledge and attitudes with the success of toilet training among toddlers in Parit Baru Village. Methods: This research used a quantitative descriptive design with a cross-sectional approach. The sampling technique was purposive sampling, involving 71 respondents. Data were collected using a questionnaire and analyzed using the Kendall Tau statistical test. Results: The findings showed that most mothers had a sufficient level of knowledge, totaling 41 respondents (57.7%), and a sufficient attitude toward toilet training, totaling 43 respondents (60.6%). The statistical analysis revealed no significant relationship between mothers’ knowledge and the success of toilet training. However, a significant relationship was found between mothers’ attitudes and the success of toilet training among toddlers in Parit Baru Village. Conclusion: The success of toilet training in toddlers is not influenced by the level of maternal knowledge but is significantly associated with the mother’s attitude. Positive maternal attitudes toward consistency, patience, and encouragement play a crucial role in achieving successful toilet training outcomes
The Relationship Between Spiritual Well-Being and Frequency of Antenatal Care (ANC) Visits with Anxiety in Pregnant Women During the Third Trimester at Singkawang Tengah II Public Health Centers Hidayah, Hidayah; Wardati, Weni; Surtikanti, Surtikanti; Makmuriana, Lestari; Mardiyani, Ridha
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 9 (2023): Volume 3 Nomor 9 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i9.11283

Abstract

ABSTRACT Pregnancy is an important period in a woman's life. The physical and emotional changes that occur during this time can trigger excessive anxiety, especially in the third trimester, especially before childbirth, which is 107,000 or 28.7%. The frequency of maternal visits to check on her pregnancy (ANC) and the condition of her spiritual well-being are important keys to overcoming anxiety. There is a gap between K1 and K4 coverage of 7.9%. Anxiety that occurs during pregnancy can lead to hypertension, premature birth, and low birth weight. This study aims to determine the direct relationship between spiritual well-being and frequency of ANC with anxiety before childbirth in third-trimester pregnant women at the Singkawang Tengah II Public Health Center. The research type is descriptive quantitative using a correlational method approach.The sample size was 62 respondents using a consecutive sampling technique.The instrument adopted the Pregnancy-Related Anxiety Questionnaire (PRAQ-R2) and a modification of the Spiritual Well-being Scale (SWBS).The statistical test used was Spearman Rank (rho). Characteristics of respondents include 53 people (85.5%) are in the age category that is not at high risk for pregnancy (20-35 years), have a secondary education background (SMU / SMK), as many as 33 people (53.2%) and respondents do not work as many as 52 people (83.9%). A high percentage of respondents (61.3%) had moderate spiritual well-being, with the frequency of ANC visits fulfilled by 44 people (71.0%), and the anxiety level of 38 people (61.3%) was in a low category. There is a significant negative relationship between spiritual well-being and anxiety, as evidenced by the correlation coefficient of 0.385 with p-value=0.002 (p<0.05), and there is a meaningful negative relationship between frequency of ANC visits and anxiety, as evidenced by the correlation coefficient of 0.308 with p-value=0.015 (p<0.05). Spiritual well-being and antenatal care visits negatively correlated with a weak strength of correlation to the level of anxiety in pregnant women. The closer the mother is to God, the more she is willing to undergo trials during pregnancy which gives her peace of mind. Completing ANC increases the mother's understanding of pregnancy and childbirth to reduce anxiety. Keywords : Spiritual Well-Being, Anxiety, ANC, Pregnancy.     ABSTRAK Kehamilan adalah masa yang penting dalam hidup seorang wanita. Perubahan fisik dan emosional yang tejadi dimasa ini dapat memicu kecemasan berlebih khususnya pada trimester ketiga, terlebih menjelang persalinan yaitu sebesar 107.000 atau 28,7%. Frekuensi kunjungan ibu dalam memeriksakan kehamilannya (ANC) dan kondisi kesejahteraan spiritual yang dimiliki ibu menjadi kunci penting dalam mengatasi kecemasan. Faktanya, terdapat kesenjangan antara cakupan K1 dan K4 sebesar 7,9%. Kecemasan yang terjadi dimasa kehamilan dapat mengakibatkan hipertensi, kelahiran prematur dan berat lahir rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan langsung antara kesejahteraan spiritual dan frekuensi ANC dengan kecemasan menjelang persalinan pada ibu hamil trimester tiga di Puskesmas Singkawang Tengah II. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan pendekatan metode korelasional. Jumlah sampel sebanyak 62 responden dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Instrumen yang digunakan mengadopsi kuesioner Pregnancy Related Anxiety Questionnaoire (PRAQ-R2) dan modifikasi dari Spiritual Well-being Scale (SWBS). Uji statistik yang digunakan adalah Rank Spearman (rho). Karakteristik responden meliputi 53 orang (85,5%) berada dalam kategori umur yang tidak beresiko tinggi untuk hamil (20-35 tahun), latar belakang pendidikan menengah (SMU/SMK) sebanyak 33 orang (53,2%) dan responden tidak bekerja sebanyak 52 orang (83,9%). Sebanyak 61,3% responden memiliki kesejahteraan spiritual sedang dengan frekuensi kunjungan ANC terpenuhi sebanyak 44 orang (71,0%) dan tingkat kecemasan sebanyak 38 orang (61,3%) berada pada kategori rendah. Terdapat hubungan negatif yang bermakna antara kesejahteraan spiritual dengan kecemasan, dibuktikan dari nilai koefisien korelasi sebesar 0,385 dengan p-Value=0,002 (p<0,05) dan terdapat hubungan negatif yang bermakna antara frekuensi kunjungan ANC dengan kecemasan, dibuktikan dari nilai koefisien korelasi sebesar 0,308 dengan p-Value=0,015 (p<0,05). Kesejahteraan spiritual dan kunjungan ANC berkorelasi negatif dengan kekuatan korelasi yang lemah terhadap tingkat kecemasan pada ibu hamil. Semakin dekat  ibu dengan Tuhannya semakin ibu ikhlas menjalani ujian selama kehamilan yang membuatnya tenang. Terpenuhinya  ANC meningkatkan pemahaman ibu tentang kehamilan, dan persalinan sehingga mampu mengurangi kecemasan. Kata Kunci: Kesejahteraan Spiritual, Kecemasan, ANC.
HUBUNGAN MOTIVASI DAN KEPATUHAN DIET PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II DI KLINIK PKU MUHAMMADIYAH KITAMURA Makmuriana, Lestari; Surtikant, Surtikant; Bhakti, Wida K
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 3 (2024): Vol. 7 No. 3 (2024): Volume 7 No 3 Tahun 2024 (Special Issue)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i3.32619

