Rosalina Dewi Roeslani, Rosalina Dewi
Department Of Child Health, University Of Indonesia Medical School/Dr. Cipto Mangunkusumo, Hospital, Jakarta

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Peningkatan Keterampilan Mahasiswa untuk Memberikan Edukasi Mengenai Perawatan Metode Kanguru (PMK) Kontinu di Rumah Rosalina Dewi Roeslani; Rachman Indra Jaya
Sari Pediatri Vol 14, No 5 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.5.2013.326-31

Abstract

Latar belakang.Perawatan metode kanguru (PMK), yaitu perawatan skin to skin contactbayi dengan ibu 24 jam dalam sehari. Keuntungan metode ini bayi tidak mengalami hipotermia, tanda vital stabil, pemberian ASI ekslusif lebih mudah, kenaikan berat badan lebih cepat, ikatan antara ibu dan bayi lebih kuat, lama rawat menjadi lebih pendek, dan kejadian infeksi nosokomial juga menurun pada bayi yang dirawat.Tujuan.Mengetahui apakah edukasi yang terus menerus oleh tenaga kesehatan tentang PMK berdampak lebih baik pada pertumbuhan neonatus kurang bulan (NKB), apakah PMK dapat menunjang perkembangan (berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala) NKB menjadi optimal, serta apakah PMK dapat mempromosikan pemberian ASI.Metode.Penelitian pre-eksperimental dengan subyek sesuai kriteria inklusi bayi prematur usia gestasi <37 minggu yang dipulangkan dari Divisi Perinatologi pada bulan Juli 2011 – November 2011, dan berdomisili di Jabotabek. Modul PMK diajarkan oleh mahasiswa kedokteran pada ibu yang memiliki BBLR di Puskesmas/RS jejaring. Setelah itu, dilakukan pemantauan berkala selama 2 bulan berturut-turut terhadap ciri pertumbuhan bayi (panjang badan, berat badan, lingkar kepala) oleh petugas kesehatan/mahasiswa kedokteran. Kelompok 1 dilakukan edukasi berulang ke ibu setiap kontrol, sedangkan kelompok lain tidak diedukasi. Analisis dengan uji -t tidak berpasangan atau uji Mann-Whitney.Hasil.Tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,973) rerata peningkatan berat badan per hari antara kelompok edukasi 33,02 (SD ±7,55) dan non edukasi 32,92 (SD ±4,28) gram. Tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,898) rerata peningkatan panjang badan per minggu kelompok edukasi 1,30 (SD ±0,16) dan non edukasi 1,28 (SD ±0,31) cm. Tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,824) rerata peningkatan lingkar kepala per minggu kelompok edukasi 0,76 (SD ±0,16) dan non edukasi 0,75 (SD ±0,12) cm. Perbandingan peningkatan berat badan per hari di antara kelompok ASI, formula, ASI + formula tidak bisa dibandingkan karena sebagian besar sampel mendapatkan ASI dicampur dengan formula, yaitu 14 sampel.Kesimpulan.Penelitian ini belum dapat membuktikan perbedaan pada pertumbuhan NKB dengan PMK yang mendapat edukasi terus menerus dibandingkan yang tidak karena besar sampel yang sedikit (21 bayi). Penelitian ini menunjukan NKB yang mendapatkan PMK mempunyai kenaikan berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala yang optimal. Penelitian ini gagal menunjukan perawatan metode kanguru dapat mempromosikan ASI secara eksklusif.
Gambaran Masalah Psikososial pada Remaja dengan Thalassemia Mayor dan Diabetes Mellitus Tipe-1 Bernie Endyarni Medise; Naela Fadhila; Tjhin Wiguna; Zakiudin Munasir; Jose R.L Batubara; Pustika Amalia Wahidiyat; H.F. Wulandari; Rosalina Dewi Roeslani
Sari Pediatri Vol 22, No 2 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.2.2020.83-91

