Guntur F Prisanto
Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi InterStudi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Praktik Lobi dan Negosiasi oleh Legislator Sebagai Bentuk Komunikasi Politik Ardianto Ardianto; Guntur F Prisanto; Irwansyah Irwansyah; Niken Febrina Ernungtyas; Syahrul Hidayanto
Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Volume 12, No. 1, Maret 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/komuniti.v12i1.10009

Abstract

Lobi dan negosiasi sebagai kegiatan komunikasi sampai saat ini masih dianggap memiliki asosiasi yang negatif. Padahal, dua kegiatan tersebut dapat berdampak positif misalnya membantu legislator meyakinkan pemangku kepentingan untuk mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami praktik dan lobi yang dilakukan anggota legislatif kepada pemangku kepentingan dalam proses pembahasan RUU Konsultan Pajak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, strategi penelitian studi kasus, dan pengumpulan data berupa wawancara terstruktur dan dokumentasi. Data penelitian dianalisis menggunakan analisis tematik dan triangulasi penelitian berupa triangulasi teori dan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam melakukan praktik lobi dan negosiasi, legislator sebagai komunikator politik menempatkan posisi sebagai politisi partisan. Lima area dasar kegiatan lobi yang dilakukan yaitu menjalin koalisi dengan organisasi berpengaruh di luar DPR, melakukan riset dan laporan, menjalin komunikasi dengan individu di dalam parlemen, memilih pembicara dan saksi ahli, serta melakukan persiapan debat. Sementara, bentuk kegiatan komunikasi dalam proses negosiasi yaitu mengonstruksi narasi, menetapkan strategi negosiasi, dan mengelola hubungan dengan konstituen. Meskipun proses lobi dan negosiasi menemui gangguan, legislator ternyata berhasil meyakinkan para pemangku kepentingan untuk menyetujui RUU Konsultan Pajak masuk dalam daftar Prolegnas Prioritas tahun 2018
Analisis Semiotika Peran Ayah Dalam Film “Miracle In Cell No 7” Karya Hanung Bramantyo Mouren Arselly Moniaga; Guntur F Prisanto
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 1 No. 3 (2024): Februari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v1i3.844

Abstract

Seorang ayah dalam keluarga adalah sosok yang paling mengesankan karena dia memiliki komitmen yang fenomenal sebagai kepala keluarga. Ini adalah kondisi sosial yang dirasakan oleh budaya patriarki di mana inisiatif dan kekuasaan terbesar yang dipegang dan dibatasi oleh laki-laki. Film “Miracle In Cell No 7” Karya Hanung Bramantyo ini dibangun karena sangat terkenal di Korea dan banyak negara telah menghadirkan film ini. Kemudian, karena peran ayah sering dijadikan sebagai pemicu utama cerita dan sumber pertengkaran dalam keluarga, karena keanehan tersebut maka eksplorasi ini dikoordinasikan untuk mengetahui bagaimana peran sang ayah yang dibahas dalam Film "Miracle In Cell No 7" Karya Hanung Bramantyo memanfaatkan strategi subyektif dengan paradigma kritis. Penulis memilih lima adegan untuk ditelaah dengan menggunakan metode analisis semiotika John Fiske yang terbagi menjadi tiga tingkatan yaitu, level realitas, level representasi dan level ideologi. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa paran ayah di representasikan sesuai dengan ciri budaya patriarki privat dan memiliki peran sebagai seorang protector (sebagai seorang pelindung dan pengontrol), decision maker (sebagai seorang pembuat keputusan), provider (sebagai seorang penyedia fasilitas), dan responsibility (sebagai seorang yang memenuhi kebutuhan) kepada keluarganya.