Teny Tjitra Sari, Teny Tjitra
Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, Jakarta

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Hemolytic disease of newborn: fokus pada inkompatibilitas ABO Teny Tjitra Sari; Riski Muhaimin; Umam Fazlurrahman
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 21, No 2 (2021): Volume 21 Nomor 2 Agustus 2021
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v21i2.19059

Abstract

HDN harus dicurigai bila didapatkan penurunan hemoglobin tanpa tanda perdarahan, peningkatan produksi eritrosit, ikterik pada 24-48 jam pertama, dan direct anti-globulin test positif. Inkompatibilitas ABO merupakan etiologi terbanyak dari HDN. Meskipun mayoritas terjadi pada ibu dengan golongan darah O, namun dilaporkan kasus pada ibu dengan golongan darah A dan B. Antigen pada kelompok darah ABO, terdiri dari antigen-A, antigen-B, dan prekursornya, antigen-H. Antigen-A dan B memiliki beberapa sub grup antigen dan tidak hanya ada di membran eritrosit, namun juga terdapat pada berbagai jaringan tubuh. Berbeda dengan inkompatibilitas rhesus, pada inkompatibilitas ABO sering terjadi pada kehamilan pertama dengan manifestasi yang lebih ringan. Fototerapi merupakan terapi lini pertama hiperbilirubinemia HDN. Bila tidak membaik, dapat diberikan imunoglobulin dan dilakukan transfusi tukar. Terapi farmakologi lain belum direkomendasikan. Transfusi darah dilakukan bila Hb turun signifikan atau terdapat gejala. Deteksi dini dan tatalaksana adekuat menurunkan morbiditas dan mortalitas.
Glucose and Lipid Profiles in Adolescents with Thalassemia Major and Its Association with Iron Overload in Specific Organs Aryono Hendarto; Teny Tjitra Sari; Ludi Dhyani Rahmartani; Anggia Widyasari; Stephen Diah Iskandar
The Indonesian Biomedical Journal Vol 11, No 2 (2019)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v11i2.693

Abstract

BACKGROUND: Organ damage due to iron toxicity is one factor that increases the risk of getting cardiovascular and metabolic diseases in thalassemia patient. This study aims to determine glucose and lipid profiles in adolescents with thalassemia major and its association with iron overload in pancreas and liver.METHODS: This was a cross sectional study. Subjects were thalassemia major adolescents without any confounding factors that may affect glucose and lipid levels. Blood samples were collected to measure the glucose level, lipid profiles, ferritin level and transferrin saturation. T2-Magnetic Resonance Imaging was used to evaluate the iron overload in organs.RESULTS: From a total of 60 subjects, diabetes mellitus was diagnosed in 1 subject and impaired fasting glucose was diagnosed in 3 subjects. All subjects had high triglycerides/ high density lipoprotein-cholesterol (HDL-C) ratio, 59 subjects (98%) had low HDL-C, 18 subjects (30%) had hypertriglyceridemia, and none had abnormal high level of low density lipoprotein-cholesterol (LDL-C). The majority of subjects had ferritin ≥2,500 ng/mL (70%), mild pancreatic iron overload (56.6%), and moderate hepatic iron overload (43.8%). Degree of hyperferritinemia was not associated with glucose and lipid profiles. Blood glucose profiles were not associated with various degree of pancreatic iron overload. Similar result was also observed between lipid profiles and hepatic iron overload.CONCLUSION: Abnormal glucose and lipid profiles in thalassemia major can be found in adolescence. Normal blood glucose level isn’t necessarily associated with normal pancreatic iron deposition. Hepatic iron overload may worsen dyslipidemia in thalassemia major patients.KEYWORDS: glucose profile, lipid profile, pancreatic iron overload, hepatic iron overload, thalassemia major
Ewing's Sarcoma Family Tumors pada ANak [Keganasan Kelompok Sarkoma Ewing] di RS Cipto Mangunkusumo Teny Tjitra Sari; Djajadiman Gatot; Endang Windiastuti
Sari Pediatri Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.844 KB) | DOI: 10.14238/sp13.2.2011.117-22

