Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Rational Choices in Sino-Indian Border Dispute in Aksai Angel Damayanti; Bryan Libertho Karyoprawiro
Intermestic: Journal of International Studies Vol 6 No 2 (2022)
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.262 KB) | DOI: 10.24198/intermestic.v6n2.11

Abstract

This study aims to explain the strategies taken by two major countries in the region, China and India, in overcoming border disputes in the Aksai Chin region. By using rational choice theory to explain the behavior of India and China and the reasons why they choose to use non-confrontational strategies. The research methodology used is qualitative with a case study model to analyze the policies of the two countries. The results of the study found that despite different views regarding Aksai Chin, the two countries both built trust and were committed that the border dispute would not affect their bilateral relationship as a whole. India and China have opted for a strategy of optimizing mutual benefits over purely national interests. It can be concluded that the two countries chose to take a non-confrontational policy in the border dispute in Aksai Chin as a rational choice in times of crisis based on the optimal benefits that can be obtained by both countries. Keywords: Aksai Chin, border dispute, India-China, non-confrontational policy, rational choice
United States- Iran Shared Interest and the Stability of the Strait of Hormuz Angel Damayanti; Alexander Texas Meresin; Bryan Libertho Karyoprawiro
Global Strategis Vol. 16 No. 2 (2022): Global Strategis
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unair

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.16.2.2022.357-378

Abstract

The Strait of Hormuz lies between the Persian Gulf and the Oman Gulf and is the only sea route connecting the Arabian Sea to the Indian Ocean. It is a trading route that strategically brings energy from the Middle East to many countries worldwide. Accordingly, the United States (US) and Iran have shared interests in the strait and play a central role in maintaining its stability. Unfortunately, since 1979, the US and Iran have been involved in a conflict. The tensions between the two peaked after the US left the Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), which specifically discussed the Iran nuclear deal. As a result, the security of the Strait of Hormuz has been disrupted by various Iranian attacks on merchant ships and Iran’s threats to close the strait. This study explains the impact of the US-Iran conflictual relations on the strait’s stability. It uses the concepts of conflict of interest and maritime security with a qualitative research method and case studies based on primary and secondary data. This article concludes that although the US and Iran have common interests, their conflictual relations have disrupted maritime stability and affected the supply and world oil prices. Keywords: United States, Iran, Shared Interest, Strait of Hormuz Selat Hormuz yang terletak di antara Teluk Persia dan Teluk Oman merupakan satu-satunya jalur menuju Laut Arab dan Samudra Hindia. Selat ini bernilai srategis karena menjadi jalur perdagangan yang membawa energi dari kawasan Timur Tengah ke berbagai negara di seluruh dunia. Karena nilai strategis tersebut, Amerika Serikat (AS) dan Iran sama-sama berkepentingan terhadap selat Hormuz dan berusaha memainkan peran sentral dalam menjaga stabilitas keamanan selat tersebut. Sayangnya, sejak tahun 1979, AS-Iran berkonflik dan ketegangan di antara keduanya memuncak paska AS keluar dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang membahas khusus kesepakatan nuklir Iran. Akibatnya, keamanan Selat Hormuz terganggu dengan berbagai serangan Iran terhadap kapal dagang milik negara-negara pengguna Selat Hormuz dan ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz. Oleh karenanya, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dampak konflik AS-Iran terhadap stabilitas dan keamanan Selat Hormuz. Penelitian ini menggunakan konsep benturan kepentingan dan keamanan maritim dengan metode penelitian kualitatif berupa studi kasus berbasis data primer dan sekunder. Dari data yang diperoleh, penelitian ini menyimpulkan bahwa walaupun AS dan Iran memiliki kepentingan yang sama, namun hubungan konfliktual di antara mereka telah mengakibatkan stabilitas keamanan maritim di kawasan terganggu dan mempengaruhi pasokan serta harga minyak dunia. Kata-kata kunci: Amerika Serikat, Iran, Kepentingan Bersama, Selat Hormuz
Rational Choice Theory in the Study of Deepwater Horizon Oil Spill Verdinand Robertua; Angel Damayanti
Journal Research of Social Science, Economics, and Management Vol. 1 No. 9 (2022): Journal Research of Social Science, Economics, and Management
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1555.927 KB) | DOI: 10.59141/jrssem.v1i9.160

