Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : JOGED

SANGKAL BOLUM: TARI VIDEO YANG TERISNPIRASI DARI RITUAL TINEK SENTOKEP Tirta Nopa Tarani; Hendro Martono; Ni Kadek Rai Dewi Astini
Joged Vol 19, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v18i1.6970

Abstract

RINGKASAN Ritual Tinek Sentokep adalah upacara kematian Wara Nolang dari suku Dayak Lawangan penganut Kaharingan, yang berada di wilayah kecamatan Dusun Tengah, kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Suatu kejadian yang menginspirasi yaitu, ketika menyaksikan para penari melewati setiap pasang tongkat sakral yang membutuhkan keseimbangan emosi seperti fokus, berani, dan yakin agar berhasil melewati tantangan permainan pada tari ritual tersebut. Dari situlah terdapat pembelajaran penting mengingatkan ke dalam perjalanan hidup yang tidak luput dari berbagai macam masalah yang harus dihadapi demi mencapai tujuan berupa kebahagiaan dan kelegaan hati. Tentunya hal tersebut menjadi tantangan bagi setiap orang yang sangat mudah dikendalikan oleh emosi, sehingga menyebabkan kehilangan fokus arah tujuan. Karya tari Sangkal Bolum dikemas ke dalam format tari video dengan memilih ruang tari outdoor di sungai yang memiliki bendungan. Sungai sebagai tempat pembersihan dan penyucian diri, sedangkan bendungan dibungkus kain putih yang membentuk profil gunung, bagian tengah dibuat tangga menurun ke sungai, merupakan simbol gunung Lemeut atau gunung suci sebagai tempat untuk melakukan doa sebelum menghadapi tantangan. Alasan lain memilih ruang tari di sungai yaitu untuk meletakkan setting jembatan bambu sebagai visualisasi tantangan yang dihadapi.ABSTRACT The dance creation entitled Sangkal Bolum was inspired by the ritual dance of Tinek Sentokep in the death ceremony of Wara Nolang from the Dayak Lawangan tribe, adherents of Kaharingan, which is located in the Dusun Tengah sub-district, East Barito district, Central Kalimantan. An inspiring incident was watching the dancers pass each pair of sacred sticks that required a balance of emotions such as focus, courage, and confidence in order to successfully pass the challenges of the game in the ritual dance. From there, there are important lessons that remind us of the journey of life that does not escape the various kinds of problems that must be faced in order to achieve the goal of happiness and relief. Of course, this is a challenge for everyone who is very easily controlled by emotions, causing them to lose focus on the direction of the goal. Sangkal Bolum's dance creation is packaged into a video dance format by choosing an outdoor dance room on a river that has a dam. The river is a place of cleansing and purification, while the dam is wrapped in white cloth that forms the profile of the mountain, the middle part of which is made of stairs going down to the river, is a symbol of Mount Lemeut or the holy mountain as a place to pray before facing challenges. Another reason for choosing a dance room on the river is to place a bamboo bridge setting as a visualization of the challenges faced.
REOG OBYOGAN SEBAGAI PROFESI Mr. Hendro Martono
Joged Vol 3, No 1 (2012): MEI 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v3i1.55

Abstract

Zaman telah berubah, penari seni rakyat tidak lagi dilirik orang karena tidak dapat menjadi profesi yangmenguntungkan dalam mengais uang. Tidak demikian di reog Obyogan yang hidup di desa-desa sekitar kotaPonorogo Jawa Timur, penari Obyogan bisa menjadi profesi yang lumayan mendatangkan rejeki bagi paragadis remaja. Profesi penari Obyogan bersifat sementara sampai kondisi fisik penari tidak menarik lagi atausudah menikah. Obyogan berbeda dengan reog Festivalan yang sudah dikenal masyarakat luas, justru penariObyog menjadi penari utama dengan bergerak goyang pinggul sensual, mirip goyang ngebor dan gergaji didangdut. Peran Jathil ditransformasikan menjadi peran wanita yang seksi, peran lain dihilangkan. PemainDadak Merak masih dipertahankan sebagai ikon reog. Tulisan ini menyoroti upaya-upaya dan manajemenpenari Obyog yang terdiri dari: berlatih tari Obyog, mengubah karakter tari, pencitraan, strategi persaingan,pendapatan, pengeluaran dan pemasaran. Profesi penari Obyog yang temporer tetap harus dihargai sebagaipelaku pelestari dan pengembang seni tradisional. Penari Obyog juga membuka lapangan kerja non formaldan mengurangi urbanisasi serta migrasi. Pemerintah wajib memberi penghargaan berupa pelatihan kerjauntuk masa datang, dan beasiswa sekolah hingga perguruan tinggi. Keyword: reog, obyog, profesi Abstract
“ALAH TEDAK” TATO SEBAGAI SIMBOL CAHAYA BAGI PEREMPUAN DAYAK KAYAAN MENDALAM Givela, Riri Natasya Elgiva; Martono, Hendro; Dadijono, Darmawan
Joged Vol 24, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v24i1.15208

