Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Karakteristik Fisikokimia Snack Bar Berbasis Tepung Ubi Jalar Ungu dan Tepung Kacang Merah Arifanti, Ananta Pitaloka; Damat, Damat; Siskawardani, Devi Dwi
Food Technology and Halal Science Journal Vol. 7 No. 2 (2024): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/fths.v7i1.35955

Abstract

Snack bar merupakan makanan berbentuk batangan yang terbuat dari gabungan berbagai bahan makanan, seperti buah-buahan, serealia, kacang-kacangan, buah-buahan, dan sayuran. Snack bar merupakan produk sehat mengandung gizi seimbang yang didesain sebagai camilan yang dapat dikonsumsi setiap saat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik fisikokimia snack bar dengan perbandingan tepung ubi jalar ungu dan tepung kacang merah. Metode penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor. Formulasi tepung ubi jalar ungu dan tepung kacang merah meliputi P1(90:10), P2(80:20), P3(70:30), P4(60:40), P5(50:50). Analisis fisikokimia yang dihasilkan dari snack bar tepung ubi jalar ungu dan tepung kacang merah pada analisis fisik snack bar yaitu intensitas warna dengan nilai L sebesar 43,20 – 49,16, nilai a sebesar 8,46 – 10,26, nilai b sebesar 5,16 – 9,83 dan tekstur sebesar 14,69 N – 25,66 N. Analisis kimia pada Snack bar yaitu, kadar air sebesar 3,99% – 4,28%, kadar lemak sebesar 12,9%– 13,52%, kadar protein sebesar 4,59% – 7,52%, kadar serat sebesar 15,34% – 17,1%, dan aktivitas antioksidan sebesar 86,67% – 88,67%. Formulasi terbaik yang didapatkan dari penelitian ini adalah perlakuan tepung ubi jalar ungu dan tepung kacang merah P1 (90:10) dengan kadar air sebesar 4,28% kadar lemak sebesar 12.93%, kadar protein sebesar 4,59%, kadar serat pangan sebesar 17,1%, aktivitas antioksidan sebesar 88,67%, intensitas warna nilai L sebesar 43,20, nilai a sebesar 8,46, nilai b sebesar 5,16, dan tekstur sebesar 14,69 N.
Analisis Sifat Fisikokimia Minuman Fungsional Daun Beluntas (Pluchea indica (L). Less) Dengan Penambahan Bunga Telang dan Lemon Azizah, Sabila Asmi Nur; Anggriani, Rista; Siskawardani, Devi Dwi
Food Technology and Halal Science Journal Vol. 8 No. 1 (2025): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/fths.v8i1.37592

Abstract

Minuman fungsional merupakan minuman yang mengandung nutrisi dan dapat meningkatakan status Kesehatan. Daun beluntas merupakan salah satu tanaman yang mengandung tinggi antioksidan. Daun beluntas memiiki aroma yang khas dan rasa yang getir, sehingga dilakukan penambahan bunga telang dan lemon. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan bunga telang dan lemon terhadap kandungan fisikokimia dan organoeptik minuman fungsional. Penelitian ini menggunakan metode RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan 1 faktor. Hasil pengujian dianalis menggunakan (ANOVA) taraf signifikansi (α) 5% apabila data signifikan dianjutkan ui Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil peneitian menunjukkan penambahan bunga telang dan lemon berpengaruh nyata terhadap aktivitas antioksidan, total feno, pH, intensitas warna dan organoleptic (warna dan overall), serta tidak berengaruh nyata terhadap vitamin C dan organoleptic (rasa dan aroma). Kata Kunci: antioksidan, fenol, vitamin C
Effectiveness of public service program related cocoa fermentation sop in increasing the knowledge of cocoa farmer Hanif Alamudin Mansur; Noor Harini; Elfi Anis Saati; D. Damat; W. Warkoyo; S. Sukardi; Vritta Amroini Wahyudi; Rista Anggriani; Devi Dwi Siskawardani; Afifah Husna; Desiana Nuriza Putri; Nafidzah Nur; Ayu Lestari
Journal of Community Service and Empowerment Vol. 4 No. 3 (2023): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jcse.v4i3.26038

Abstract

Cocoa farmers in this area were not familiar with post-harvest processing, usually, the cocoa bean was sold directly without any fermentation. This public service objective provides information on good quality control of cocoa plant beans, such as fermentation pH, sorting, and contained water content. Followed to improve the knowledge about fermented cocoa bean's characteristics, especially about fine flavor cocoa (FFC) which has a flavor profile and also several active compounds for healthy. Data collection was carried out by filling out questionnaires from 25 farmer respondents. The results of the service showed that as many as 52% of the respondents have been cocoa farmers for more than 5 years. Most of the cocoa farmers produced more than 500 kg/harvest. Many farmers do not ferment cocoa beans because the fermentation process takes a long time, while farmers want to sell cocoa beans quickly. This causes the selling price of cocoa beans to become low.
Model Pengembangan UMKM di Kota Madiun Berbasis Green Economy, Halalan Thoyiban, dan Digitalisasi Sebagai Upaya Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Noor Harini; Ahmad Wahyudi; Devi Dwi Siskawardani
Jurnal Inovasi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): Juni
Publisher : Indonesia Emerging Literacy Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53621/jippmas.v6i1.825

