Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Potensi Culex quinquefasciatus sebagai Vektor Filariasis dan Kondisi Lingkungan di Kota Pekalongan Nurjazuli Nurjazuli; Nikie Astorina Yunita Dewanti
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies Vol 13 No 2 (2021): Jurnal Aspirator Volume 13 Nomor 2 2021
Publisher : Loka Litbang Kesehatan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.872 KB) | DOI: 10.22435/asp.v13i2.4464

Abstract

Pekalongan City was still an endemic area of Lymphatic Filariasis (LF). Twice cycles ofMass Drug Administration (MDA) had been implemented, but the Microfi laria rate (Mf rate) wasstill more than 1%. This observational research aimed to study the potential of Culex quinquefasciatusas a vector of LF in Pekalongan City. A Cross-sectional design was chosen as an approach in compilinginformation related to environmental factors and mosquitoes. The population of this research washouses located in Jenggot and Kertoharjo village with thirty-one houses, located around fi lariasiscases, purposively selected as samples. Variables studied in this research were environmental factorsand mosquito vectors. Data collection using observation, and laboratory examination throughmosquito dissection. Data would be analyzed descriptively. This study found that there were 8 Culexquinquefasciatus tested positive L3 fi larial worm (infective rate 4.39%). There were 74.2% of houseshad mosquitoes’ breeding sites around them. The breeding sites were found at domestic waste disposal,drainage in front of the house, and infi ltration well for liquid waste. As much as 86.2% of the breedingsites contained mosquito larvae. This research concluded that Cx. quinquefasciatus was confi rmedpositive fi laria worm thus establish as mosquito vector for Lymphatic Filariasis in Pekalongan City.The breeding sites related to the mosquito development were small water bodies, drainage in front ofand around the house.
Personal Hygiene Practices Associated with Preventing Covid-19 in Semarang City Deby Hizky Butarbutar; Nurjazuli Nurjazuli; Nikie Astorina Yunita Dewanti
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 13, Nomor 2, July-December 2021
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-sihah.v13i2.23349

Abstract

The healthcare workers and non-healthcare workers who work in public health centers become the high-risk group infected COVID-19. One of the preventions that can be applied is personal hygiene practice. The aim of the study was to analyze factors related to personal hygiene practice in healthcare workers and non-healthcare workers in order to prevent the COVID-19 at Srondol Health Center, Semarang. The study used an analytical observational method with a cross-sectional approach, and the data were analyzed by using a chi-square test. The sample was determined by a total sampling technique with a sample of 48 workers. The study indicated that the majority of respondents who worked in the health sector (77,1%), had a good category of personal hygiene practice 54,2% and possessed a good category of personal hygiene knowledge 60,4%. There was a significant correlation between knowledge (p-value <0,05), field of work (p-value 0,041), training (p-value <0,05) and personal hygiene practice. In conclusion, factors related to personal hygiene practice on healthcare workers and non-healthcare workers at Srondol Health Center were knowledge, a field of work, and training. Meanwhile, the non-healthcare workers had poor personal hygiene practices so it was necessary to conduct socialization and monitor their personal hygiene by the health center management team.
Kadar Debu Terhirup pada Polisi Lalu Lintas di Kota Semarang Dewi Sekar Tanjung; Budiyono Budiyono; Nikie Astorina Yunita Dewanti
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 3 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.3.226-231

