Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

VARIASI JUMLAH KLOROPLAS DAN KROMOSOM TANAMAN JERUK SIAM PONTIANAK HASIL PERLAKUAN COLCHICIN Chaireni Martasari
Biofarm Jurnal Ilmiah Pertanian Vol 13, No 8 (2010): BIOFARM JURNAL ILMIAH PERTANIAN
Publisher : Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/biofarm.v13i8.264

Abstract

Perbaikan kualitas jeruk siam perlu dilakukan sebagai upaya peningkatan kualitas buah sebagai buah komsumsi domestik dan peningkatan ekspor. Perbaikan kualitas dapat dilakukan melalui pemuliaan tanaman sehingga produk yang diperoleh dapat stabil dan mewaris. Pemuliaan tanaman jeruk di Balitjestro telah melakukan penelitian penggandaaan kromosom dengan aplikasi colchisin pada fase kalus varietas jeruk siam pontianak untuk mendapatkan karakter tanaman vigor dan kualitas buah lebih baik. Colchisin merupakan salah satu senyawa yang dapat menyebabkan terjadinya poliploidi dimana organisme memiliki tiga atau lebih set kromosom dalam sel-selnya. Penelitian ini betujuan untuk mengetahui variasi jumlah kloroplas dan kromosom jeruk siam pontianak setelah perlakuan colchisin dengan beberapa dosis konsentrasi dan lama perendaman. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai indikator keberhasilan perlakuan colchisin dan seleksi awal terhadap populasi tanaman colchiploid. Bahan tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah 16 tanaman jeruk siam pontianak hasil perlakuan colchisin dengan dosis (0,01%, 0,10% dan 0,15%) dan kontrol. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah kloroplas dan jumlah kromosom tanaman colchiploid. Dari hasil penelitian diketahui bahwa terdapat variasi jumlah kloroplas (14 – 21) dan kromosom (8 – 25) tanaman colchiploid yang diamati. Kata kunci: Siam Pontianak (Citrus nobilis), colchicin, kloroplas, kromosom
Effect of Ethyl Methane Sulfonate on Bulbil Explant Growth and In Vitro Shoot Formation in Porang (Amorphophallus muelleri Blume) Febriyanti, Vera; Waluyo, Budi; Harijati, Nunung; Martasari, Chaireni; Widoretno, Wahyu
The Journal of Experimental Life Science Vol. 14 No. 2 (2024)
Publisher : Graduate School, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jels.2024.014.02.04

Abstract

Porang is one of the plant commodities with high economic value due to its high glucomannan content in the tubers. Currently, the global demand for porang tubers continues to rise, but domestic production has not yet met this demand due to the limited supply of superior porang seeds. Mutation breeding with Ethyl Methane Sulfonate (EMS) can be one of the alternative methods for developing superior porang to enhance tuber production. This study aims to determine the response of porang bulbil explants to EMS mutagen treatment in vitro. The research used a Randomized Complete Block Design consisting of six EMS concentrations (0, 0.02, 0.04, 0.06, 0.08, and 0.1%). The research stages included pre-culture of bulbil explants on MS + BAP 3 mg.L-1 + NAA 0.1 mg.L-1 for two weeks in dark conditions and EMS mutagen treatment on bulbil cultures for four weeks. The results showed that adding EMS mutagen to the medium for four weeks caused the explants browning, inhibited shoots forming, and decreased the fresh weight and growth index. The higher the EMS concentration in the medium, the increased percentage of browning explants and reduced explant growth and shoot formation. The EMS concentration (≥0.06%) inhibited explant growth and shoot formation. While EMS concentration (0.02-0.04%) increased explant growth, shoot formation was not significantly different from control, even though there was an increase. Up to four weeks of culture, there was no explant death, so LD50 is not yet known. The LD50 EMS can also be calculated by explant browning and shoot proliferation. Based on explant browning and shoot proliferation, the LD50 EMS in porang bulbil explants was 0.07% and 0.09%. The EMS concentration and length of culture age need to be increased to obtain an LD50 survival rate. Keywords: Amorphophallus muelleri Blume, bulbil, EMS, In Vitro mutagenesis.
Molecular diversity of citrus genotypes using callose synthase 7 gene markers linked to Huanglongbing resistance Nugroho, Kristianto; Purwito, Agus; Sukma, Dewi; Kosmiatin, Mia; Santoso, Tri Joko; Husni, Ali; Martasari, Chaireni; Lestari, Puji
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 53 No. 2 (2025): Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy)
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24831/jai.v53i2.64952

