Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

General Overview on Selecting and Drafting Construction Contract Disputes Resolution Meria Utama; Irsan Irsan
Sriwijaya Law Review VOLUME 2, ISSUE 2, JULY 2018
Publisher : Faculty of Law, Sriwijaya University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28946/slrev.Vol2.Iss2.129.pp152-169

Abstract

A good international contract as the experts considered is the most complicated one the parties must draft carefully. It involves many stakeholders and containing documents to attach likewise financial judgment, technical specifications, work scope, rights, obligation, responsibility and other external factors which are beyond the parties’ consideration. A good design contract will prevent the parties from disputes. The dispute settlement mechanisms should be explicitly stated in the international construction contract. The nullity of the choice dispute settlement mechanisms or in the absence of the choice dispute settlement mechanisms and also the unperformed of the contract purposes will not prevent the dispute from being occurred. The most common process to resolve disputes is through litigation, but the process takes time, energy and funding. The method of alternative dispute resolution (ADR) such as mediation, conciliation, mini-trial, arbitration or other ADR techniques eradicate all the obstacles above. The question arises then, how the parties select the best alternative disputes settlement mechanism and how it should be drafted in their contract. Normative legal research is the method employed to respond the problems. Therefore, this article will elaborate the methods that will effectively settle the constructions disputes and mechanism in drafting construction contract disputes resolutions provisions
Can the Right to A Good and Healthy Environment be Claimed as a Human Right? Achmad Romsan; Meria Utama; Irsan Irsan; Akhmad Idris; Tuti Indah Sari; Azhar Azhar; Herwin Herwin; Marieska Verawaty; Hamet Hashemi; Maysam Aboutalebi Najafabadi
Sriwijaya Law Review Volume 8 Issue 1, January 2024
Publisher : Faculty of Law, Sriwijaya University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28946/slrev.Vol8.Iss1.1537.pp197-212

Abstract

Land fires in South Sumatra are an annual problem during the long dry season. It was recorded that in 2015, 2016, 2017, and 2018, the land fires spread massively in the four districts of South Sumatra. The peatlands located within oil palm plantations in the Districts of Ogan Komering Ilir, Banyuasin, Musi Banyuasin, and the district of Ogan Ilir were the source of the fire. The haze not only attracts national but also international attention. Besides human contribution to land fire, climate change should also be considered. The role of El Nino makes the season uncertain. Land fires affect human health and other human activities in the affected areas. Three legal instruments guarantee and protect the people's right to the environment, i.e., The 1945 Indonesian Constitution, the 2009 Law No. 32 on the Environment, and the 1999 Law No. 39 on Human Rights. The problem raised herein is to what extent people can claim the right to a clean environment as human rights guaranteed and protected in those legal instruments. The results of the discussion show that those three legal instruments do not protect people whose human rights have been violated. This is because 2000 Law No. 26 on Human Rights has no jurisdiction over environmental matters. It is suggested that establishing a special Environmental Court is the solution to protect community environmental human rights cases.
PENEGAKAN HUKUM TINDAK PIDANA PEMAKAIAN TANAH TANPA IZIN DI KABUPATEN BANYUASIN OLEH DIREKTORAT RESERSE KRIMINAL UMUM KEPOLISIAN DAERAH SUMATERA SELATAN Etika Yuniar; Meria Utama; Nashriana Nashriana
Lex LATA Vol 6, No 1 (2024): Maret 2024
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28946/lexl.v6i1.2826