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Polisi lalu lintas merupakan salah satu profesi dengan risiko gangguan fungsi paru. Polisi lalu lintas terpapar emisi dari kendaraan bermotor dengan lama kerja 6-12 jam/hari. Debu merupakan penyumbang emisi alat transportasi sebanyak 44%. Hasil pengukuran kadar debu total pada tahun 2015-2017 pada Dr. Jalan Sutomo yaitu 664; 345; 141 μgr/nm3, Jalan Pandanaran 373 μgr/nm3 dan Jalan Brigjen Soediarto 290 μgr/nm3. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kadar debu terhirup pada polisi lalu lintas yang bertugas pagi dan sore di kota Semarang.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain studi cross sectional. Populasi berjumlah 42 polisi lalu lintas yang bertugas di Polrestabes Semarang, Polsek Gayamsari dan Polsek Pedurungan yang memenuhi kriteria inklusi dengan sampel sebanyak 35 polisi lalu lintas. Kelompok pagi hari 17 orang dan kelompok siang hari 18 orang, pembagian didasarkan pada jadwal sift pengaturan lalu lintas pada Bulan Agustus 2019. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan 31 responden (88,6%) memiliki kadar debu terhirup dibawah nilai ambang batas (< 3mg/m3) dengan rata-rata frekuensi paparan 6 kali/bulan dan 45,7% responden dengan status gizi obesitas. Rata-rata kadar debu terhirup pada polisi lalu lintas yang bertugas di sore hari memiliki konsentrasi lebih tinggi (1,99 mg/m3) dibandingkan dengan polisi lalu lintas yang bertugas pada pagi hari (1,32 mg/m3). Hasil dari uji beda pada statistik menunjukkan nilai sig. (p-value) = 0,014 Simpulan: Kesimpulan dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan kadar debu terhirup pada polisi lalu lintas yang bertugas pagi dan sore di Kota Semarang. Penentuan standar jenis masker dan ketentuan penggunaan APD (masker) pada sore hari sangat diperlukan untuk meminimalkan risiko. Kata kunci: kadar debu terhirup, polisi lalu lintas, pagi dan sore hari ABSTRACTTitle: Levels of Dust Inhaled among Traffic Police in Semarang City  Background: Traffic police is one of the professions with the risk of lung function disorders. Traffic police are exposed to emissions from moving vehicles with 6-12 hours / day working hours. Dust is a contributor to emissions of transportation by 44%. Results of measurements of total dust levels in 2015-2017 at Dr. Sutomo Street, 664; 345; 141 μgr / nm3, Pandanaran Road 373 μgr / nm3 and Brigjen Soediarto Road 290 μgr / nm3. This study discusses differences in dust levels in traffic police that connect morning and evening in the city of Semarang.Method: This study was an observational study with a cross sectional study design. The population of 42 traffic police who served in Semarang Police, Gayamsari Police and Pedurungan Police who met the inclusion criteria with a sample of 35 traffic police. Morning group of 17 people and afternoon group of 18 people, the division is based on the traffic control shift schedule in August 2019.Results: The results showed 31 respondents (88.6%) had inhaled dust levels below the threshold value (<3mg / m3) with an average frequency of 6 times / month and 45.7% of respondents with obesity nutritional status. The average level of dust inhaled in high traffic police today has a higher concentration (1,99 mg / m3) compared to traffic police who move in the morning (1,32 mg / m3). The results of different tests on statistics that show the value of sig. (p-value) = 0,014Conclusion: The conclusion in this study is the difference in the level of inhaled dust in the police traffic that benefits the morning and evening in the city of Semarang. Determination of standard types of masks and terms of use of PPE (masks) in the afternoon is needed to be approved. Keywords: levels of dust inhaled, traffic police, morning and afternoon
Gambaran Cemaran Timbal pada Jajanan Gorengan di Salah Satu Kecamatan Kota Semarang Mutiara Afri Sagita; Nikie Astorina Yunita Dewanti; Sulistiyani Sulistiyani
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 3 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.3.232-237