Abstract

Latar belakang.Terapi multimodalitas pada Ewing’s sarcoma family tumors(keganasan kelompok sarkoma Ewing) telah banyak meningkatkan keberhasilan terapi. Guna menilai keberhasilan terapi diperlukan data mengenai luaran pasien keganasan kelompok sarkoma Ewing.Tujuan.Mengetahui gambaran klinis dan luaran pasien sarkoma Ewing yang dirawat di Divisi Hematologi Onkologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak RS Cipto Mangunkusumo Metode.Studi deskriptif dilakukan pada pasien yang didiagnosis keganasan kelompok sarkoma Ewing di Divisi Hematologi Onkologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak RS Cipto Mangunkusumo, pada tahun 2000–2010. Terapi yang diberikan adalah kemoterapi, pembedahan, dan radioterapi. Hasil. Selama periode pengamatan sepuluh tahun dijumpai 26 pasien keganasan kelompok sarkoma Ewing dari seluruh 2112 pasien keganasan anak. Usia berkisar 6 bulan – 13 tahun 1 bulan (median 8 tahun 3 bulan). Lokasi tersering adalah ekstremitas, tulang belakang, dan pelvis. Sebagian besar pasien (16 dari 26 pasien) datang dengan stadium lanjut. Kemoterapi terutama diberikan pada lokasi tumor aksial (12 dari 26 pasien), sedangkan pembedahan yang dilanjutkan kemoterapi dilakukan bila lokasi tumor berada di ekstremitas (4 dari 26 pasien). Pasien meninggal lebih banyak dengan lokasi tumor di aksial (9 pasien) dibanding ekstremitas (3 pasien). Jumlah pasien hidup lebih banyak yang berusia < 10 tahun dibanding umur yang lebih tua (6 berbanding 1). Residif terjadi pada dua pasien dengan jangka waktu 11 bulan.Kesimpulan. Luaran pasien keganasan kelompok sarkoma Ewing masih jauh dari memuaskan. Pasien meninggal lebih banyak daripada pasien hidup, terutama letak tumor di aksial. Sebagian besar pasien datang pada stadium lanjut dan telah mengalami metastasis. Modalitas yang lebih intensif perlu diberikan untuk meningkatkan luaran pasien keganasan kelompok sarkoma Ewing.
Uji Klinis Tersamar Acak Ganda Pemberian Parasetamol Pasca Imunisasi DTwP-Hep B-HIB Abdullah Reza; Teny Tjitra Sari; Hindra Irawan Satari; Soedjatmiko Soedjatmiko; Kemas Firman
Sari Pediatri Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.178 KB) | DOI: 10.14238/sp19.1.2017.20-4

Abstract

Latar belakang. Demam, pengurangan waktu tidur, nyeri, dan reaksi lokal adalah beberapa kejadian ikutan pasca imunisasi. Untuk mencegah hal tersebut, profilaksis parasetamol pasca imunisasi diberikan oleh tenaga medis maupun orang tua. Peraturam Menteri Kesehatan Republik Indonesia dan Pedoman Imunisasi IDAI belum menetapkan secara tegas boleh atau tidaknya pemberian profilaksis parasetamol pasca imunisasi.Tujuan. Mengetahui efektivitas pemberian profilaksis parasetamol oral untuk mencegah kejadian ikutan pasca imunisasi kombinasi DTwP-Hep B-Hib.Metode. Uji klinis tersamar acak ganda (double blind randomized control trialI) dengan pemberian parasetamol dan plasebo pada pasien pasca imunisasi kombinasi DTwP-Hep B-Hib di Puskesmas Kecamatan Kramat Jati dan Kelurahan Batu Ampar selama September 2015 sampai Oktober 2015. Satu hari pasca imunisasi, kelompok perlakuan diberikan parasetamol (40-50 mg/kgBB/hari) yang terbagi empat dosis, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan plasebo. Selama empat hari pasca imunisasi dilakukan pengukuran suhu aksila, lama tidur, dan reaksi inflamasi lokal.Hasil. Subjek terdiri atas 100 bayi yang mendapatkan imunisasi kombinasi DTwP-Hep B-Hib ketiga. Karakteristik dasar meliputi usia, jenis kelamin, dan status gizi tidak berbeda di kedua kelompok. Subjek penelitian mendapatkan profilaksis parasetamol (50 subjek) dan profilaksis plasebo (50 subjek). Seluruh subjek penelitian tidak demam, tidak mengalami gangguan tidur, dan tidak ditemukan reaksi lokal. Pemberian parasetamol 24 jam pasca imunisasi DTwP-Hep B-Hib menunjukkan penurunan suhu 0,1OC - 0,2OC yang bermakna secara statistik (p<0,05) pada 24 jam pertama pasca imunisasi. Pemberian parasetamol menunjukkan waktu tidur yang lebih lama, tetapi tidak bermakna secara statistik (p>0,05) pada lama tidur. Kesimpulan. Pemberian parasetamol profilaksis pasca imunisasi DTwP-Hep B-Hib selama satu hari dapat menurunkan suhu tubuh pada 24 jam pasca imunisasi.
Kebutuhan Transfusi Darah Pasca-Splenektomi pada Thalassemia Mayor Murti Andriastuti; Teny Tjitra Sari; Pustika Amalia Wahidiyat; Siti Ayu Putriasih
Sari Pediatri Vol 13, No 4 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.4.2011.244-9