Abstract

RINGKASANTedak merupakan tato yang identik dengan perempuan suku Dayak Kayaan Mendalam yang menjadi identitas bagi perempuan keturunan bangsawan dan dipercaya bahwa tato akan bercahaya di alam baka untuk menerangi perjalanan roh di alam Apo Lagaan (perjalanan jiwa) menuju Telaang Julaan (surga). Penciptaan karya tari Alah Tedak sebagai upaya dalam melestarikan tradisi leluhur dan memperkenalkan budaya tato tradisional suku Dayak Kayaan Mendalam ke dalam seni pertunjukan tari. Karya tari Alah Tedak menggunakan hasil penerapan pendekatan koreografi lingkungan yang dikemukakan oleh Hendro Martono yaitu sensasi ketubuhan, sensasi emosi, sensasi imaji dan ritus ekspresi. Proses penemuan gerak karya tari Alah Tedak menggunakan metode penciptaan oleh Alma Hawkins yaitu eksplorasi, improvisasi, komposisi, dan evaluasi. Karya tari Alah Tedak menciptakan sebuah tari kontemporer dengan pengembangan motif gerak dasar suku Dayak Kayaan Mendalam yaitu Luh, Ngayang, Pivak, Seguk, Sembib, dan Soongpak. Gagasan ini ditransformasikan ke dalam koreografi kelompok berjumlah delapan penari yang di pentaskan pada Proscenium Stage. Koreografi ini diungkapkan melalui tipe tari Studi Dramatik yang terdiri dari struktur Intoduksi, Adegan 1 (Proses Menato), Adegan 2 (Perempuan Bertato), Adegan 3 (Motif Usung Tingaang), dan Adegan 4 (Cahaya Tato) dengan durasi 21 menit. Musik menggunakan komposisi musik vokal dan instrumen etnis suku Dayak Kayaan Mendalam.ABSTRACTTedak is a tattoo that is closely associated with the women of the Dayak Kayaan Mendalam tribe, serving as an identity for noblewomen. It is believed that the tattoo will emit light in the afterlife to guide the journey of the soul in the realm of Apo Lagaan (the realm of the spirits) towards Telaang Julaan (paradise). The creation of the dance piece Alah Tedak is an effort to preserve ancestral traditions and introduce the traditional tattoo culture of the Dayak Kayaan Mendalam tribe into the performing arts of dance. Alah Tedak dance piece utilizes the choreographic approach proposed by Hendro Martono, which involves the sensations of the body, emotions, imagery, and ritual expression. The process of choreographing Alah Tedak incorporates the creation methods outlined by Alma Hawkins, including exploration, improvisation, composition, and evaluation. The dance piece Alah Tedak creates a contemporary dance by developing the basic movement motifs of the Dayak Kayaan Mendalam tribe, namely Luh, Ngayang, Pivak, Seguk, Sembib, and Soongpak. These concepts are transformed into a choreography performed by a group of eight dancers on the Proscenium Stage. The choreography is expressed through a type of dance called Studi Dramatik, which consists of an Introduction structure, Scene 1 (Tattooing Process), Scene 2 (Tattooed Women), Scene 3 (Usung Tingaang Motif), and Scene 4 (Tattoo Light), with a duration of 21 minutes. The music incorporates vocal compositions and ethnic instruments from the Dayak Kayaan Mendalam tribe.