Abstract

Latar Belakang: Makanan jajanan sudah menjadi keseharian masyarakat Indonesia, salah satunya adalah gorengan. Namun, gorengan merupakan jajanan berisiko terkontaminasi logam, yangmana memiliki efek toksik pada tubuh manusia. Hasil studi ini, ditemukan gorengan mengandung timbal dan melebihi batas seharusnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran cemaran timbal pada gorengan di salah satu kecamatan Kota Semarang.Metode: Penelitian ini merupakan observasional deskriptif dengan metode cross sectional. Penentuan sampel secara total sampling sebanyak 38 pedagang gorengan dan sampel bakwan.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan kadar timbal pada gorengan tidak memenuhi syarat sebesar (26,3%) dengan rata-rata sebesar 0,184 mg/kg dan kondisi sanitasi sarana penjaja masih buruk (28,9%). Jenis minyak yang banyak digunakan pedagang gorengan adalah minyak curah dengan kondisi minyak goreng awal berjualan adalah minyak campuran. Hasil perhitungan peneliti, rata-rata frekuensi menggoreng pedagang sebanyak ±24 kali dalam sesaat. Kadar timbal sebelum dan sesudah penggorengan pada minyak goreng curah yaitu 0,087 dan 0,152 mg/kg, sedangkan minyak goreng kemasan sebesar <0,010 dan 0,015 mg/kg.Simpulan: Gorengan di Kecamatan X Kota Semarang positif mengandung timbal dengan hasil rata-rata sebesar 0,184 mg/kg dan 31,58% tidak memenuhi syarat serta 28,9% sanitasi sarana buruk.Kata kunci: timbal, gorengan, sanitasi sarana penjajaABSTRACTTitle: Description of Lead Contamination in Fried Snacks in One District of Semarang City  Introduction: treet foods have become daily food of Indonesian, which one of is fried foods. But, fried food is a risk contaminated by metals, which has a toxic effect on the human body. In this study, the level of lead present on fried foods and not eligible. This study aims to determine lead contamination in fried foods in one of the sub-districts of Semarang City.Method: This study is observational-descriptive with a cross-sectional design. There were 38 fried food sellers and bakwan by total sampling. Result: The results showed (26.3%) the level of lead in fried food didn't eligible with an average of 0.184 mg/kg and (28.9%) the sanitation of the vendor was poor. The most oil used is bulk oil with a source from mixed oil. The average frequency of frying is ± 24 times in a moment. The level of lead on before and after frying in bulk oil is 0.087 mg/kg and 0.152 mg/kg, while the oil package is <0.010 and 0.015 mg/kg. Conclusion: Fried foods in Sub-district X of Semarang City positively contained lead with an average of 0.184 mg/kg, 31.58% didn’t eligible and 28,9% sanitation of facility still poor. Keywords: lead, fried foods, sanitation of vendor facilities  
Gambaran Perilaku Higiene Sanitasi Makanan dan Kontaminasi E.coli pada Pedagang Makanan Jajanan di Sekolah Dasar Kecamatan Genuk, Kota Semarang Intan Ayuning Astuti; Nurjazuli Nurjazuli; Nikie Astorina Yunita Dewanti
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 3 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.3.201-205

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Banyak makanan jajanan sekolah yang kurang memenuhi persyaratan kesehatan yang mengancam kesehatan anak. Sehingga diperlukan aspek penilaian higiene sanitasi makanan untuk mengendalikan resiko pencemaran pada makanan. Bakteri yang sering dijadikan indikator pencemaran makanan adalah Escherichia coli. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran praktik higiene sanitasi dan kontaminasi E.coli pada pedagang makanan jajanan di lingkungan sekolah dasar wilayah Kecamatan Genuk, Kota Semarang.Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan metode pendekatan kualitatif berupa observasi, wawancara dan uji laboratorium. Sampel diambil dengan metode purposive sampling, sebanyak 33 pedagang makanan jajanan di sekolah dasar wilayah Kecamatan Genuk, Kota Semarang.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan pedagang makanan jajanan sudah baik yaitu sebanyak 18 (54,5%) responden. Sikap pedagang yang baik yaitu sebanyak 17 (51,5%). Ketersedediaan fasilitas higiene sanitasi yang kurang baik sebanyak 17 (51,5%).Simpulan: Praktik higiene sanitasi pedagang makanan jajanan masih kurang baik yaitu sebesar 18 (54,5%) dan terdapat makanan jajanan yang terkontaminasi bakteri E.coli yaitu sebanyak 11 (33,3%) sehingga higiene sanitasi dari pedagang makanan jajanan perlu diperbaiki. Kata kunci: makanan, higiene, sanitasi, Escherichia coliABSTRACTTitle: A Description of Food Hygiene and Sanitation and E.coli contamination in Snack Food Traders in Genuk Sub-District Primary Schools, Semarang City  Background: Many school snacks is not health for requirements and threaten children's. Some aspects of assessment hygiene and sanitation, control the risk of contamination of the food. Bacteria are often used as indicators of food contamination is Escherichia coli. The main purpose of this research to know the description of food hygiene and sanitation with E. coli contamination on traders' food snacks in elementary school Kecamatan Genuk, Semarang City.Method: This research is a type of descriptive research using a qualitative approach in the form of observation, interviews and laboratory tests. Samples were taken by purposive sampling method, as many as 33 snacks traders in elementary schools in the Genuk District, Semarang City.Result: The results showed the level of knowledge of street food vendors was already good as many as 18 (54.5%) respondents. A good attitude of traders is as much as 17 (51.5%). The availability of poor sanitation hygiene facilities is 17 (51.5%).Conclusion: The sanitation hygiene practices of street food vendors are still not good at 18 (54.5%) and some snacks are contaminated with E. coli bacteria as many as 11 (33.3%) so that the sanitation hygiene of street food vendors needs to be improved.  Keywords: food, hygiene, sanitation, Escherichia coli
Gambaran Sanitasi Lingkungan di Puskesmas Tengaran Kabupaten Semarang Tahun 2016-2018 Rahmadani Dara Ayuningtyas; Budiyono Budiyono; Nikie Astorina Yunita Dewanti
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 2 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.2.170-176