Abstract

The Deepwater Horizon oil spill was the worst environmental disaster in US history. The oil spill reflects the dependence of the United States on the exploitation of fossil fuels. President Barack Obama seeks to bring about significant changes in US energy policy by promoting and expanding clean energy. However, the new policy faced resistance from Congress and the oil companies. This study aims to determine the impact of the Deepwater Horizon Oil Spill on US energy policy using rational choice theory. To achieve the expansion of rational choice theory in the Deepwater Horizon oil spill study, the researcher used qualitative methodology and case study method. The result of this study is that the Deepwater Horizon oil spill became a stepping stone for the transformation of US energy policy. The findings of this study are the linearity of clean energy development and US political commitment in developing the clean energy industry.
The case of corruption in Covid-19 pandemic in Asia Pacific: Study case of Indonesia Darynaufal Mulyaman; Achmad Ismail; Ardhi Arsala Rahmani; Angel Damayanti
Journal of Social Studies (JSS) Vol 19, No 1 (2023): Journal of Social Studies (JSS)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jss.v19i1.52377

Abstract

The Covid-19 Pandemic is not halting the corruption cases in Asia Pacific; some countries such as North Korea, Malaysia, Thailand, the Philippines, and even China. Nevertheless, Indonesia also suffers from Covid-19 corruption scandals. Corruption cases like social aid corruption by the ex-Social Minister, Juliari Batubara, and vaccines fund corruption by North Sumatera Provincial Health Office authorities are two prominent examples of corruption cases amid the pandemic. Through these cases, such questions as ‘why does corruption in Indonesia still exist even in the Covid-19 pandemic?’ arise. Such cases as the mentioned examples prove that social justice establishment is a concern in Indonesia while the global good governance campaign is not stopping even in pandemics. We argue that such corruption cases affect the Indonesian government to give social justice and lose its responsibility sense to the citizen through a global good governance perspective.  
Pelatihan Penggunaan Teknologi Komunikasi dan Pembuatan Content Marketing Pada Asosiasi Homestay Manggarai Barat (ASIHOM MABAR) di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur Marshelia Gloria Marida; Angel Damayanti; Leonard Felix Hutabarat; Andaru Satnyoto; Roseven Rudiyanto; Septian Hutagalung
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v4i2.4876

Abstract

Labuan Bajo telah ditetapkan sebagai destinasi wisata premium, namun tidak diikuti dengan kemampuan penggunaan teknologi komunikasi dan pembuatan content marketing dari pengelola homestay di Labuan Bajo sehingga pemasaran terhadap homestay di Labun Bajo melalui media sosial belum maksimal. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fisipol UKI bekerja sama dengan dua dosen Politeknik eLBajo Commodus berinisiatif untuk mengadakan pelatihan kepada Asosiasi Homestay Manggarai Barat (ASIHOM MABAR). Peserta mendapatkan materi tutorial pembuatan konten yang menarik, praktik langsung cara pengambilan foto dan video, pengenalan fitur-fitur dalam media sosial TikTok, praktik langsung penggunaan aplikasi edit foto dan video dan pelatihan cara membuat konten dapat dilihat oleh banyak pengguna media sosial. Hasil pelatihan ini adalah terdapatnya kenaikan nilai yang signifikan dari hasil pre test sebesar 63 menjadi 93 pada hasil post test yang diisi oleh peserta. Nilai tersebut menunjukkan terdapat peningkatan kemampuan peserta terkait penggunaan teknologi komunikasi, content marketing dan pelayanan prima dari sebelum mengikuti pelatihan dan setelah mengikuti pelatihan. Setelah pelatihan ini berakhir, pemateri juga tetap membuka komunikasi dengan peserta dan membantu peserta menghasilkan content marketing untuk pemasaran homestay mereka di media sosial. Komunikasi antara pemateri dengan peserta tetap terjalin melalui media sosial whatsapp
Diplomasi Ekonomi Indonesia dalam Kerja Sama Selatan-Selatan Leonard Felix Hutabarat; Angel Damayanti
Intermestic: Journal of International Studies Vol 7 No 2 (2023)
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/intermestic.v7n2.3