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pelaku UMKM di Kota Madiun melalui penerapan konsep green economy, halalan thoyiban, dan digitalisasi sebagai upaya mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan di Kota Madiun, dengan melibatkan 40 yang berasal dari berbagai sektor usaha. Program ini dilaksanakan melalui kegiatan sosialisasi, pelatihan, pendampingan, dan evaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta memperoleh peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan usaha berbasis green economy, penerapan prinsip Halalan Thoyiban, serta pemanfaatan teknologi digital untuk pemasaran dan manajemen usaha. Evaluasi melalui pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pemahaman pada seluruh aspek yang diukur, yaitu konsep Green Economy dari 38% menjadi 88%, prinsip Halalan Thoyiban dari 45% menjadi 90%, digitalisasi usaha dari 42% menjadi 87%, serta strategi pengembangan usaha berkelanjutan dari 35% menjadi 82%. Selain itu, peserta mulai menerapkan praktik usaha yang lebih ramah lingkungan, meningkatkan standar kebersihan dan keamanan produk, serta memanfaatkan media digital untuk memperluas akses pasar. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa integrasi aspek Green Economy, Halalan Thoyiban, dan Digitalisasi merupakan model pengembangan UMKM yang efektif dalam mendukung peningkatan daya saing usaha sekaligus mendorong terciptanya usaha yang berorientasi pada keberlanjutan.
Pelatihan Desain Digital dan Pencatatan Keuangan Digital pada Produk UMKM untuk Meningkatkan Nilai Jual Secara Online: Pengabdian Noor Harini; Devi Dwi Siskawardani; Abiyasa Eka Saputra
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 5 Nomor 1 (Juli 2026 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v5i1.7348

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pelaku UMKM di beberapa wilayah Jawa Timur dalam memanfaatkan desain digital dan pencatatan keuangan digital guna mendukung peningkatan nilai jual produk secara online. Permasalahan utama yang dihadapi peserta adalah keterbatasan kemampuan dalam menyusun konten promosi yang menarik, konsisten, dan informatif, serta belum optimalnya pencatatan transaksi usaha secara teratur. Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui tahapan pemetaan kebutuhan, penyampaian materi, demonstrasi penggunaan aplikasi, praktik mandiri, pendampingan, dan evaluasi luaran. Materi pelatihan difokuskan pada penggunaan Canva untuk membuat desain promosi produk dan Money Manager untuk mencatat pemasukan, pengeluaran, serta memantau kondisi keuangan usaha secara sederhana. Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa peserta mampu menghasilkan desain promosi yang lebih rapi, komunikatif, dan sesuai dengan karakter produk. Model pelatihan daring terbukti relevan karena mampu menjangkau pelaku UMKM lintas wilayah, memberi fleksibilitas belajar, dan memungkinkan praktik langsung melalui perangkat yang digunakan peserta dalam aktivitas usaha.
Karakteristik Fruit Leather Buah Pepaya (Carica papaya L.) dan Buah Nanas (Ananas comosus L.) dengan Proporsi Konsentrasi Gum Arab dan Asam Sitrat Luthfiana Adzani Zulfa; Devi Dwi Siskawardani; Dahlia Elianarni
Food Technology and Halal Science Journal Vol. 9 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/fths.v9i1.41793

Abstract

Fruit leather processed was used as a fruit preservation process. The characteristics of fruit leather that are suitable if easy to roll and had fruit flavor consistency. Determination of hydrocolloids and acid compounds was important on the formation of fruit leather according to the characteristics. The purpose of this study was to determine the interaction of the addition concentrations of gum arabic and citric acid on the physicochemical characteristics of papaya pineapple fruit leather. The method used was a factorial Randomized Block Design (RBD. The first treatment was the concentrations gum arabic A (1%; 3%; 5%) and the second treatment was the concentrations citric acid B (0.2%; 0.4%; 0.6%). The addition of gum arabic and citric acid concentrations interacted significantly on the texture analysis and very significantly interacted on the organoleptic taste, color, texture, and preference of papaya pineapple fruit leather. The best treatment was A1B2 (1% gum arabic and 0.4% citric acid), resulted on the texture was 19.89 N; color intensity (L * 40.95 a * 3.84 b * 4.00); water content 10.16%; vitamin C 10.23 mg/100g; crude fiber 2.85%; pH level 3.41; and organoleptic taste 3.00 (neutral), aroma 2.91 (pineapple aroma), color 3.48 (yellow-orange), texture 3.48 (soft), preference 3.78 (rather like).
Karakteristik Marmalade Kombinasi Jeruk Siam Madu dan Pepaya California dengan Penggunaan Jenis Pemanis yang Berbeda Hisan Fithransah; Devi Dwi Siskawardani; Sukardi
Food Technology and Halal Science Journal Vol. 9 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/fths.v9i1.41988