Abstract

Latar Belakang: Lingkungan mempunyai andil yang paling besar terhadap status kesehatan.  Sanitasi lingkungan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan, terutama pengelolaan sampah rumah tangga, pengelolaan limbah cair rumah tangga, kepemilikan air bersih dan kepemilikan jamban. Sanitasi lingkungan merupakan salah satu factor terkait dalam kejadian diare.Metode: Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan kondisi sanitasi lingkungan di Puskesmas Tengaran Kabupaten Semarang tahun 2016-2018. Penelitian ini termasuk penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional dan menggunakan analisis deskriptif. Variable dalam penelitian ini adalah cakupan pengelolaan sampah rumah tangga, cakupan pengelolaan limbah cair rumah tangga, cakupan kepemilikan air bersih dan cakupan kepemilikan jamban. Sampel dari penelitian ini adalah data sekunder terkait dengan kejadian diare dan sanitasi lingkungan di Puskesmas Tengaran tahun 2016-2018.Hasil: Hasil dari penelitain ini menunjukan bahwa pada tahun 2016-2018 cakupan pengelolaan sampah rumah tangga tertinggi berada di Desa Tengaran (91,8%), Desa Tegalrejo (87,6%), Desa Tengaran (98,5%). Pada tahun 2016-2018 cakupam pengelolaan limbah cair rumah tangga tertinggi berada di Desa Butuh (88,6%), Desa Bener (81,7%), Desa Tegalrejo (90,3). Pada tahun 2016-2018 cakupan kepemilikan air bersih tertinggi berada di Desa Patemon (100%, 100%, 96%). Pada tahun 2016-2018 cakupan kepemilikan jamban tertinggi berada di Desa Patemon (100%, 100%, 96,5%).Simpulan: Sanitasi lingkungan (pengelolaan sampah rumah tangga, pengelolaan limbah cair, kepemilikan air bersih, kepemilikan jamban) sudah tergolong baik. Sanitasi lingkungan di Puskesmas Tengaran tahun 2016-2018 merupakan salah satu faktor yang terkait dengan kejadian diare di Puskesmas Tengaran Kabupaten Semarang Tahun 2016-2018.Kata kunci: Sanitasi Lingkungan, Puskesmas Tengaran, Deskriptif ABSTRACT Title: Diarrhea And Environmental Sanitation In Tengaran Health Center Semarang District, 2016-2018 Background: The environment has the biggest contribution to health status. Environmental sanitation is an important factor that must be considered, especially management of household waste, management of household wastewater, ownership of clean water and ownership of latrines. Environmental sanitation is one of the factors in the incidence of diarrhea.Method: The purpose of this study was to describe the conditions of environmental sanitation at the Tengaran Health Center Semarang Regency in 2016-2018. This study is an observational study with a cross sectional approach and used descriptive analysis. Variables in this study are coverage of household waste management, coverage of household wastewater management, coverage of ownership of clean water and coverage of latrine ownership. The sample from this study is secondary data related to the incidence of diarrhea and environmental sanitation in Tengaran Health Center in 2016-2018.Result: The results of this study show that in 2016-2018 the highest coverage of household waste management was in Tengaran Village (91.8%), Tegalrejo Village (87.6%), Tengaran Village (98.5%). In 2016-2018, the highest level of household wastewater management was in the Need Village (88.6%), Bener Village (81.7%), Tegalrejo Village (90.3). In 2016-2018 the highest coverage of clean water ownership was in Desa Patemon (100%, 100%, 96%). In 2016-2018 the highest latrine ownership coverage was in Patemon Village (100%, 100%, 96.5%).Conclusion: Environmental sanitation (management of household waste, management of household wastewater, ownership of clean water, ownership of latrines) has been classified as good. Environmental sanitation in Tengaran Puskesmas in 2016-2018 is one of the factors associated with the incidence of diarrhea in the Tengaran Semarang Health Center in 2016-2018.Keywords: Environmental Sanitation, Tengaran Health Center, Descriptive
Faktor yang Berhubungan dengan Kapasitas Vital Paru pada Pekerja Industri Batik Rumahan di Kota Pekalongan Fika Nurina Putri; Nikie Astorina Yunita Dewanti; Sulistiyani Sulistiyani
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 3 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.3.206-212

