Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pengaruh Padat Penebaran Terhadap Kelangsungan Hidup Dan Pertumbuhan Benih Ikan Seurukan (Osteochilus Vittatus) Ari Azhari; Zainal A. Muchlisin; Irma Dewiyanti
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan Perikanan Unsyiah Vol 2, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.761 KB)

Abstract

ABSTRACT            The objective of the present study was to determine the optimal stocking density of  fishserukan (Osteochilus vittatus)to improve survival and growth performance. The study was conducted in Unit pembenihan Rakyat (UPR) Menasah Krueng Village, District Beutong, Nagan Raya. The completely randomized design was used in this study consisting of 6 treatments with 5 replicates. The fish fed two times a day on 08.00 AM  and  04:00 PM at feeding level of  5% of body weight of fish. The commercial feed contains 39%-41 % crude protein used in this study. The ANOVA test  showed that the stocking density gave a significant affect on the growth performance, specific growth rate and daily growth rate (P0,05), but did not give a significant effect on the survival (P 0.05).The Duncans test showed  that the highest growth rate, specific growth rate and daily growth rate were found at stocking density of 5 fish / m2,this value was significant different compared to other treatments. It is concluded that the optimal density at seurukan fish was 5 fish/m2. Keyword :Stocking density, growth, survival,seurukan fish(Osteochilus vittatus). ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui padat penebaran yang optimal pada benih ikan seurukan (Osteochilus vittatus) untuk meningkatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhannya.Penelitian ini dilaksanakan di kolam Usaha Pembenihan Rakyat (UPR) Desa Menasah Krueng, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 6 perlakuan dengan 5 kali ulangan. Pemberian pakan dilakukan sebanyak 2 kali sehari pada waktu pagi (pukul 08.00 WIB) dan sore hari (pukul 16.00 WIB) sebanyak 5% dari bobot tubuh ikan. Pakan yang digunakan pada penelitian ini yaitu pakan komersil  F1000 dengan kandungan protein 39% - 41%. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa nilai padat penebaran yang berbeda antara perlakuan berpengaruhnyata terhadap pertumbuhan bobot, pertumbuhan spesifik (SGR) dan pertumbuhan harian (LPH), tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup (P0,05). Hasil uji lanjut DUNCAN menunjukkan bahwa nilai  pertumbuhan bobot, pertumbuhan spesifik (SGR) dan pertumbuhan harian (LPH) terbaik terdapat pada perlakuan padat penebaran 5 ekor/m2, nilai pada perlakuan ini berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa padat penebaran 5 ekor/m2  merupakan padat penebaran yang optimal terhadap benih ikan serukan (Osteochilus vittatus).Kata Kunci :Padat penebaran, pertumbuhan, kelangsungan hidup, ikan seurukan (Osteochilus vittatus).
FORMULASI PENERAPAN KURSUS PRA-NIKAH DI KANTOR URUSAN AGAMA (KUA) KECAMATAN KEMUNING KOTA PALEMBANG Ari Azhari
Jurnal Perspektif Vol. 15 No. 1 (2022): Jurnal Perspektif
Publisher : Balai Diklat Keagamaan Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53746/perspektif.v15i1.75