Abstract

Abstrak: Tanah merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam kehidupan manusia, sejak lahir manusia membutuhkan tanah untuk berbagai kebutuhan baik untuk keperluan tempat tinggal, usaha pertanian, kegiatan sosial dan lain-lain. Keadaan yang demikian mengakibatkan banyaknya kejahatan maupun pelanggaran terhadap penguasaan tanah. Penelitian ini membahas tentang penegakan hukum yang dilakukan oleh penyidik Unit 3 Subdit II Ditreskrimum Polda Sumsel terkait tindak pidana pemakaian tanah tanpa izin berdasarkan UU Nomor 51 Prp Tahun 1960 di Kabupaten Banyuasin dan kendala yang dihadapi oleh penyidik dalam penegakan hukum tindak pidana pemakaian tanah tanpa izin. Metode Penelitian yang digunakan adalah yuridis empiris, dengan pendekatan studi kasus (case approach) dan pendekatan konseptual (conseptual approach). Dari hasil penelitian bahwa penegakan hukum tindak pidana pemakaian tanah tanpa izin di Kabupaten Banyuasin sebagaimana di atur dalam Pasal 6 UU Nomor 51 Prp Tahun 1960 tidak menimbulkan efek jera, sehingga perlu dilakukan upaya penegakan hukum agar lebih efektif dan efisien di masa yang akan datang.  Kata Kunci: Penegakan hukum;Tindak Pidana Pemakaian Tanah Tanpa Izin
PENYULUHAN HUKUM DAN PENCEGAHAN CYBERBULLYING DI MEDIA SOSIAL PADA SISWA SMA NEGERI 1 INDRALAYA Cynthia Azhara; Meria Utama; Ahmad Idris; Rizka Nurliyantika; Ricky Saputra; Raesitha Zildjianda; Santriana; Biyes Nurul
Karya : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2024): EDISI DESEMBER 2024
Publisher : CV. Cendikiawan Muda Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70656/jpkm.v1i2.164

Abstract

The target population of this study is the students of Indralaya Public Highschool Number 1. According to UNICEF data from 2022, 45% of 2,777 children in Indonesia have admitted to being victims of cyberbullying. Therefore, it is necessary to provide legal counseling and prevention of cyberbullying to teenagers, especially high school students. A survey conducted by the Ministry of Women and Child Protection in collaboration with Child Fund International in 2023 revealed that 49.1% of adolescents in DKI Jakarta, Central Java, Lampung, and East Nusa Tenggara (NTT) admitted to being bullies, while 51% acknowledged experiences as victims of bullying. The service method entails the provision of counseling on the prevention of cyberbullying on social media among students in alignment with Law No. 1 of 2024 concerning the Second Amendment to Law No. 11 of 2008 concerning Electronic Information and Transactions.Moreover, the question and answer method was employed to ascertain the extent of students' comprehension of the material presented. The ensuing conclusion, substantiated by the students' inquiries and responses, indicates a persisting lack of comprehension regarding the impact and prevention of cyberbullying, particularly in the context of social media misuse. Keywords: legal; counseling; prevention; cyberbullying; Indralaya
Kekosongan Hukum Dan Perlindungan Korban Dalam Penyalahgunaan Artificial Intelligence Pada Deepfake Pornografi Di Indonesia Decri Reza; Meria Utama; Henny Yuningsih
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 4: Juni 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i4.16856

Abstract

Perkembangan pesat artificial intelligence telah memungkinkan penyalahgunaan teknologi deepfake untuk menghasilkan konten pornografi melalui manipulasi digital tanpa persetujuan korban. Fenomena ini menimbulkan permasalahan hukum yang serius terutama terkait perlindungan korban yang mengalami pelanggaran terhadap identitas martabat dan privasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perlindungan hukum terhadap korban deepfake pornografi di Indonesia serta mengidentifikasi kekosongan norma dalam peraturan perundang undangan yang berlaku. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang undangan dan konseptual melalui analisis terhadap Undang Undang Pornografi Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik serta Undang Undang Perlindungan Data Pribadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun ketentuan hukum tersebut dapat digunakan untuk menjerat pelaku namun belum secara eksplisit mengatur manipulasi berbasis artificial intelligence sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum dan keterbatasan perlindungan korban. Oleh karena itu diperlukan pembaruan hukum yang komprehensif guna menjamin perlindungan yang efektif. Temuan ini menegaskan urgensi reformasi hukum dalam menghadapi perkembangan teknologi serta memperkuat perlindungan martabat dan privasi individu di era digital.
Optimalisasi Peran Pengurus OSIS SMP di Wilayah Kecamatan Kertapati dalam Memberikan Edukasi Undang-Undang ITE dan Kesehatan Mental dalam Mendukung SDGs 03 Meria Utama; Irsan Irsan; Mariana Mariana; Rizka Nurliyantika; M. Syahri Ramadhan; Cynthia Azhara Putri; Santriana Santriana; Biyes Nurul Atika; Raesitha Zildjianda; Titin Purnama Sella
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 8 No 2 (2026): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v8i2.1937