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang : Jumlah industri batik di Pekalongan sebanyak 315 unit dengan sekitar 15.782 pekerja dimana sejumlah pekerja tersebut berisiko terkena Penyakit Akibat Kerja. Penyebab utama Penyakit Akibat Kerja pada pekerja batik yaitu berupa bahan utama atau pendukung proses pembuatan batik yang dapat memberikan dampak negatif pada kesehatan pekerjanya. Polutan yang dihasilkan oleh proses pengelolaan bahan baku yang digunakan pada proses pembuatan batik dapat mengganggu kesehatan para pekerjanya, serta lingkungan. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kapasitas vital paru pada pekerja industri batik rumahan di Kota Pekalongan.Metode : Jenis penelitian analitik observasional dengan studi cross sectional. Jumlah sampel yaitu 49 orang yang merupakan pekerja batik di bagian proses pelekatan lilin, pewarnaan dan penghilangan lilin yang berada di Kampung Batik Pesindon dan Kauman Kota Pekalongan. Data dianalisis menggunakan uji Chi Square.Hasil : Hasil pada penelitian menunjukkan 28 responden (57,1%) mengalami gangguan fungsi paru, dengan 24 responden (49%) restriktif dan 4 responden (8,1%) obstruktif. Variabel yang berhubungan dengan kapasitas vital paru dan menjadi faktor risiko adalah masa kerja (p=0,047; RP=1,9; 95%CI=1,008-3,58); dan lama kerja (p=0,025; RP=2,4; 95%CI=1,018-5,67).Kesimpulan : Faktor yang berhubungan dengan kapasitas vital paru pada pekerja industri batik rumahan di Kota Pekalongan adalah masa kerja dan lama kerja.Kata Kunci : kapasitas vital paru, pekerja batik, paparan. ABSTRACTTitle: Factors Related with Lung Vital Capacity on Batik Home Industry Workers in Pekalongan City Background : The number of batik industries in Pekalongan is 315 units with around 15.782 workers in which a number of these workers are at risk of occupational diseases. The main cause of occupational diseases on batik workers is the main ingredients or additional ingredients in the process of making batik which can have a negative impact on the health of workers. Pollutants that produced by the process of managing the raw materials that used in the process of making batik can have an impact for the health of workers and the environment. Based on these problems, this study aims to determine the factors related with lung vital capacity on batik  industry workers in PekaIongan City.Method : This research was an observational analytic study with a cross sectional design. The number of samples is 49 people who are batik workers in the part of the process of sticking wax, coloring and removing wax that is in the Batik Pesindon and Kauman Village of Pekalongan City. Data analyzed using Chi-Square Test.Result : The result of this research represent that there is 28 respondents (57,1%) had the abnormal lung vital capacity with the number of 24 respondents (49%) restrictive and 4 respondents (8,1%) obstructive. Variables that related with lung vital capacity and become a risk factor is working periode (p=0,047; 1,9; 95%CI=1,008-3,58); and duration of work (p=0,025; PR=2,4; 95%CI=1,018-5,67).Conclusion : Factors that related with lung vital capacity in batik  industry workers in Pekalongan City is working periode and duration of work. Keywords : lung vital capacity, batik workers, exposure
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Anemia Pada Petani Di Dusun Candi Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang Nunik Tri Utami; Suhartono Suhartono; Nikie Astorina Yunita Dewanti
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 18, No 4 (2019): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.774 KB) | DOI: 10.14710/mkmi.18.4.121-126