Abstract

Latar belakang. Thalassemia dan diabetes mellitus tipe-1 (DM tipe-1) merupakan penyakit kronik yang banyak didapatkan pada anak dan remaja di Indonesia. Adanya penyakit kronik pada remaja dapat berisiko meningkatkan terjadinya masalah psikososial 2-6 kali dibandingkan populasi sehat. Masalah psikososial pada remaja sulit dikenali sehingga perlu dilakukan evaluasi secara rutin. The strengths and difficulties questionnaire (SDQ) adalah instrumen yang praktis dan mudah digunakan untuk mendeteksi masalah tersebut. Tujuan. Mengetahui besaran masalah psikososial pada remaja dengan penyakit kronik di RS. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Metode. Desain potong lintang pada 140 remaja (100 thalassemia mayor dan 40 DM tipe-1), usia 10-18 tahun. Subyek diminta untuk mengisi kuesioner SDQ (laporan mandiri). Hasil. Prevalensi total skor abnormal pada remaja thalassemia mayor adalah 8%, dan DM tipe-1 adalah 15%. Tidak ada skor abnormal pada aspek perilaku pro-sosial kedua penyakit, dan aspek hubungan dengan teman sebaya DM tipe-1. Tidak didapatkan perbedaan bermakna antara diagnosis penyakit, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan subyek pasien DM terhadap luaran hasil SDQ. Kesimpulan. Masalah psikososial lebih banyak didapatkan pada remaja DM tipe-1 dibandingkan thalassemia mayor.
Perbandingan Keamanan Aminofilin dan Kafein pada Bayi Prematur dengan Apne Prematuritas Dian Artanti; Rinawati Rohsiswatmo; Rosalina Dewi Roeslani
Sari Pediatri Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.2.2017.108-13

Abstract

Latar belakang. Apne berulang sering terjadi pada bayi prematur. Kejadian ini dapat menimbulkan hipoksemia dan bradikardi , bila keadaannya semakin memburuk maka membutuhkan resusitasi dengan ventilasi tekanan positif. Obat golongan metilxantin (kafein dan teofilin) telah digunakan untuk mencegah apne.Tujuan. Untuk mengetahui efek dan keamanan kafein dibandingkan teofilin pada bayi preamtur dengan periodik apne.Metode. Penelusuran pustaka database elektronik : Pubmed, Cochrane, dan HighwireHasil. Hasil telaah sistematis menunjukkan kejadian takikardia dan intoleransi minum lebih sedikit pada kelompok kafein dengan Relative Risk (RR) 0,17; 95 % Interval kepercayaan (IK) 0,04, 0,72; risk difference (RD) -0,29; 95 % IK -0,47, - 0,10. Studi klinis acak mendapatkan Tidak ada hubungan bermakna antara dosis pemberian kafein dan aminofilin pada konsentrasi plasma keduanya, kecuali pada kelompok kafein pada hari tertentu.Kesimpulan. Aminofilin dan kafein memiliki efektivitas yang sama dalam mengatasi apne pada bayi prematur. Efek toksisitas kafein lebih rendah dibandingkan aminofilin.
Focused group discussion with health care staff improves breastfeeding rates in hospitalized infants Agnes Yunie Purwita Sari; Rosalina Dewi Roeslani; Rinawati Rohsiswatmo
Paediatrica Indonesiana Vol 57 No 4 (2017): July 2017
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1047.552 KB) | DOI: 10.14238/pi57.4.2017.187-93