Abstract

South-South Cooperation has played an important role in encouraging development in various countries through strategic programs, such as training, sending experts, providing grants, scholarships, infrastructure, as well as empowering women. Indonesia as one of the countries that plays an active role as a donor country is expected to increase its role in strengthening Indonesia's position as a new emerging donor so that it can improve Indonesia's image in international forums. Diplomacy carried out by Indonesia is part of a constructivism approach in the study of international relations related to the formation of perceptions and values that Indonesia will share with its cooperation partners. South-South Cooperation is not only part of Indonesia's national priority in The National Medium-Term Development Plan 2020-2024, but also provides benefits as a bridge between the needs of beneficiaries and Indonesia's interests, improves Indonesia's positive image in the region and globally, and is part of Indonesia's economic diplomacy. In the recovery after the COVID-19 pandemic, South-South Cooperation is expected to be a part of development cooperation form that can be one of the instruments for restoring conditions and building back better in achieving the goals of SDGs 2030.
Indonesian Trade Policy in Adjusting the 2020 WTO’s Trade Policy Review Putu George Matthew Simbolon; Angel Damayanti
Jurnal Hubungan Internasional Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jhi.v12i1.18038

Abstract

This article analyzes the Trade Policy Review Body (TPRB) review of Indonesia in 2020, mainly in the agricultural sector, and how Indonesian compliance with the WTO Agreement is helpful for the Trade Policy Review Mechanism (TPRM). This study uses the normative method by gathering primary and secondary legal sources. The 2020 TPRB review perceives that Indonesia has applied untransparent safeguard measures related to its agricultural products, prohibited subsidies, and quantitative restrictions on other WTO member states. However, the Job Creation Law, launched in 2020, can be viewed as a proportional law as it puts imported products in an equivalent position with domestic agriculture or food products. The discussions reveal that Law No 11/2020 aims to balance its national interest with the WTO Agreement and the TPRB review of Indonesian trade policy, mainly in agriculture. With such legal certainty, this article recommends that Indonesia consider the TPRB review in good faith by invoking transparent safeguards, reducing its export subsidies on agricultural products, conducting a persistent report to the Committee on Agriculture, and protecting its public health and morals. The Indonesian government should also conduct text mining to determine its trade policies and deal with international trade uncertainty.
Implementasi Paradiplomasi Lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dalam Satuan Tugas Iklim dan Hutan Gubernur Verdinand Robertua; Angel Damayanti; Riskey Oktavian; Lubendik Sigalingging; Fuji Yemima Theresa Silalahi
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i10.13361