Abstract

Huanglongbing (HLB), caused by Candidatus Liberibacter asiaticus, is a notable disease affecting citrus plantations globally. Several studies showed that the callose synthase 7 gene is crucial for the citrus defense system against this pathogen. The study aimed to analyze the nucleotide variations and genetic diversity among several citrus genotypes using specific gene primers designed from the callose synthase 7 gene sequence. Genomic DNA from eleven citrus genotypes was amplified using the specific primers, and Sanger sequencing was employed to identify the nucleotide sequence of the PCR products. The results revealed a total of 66 single-nucleotide polymorphisms (SNPs), 10 insertions, and 11 deletions were detected in callose synthase 7 gene fragment sequences. Of these, one out of five noteworthy SNPs identified at a position of 200 bp downstream of the START codon showed distinguishing features between susceptible and resistant/tolerant genotypes. Phylogenetic analysis clearly discriminated the eleven citrus genotypes into two clusters at a dissimilarity coefficient of 0.05, with all genotypes grouped in the first cluster, except for the Chinese box orange and orange jasmine. The identification of notable SNPs in this study can aid in developing new markers for the rapid selection of genotypes with enhanced HLB resistance in citrus breeding programs.   Keywords: Candidatus Liberibacter asiaticus; nucleotide variations; Sanger sequencing; phylogenetic analysis; SNP
ANALISIS SITOLOGIS JERUK SIAM MADU (Citrus nobilis L.) HASIL KULTUR ENDOSPERMA Purnama, Innez Candri Gilang; Martasari, Chaireni; Kendarini, Niken; Saptadi, Darmawan
Produksi Tanaman Vol. 5 No. 5 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu teknologi pemuliaan yang dapat diterapkan untuk mendapatkan tanaman jeruk Siam Madu tanpa biji (seedless) adalah pembentukan tanaman triploid melalui kultur endosperma. Tanaman triploid pada Jeruk Siam Madu memiliki jumlah kromosom 2n=3x=27. Perakitan tanaman triploid pada Jeruk Siam Madu telah dilakukan Balai Besar Biogen dan Balitjestro. Seleksi awal telah dilakukan, tetapi hanya pada karakter morfologi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah kromosom 25 tanaman Jeruk Siam Madu terseleksi hasil kultur endosperma. Pengamatan kromosom dilakukan menggunakan metode squash. Hasil analisis sitologis pada 25 aksesi jeruk Siam Madu hasil kultur endosperma menunjukkan 13 aksesi memiliki ploidi triploid (2n=3x=27) yaitu SM 8, SM 10, SM 12, SM 17, SM 18, SM 36, SM 38, SM 39, SM 41, SM 47, SM 51, SM 56, dan SM 57. Satu aksesi yaitu SM 23 memiliki ploidi haploid (2n=x=9), sedangkan 11 aksesi memiliki ploidi diploid (2n=2x=18) yaitu SM 7, SM 9, SM 11, SM 35, SM 37, SM 43, SM 45, SM 49, SM 54, SM 58, SM 59.
IDENTIFIKASI WARNA KULIT BUAH 14 AKSESI F1 JERUK (Citrus sp) TERSELEKSI DENGAN MARKA MOLEKULER Wati, Devita Aprilia; Martasari, Chaireni; Kendarini, Niken; Saptadi, Darmawan
Produksi Tanaman Vol. 5 No. 6 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jeruk siam banyak diminati oleh konsumen domestik karena rasanya yang manis, namun belum dapat diperuntukkan sebagai komoditas ekspor karena penampilan kulit buah kurang menarik. Balitjestro telah berhasil melakukan persilangan tanaman jeruk secara konvensional dan terseleksi secara morfologi sebanyak 6 aksesi warna kulit buah kuning. Warna kulit buah jeruk dipengaruhi enzim karotenoid. Seleksi berdasarkan morfologi masih dipengaruhi oleh faktor lingkungan sehingga diperlukan identifikasi karakter secara genetik. Salah satu teknologi pemuliaan yang dapat diterapkan adalah dengan seleksi marka molekuler. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi warna kulit buah orange pada 6 aksesi tanaman F1 jeruk berdasarkan marka molekuler. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika. Bahan yang digunakan adalah 6 aksesi Jeruk Siam  hasil persilangan (B1, B2, B3, D1, D2, E1) dan tetua yaitu Siam Madu, Keprok Satsuma, Siam Mamuju, Siam Pontianak dan Soe serta menggunakan 6 primer yaitu PSY2, PDS, LCYB Cit, LCYE Cit, CHYB Cit dan ZEP. Hasil identifikasi menunjukkan hanya aksesi E1 yang memiliki seluruh gen penyandi enzim karotenoid sedangkan 5 aksesi F1 (B1, B2, B3, D1, dan D2) hanya sebagian.