Abstract

Latar belakang: Masyarakat Desa Candi Kecamatan Bandungan 33,93% bekerja sebagai petani. Hasil wawancara dengan petugas Puskesmas Duren Kecamatan Bandungan didapatkan bahwa tidak adanya pemeriksaan kadar hemoglobin secara khusus pada petani karena biaya yang mahal. Sehingga saat ini tidak diketahui apakah petani mengalami anemia dan faktor apa saja  yang mempengaruhinya. Tujuan penelitian ini ingin meneliti faktor apa yang mempengaruhi kejadian anemia pada petani Dusun Candi.Metode: Jenis penelitian observasional analitik dengan desain crossectional. Subyek penelitian 58 petani laki-laki Dusun Candi Kecamatan Bandungan. Teknik pengambilan sampling yaitu  purposive sampling. Variabel yang dikaji yaitu Penggunaan APD, Masa Kerja, Riwayat Paparan Pestiisda, dan Asupan Gizi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan FFQ. Uji analisis data menggunakan chi square.Hasil: 28 petani (48,28%)  memiliki kadar hemoglobin kurang/ anemia (Hb < 13 mg/l). Hasil penelitian menunjukkan penggunaan APD tidak lengkap (74,1%), masa kerja lama (63,8%), riwayat paparan pestisida buruk (29,3%), asupan gizi berupa protein kurang (67,2%), zat besi kurang (62,1%), vitamin C kurang (63,8%), vitamin B12 kurang (63,8%). Hasil uji analisis menunjukkan asupan gizi yaitu protein (p value = 0,011)  PR = 6,000 (1,672-21,531), zat besi (p value = 0,006) PR = 6,015 (1,799-20,111), vitamin C (p value = 0,047)  PR = 3,667 (1,159-11,603), vitamin B12 (p value = 0,047) PR = 3,667 (1,159-11,603).Kesimpulan Faktor yang terkait dengan kejadian anemia pada petani di Dusun Candi Kecamatan Bandungan adalah asupan gizi (protein, zat besi, vitamin C,dan vitamin B12). 
Penilaian Proses Pengolahan Limbah Cair di Rumah Sakit Bhayangkara Tk.I R. Said Sukanto Jakarta Dian Nur Afriliani; Nurjazuli Nurjazuli; Nikie Astorina Yunita Dewanti
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 4 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.4.290-296