Abstract

Untuk membangun rumah tangga yang harmonis, calon pasangan suami istri harus matang, siap, dan cerdas. Calon pengantin harus memahami bagaimana membangun rumah tangga yang harmonis. Perceraian seringkali dipengaruhi oleh ketidaksiapan kedua calon pasangan suami istri. Untuk mewujudkan keluarga bahagia dan tentram, sangat penting untuk memberikan informasi dan pengajaran kepada calon pengantin melalui kursus pranikah, yang diselenggarakan oleh Kantor Urusan Agama (KUA). Merujuk pada Pedoman Penyelenggaraan Kursus pranikah yang dikeluarkan oleh Dirjen Bimas Islam, untuk menghasilkan keluarga yang rukun, diharapkan setiap Kantor Urusan Agama (KUA) memaksimalkan kegiatan kursus pranikah. Penelitian ini berfokus pada Kantor Urusan Agama (KUA) di Kecamatan Kemuning Kota Palembang sebagai model pelaksanaan kursus pranikah.Wawancara, observasi, dan dokumentasi digunakan untuk memperoleh data untuk artikel ini. Ini adalah penelitian lapangan (field research). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-analitik. Dalam penelitian ini terdapat dua jenis data yaitu data utama dan data sekunder. Setelah pengumpulan data, penulis melakukan analisis kualitatif. Berikut temuan penelitian ini: proses pelaksanaan kursus pranikah di KUA Kec. Kota Palembang diadakan sebelum pernikahan, dan durasi kursus pra-nikah relatif singkat. Kurikulum kursus pranikah di KUA Kec. Kemuning Kota Palembang diselaraskan dengan modul Kementerian Agama. Pemateri kursus pranikah adalah pegawai Kantor Urusan Agama (KUA) Kec. Kemuning. Gaya ceramah dan tanya jawab digunakan dalam pelaksanaan kursus pranikah.
MANAJEMEN KELUARGA SEBAGAI PERSIAPAN MENUJU KELUARGA SAKINAH Ari Azhari; Ahmad Bahauddin; Rafly Fasya
Usroh: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 6 No 2 (2022): Usroh
Publisher : Program Studi Al-Ahwal Al-Syakhshiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasangan suami istri ini layak menyandang predikat keluarga sakinah teladan diantaranya dikarenakan situasi keluarga yang taat dalam beribadah serta selalu musyawarah dalam pengambilan kebijakan, serta memahami ajaran agama, Pancasila, dan UUD 1945. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui manajemen yang benar pada suatu kelurga, sehingga dengan manajemen yang tepat maka akan tercipta keluarga sakinah. Metode penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan melihat berbagai literatur untuk mendapatkan jawaban. Hasil Penelitian ialah terdapat beberapa faktor pembentukan manajemen keluarga sakinah yaitu : 1). Landasan Keagaman, 2). Keseimbangan, 3). Cinta Kasih, 4). Komitmen Perkawinan. Kesimpulan yang didapat untuk membentuk keluarga sakinah ialah dengan menjalin komunikasi yang baik, saling mencintai, dan tanggung jawab. Semua ini berdasarkan pada al-Quran dan as-Sunnah. Kata Kunci : Manajemen; Keluarga; Sakinah
Kedudukan Wali Nikah Dalam The Moroccan Family Code/Moudawana Qodariah Barkah; Muhammad Royhan; Ari Azhari
Journal of Sharia and Legal Science Vol. 2 No. 1 (2024): Journal of Sharia and Legal Science
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/jsls.v2i1.421

Abstract

Reformasi hukum keluarga yang terjadi diberbagai negara muslim membuktikan bahwa negara telah mengakomodir perbedaan aliran mazhab dalam perundang-undnagan yang berlaku di negara tersebut. Hal ini antara lain  terlihat dari undang-undang yang berlaku di negara Maroko (The Moroccan Family Code/Moudawana) tentang kedudukan wali nikah bagi perempuan. Pada undang-undang tersebut mengatur bagi seorang perempuan yang telah dewasa atau berusia 18 tahun boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa menggunakan wali nikah.  Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis  kedudukan wali nikah dalam The Moroccan Family Code Moudawana 2004 dan faktor penyebab terjadinya reformasi terhadap kedudukan wali nikah dalam undang-undang tersebut. Metode penelitian ini menggunakan metode library research. Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan bahan hukum primer dan sekunder.Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi dokumentasi. Dan teknik analisis data pada penelitian ini yaitu content analysis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa  Kedudukan wali nikah dalam The Moroccan Family Code/Moudawana telah dihapus, karena wali bukan termasuk ke dalam rukun dan syarat pernikahan di Maroko. Dalam The Moroccan Family Code/Moudawana, seorang perempuan yang telah berusia dewasa (18 tahun) dan cakap hukum tidak membutuhkan izin wali dan boleh menikahkan dirinya sendiri dengan laki-laki yang ingin dinikahinya. Faktor penyebab terjadinya reformasi terhadap kedudukan wali nikah dalam The Moroccan Family Code/Moudawana disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal seperti perkembangan penduduk Maroko dan faktor eksternal seperti pengaruh globalisasi, dan perjanjian Internasional dalam mewujudkan kesetaraan gender bagi laki-laki dan perempuan, menghilangkan diskriminasi terhadap kaum perempuan, dan mengangkat derajat kaum perempuan.
Power Relations and Structural Inequality in Late-Life Divorce: A Socio-Legal Analysis of the Palembang Islamic Court Decisions in 2022 Ellis Lindini Putri; Ari Azhari; Rahmat Abdullah; Muhammad Husni
Indonesian Journal of Sharia and Socio-Legal Studies Vol. 1 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Sharia and Socio-Legal Studies
Publisher : Elkuator Research and Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/ijssls.1.1.16

