Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Profil Pasien Suspek Resistensi Ganda Tuberkulosis HIV/AIDS di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso Tahun 2012 Pompini Agustina; Huda Rahmawati; Adria Rusli; Titi Sundari; Ida Bagus Sila Wiweka
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 3 No. 1 (2016): THE INDONESIAN JOURNAL OF INFECTIOUS DISEASES
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v3i1.26

Abstract

AbstrakLatar belakang : Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis terutama menyerang paru. Laporan World Health Organization (WHO) menuliskan pada umumnya hanya sedikit orang yang terinfeksi TB menjadi sakit TB namun pada orang dengan HIV/AIDS yang terinfeksi TB banyak menjadi sakit TB. Resistensi terhadap Obat Anti Tuberkulosa (OAT) menjadi salah satu masalah penting dalam pengobatan TB. Ketersediaan obat yang ampuh tetapi tidak diberikan dengan baik menimbulkan masalah resistensi termasuk Resistensi Ganda (RG)/ Multidrug Resistant (MDR).Metode : Penelitian ini mempunyai desain deskriptif potong lintang menggunakan data yang sudah direkapitulasi dari case report form (CRF). Sampel penelitian ini adalah pasien suspek resistensi ganda TB pada HIV. Kriteria inklusi adalah semua pasien usia > 15 tahun dengan HIV TB Paru BTA positif atau negatif kasus baru, kasus kambuh, kasus putus obat, gagal terapi (suspek resistensi ganda) yang berobat ke Instalasi rawat jalan maupun Instalasi rawat inap RSPI Prof Dr. Sulianti Saroso. Sampel berjumlah 21 orang pasien suspek resistensi ganda TB HIV/AIDS periode Maret – Desember 2012 di RSPI Prof dr Sulianti Saroso. Hasil disajikan ke dalam bentuk tabel distribusi frekuensi kemudian dianalisis secara univariat.Hasil : Secara keseluruhan kelompok pasien suspek resistensi ganda TB HIV/AIDS paling banyak didapatkan pada usia 15-35 tahun sebesar 18 orang (85,7%), sebanyak 7 orang (33,33%) bekerja dengan pekerjaan sebagai karyawan, tingkat pendidikan paling banyak Sekolah Menengah Atas berjumlah 15 orang (71,4%) dan faktor risiko pasien paling banyak dari seks bebas dengan jumlah 13 orang (61,9%), Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan jumlah CD4 pasien cenderung rendah yaitu CD4 <100 sel/μL berjumlah 18 orang (66,7%), sementara jumlah limfosit paling banyak antara 15 % sampai 40 % sebanyak 10 orang (47,6%).Kesimpulan : Profil pasien suspek resistensi ganda TB HIV/AIDS RSPI Prof dr Sulianti Saroso pada kelompok usia produktif dengan faktor risiko utama adalah seks bebas dan kondisi sistem kekebalan tubuh buruk.
Profil Pasien Kandidiasis Oral dengan Koinfeksi Tuberkulosis-HIV di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso Nina Mariana; Siti Maemun; Adria Rusli
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 3 No. 1 (2016): THE INDONESIAN JOURNAL OF INFECTIOUS DISEASES
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v3i1.27

Abstract

AbstrakLatar belakang: Kandidiasis oral banyak dijumpai pada pasien koinfeksi Tuberkulosis-Human Immunodefiency Virus (TB-HIV) dan meningkatkan morbiditasnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui profil pasien kandidiasis oral pada pasien koinfeksi TB-HIV di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso.Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif potong lintang. Data penelitian didapatkan dari status rekam medik pasien kandidiasis oral dengan koinfeksi TB-HIV pada periode Januari 2011 hingga Mei 2014 di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien koinfeksi TB-HIV yang belum mendapat ARV (naive ARV) tetapi telah mendapat OAT yang yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 68 pasien.Hasil: Dari 62 pasien kandidiasis oral dengan koinfeksi TB-HIV yang belum mendapat terapi antiretroviral (ARV) didapat terbanyak laki-laki sekitar 74,6 %, usia produktif kurang dari 40 tahun (82,3%) dan pada stadium III sebesar 61,3 %, stadium IV sebesar 38,7 %. Hasil hitung CD4 terbanyak kurang dari 200 sel/μ. Rata-rata pasien menderita TB paru sebesar 72,6 %.Kesimpulan: Profil pasien kandidiasis oral dengan TB-HIV ditemukan terbanyak pada laki-laki dengan usia produktif pada stadium III dan IV, serta hasil hitung sel CD4 terbanyak kurang dari 200sel/μ.
Gambaran Kegagalan Perbaikan CD4 Pasien Koinfeksi TB-HIV Berdasarkan Jarak Waktu Pemberian Antiretroviral Pasca Obat Anti Tuberkulosis di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso NFN Musdalifah; Ratna Djuwita; Adria Rusli; Mondastri Korib
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 3 No. 2 (2016): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v3i2.31