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan di masyarakat, baik secara global maupun lokal. Penyakit ini terus meningkat dari tahun ke tahun, terutama di negara berkembang. DM dapat dikontrol dengan baik melalui pengaturan pola makan, olahraga dan obat antidiabetes. Mengatur pola makan dan aktivitas fisik merupakan hal utama dalam mengelola DM. Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari pengelolaan diabetes melitus. Jika pasien DM patuh terhadap diet, maka pengobatan primer dan sekunder dapat dilakukan secara optimal. Kepatuhan pasien sangat diperlukan untuk mencapai keberhasilan terapi, terutama pada penyakit Diabetes Mellitus. Mengontrol kadar gula dengan mengatur pola makan pada pasien DM tidaklah mudah, rasa bosan pasti akan muncul karena menu yang dikonsumsi benar-benar terbatas. Motivasi dapat mengontrol pasien dalam mengatur kadar glukosa darah. Motivasi sangat penting karena dapat membuat seseorang melakukan suatu tindakan untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara motivasi dengan kepatuhan diet pada pasien DM tipe II di klinik PKU Muhammadiyah Kalimantan Barat. Hipotesis dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara motivasi dengan kepatuhan diet pada pasien DM Tipe II di klinik PKU Muhammadiyah Kalimantan Barat.
HEALTH EDUCATION ABOUT BULLYING AT JUNIOR HIGH SCHOOL 7 SUNGAI RAYA IN PONTIANAK Makmuriana, Lestari
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 5 (2022): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v5i5.1985-1990

Abstract

The phenomenon of bullying is spreading more and more among teenagers, especially in schools and cyberspace. The tendency to view bullying as just part of a joke causes the problem to be underestimated and not taken seriously. In fact, this action is very dangerous, especially for psychological victims, which often causes someone to become depressed, feel inferior and even encourage someone to commit suicide. Therefore, awareness-raising through outreach activities related to bullying needs to be carried out with the aim of providing knowledge regarding bullying acts and being able to prevent bullying from occurring in their environment. The approach method used is through counseling the impact of bullying in schools. The counseling was carried out by Junior High School 7 Sungai Raya with 40 participants. The results showed that the participants were active in giving questions and opinions about bullying in schools. 98% of participants seemed enthusiastic in obtaining information about bullying. 100% of participants seemed satisfied with the results of the discussion about. Participants understand the actions of bullying and are an effort to minimize bullying cases in the school environment.