Studi Genetika Aksesi F1 Hasil Pemuliaan Konvensional Jeruk Siam Mamuju (Citrus nobilis) X Satsuma Mandarin Saputra, Dani Adi; Martasari, Chaireni; Saptadi, Darmawan
Produksi Tanaman Vol. 6 No. 12 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jenis jeruk Siam Mamuju memiliki potensi yaitu dari segi kualitas rasa dan kemampuan tumbuh tanaman dapat dibudidayakan pada dataran rendah (lahan gambut) maupun dataran tinggi. Pada tahun 2006 Balitjestro Malang telah melakukan persilangan secara konvensional antara jeruk Siam dengan beberapa varietas tetua jantan. Besar keragaman tanaman dapat diidentifikasi secara morfologi dan molekuler, namun untuk membedakan pada tahap awal dapat dilakukan secara morfologi, sedangkan untuk lebih memas-tikan keragaman yang dihasilkan dapat melalui analisis molekuler (Karyanti, 2013). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman pada aksesi dan mendapat informasi proporsi sifat genetik yang diwariskan dari kedua tetua pada tiap aksesi F1 hasil persilangan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (BALITJESTRO) Tlekung, Kecamatan Junrejo Kota Batu, Jawa Timur. pada bulan Maret-Juni 2017. Penanda SSR dan ISSR digunakan untuk mengidentifikasi 20 aksesi P5. Pengelompokkan aksesi dalam dendogram dihitung menurut UPGMA menggunakan metode SAHN.  Hasil identifikasi pada 20 aksesi (P5 hasil persilangan Siam Mamuju (♀) X Satsuma (♂)) menunjukkan terdapat keragaman. Diketahui dari seluruh hasil identifikasi bahwa tetua Siam Mamuju memiliki proporsi sifat dominan secara genetik pada 20 aksesi F1.
OPTIMIZATION OF KINETIN CONCENTRATIONS AND MEDIUM COMPOSITIONS FOR CITRUS SHOOT MULTIPLICATION FROM COTILEDONARY NODE Nugroho, Kristianto; Kosmiatin, Mia; Santoso, Tri Joko; Sukma, Dewi; Purwito, Agus; Husni, Ali; Martasari, Chaireni
BIOTROPIA Vol. 31 No. 1 (2024): BIOTROPIA Vol. 31 No. 1 April 2024
Publisher : SEAMEO BIOTROP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11598/btb.2024.31.1.2136

Abstract

Plant regeneration post-genetic transformation play an important an role in genome editing activities that should be optimized via several factors such as the composition of the medium and the concentration of plant growth regulators. This study aimed to optimize the kinetin concentrations and medium compositions for shoot multiplication originating from cotyledon node explants of several local citrus cultivars. The cotyledonary nodes from three citrus cultivars (Batu 55, Siam Madu, and Proksi-1 Agrihorti) were incubated in MS medium with Morel and Wetmore vitamins (VMW) supplemented with several kinetin concentrations (0; 0.2; 0.4; 0.6; 0.8; and 1 mg/L). The best kinetin concentrations for number of shoots variable were then combined with MT medium. The results showed that kinetin concentration at 0.8 mg/L gave the best number of shoot in Batu 55 cultivar as well as 1 mg/L concentration in Siam Madu and Proksi-1 Agrihorti cultivars. The combination 1 mg/L kinetin with Murashige and Tucker (MT) medium showed the best number of shoots, percentage of shoot formation, number of leaves, number of nodes, and shoot length in this study. This medium composition could be further used for shoot multiplication in genetic transformation in those three citrus cultivars, including genome editing activities in development of new improved citrus varieties.