Abstract

The increasing incidence of divorce among older couples signifies a notable shift in both the social structure and the legal framework of family law in Indonesia. While long-term marriages are typically associated with emotional stability and strong commitment, data from the Palembang Islamic Court indicate that individuals aged 56 and older remain susceptible to marital dissolution. This article aims to analyze the typology of causes behind late-life divorce and examine the legal reasoning employed by Muslim judges in adjudicating such cases. Adopting a socio-legal approach, the study integrates empirical data with a jurisprudential analysis of 56 divorce decisions issued by the Palembang Islamic Court in 2022. The findings reveal that late-life divorce does not occur abruptly; rather, it is the culmination of long-standing, structurally embedded conflicts, including domestic violence, economic subordination, and inequality in emotional and sexual relations. Furthermore, the study demonstrates that the judicial reasoning of Muslim judges is not entirely neutral; it reflects the internalization of prevailing social norms and institutionalized power relations within the adjudicative process. Accordingly, this article argues that late-life divorce should not be perceived merely as a personal failure but as a manifestation of gender-based structural inequality operating across two primary domains: the domestic and the institutional. Thus, the study calls for a reformulation of Islamic legal approaches and the development of a more gender-responsive religious court system capable of addressing structural disparities in the context of elderly divorce. [Fenomena meningkatnya angka perceraian pada pasangan usia lanjut menandai pergeseran penting dalam struktur sosial dan konfigurasi hukum keluarga di Indonesia. Meskipun pernikahan jangka panjang sering diasosiasikan dengan stabilitas emosional dan komitmen yang kuat, data dari Pengadilan Agama Palembang menunjukkan bahwa pasangan berusia 56 tahun ke atas tetap berada dalam kondisi rentan terhadap perceraian. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis tipologi penyebab perceraian usia lanjut dan mengkaji konstruksi argumentasi hukum yang digunakan oleh hakim muslim dalam memutus perkara, melalui pendekatan sosio-legal yang mengintegrasikan studi lapangan dengan analisis yurisprudensi terhadap 56 putusan Pengadilan Agama Palembang tahun 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perceraian pada usia lanjut tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi konflik jangka panjang yang bersifat struktural, termasuk kekerasan domestik, subordinasi ekonomi, serta ketimpangan dalam relasi seksual dan emosional. Temuan ini juga memperlihatkan bahwa argumentasi hukum hakim muslim dalam memutus perkara tidak sepenuhnya bersifat netral, tetapi turut mencerminkan internalisasi norma sosial dan struktur relasi kuasa yang terlembaga dalam sistem peradilan. Dengan demikian, artikel ini menegaskan bahwa perceraian usia lanjut bukan sekadar kegagalan relasi personal, melainkan perlu dipahami sebagai manifestasi dari ketidaksetaraan gender yang beroperasi dalam dua arena utama: domestik dan institusional. Oleh karena itu, diperlukan reformulasi pendekatan hukum Islam dan penguatan sistem peradilan agama yang lebih responsif terhadap dimensi ketimpangan struktural berbasis gender dalam konteks perceraian lansia.]