Abstract

Latar belakang. Transfusi darah merupakan pengobatan satu-satunya bagi pasien thalassemia guna mempertahankan kadar hemoglobin darah. Salah satu cara mengurangi kebutuhan darah adalah dengan melakukan splenektomi. Tujuan.Membandingkan kebutuhan transfusi pra-splenektomi dan pasca-splenektomi. Metode. Studi deskriptif terhadap pasien thalassemia βdan thalassemia-β/HbE yang dilakukan splenektomi di Pusat Thalassemia Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RS Dr Cipto Mangunkusumo tahun 2006-2009. Data yang dikumpulkan adalah kadar Hb pra-transfusi, jumlah kebutuhan darah, dan frekuensi transfusi darah dalam rentang setahun sebelum dan setahun setelah splenektomi, serta indikasi splenektomi. Didapat 98 pasien pasca- splenektomi tetapi 3 pasien dikeluarkan karena data tidak lengkap. Hasil. Subjek penelitian 98 pasien pasca- splenektomi terdiri 47 lelaki dan 51 perempuan. Rerata jarak waktu pertama kali transfusi darah sampai dilakukan splenektomi adalah 10 (SB 5,0) tahun, kisaran 8 bulan-23 tahun. Rerata ukuran limpa saat splenektomi adalah SchufnerVI, kisaran SchufnerII-VIII. Terjadi peningkatan rerata Hb pra-transfusi pra-splenektomi sebesar 6,2 (SB 0,9) g/dL, rentang 4,4-8,6 g/dL, pasca-splenektomi meningkat menjadi 7,9 (SB 0,8) g/dL, kisaran 5,6-10 g/dL. Rerata jumlah kebutuhan transfusi darah pra-splenektomi sebesar 357,2 (SB 101,2) mL/kgBB/tahun, pasca-splenektomi menurun menjadi 131,1 (SB 57,5) mL/kgBB/tahun. Rerata frekuensi transfusi darah pra-splenektomi 15 (SB 3,7) kali per tahun, kisaran 6-24 kali per tahun, pasca-splenektomi menjadi 8 (SB 3) kali per tahun, kisaran 0-14 kali per tahun. Indikasi splenektomi adalah hipersplenisme dini (53 subjek) dan hipersplenisme lanjut (45 subjek). Rerata Hb pra-transfusi pasca-splenektomi subjek hipersplenisme dini (8,3 g/dL) lebih tinggi dibandingkan subjek hipersplenisme lanjut (7,6 g/dL) (p=0,000). Terdapat perbedaan bermakna jumlah kebutuhan darah pasca-splenektomi thalassemia-β/HbE (108,6 mL/kgBB/tahun) dan thalassemia-β(144,1 mL/kgBB/tahun) (p=0,001). Frekuensi transfusi darah thalassemia-β/HbE pasca-splenektomi (7x/tahun) lebih rendah daripada thalassemia-β(9x/tahun) (p=0,011). Tidak didapatkan adanya perbedaan yang bermakna antara rerata Hb pra-transfusi pasca-splenektomi antara thalassemia-βdengan thalassemia-β/HbE (p=0,132).Kesimpulan.Terdapat perbedaan kebutuhan transfusi antara pra-splenektomi dan pasca splenektomi berdasarkan jenis hipersplenisme dan genotip pasien. Kebutuhan transfusi pasca splenektomi lebih sedikit apabila splenektomi dianjurkan pada keadaan hipersplenisme dini dan kasus thalassemia β/HbE
Fungsi Ginjal Pasien Thalassemia Mayor yang Mendapatkan Kelasi Besi Oral Teny Tjitra Sari; Aulia Fitri Swity; Hikari Ambara Sjakti; Eka Laksmi Hidayati; Dian Puspita Sari
Sari Pediatri Vol 20, No 4 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.396 KB) | DOI: 10.14238/sp20.4.2018.242-8