Abstract

Marmalade merupakan makanan semi-padat yang bahan baku terbuat sari buah-buahan, dengan tambahan pektin, asam sitrat, dan gula serta kulit jeruk sebagai pembantu membentuk gel. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh rasio jeruk siam madu-pepaya california dan jenis pemanis terhadap organoleptik dan karakteristik fisikokimia. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan dua faktor, faktor pertama yaitu perbedaan proporsi antara jeruk siam madu dan pepaya california (75%:25% ; 50%:50% ; dan 25%:75%), sedangkan faktor kedua yaitu penggunaan jenis pemanis yang (sukrosa, gula merah, dan gula jagung) masing-masing sebesar 60% dari total bahan selai. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi signifikan antara dua faktor terhadap kadar air, kadar abu, kadar gula total, kadar gula total, kadar vitamin C, dan pH, sedangkan pada total padatan terlarut tidak terdapat interaksi. Pada uji organoleptik menunjukkan terdapat interaksi signifikan terhadap daya oles, warna dan rasa dan tidak terdapat interaksi signifikan antara rasio jeruk siam madu-pepaya california dan jenis pemanis yang berbeda pada atribut aroma, tekstur, dan kesukaan.
Peningkatan Keterampilan Batik Organik dengan Pewarna Alami Lokal Plus Ekstrak Rumput Laut, di Desa Tosari Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan Elfi Anis Saati; Devi Dwi Siskawardani; Jamroji jamroji
JAST : Jurnal Aplikasi Sains dan Teknologi Vol. 9 No. 1 (2025): EDISI JUNI 2025
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jast.v9i1.6815

Abstract

Pasuruan Regency has become a tourist destination due to its high natural potential and the inspiration for its distinctive Batik motifs. KUBA (Komunitas Berkaidah Amanah) artisans are among the artisans who have persisted in developing Batik. The Segiri motif is a type of selected flora, becoming a specialty of their product, Segiri Batik. Currently, KUBA-Batik Segiri is engaged in its business in Pasuruan and already has an extensive marketing network, is passing on its branding experience to Tosarian Batik in Tosari Village and District, which is also trying to utilize local natural pigments (datto flowers, strawberry leaves) as its batik dyes. This is hampered by weak color pigments and a relatively long process, because it is a natural dye. The use of pigments results in a higher price. So, it is necessary to modify the mordanting to help improve the stability of its natural color, namely by using seaweed extract as a coloring adhesive. Tosarian batik makers develop typical Tengger/Bromo motifs and udeng. Community service is carried out by socializing the understanding of Pigments & Alginates, and their functions. Then, there was a socialization session on "The Importance of Product Branding" and training on proper organic batik production methods using seaweed extract. This activity added various natural colors from locally extracted materials to enhance creativity in batik design.ABSTRAKKabupaten Pasuruan menjadi satu tujuan wisata karena potensi alam yang tinggi dan menjadi inspirasi motif Batik yang Khas. Pengrajin KUBA (Komunitas Berkaidah Amanah) merupakan salah satu pengerajin yang masih bertahan dalam mengembangkan Batik. Motif Segiri adalah jenis flora yang dipilih, menjadi spesialisasi produknya yaitu Batik Segiri. Saat ini KUBA-Batik Segiri menggeluti usahanya di Pasuruan dan sudah memiliki banyak jaringan pemasaran, sedang menularkan pengalaman brandingnya kepada batik Tosarian di Desa dan Kecamatan Tosari, yang juga berupaya memanfaatkan pigmen alam lokal (bunga kecubung, daun strawberry) sebagai pewarna  batiknya. Hal ini terkendala pigmen warna yang masih lemah dan proses yang cenderung lama, karena merupakan pewarna alami. Penggunaan pigmen mengakibatkan harga lebih mahal. Sehingga perlu modifikasi mordanting membantu meningkatkan stabilitas warna alaminya, yaitu penggunaan ekstrak rumput laut sebagai perekat pewarnaan. Pebatik Tosarian mengembangkan motif dan udeng khas Tengger/Bromonya.  Pengabdian dilakukan dengan sosialisasi pemahaman tentang Pigmen & Alginat, serta fungsinya. Lalu sosialisasi “Pentingnya Branding Produk” dan pelatihan cara produksi batik organik yang baik dengan menggunakan ekstrak rumput laut. Kegiatan ini dapat menambah variasi warna alami yang bisa digunakan dari ekstraksi bahan lokal untuk meningkatkan kreativitas pembuatan corak batik.