Abstract

AbstrakLatarbelakang : Memulai terapi Antiretroviral (ARV) lebih awal berisiko menimbulkan interaksi Obat Anti TB (OAT) dengan ARV, efek samping obat, keracunan akibat obat, tantangan kepatuhan minum obat dan terjadinya Immune Reconstitution Inflammatory Syndrome (IRIS).Metode : Penelitian ini menggunakan design penelitian kohort restrospektif dengan follow-up selama satu setengah tahun. Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso Tahun 2016. Populasi studi adalah pasien Ko-infeksi TB-HIV yang naive ART dan tercatat pada rekam medis periode Januari 2010 - November 2014. Data pasien diperoleh dari rekam medis pasien dengan kriteria inklusi sampel adalah pasien usia ≥15 tahun, mendapat OAT minimal 2 minggu sebelum ART dimulai, dan memiliki data hasil pemeriksaan CD4 sebanyak dua kali dengan total sampel sebanyak 164 orang.Hasil : Probabilias kumulatif kegagalan perbaikan CD4 pasien ko-infeksi TB-HIV sebesar 14,43%. Hazard rate kegagalan perbaikan CD4 pada pasien yang memulai terapi ARV 2-8 minggu setelah OAT dibandingkan dengan yang menunda terapi ARV 8 minggu setelah OAT masing-masing 767 per 10.000 orang tahun dan 447 per 10.000 orang tahun (p=0,266).Kesimpulan : Hazard rate kegagalan perbaikan CD4 pada pasien yang memulai terapi ARV 2-8 minggu setelah OAT lebih tinggi dibandingkan dengan hazard rate pada pasien yang menunda terapi ARV 8 minggu setelah OAT. AbstractBackground : Starting Antiretroviral Treatment (ART) earlier was assosiated to pharmacologic interactions, side effect, high pill burden, treatment interruption, and Immune Reconstitution Inflammatory Syndrome (IRIS).Methods : This study used cohort restrospective design with one and half year time to follow up. This study was conducted from May to June 2016 at Infectious Disease Hospital Sulianti Saroso. Study population were TB-HIV coinfected patients, noted as a naive ART patient in medical records from january2010-november 2014. A total 164 patients ≥ 15 years old, had ATT 2 weeks before ART and had minimum 2 CD4 sell count laboratorium test results.Result : The cumulative probability of CD4 response failure among TB-HIV co-infected patients was 14,43%. Hazard rate of CD4 response failure was 767 per 10.000 person year in early ART (2-8 weeks after OAT) versus 474 per 10.000 person year in delayed ART (8 weeks after OAT) (p=0,266).Conclusion : Hazard CD4 repair failure rate in patients who started ARV therapy 2-8 weeks after OAT higher than the hazard rate in patients who deferred antiretroviral therapy 8 weeks after OAT.
Gambaran Ketahanan Hidup (Kesintasan) Satu Tahun Pasien Koinfeksi TB-HIV Berdasarkan Waktu Awal Pengobatan Antiretroval (ARV) pada Fase Lanjut di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso Periode Januari 2011-Mei 2014 Siti Maemun; Syahrizal Syarif; Adria Rusli; Renti Mahkota
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 3 No. 2 (2016): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v3i2.32