Abstract

Undang-Undang Nomor 16 tahun 2016 sudah disahkan sehingga Pemerintah Indonesia wajib menyerahkan laporan implementasi Perjanjian Paris kepada UNFCCC setiap tahun. Serupa dengan Perjanjian Paris, Pemerintah Indonesia juga sudah meratifikasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan melalui Peraturan Presiden No. 59 tahun 2017. Kajian paradiplomasi lingkungan Indonesia masih sangat terbatas. Empat tema besar yang dibahas dalam penelitian ini yaitu sejarah paradiplomasi, implementasi paradiplomasi di Indonesia, studi kasus paradiplomasi lingkungan dan dinamika organisasi internasional hybrid. Melalui studi kasus keterlibatan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur di Satgas GCF, penelitian ini akan melibat dinamika keterkaitan antara empat tema besar di atas. Penelitian ini akan mengambil data primer dari diskusi terbatas dengan para pemangku kebijakan, akademisi dan aktivis lingkungan. Data sekunder akan diperoleh melalui surat kabar, media elektronik, jurnal dan buku serta publikasi resmi lainnya. Terdapat dua luaran yang menjadi kebaharuan dalam studi lingkungan global. Pertama, desentralisasi di Indonesia menjadi kesempatan besar bagi pemerintah subnasional untuk mengembangkan paradiplomasi lingkungan seperti yang ditunjukkan dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dengan mengesahkan sembilan peraturan daerah, delapan peraturan gubernur, satu surat keputusan gubernur dan satu surat edaran gubernur yang merupakan peraturan turunan dari Undang-Undang Nomor 16 tahun 2016 tentang Perjanjian Paris dan Peraturan Presiden Nomor 59 tahun 2017 tentang Sustainable Development Goals. Kedua, penelitian ini menemukan bahwa Satgas GCF dioptimalkan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sebagai media pembelajaran dan pertukaran informasi khususnya dalam isu pemindahan ibukota negara dan hibah Bank Dunia.
Mengapa indonesia mengambil lebih banyak pekerja asing, China Lintang Wahyu Charisa Raharjo; Angel Damayanti
Nautical : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol. 1 No. 8 (2022): Nautical: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia
Publisher : ARKA INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sudah menjadi hal lumrah yang meresap bukan saja di era globalisasi saat ini, tetapi juga sejak awal industrialisasi di planet ini. Menurut perkembangan saat ini, para tenaga kerja asing (imigran) di Indonesia memiliki prosentase angka yang berubah ubah setiap waktu. Dan hanya orang asing atau WNA yang memberikan pelayanan serta bukan untuk mengancam keamanan atau ketertiban umum yang boleh masuk serta tinggal di Indonesia melalui inisiatif perluasan usaha yang berdampak positif dalam menciptakan serta memperluas lapangan pekerjaan. Masalah utama dari studi ini merupakan mengapa Indonesia mengambil lebih banyak tenaga asing dari China serta alasan yang sesuai dengan kondisi tersebut. Presiden Joko Widodo sudah mulai meluncurkan percepatan pembangunan, khusunya bagi masuknya orang asing yang datang ke Indonesia, khususnya dari China, hal tersebut cukup meningkat dikarenakan ada banyaknya peminat pekerja dari China yang memiliki tujuan untuk datang ke Indonesia.
Pelatihan Penggunaan Teknologi Komunikasi dan Pembuatan Content Marketing Pada Asosiasi Homestay Manggarai Barat (ASIHOM MABAR) di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur Marshelia Gloria Marida; Angel Damayanti; Leonard Felix Hutabarat; Andaru Satnyoto; Roseven Rudiyanto; Septian Hutagalung
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v4i2.4876

Abstract

Labuan Bajo telah ditetapkan sebagai destinasi wisata premium, namun tidak diikuti dengan kemampuan penggunaan teknologi komunikasi dan pembuatan content marketing dari pengelola homestay di Labuan Bajo sehingga pemasaran terhadap homestay di Labun Bajo melalui media sosial belum maksimal. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fisipol UKI bekerja sama dengan dua dosen Politeknik eLBajo Commodus berinisiatif untuk mengadakan pelatihan kepada Asosiasi Homestay Manggarai Barat (ASIHOM MABAR). Peserta mendapatkan materi tutorial pembuatan konten yang menarik, praktik langsung cara pengambilan foto dan video, pengenalan fitur-fitur dalam media sosial TikTok, praktik langsung penggunaan aplikasi edit foto dan video dan pelatihan cara membuat konten dapat dilihat oleh banyak pengguna media sosial. Hasil pelatihan ini adalah terdapatnya kenaikan nilai yang signifikan dari hasil pre test sebesar 63 menjadi 93 pada hasil post test yang diisi oleh peserta. Nilai tersebut menunjukkan terdapat peningkatan kemampuan peserta terkait penggunaan teknologi komunikasi, content marketing dan pelayanan prima dari sebelum mengikuti pelatihan dan setelah mengikuti pelatihan. Setelah pelatihan ini berakhir, pemateri juga tetap membuka komunikasi dengan peserta dan membantu peserta menghasilkan content marketing untuk pemasaran homestay mereka di media sosial. Komunikasi antara pemateri dengan peserta tetap terjalin melalui media sosial whatsapp