Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : DIMENSI PENDIDIKAN

RESILIENSI PENYESUAIAN DIRI WARGA BINAAN DI YAYASAN EMAS INDONESIA SEMARANG Supadmi Supadmi; Heri Saptadi Ismanto; G Rohastono Adjie
DIMENSI PENDIDIKAN Vol 18, No 2 (2022): Dimensi Pendidikan
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/dm.v18i2.12457

Abstract

Reseliensi merupakan suatu kemampuan yang dimiliki oleh individu dalam bertahan dan mampu berjuang dalam kondisi sulit yang mungkin mengganggu fungsinya individu. Penyesuaian diri dengan resiliensi ini biasanya tetap mampu berfungsi baik untuk individu bertahan dalam menyesuaikan diri di lingkungan. Berdasarkan pengamatan atau observasi penulis, bahwa anak-anak ataupun remaja yang berkumpul di Yayasan tersebut, merupakan warga binaan yang cukup memiliki sikap daya juang yang baik dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya, bahkan terhadap orang-orang yang ada disekelilingnya. Di dalam situasi dan kondisi yang penuh dengan tantangan dan rintangan terkadang memaksa seorang individu untuk memiliki resilensi, yaitu sebuah sikap terus bertahan dalam menghadapi  situasi yang sulit untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan. tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah : untuk mengetahui resiliensi penyesuaian diri warga binaan di Yayasan Emas Indonesia. Dari temuan yang bersumber dari hasil penelitian adalah bahwa konsep diri remaja punk dari temuan hasil wawancara dengan informan: Insial SF Insial TK. Untuk itu maka peneliti membagikan sesuai dengan karakteristik resiliensi kepercayaan diri. Karakteristik yang pertama yaitu cara menyesuaikan diri, bahwa cara subjek dalam menyesuaikan diri dengan belajar mandiri, bergaul dengan masyarakat kecillah dan mendekatkan diri dengan Tuhan. Karakteristik yang kedua yaitu ketahanan diri di lingkungan baru, setiap individu harus mempunya tujuan dan keinginan. Karakteristik yang ketiga yaitu kesulitan dalam diri saat menyesesuaikan diri di lingkungan, kesulitan yang dialami oleh subjek adalah rasa malu-malu dan membutuhkan waktu beberapa bulan untuk pendekatan diri mengenal sesama. Karakteristik yang keempat yaitu solusi saat mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri, memperoleh jawaban dari subjek mencontoh orang yang lebih berpengalaman atau  senior, memulai berbicara dengan teman dan memperkenalkan diri. Karakteristik yang kelima yaitu perubahan apa yang didapat, memperoleh jawaban dari subjek kepercayaan diri yang meningkat, kedisiplinan dan kemampuan dalam berbicara. Karakteristik yang keenam yaitu harapan, memperoleh jawaban dari subjek memiliki harapan hidup mandiri.
DAMPAK PERNIKAHAN DINI PADA WANITA DI DESA AMONGROGO KECAMATAN LIMPUNG KABUPATEN BATANG Vita Yonanda Fitriani; Heri Saptadi Ismanto; G Rohastono Adjie
DIMENSI PENDIDIKAN Vol 18, No 3 (2022): Dimensi Pendidikan
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/dm.v18i3.14231

Abstract

Pernikahan dini dalam masyarakat pada kenyataanya masih sering dijumpai meskipun peraturan pemerintah terus melakukan perbaikan mengikuti situasi dan kondisi. Fenomena menikah dini ini juga masih terdapat di Desa Amongrogo Kecamatan Limpung Kabupaten Batang. Untuk melihat lebih jauh mengenai pernikahan dini penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak apa saja yang ditimbulkan dari adanya pernikahan dini di Desa Amongrogo Kecamtan Limpung Kabupaten Batang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Dalam peneltitian ini digunakan metode pengambilan data secara observasi, wawancara, serta dokumentasi. Wawancara dilakukan melalui media yaitu google form, via Whatsapp, dan secara langsung pada beberapa narasumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak yang ditimbulkan dari pernikahan dini dapat dilihat dari dua sisi yaitu dampak positif dan dampak negatif. Pernikahan dini berdampak pada psikologis isteri atau perempuan yang dapat semakin dewasa baik secara emosi maupun spiritual namun, dalam pernikahan tersebut juga muncul adanya kekhawatiran. Secara sosial berkurangnya kebebasan dalam berteman. Secara ekonomi meningkatnya kebutuhan-kebutuhan rumah tangga sehingga mengharuskan beberapa perempuan ikut bekerja untuk mencukupi kebutuhan tersebut