Abstract

Latar belakang. Peningkatan angka kelangsungan hidup pasien thalassemia menyebabkan terdeteksinya berbagai penyakit komorbid termasuk komplikasi pada ginjal. Anemia kronis, kelebihan besi, dan pemakaian kelasi besi, terutama kelasi besi oral diduga berpengaruh pada fungsi ginjal. Berbagai derajat disfungsi tubular dan abnormalitas laju filtrasi glomerulus (LFG) dideteksi dengan berbagai macam pemeriksaan. Tujuan. Membandingkan laju filtrasi ginjal (tubulus dan glomerulus) pada pasien thalassemia yang mendapatkan kelasi besi oral.Metode. Penelitian potong lintang ini dilakukan di Pusat Thalassemia RS. Cipto Mangunkusumo Jakarta pada bulan Maret – Juli 2017. Kriteria inklusi adalah pasien thalassemia major berusia <18 tahun, dan telah mendapatkan kelasi oral minimal selama 1 tahun. Kriteria eksklusi adalah pasien telah memiliki penyakit atau kelainan ginjal sebelumnya dan menggunakan kelasi besi kombinasi. Pasien menjalani pemeriksaan hematologi, kreatinin serum, feritin serum, dan pengambilan urin pagi sewaktu untuk pemeriksaan kadar kalsium dan kreatinin urin sewaktu.Hasil. Penurunan nilai LFG pada 15 pasien deferipron (DFP) 53,6%, tetapi masih dalam batas normal, sedangkan 12 pasien deferasirox (DFX) 46,2%. Tidak ada perbedaan bermakna antara fungsi tubular ginjal yang dinilai berdasarkan rasio kalsium kreatinin urin pada pasien thalassemia yang mendapatkan DFP dibandingkan dengan DFX. Terdapat 1 (3,6%) pasien dengan hiperkalsiuria pada kelompok DFP dan 7 pasien (12,9%) dengan hiperkalsiuria pada kelompok DFX.Kesimpulan. Terdapat penurunan fungsi ginjal pada pasien yang mendapat kelasi besi oral, walaupun hal ini tidak bermakna. Pemeriksaan fungsi tubular maupun glomerular ginjal pasien thalassemia mayor perlu dinilai secara berkala, mengingat penggunaan kelasi besi jangka panjang dan cukup tingginya angka kejadian penurunan LFG dan hiperkalsiuria. Pemeriksaan rasio kalsium kreatinin urin maupun LFG perlu diukur pada saat pasien kontrol bersamaan dengan pemeriksaan kreatinin serum.
Sferositosis Herediter: laporan kasus Teny Tjitra Sari; Ismi Citra Ismail
Sari Pediatri Vol 11, No 4 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.166 KB) | DOI: 10.14238/sp11.4.2009.298-304

Abstract

Sferositosis herediter (SH) merupakan salah satu jenis anemia hemolitik yang disebabkan defek molekularpada satu atau lebih protein sitoskleletal sel darah merah. Diagnosis SH sulit untuk ditegakkan karenatidak ada tanda atau gejala yang patognomonik. Seorang bayi laki-laki, usia 5 bulan datang dirujuk seorangdokter spesialis anak dengan dugaan talasemia dan riwayat batuk dan pilek, demam yang tidak terlalu tinggi,kurang aktif, dan didapatkan kadar hemoglobin (Hb) 6,4 g/dL. Diagnosis sferositosis herediter ditegakkanberdasarkan adanya riwayat kuning saat neonatus, anemia, splenomegali, ditemukannya sferosit yang banyakpada pemeriksaan darah tepi, dan analisis protein membran eritrosit menunjukkan defisiensi spektrin alfa.Pasien diberi asam folat dan transfusi darah. Splenektomi belum terindikasi karena anemia masih dapatdikompensasi oleh sumsum tulang.
Immune Thrombocytopenic Purpura Teny Tjitra Sari
Sari Pediatri Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (915.997 KB) | DOI: 10.14238/sp20.1.2018.58-64