Abstract

Background Improving breastfeeding in sick infants is essential. During the neonatal care, health care staff play an important role in promoting breastfeeding. Therefore, it is important to study in depth how healthcare staff can improve breastfeeding practice in sick neonates.Objective To compare breastfeeding rates in sick infants before and after a focused group discussion (FGD) of health care staff on how to improve breastfeeding.Methods This study was an operational study using FGD and in-depth interviews as an intervention. A fish bone diagram was used to assess problems that may prevent mothers from breastfeeding their sick infants. Breastfeeding achievement was compared before and after the FGD.Results Of 257 sick infants, 177 subjects were in the before FGD group and 80 subjects were in the after FGD group. Significantly more after FGD subjects were breastfed during hospitalization than before FGD subjects [97.5% vs. 82.9%, respectively; (x2 =9.43; P=0.002)]. Breastfeeding initiation within 0-4 hours of birth was also significantly higher in the after FGD group [10 (12.5%) vs. 6 (3.5%), respectively; (x2 = 52.5; P<0.001)]. The solutions for breastfeeding problems were: 1) support of hospital management, 2) support of healthcare workers for breastfeeding mothers, 3) support of husbands and families for breastfeeding mothers, 4) financial support, 5) other factors such as level of care and consistent FGD events, and 6) a prospective cohort study.Conclusion The FGD with health care staff significantly increases breastfeeding achievement during infant hospitalization, and accelerated breastfeeding initiation. A fish bone diagram is used to effectively assess the problems with breastfeeding programs for sick babies.
Effects of probiotic on gut microbiota in children with acute diarrhea: a pilot study Dion Darius Samsudin; Agus Firmansyah; Eka Laksmi Hidayati; Irene Yuniar; Mulya Rahma Karyanti; Rosalina Dewi Roeslani
Paediatrica Indonesiana Vol 60 No 2 (2020): March 2020
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.346 KB) | DOI: 10.14238/pi60.2.2020.83-90

Abstract

Background Acute diarrhea is a common health problem in Indonesia. During acute diarrhea, changes in gut microbiota are marked by decrease beneficial microbes Bifidobacterium and Lactobacillus, and increased pathogenic bacteria Enterobacter and Clostridium. Such microbial imbalances are known as dysbiosis. Treatment with probiotics may help repair dysbiosis, quicken healing time, and decrease complications. Objective To assess for dysbiosis during acute diarrhea, and determine if it can be normalized by probiotic treatment. Methods This placebo-controlled, unblinded clinical trial was performed in Budhi Asih District Hospital, Jakarta, from January to March 2018. Twenty-four children age 6-24 months with acute diarrhea and 12 healthy children were enrolled. First fecal specimen was collected for all subjects and analyzed using non-culture real time PCR to count the population of Lactobacillus, Bifidobacterium, Enterobacter, Clostridium, and all bacteria. Children with diarrhea were assigned to probiotic or placebo treatment for 5 days and the second fecal specimen was analyzed two weeks after the diarrhea subsided. Results Prior to treatment, significant higher amounts of Lactobacillus were observed in children with acute diarrhea than in healthy controls [median (interquartile range/IR): 1.52x103 (1.22x104) vs. 6.87x10 (2.41x102), respectively; proportion in percentage (from total bacteria population): 0.044% vs. 0.003%, respectively]. However, median (IR) Clostridium was significantly higher in healthy controls than in children with acute diarrhea [2.37x102 (4.64x103) vs. 4.67 (1.50x102), respectively (P<0.05), with proportion of 0.01% vs. 0.0001%, respectively]. Children who received probiotics had significantly higher count of Bifidobacterium compared to the placebo group [1.94x104 (4.97x104) vs. 1.74x103 (2.08x107), respectively, with proportion of 0.394% vs. 0.081%, respectively]. Conclusion This pilot study do not find evidence of dysbiosis in children with acute diarrhea. Group who received probiotic had higher Bifidobacterium count compared towards those who received placebo.
Early detection of meconium peritonitis in term neonate: a case report Marsubrin, Putri Maharani Tristanita; Iskandar, Stephen Diah; Wulandari, Haryanti Fauzia; Bermanshah, Evita Kariani; Rahayatri, Tri Hening; Roeslani, Rosalina Dewi
Paediatrica Indonesiana Vol. 65 No. 5 (2025): September 2025
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi65.5.2025.443-6

Abstract

Meconium peritonitis (MP) is a very rare, sterile peritonitis that results from fetal gut perforation in utero. Late diagnosis and treatment may cause severe morbidity and mortality related to sepsis. Here we report a term, appropriate for gestational age (AGA) neonate with meconium peritonitis. A one-day-old baby was brought to our hospital with lethargy and progressive abdominal distention for the last 12 hours and hypovolemic shock on admission. The diagnosis of meconium peritonitis was established based on physical examination, supported by abdominal X-ray and ultrasound. A sigmoid colon perforation was found during emergency surgery and a sigmoid colostomy was done. The infant was discharged on the 20th post-operative day with good enteral feeding tolerance.