Anizar . Ahmad
Dosen FKIP UNSYIAH

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

MENGEMBANGKAN KECERDASAN KINESTETIK ANAK USIA DINI MELALUI TARIAN EMUN BERIRING DI TK PANTE RAYA KABUPATEN BENER MERIAH Ike . Oktanira; Anizar . Ahmad; Yuhasriati . .
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Anak Usia Dini Vol 2, No 3 (2017): Agustus
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Anak Usia Dini

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecerdasan kinestetik ialah kecerdasan gerak tubuh anak usia dini yang diawali dengan terbentuknya refleks dan keterampilan motorik sederhana yang kemudian berkembang menjadi kemampuan mengontrol gerakan. Bagaimana menggunakan gerak tubuh sesuai dengan fungsi anggota tubuhnya melalui Tarian Emun Beriring yaitu keseimbangan, kekuatan, keterampilan, kelenturan, dan koordinasi menjadi kajian dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan kecerdasan kinestetik anak usia dini melalui Tarian Emun Beriring di TK Pante Raya Kabupaten Bener Meriah. Penelitian ini tergolong jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan penelitian tindakan kelas. Subjek dalam penelitian adalah anak usia dini berusia 5-6 tahun kelompok B, kelas B Anggrek berjumlah 9 orang anak yang seluruhnya berjenis kelamin perempuan. Pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi dan unjuk kerja. Hasil penelitian bahwa siklus I menunjukkan kriteria penilaian mulai muncul (MM) sebanyak 2 anak; berkembang sesuai harapan (BSH) sebanyak 5 anak; dan berkembang sangat baik (BSB) sebanyak 2 anak. Hasil siklus II terjadi peningkatan yaitu berkembang sesuai harapan (BSH) sebanyak 2 anak; dan berkembang sangat baik (BSB) sebanyak 7 anak. Disimpulkan bahwa kecerdasan kinestetik melalui Tarian Emun Beriring dapat dikembangkan dengan cara memperkenalkan Tarian Emun Beriring melalui media gambar, memperagakan Tarian Emun Beriring di dalam kelas, melakukan latihan di luar waktu sekolah baik secara kelompok maupun individu, dan anak melakukan latihan tambahan di rumah. Disarankan bagi guru dalam mengembangkan kecerdasan kinestetik anak usia dini dapat dilakukan melalui berbagai tarian, baik tarian daerah Gayo maupun tarian daerah lainnya.Kata Kunci : Kecerdasan Kinestetik, Tarian Emun Beriring
PERAN AYAH PADA PENGASUHAN ANAK USIA DINI DALAM KELUARGA DI KECAMATAN DARUSSALAM KABUPATEN ACEH BESAR Maisyarah . .; Anizar . Ahmad; Bahrun . .
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Anak Usia Dini Vol 2, No 2 (2017): Mei
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Anak Usia Dini

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.901 KB)

Abstract

Keluarga merupakan pembawa pengaruh utama dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Pengasuhan anak idealnya melibatkan peran kedua orangtua yakni ayah dan ibu. Meskipun pengasuhan anak lebih diutamakan pada sang ibu, namun keterlibatan ayah juga membawa pengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan ayah terhadap pengasuhan anak usia dini dan apa saja keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak usia dini di Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif.Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara. Subjek dalam penelitian ini berjumlah lima orang ayah yang memiliki anak usia 4-6 tahun, penentuan subjek dilakukan dengan cara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan beberapa subjek menyatakan tidak setuju mengenai keterlibatan ayah sebagai pengasuh anak secara utuh, sedangkan subjek lainnya menyatakan setuju. Namun kelima subjek memiliki jawaban yang sama yaitu ayah merupakan pencari nafkah, sehingga keterlibatan ayah dalam mengasuh anak akan terbatas oleh waktu. Sedangkan untuk keterlibatan ayah dalam mengasuh anak dilihat dari peran ayah dalam keluarga yaitu sebagai berikut: Pencari nafkah, kebersamaan antara ayah dan anak,pengasuhan, guru atau pembimbing, orang yang mendukung segala kegiatan anak. Disimpulkan bahwa para ayah memiliki kesadaran akan pengasuhan terhadap anak, namun tuntutan mereka sebagai pencari nafkah membuat para ayah tidak dapat terlibat secara penuh dalam pengasuhan anak. Diharapkan para ayah memiliki kesadaran bahwa mereka bukan hanya sebagai pencari nafkah di dalam keluarga, namun keterlibatannya dalam mengasuh anak juga sangat diharapkan.Kata Kunci: peran ayah; pengasuhan anak
MENGEMBANGKAN NILAI KARAKTER RELIGIUS ANAK MELALUI METODE BERCERITA DI TK FKIP UNSYIAH Liana . Sari; Anizar . Ahmad; Rosmiati . .
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Anak Usia Dini Vol 2, No 2 (2017): Mei
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Anak Usia Dini

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nilai karakter religius anak adalah suatu kebiasaan melakukan hal-hal yang baik sesuai ajaran agama seperti bersikap sopan santun, saling toleran dengan teman, patuh dan taat melaksanakan aturan. Bagaimana mengembangkan nilai karakter religius anak usia dini melalui metode bercerita di TK FKIP Unsyiah menjadi kajian dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengembangan nilai karakter religius pada anak usia dini di TK FKIP Unsyiah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam 2 siklus. Pada setiap siklus terdapat 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah anak usia dini pada Kelompok B2 TK FKIP Unsyiah pada tahun ajaran 2016 berusia 5-6 tahun yang berjumlah 15 orang. Data dikumpulkan melalui observasi dan unjuk kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tindakan prasiklus anak yang belum berkembang terdapat 10 orang anak (66,6%). Mulai berkembang terdapat 4 orang anak (26,7%). Berkembang sesuai harapan terdapat 1 orang anak (6,7%). Sedangkan anak yang berkembang sangat baik belum terlihat pada tindakan prasiklus. Pada tindakan siklus I yang belum berkembang ada 4 orang anak (26,7%). Mulai berkembang ada 6 orang anak (40%). Pada kategori berkembang sesuai harapan ada 5 orang anak (33,3%). Sedangkan anak yang berkembang sangat baik belum ada. Pada tindakan siklus II tidak terlihat lagi anak yang belum berkembang. Mulai berkembang 2 orang anak (13,3%). Berkembang sesuai harapan ada 4 orang anak (26,7%), dan berkembang sangat baik terdapat 9 orang anak (60%). Pada tindakan siklus II menunjukkan bahwa persentase anak mendapatkan bintang 3 dan 4 mencapai angka lebih dari 80%. Di simpulkan bahwa nilai karakter religius anak melalui metode bercerita di TK FKIP Unsyiah Banda Aceh mengalami perkembangan.Kata Kunci: Metode bercerita, pengembangan nilai karakter, religius.