Abstract

Immune thrombocytopenic purpura (ITP) telah mengalami perubahan definisi dan klasifikasi. Definisi ITP sebagai jumlah trombosit <100.000/uL dengan klasifikasi new diagnosed ITP, ITP persisten, dan ITP kronik. Disregulasi imun ITP menyebabkan menurunnya jumlah megakariosit di sumsum tulang dan trombosit di darah tepi. Diagnosis ditegakkan secara klinis dan pemeriksaan penunjang. Berbagai penelitian telah menunjukkan banyak perubahan pada tata laksana ITP. Bila tidak ada perdarahan ataupun perdarahan ringan, kasus ITP dapat ditatalaksana hanya dengan observasi. Namun demikian, dokter tetap harus dipertimbangkan faktor sosial dalam menentukan pilihan terapi seperti kecemasan orang tua, akivitas anak, dan jarak ke pusat kesehatan. Terapi IVIG dan kortikosteroid tetap menjadi pilihan pertama dalam tata laksana ITP bila terjadi perdarahan berat ataupun mengancam jiwa.
Pemantauan Kerusakan Sendi pada Anak Hemofilia Berat: Peran Pemeriksaan Muskuloskeletal (HJHS), Ultrasonografi Sendi dan Kadar C-Terminal Telopeptide of Type II Collagen Urin Teny Tjitra Sari; Novie Amelia Chozie; Djajadiman Gatot
Sari Pediatri Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.725 KB) | DOI: 10.14238/sp17.3.2015.234-40

Abstract

Hemartrosis dan artropati hemofilik merupakan morbiditas utama hemofilia. Patogenesis artropati hemofilik masih belum diketahuidengan jelas, diduga meliputi proses degenerasi dan inflamasi. Deteksi dini tahap awal artropati hemofilik sebelum timbul gejalaklinis sangat diperlukan untuk mencegah progresivitas kerusakan sendi. Pemeriksaan muskuloskeletal dengan metode skoringHemophilia Joint Health Score (HJHS) sensitif untuk mendeteksi artropati hemofilik tahap dini. Ultrasonografi sendi memilikisensitivitas yang baik dalam mendeteksi artropati tahap dini, berbiaya lebih murah dan lebih praktis dibanding MRI. Peran petandabiologis kerusakan sendi seperti kadar C-terminal Telopeptide of Type II Collagen (CTX-II) urin sebagai penunjang diagnostikartropati tahap dini dan evaluasi keberhasilan terapi masih memerlukan penelitian lebih lanjut sebelum dapat digunakan dalampraktek sehari-hari. Tinjauan pustaka ini membahas patofisiologi dan pemantauan artropati hemofilik secara klinis, radiologisdan pemeriksaan petanda biologis kerusakan sendi.
Prognosis Leukemia Limfoblastik Akut pada Anak Obes Teny Tjitra Sari; Endang Windiastuti; Gitta Reno Cempako; Yoga Devaera
Sari Pediatri Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.1.2010.58-62

Abstract

Latar belakang. Obesitas merupakan salah satu masalah gizi yang banyak ditemukan pada anak. Beberapapenelitian menunjukkan hubungan obesitas pada peningkatan risiko relatif beberapa keganasan. Keganasanyang paling sering ditemukan pada anak adalah leukemia limfoblastik akut. Bagaimana prognosisleukemia limfoblastik akut pada anak obes?Tujuan. Mengetahui prognosis pasien leukemia limfoblastik akut anak dengan obesitas.Metode. Studi deskriptif menggunakan data registrasi semua pasien baru leukemia limfoblastik akut pada1 Januari 2007 – 31 Desember 2009 di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM.Hasil. Selama penelitian tiga tahun didapatkan 12 pasien leukemia limfoblastik akut dan obesitas denganprevalens 6,1%. Usia berkisar 2-14 tahun dengan rerata 6,4 tahun. Sembilan dari 12 pasien merupakankelompok risiko tinggi dan sebagian besar (6 dari 9 pasien) datang dengan jumlah rerata leukosit adalah101.650/mm3 (66.700-159.000/mm3). Remisi pada fase induksi didapatkan pada 10 dari 12 pasien. Relapsterjadi pada tiga pasien, semuanya terjadi pada fase pemeliharaan dengan tempat relaps adalah sumsumtulang (dua pasien) dan intrakranial (satu pasien). Dua dari tiga subjek penelitian yang relaps, meninggaldunia dengan penyebab kematian perdarahan intrakranial.Kesimpulan. Obesitas mempengaruhi prognosis pada pasien leukemia limfoblastik akut anak.