Abstract

AbstrakLatar Belakang : Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan jenis retrovirus yang menginfeksi sistem kekebalan tubuh manusia yang menyebabkan Acquired Immunodefiency Syndrome (AIDS),. Kehadiran kuman TB menyebabkan progresivitas kasus ko-infeksi TB-HIV bertambah buruk sehingga mengancam jiwa penderitanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesintasan satu tahun pasien ko-infeksi TB-HIV berdasarkan waktu awal pengobatan ARV.Metode : Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso tahun 2013-2015. Sumber data yang digunakan berasal dari penelusuran pada register pra ARV dan ARV, Form TB 01, buku monitoring ARV, monitoring farmasi ARV, pelacakan ikhtisar ARV dan status rekam medis. Pengumpulan data melibatkan petugas Pokja HIV/AIDS dan dokter (validasi diagnosa dan kovariat) yang di blind atas hipotesis penelitian.Hasil : Probabilitas ketahanan hidup kumulatif satu tahun pasien ko-infeksi TB-HIV yang mendapatkan awal pengobatan ARV di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso periode Januari 2011-Mei 2014 adalah 81,5%. Probabilitas ketahanan hidup pasien TB-HIV berdasarkan waktu awal menunjukan bahwa ketahanan hidup satu tahun pada pasien yang mendapatkan pengobatan ARV pada fase intensif adalah 89,1% dan pada pasien yang mendapatkan pengobatan ARV pada fase lanjut adalah 74,5%.Kesimpulan : Pasien ko-infeksi TB-HIV yang mendapatkan ARV pada fase intensif cenderung memiliki probalitas ketahanan hidup yang lebih besar di tahun pertama dibandingkan pasien ko-infeksi TB-HIV yang mendapatkan ARV pada fase lanjut. Abstract Background : Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a type of retrovirus that infects the human immune system that causes Acquired Immunodefiency Syndrome (AIDS). The presence of TB germs cause progression of cases of co-infection of TB-HIV getting worse so threatening sufferers. This study aims to reveal the one-year survival rate of patients co-infected TB-HIV based on time start of antiretroviral treatment.Methods : This study used a retrospective cohort design in RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso years 2013-2015. The data used comes from searches on the register of pre ARV and ARV form, TB Form, the book ARV monitoring, monitoring of pharmaceutical drugs, ARV overview and status tracking of medical records. The data collection involves the officer HIV / AIDS and the doctor (validation diagnosis and covariates) were in blind on the research hypothesis. Results : The cumulative probability of survival for one year patients co-infected TB-HIV get antiretroviral treatment early in RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso period January 2011-May 2014 was 81.5%. The probability of survival for patients of TB-HIV based on the initial time showed that one-year survival in patients receiving antiretroviral treatment in the intensive phase was 89.1% and in patients receiving antiretroviral treatment in advanced phases was 74.5%.Conclusion : Co-infected TB-HIV patients get antiretroviral drugs in the intensive phase tend to have a probability of survival is greater in the first year compared to co-infection TB-HIV patients get antiretroviral drugs in the advanced phase
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Infeksi Oportunistik Tuberkulosis pada Pasien HIV di RSPI Sulianti Saroso Tahun 2015-2019 Amelia Pradipta; Mondastri Korib Sudaryo; Adria Rusli
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 6 No. 2 (2020): The Indonesian Journal of Infectious Disease
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v6i2.104

Abstract

Latar belakang: Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi masalah utama kesehatan global yang sedang dihadapi oleh berbagai negara, termasuk Indonesia. Penderita HIV lebih rentan untuk terkena infeksi oportunistik, salah satunya tuberkulosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan infeksi oportunistik tuberkulosis pada pasien HIV di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso tahun 2015-2019. Metode: Studi case control dilakukan dengan menggunakan data register pra-ART dan rekam medis. Jumlah sampel sebanyak 465 responden, yang terdiri dari 155 kasus dan 310 kontrol. Analisis yang dilakukan adalah analisis univariat, bivariat menggunakan chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil: Hasil uji regresi logistik menunjukkan ada hubungan yang bermakna secara statistik antara stadium HIV dengan infeksi oportunistik tuberkulosis (OR=33,03; 95% CI : 14,96 – 72,89) dengan nilai p <0,001, tetapi tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara usia, jenis kelamin, jumlah CD4, jumlah viral load, pendidikan, status bekerja, perilaku seks berisiko, transfusi darah, dan penggunaan napza suntik dengan infeksi oportunistik tuberkulosis. Kesimpulan: Stadium HIV merupakan faktor determinan infeksi oportunistik tuberkulosis pada pasien HIV. Saran: Diperlukan skrining awal mendeteksi TB pada setiap stadium HIV khususnya pada stadium lanjut (III-IV) yang melakukan kunjungan di klinik Pokja.