Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Anemia Pada Petani Di Dusun Candi Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang Nunik Tri Utami; Suhartono Suhartono; Nikie Astorina Yunita Dewanti
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 18, No 4 (2019): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.774 KB) | DOI: 10.14710/mkmi.18.4.121-126

Abstract

Latar belakang: Masyarakat Desa Candi Kecamatan Bandungan 33,93% bekerja sebagai petani. Hasil wawancara dengan petugas Puskesmas Duren Kecamatan Bandungan didapatkan bahwa tidak adanya pemeriksaan kadar hemoglobin secara khusus pada petani karena biaya yang mahal. Sehingga saat ini tidak diketahui apakah petani mengalami anemia dan faktor apa saja  yang mempengaruhinya. Tujuan penelitian ini ingin meneliti faktor apa yang mempengaruhi kejadian anemia pada petani Dusun Candi.Metode: Jenis penelitian observasional analitik dengan desain crossectional. Subyek penelitian 58 petani laki-laki Dusun Candi Kecamatan Bandungan. Teknik pengambilan sampling yaitu  purposive sampling. Variabel yang dikaji yaitu Penggunaan APD, Masa Kerja, Riwayat Paparan Pestiisda, dan Asupan Gizi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan FFQ. Uji analisis data menggunakan chi square.Hasil: 28 petani (48,28%)  memiliki kadar hemoglobin kurang/ anemia (Hb < 13 mg/l). Hasil penelitian menunjukkan penggunaan APD tidak lengkap (74,1%), masa kerja lama (63,8%), riwayat paparan pestisida buruk (29,3%), asupan gizi berupa protein kurang (67,2%), zat besi kurang (62,1%), vitamin C kurang (63,8%), vitamin B12 kurang (63,8%). Hasil uji analisis menunjukkan asupan gizi yaitu protein (p value = 0,011)  PR = 6,000 (1,672-21,531), zat besi (p value = 0,006) PR = 6,015 (1,799-20,111), vitamin C (p value = 0,047)  PR = 3,667 (1,159-11,603), vitamin B12 (p value = 0,047) PR = 3,667 (1,159-11,603).Kesimpulan Faktor yang terkait dengan kejadian anemia pada petani di Dusun Candi Kecamatan Bandungan adalah asupan gizi (protein, zat besi, vitamin C,dan vitamin B12). 
Penilaian Proses Pengolahan Limbah Cair di Rumah Sakit Bhayangkara Tk.I R. Said Sukanto Jakarta Dian Nur Afriliani; Nurjazuli Nurjazuli; Nikie Astorina Yunita Dewanti
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 4 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.4.290-296