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Air limbah rumah sakit bersumber dari kegiatan dapur, ruang perawatan, ruang operasi, laboratorium, laundry, dan lain-lain, sehingga kaya akan bahan organik maupun anorganik serta banyak mengandung limbah B3, limbah radioaktif, dan mikroorganisme patogen. Perlu dilakukan pengolahan terlebih dahulu sebelum dibuang ke badan air yang mengharuskan setiap rumah sakit memiliki unit pengolahan limbah sendiri atau bersama – sama secara kolektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penanganan limbah cair serta cara kerja IPAL di Rumah Sakit Bhayangkara Tk.I R. Said Sukanto Jakarta, membandingkan kualitas hasil parameter limbah cair yang sudah diolah dengan baku mutu yang telah ditetapkan pemerintah.Metode: Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan wawancara mendalam, telaah dokumen, dokumentasi, dan studi pustaka. Pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan pengamatan di lapangan untuk memeroleh gambaran secara langsung proses pengolahan limbah cair serta melakukan diskusi dan wawancara dengan pejabat atau petugas yang bertanggung jawab. Objek penelitiannya  yaitu IPAL di Rumah Sakit Bhayangkara Tk.I R. Said Sukanto Jakarta. Data yang diperoleh akan dianalisa secara deskriptif dengan pedoman – pedoman dan standar yang ada. Hasil: Hasil pemeriksaan kualitas air limbah masih ada yang melebihi baku mutu pada parameter mikrobiologi Total Coliform mencapai 9000 MPN/100 mL (baku mutu <5000 MPN/100 mL). Hal ini kemungkinan disebabkan tidak berfungsinya fasilitas desinfeksi pada IPAL, sehingga jumlah koliform pada outlet masih tinggi.  Untuk mengatasi hal ini maka desinfeksi perlu difungsikan agar jumlah koliform dapat memenuhi baku mutu yang diizinkan.Simpulan: Pengolahan limbah cair di Rumah Sakit Bhayangkara Tk.I R. Said Sukanto Jakarta belum sepenuhnya memadai, melihat dari masih adanya parameter yang melebihi standar baku mutu. Disarankan agar rumah sakit memenuhi seluruh ketentuan dan melakukan perbaikan terhadap tiap komponen agar pengelolaan selanjutnya dapat lebih baik.Kata Kunci: rumah sakit, limbah cair, pengolahan ABSTRACTTitle: Assessment of Liquid Wasted Treatment Process at Bhayangkara Tk.I R. Said Sukanto Jakarta HospitalBackground: Hospital wasted water comes from kitchen, treatment room, operating room, laboratory, laundry, etc., so it is rich in organic and inorganic materials and contains a lot of B3 waste, radioactive wasted, and pathogenic microorganisms. It needs to be processed first before being discharged into a water body which requires each hospital to have its own waste treatment unit or collectively together. This study aimed to determine the process of handling wasted water as well as how the WWTP  works in Bhayangkara Tk.I R. Said Sukanto Jakarta Hospital, comparing the quality of the results of the waste water parameters that have been processed with the quality standards set by the government.Method: This was qualitative research. Data collection techniques were carried out by in-depth interviews, document review, documentation, and literature. Data collection is done by conducting observations in the field to obtain a direct description of the process of liquid waste treatment and conducting discussions and interviews with officials or officers in charge. The object of the research is WWTP at Bhayangkara Tk.I R. Said Sukanto Jakarta Hospital. The data obtained will be analyzed descriptively with existing guidelines and standards.Result: The inspection result of wastewater quality showed that it was still exceeds the quality standard on microbiological parameters Total Coliform reaching 9000 MPN / 100 mL (quality standard <5000 MPN / 100 mL). This is probably due to the non-functioning of the disinfection facility in the WWTP, so the number of coliforms at the outlet is still high. To overcome this problem, disinfection needs to be used so that the amount of coliform can meet the permitted quality standards.Conclusion: The processing of wasted water in the Bhayangkara Tk.I R. Said Sukanto Jakarta Hospital was not yet fully adequate, seeing that there are still parameters that exceed the quality standard. It is recommended that the hospital meets all the provisions and make improvements to each component so that further management can be better.Keywords: hospital, waste water, treatment
Hubungan Riwayat Paparan Pestisida pada Ibu Saat Hamil dan Menyusui dengan Gangguan Perkembangan Anak Usia 3-5 Tahun di Desa Candi Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang Yasinta Dian Kurniawati; Suhartono Suhartono; Nikie Astorina Yunita Dewanti
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 18, No 3 (2019): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.715 KB) | DOI: 10.14710/mkmi.18.3.19-25

Abstract

Latar Belakang: Desa Candi merupakan daerah pertanian dimana sebagian besar  petaninya (53,7%) adalah perempuan dan tetap bekerja saat hamil atau menyusui. Pestisida yang sering digunakan di Desa Candi adalah golongan organofosfat dan karbamat yang diketahui dapat mempengaruhi perkembangan syaraf otak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan paparan pestisida pada ibu saat hamil dan menyusui dengan gangguan perkembangan anak usia 3-5 tahun.Metode: Metode yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional yang dipilih dengan simple random sampling. Populasi penelitian adalah anak usia 3-5 tahun sebanyak 75 orang, sedangkan responden penelitian adalah ibu yang memiliki anak usia 3-5 tahun, berjumlah 63 orang. Instrumen yang digunakan adalah Ages and Stages Questionnaire edisi ketiga oleh Squires J & Bricker D (2009) yang telah dimodifikasi dan analisis data yang digunakan adalah uji Chi Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat  41 anak (65,1%) mengalami gangguan perkembangan, menurut aspek komunikasi (44,4%), motorik kasar (50,8%), motorik halus (52,4%), pemecahan masalah (55,6%) dan personal sosial (60,3%). Hasil analisis Chi Square menunjukkan ada hubungan antara keterlibatan ibu saat hamil dalam pertanian dengan p-value=0,021 (RP=3,491, 95% CI=1,181-10,320) dan keterlibatan ibu saat menyusui dalam pertanian dengan p-value=0,029 (RP=3,273, 95% CI=1,104- 9,705) dengan gangguan perkembangan anak usia 3-5 tahun di Desa Candi Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang.Simpulan: Paparan pestisida yang terkait gangguan perkembangan anak usia 3-5 tahun adalah akibat aktivitas yang dilakukan ibu di area pertanian, yaitu menanam tanaman, mencabut rumput, memanen,  mencampur pestisida, memupuk atau menyemprot tanaman.