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Air limbah rumah sakit bersumber dari kegiatan dapur, ruang perawatan, ruang operasi, laboratorium, laundry, dan lain-lain, sehingga kaya akan bahan organik maupun anorganik serta banyak mengandung limbah B3, limbah radioaktif, dan mikroorganisme patogen. Perlu dilakukan pengolahan terlebih dahulu sebelum dibuang ke badan air yang mengharuskan setiap rumah sakit memiliki unit pengolahan limbah sendiri atau bersama – sama secara kolektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penanganan limbah cair serta cara kerja IPAL di Rumah Sakit Bhayangkara Tk.I R. Said Sukanto Jakarta, membandingkan kualitas hasil parameter limbah cair yang sudah diolah dengan baku mutu yang telah ditetapkan pemerintah.Metode: Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan wawancara mendalam, telaah dokumen, dokumentasi, dan studi pustaka. Pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan pengamatan di lapangan untuk memeroleh gambaran secara langsung proses pengolahan limbah cair serta melakukan diskusi dan wawancara dengan pejabat atau petugas yang bertanggung jawab. Objek penelitiannya  yaitu IPAL di Rumah Sakit Bhayangkara Tk.I R. Said Sukanto Jakarta. Data yang diperoleh akan dianalisa secara deskriptif dengan pedoman – pedoman dan standar yang ada. Hasil: Hasil pemeriksaan kualitas air limbah masih ada yang melebihi baku mutu pada parameter mikrobiologi Total Coliform mencapai 9000 MPN/100 mL (baku mutu <5000 MPN/100 mL). Hal ini kemungkinan disebabkan tidak berfungsinya fasilitas desinfeksi pada IPAL, sehingga jumlah koliform pada outlet masih tinggi.  Untuk mengatasi hal ini maka desinfeksi perlu difungsikan agar jumlah koliform dapat memenuhi baku mutu yang diizinkan.Simpulan: Pengolahan limbah cair di Rumah Sakit Bhayangkara Tk.I R. Said Sukanto Jakarta belum sepenuhnya memadai, melihat dari masih adanya parameter yang melebihi standar baku mutu. Disarankan agar rumah sakit memenuhi seluruh ketentuan dan melakukan perbaikan terhadap tiap komponen agar pengelolaan selanjutnya dapat lebih baik.Kata Kunci: rumah sakit, limbah cair, pengolahan ABSTRACTTitle: Assessment of Liquid Wasted Treatment Process at Bhayangkara Tk.I R. Said Sukanto Jakarta HospitalBackground: Hospital wasted water comes from kitchen, treatment room, operating room, laboratory, laundry, etc., so it is rich in organic and inorganic materials and contains a lot of B3 waste, radioactive wasted, and pathogenic microorganisms. It needs to be processed first before being discharged into a water body which requires each hospital to have its own waste treatment unit or collectively together. This study aimed to determine the process of handling wasted water as well as how the WWTP  works in Bhayangkara Tk.I R. Said Sukanto Jakarta Hospital, comparing the quality of the results of the waste water parameters that have been processed with the quality standards set by the government.Method: This was qualitative research. Data collection techniques were carried out by in-depth interviews, document review, documentation, and literature. Data collection is done by conducting observations in the field to obtain a direct description of the process of liquid waste treatment and conducting discussions and interviews with officials or officers in charge. The object of the research is WWTP at Bhayangkara Tk.I R. Said Sukanto Jakarta Hospital. The data obtained will be analyzed descriptively with existing guidelines and standards.Result: The inspection result of wastewater quality showed that it was still exceeds the quality standard on microbiological parameters Total Coliform reaching 9000 MPN / 100 mL (quality standard <5000 MPN / 100 mL). This is probably due to the non-functioning of the disinfection facility in the WWTP, so the number of coliforms at the outlet is still high. To overcome this problem, disinfection needs to be used so that the amount of coliform can meet the permitted quality standards.Conclusion: The processing of wasted water in the Bhayangkara Tk.I R. Said Sukanto Jakarta Hospital was not yet fully adequate, seeing that there are still parameters that exceed the quality standard. It is recommended that the hospital meets all the provisions and make improvements to each component so that further management can be better.Keywords: hospital, waste water, treatment
Hubungan Riwayat Paparan Pestisida pada Ibu Saat Hamil dan Menyusui dengan Gangguan Perkembangan Anak Usia 3-5 Tahun di Desa Candi Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang Yasinta Dian Kurniawati; Suhartono Suhartono; Nikie Astorina Yunita Dewanti
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 18, No 3 (2019): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.715 KB) | DOI: 10.14710/mkmi.18.3.19-25

Abstract

Latar Belakang: Desa Candi merupakan daerah pertanian dimana sebagian besar  petaninya (53,7%) adalah perempuan dan tetap bekerja saat hamil atau menyusui. Pestisida yang sering digunakan di Desa Candi adalah golongan organofosfat dan karbamat yang diketahui dapat mempengaruhi perkembangan syaraf otak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan paparan pestisida pada ibu saat hamil dan menyusui dengan gangguan perkembangan anak usia 3-5 tahun.Metode: Metode yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional yang dipilih dengan simple random sampling. Populasi penelitian adalah anak usia 3-5 tahun sebanyak 75 orang, sedangkan responden penelitian adalah ibu yang memiliki anak usia 3-5 tahun, berjumlah 63 orang. Instrumen yang digunakan adalah Ages and Stages Questionnaire edisi ketiga oleh Squires J & Bricker D (2009) yang telah dimodifikasi dan analisis data yang digunakan adalah uji Chi Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat  41 anak (65,1%) mengalami gangguan perkembangan, menurut aspek komunikasi (44,4%), motorik kasar (50,8%), motorik halus (52,4%), pemecahan masalah (55,6%) dan personal sosial (60,3%). Hasil analisis Chi Square menunjukkan ada hubungan antara keterlibatan ibu saat hamil dalam pertanian dengan p-value=0,021 (RP=3,491, 95% CI=1,181-10,320) dan keterlibatan ibu saat menyusui dalam pertanian dengan p-value=0,029 (RP=3,273, 95% CI=1,104- 9,705) dengan gangguan perkembangan anak usia 3-5 tahun di Desa Candi Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang.Simpulan: Paparan pestisida yang terkait gangguan perkembangan anak usia 3-5 tahun adalah akibat aktivitas yang dilakukan ibu di area pertanian, yaitu menanam tanaman, mencabut rumput, memanen,  mencampur pestisida, memupuk atau menyemprot tanaman.
Identification Types of the Marine Debris and Factors Related them in Semarang City Amanda Hesti Pratiwi; Budiyono Budiyono; Nikie Astorina Yunita Dewanti
Jurnal Presipitasi : Media Komunikasi dan Pengembangan Teknik Lingkungan Vol 18, No 1 (2021): March 2021
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1331.406 KB) | DOI: 10.14710/presipitasi.v18i1.64-72

Abstract

Beach waste pollution can have an impact on human health in these areas. Beach waste data is needed to determine the solution for preventing beach/marine pollution. This study aims to estimate beach waste density, identify types of beach waste and factors of beach waste distribution in Semarang. The method used was descriptive observational with a cross-sectional research design. The sample was determined by purposive sampling and available 7 points of beach spread over four districts at Semarang. Beach waste samples took at each beach along 100m the width adjusts to the beach's width. The highest beach waste was found on Baruna Beach (North Semarang), with a total of 3,243 waste (227.4 kg). Moreover, the lowest beach waste was found on Mangkang Kulon (Tugu), with a total of 711 pieces of waste (63kg). From the 7 sample points of the beach, the average density of waste is 5.3 kg/m². Most waste types are plastics and woods. The different levels of waste on the beach area due to wind patterns and tidal conditions. This study's conclusion is the dominant factors of the beach waste levels are the pattern of wind, seawater currents, and density of river flow waste, while population density and urban economic growth affect the level of the city solid waste.
TRAINING AND ASSISTANCE IN INTEGRATED MANAGEMENT OF CHILDHOOD ILLNESS FOR PNEUMONIA AND DIARRHEA CASES: PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN TATALAKSANA MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT UNTUK KASUS PNEUMONIA DAN DIARE Nurhasmadiar Nandini; Inggita Raiesa Rahmi; Moh Syarofil Anam; Juwita Pratiwi; Sutopo Patria Jati; Nikie Astorina Yunita Dewanti
Darmabakti Cendekia: Journal of Community Service and Engagements Vol. 5 No. 1 (2023): JUNE 2023
Publisher : Faculty of Vocational Studies, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/dc.V5.I1.2023.8-15

Abstract

Latar belakang: IMCI diresmikan oleh WHO dan UNICEF pada tahun 1990 untuk meningkatkan kelangsungan hidup bayi dan balita di negara berkembang. Keterampilan tenaga kesehatan menjadi salah satu komponen IMCI dan memberikan pengaruh terhadap angka kematian bayi dan balita. Tujuan: Tujuan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan pada penanganan pneumonia dan diare pada bayi balita di Kabupaten Tegal dan Kabupaten Grobogan. Metode: Metode dalam kegiatan ini adalah pendampingan tenaga kesehatan melaui langkah identifikasi, sosialisasi, penyampaian materi, diskusi, pendampingan, monitoring & evaluasi oleh Dinas Kesehatan secara berkala. Berisi metode penelitian/ kegiatan pengmas yang dilaksanakan. Hasil: Hasil Pelatihan dan pendampingan ditemukan bahwa beberapa tenaga kesehatan di Puskesmas tidak yakin/ragu-ragu ketika akan melakukan klasifikasi kasus pneumonia, sehingga temuan kasus pneumonia di Puskesmas cukup kecil. Kelengkapan prasarana di puskesmas juga belum terpenuhi sesuai buku bagan MTBS. Kesimpulan: Puskesmas perlu melengkapi prasarana dan pelatihan secara berkala untuk menunjang pelayanan tatalaksana MTBS terkait kasus pneumonia dan diare pada bayi dan balita.
ANALISIS FAKTOR RISIKO PAPARAN PESTISIDA TERHADAP KEJADIAN HIPERTENSI PADA PETANI BAWANG MERAH Chyntia Nur Aviva Hidayat; Onny Setiani; Nikie Astorina Yunita Dewanti; Yusniar Hanani Darundiati
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 15 No 2 (2023): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v15i2.2209

Abstract

The high use of pesticides can cause health problems, one of which is disorders of the sympathetic nervous system in regulating blood pressure. The preliminary study on 1-2 June 2022 in Wanasari and Jagalempeni Villages found that farmers use pesticides not according to the dosage set, and 14 out of 20 farmers experienced hypertension. This study aimed to analyze the risk factors of pesticide exposure to hypertension incidence in shallot farmers in Wanasari District, Brebes Regency. The research used a cross-sectional design. The research sample was 101 male shallot farmers in Wanasari and Jagalempeni Villages, taken by consecutive sampling technique. Data analysis used the chi-square test. The results showed that 62 (61,4%) respondents had hypertension, an average length of work of 5,01 hours/day, 3,72 types of pesticides, 2,76 times/week of spraying frequency, and 2,98 types of use of personal protective equipment (PPE). The statistic test showed that proven factors as risk factors of hypertension incidence were the length of work (p=0,003; PR = 4,048; 95% Cl = 1,650-9,928), pesticide dose (p=0,006; PR = 4,219; 95% CI = 1,578-11,281), spraying frequency (p=0,007; PR = 3,581; 95% Cl = 1,491-8,602), use of PPE (p=0,001; PR = 7,212; 95% Cl = 2,516-20,678), while the types of pesticides is not a risk factor of hypertension incidence. This research concluded that length of work, pesticide dosage, spraying frequency, and use of personal protective equipment (PPE) are the risk factors of pesticide exposure to hypertension incidence.