Abstract

Rendahnya literasi hukum digital dan meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental akibat penggunaan media sosial yang tidak bijak menjadi permasalahan yang dihadapi remaja SMP di Wilayah Kecamatan Kertapati, Kota Palembang. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pemahaman pengurus OSIS mengenai UU ITE dan kesehatan mental remaja serta memperkuat peran OSIS sebagai peer support group dan agen edukasi digital di sekolah. Kegiatan dilaksanakan pada bulan September hingga November 2025 terpusat di SMPIT Zain Al Muttaqin dengan melibatkan 64 pengurus OSIS dari 10 SMP di Kecamatan Kertapati. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan capacity building melalui analisis kebutuhan, penyuluhan interaktif, simulasi kasus (role play), Focus Group Discussion (FGD), pendampingan penyusunan action plan, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Materi yang diberikan meliputi literasi hukum digital, cyberbullying, etika bermedia sosial, dan kesehatan mental remaja. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta yang ditandai dengan kenaikan nilai rata-rata pre-test dari 52,0 menjadi 82,3 pada post-test dengan peningkatan sebesar 30,3 poin. Sebanyak 89% peserta berada pada kategori peningkatan tinggi. Hasil FGD menunjukkan peserta mulai memahami dampak cyberbullying terhadap kesehatan mental dan pentingnya penggunaan media sosial secara bertanggung jawab. Luaran kegiatan berupa pembentukan peer support group, kampanye anti-cyberbullying, dan penyusunan action plan OSIS berbasis literasi digital dan kesehatan mental.
Artificial Intelligence–Generated Deepfake Pornography: A Normative Analysis of Criminal Liability and Victim Protection in Indonesian Law Decri Reza; Meria Utama; Henny Yuningsih
Ius Poenale Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25041/ip.v7i1.4738

Abstract

The rapid development of artificial intelligence (AI) has facilitated the creation of deepfake pornography through non-consensual digital manipulation of a person’s image, raising significant legal and human rights concerns. This study aims to examine the adequacy of Indonesian positive law in addressing AI-generated deepfake pornography, analyze the construction of criminal liability under existing legal frameworks, and formulate normative recommendations to strengthen victim protection. This research employs normative juridical research using statutory and comparative approaches. Primary legal materials include the Pornography Law, the Electronic Information and Transactions Law, the Criminal Code, and the Personal Data Protection Law. Secondary materials consist of legal doctrines and scholarly publications. A comparative analysis of China’s regulation on deep synthesis technology is conducted to assess potential reform models relevant to Indonesia. The findings indicate that existing Indonesian legislation provides partial legal grounds for prosecuting deepfake pornography; however, none explicitly regulates AI-based digital manipulation. This results in interpretative ambiguity, challenges in proving criminal elements, and limitations in ensuring comprehensive victim protection. The absence of clear provisions regarding synthetic content, platform accountability, and algorithmic transparency weakens enforcement effectiveness. This study contributes to Indonesian legal scholarship by offering a doctrinal analysis of criminal liability in deepfake pornography cases and proposing a reform-oriented framework to enhance legal certainty, strengthen enforcement mechanisms, and protect victims’ dignity and privacy in the digital era.
Perspektif Hukum Internasional Terkait Penyelesaian Sengketa Batas Wilayah di Kawasan Line of Actual Control (LAC) antara China dan India Eva Yusmita; Renata Aurellia Alfatiha; Meria Utama
Simbur Cahaya Volume 32 Nomor 1, Juni 2025
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28946/sc.v32i1.3565

Abstract

Negara berkewajiban untuk mempertahankan kedaulatannya guna menjamin eksistensi, stabilitas serta melindungi kepentingan nasional di bidang sosial, ekonomi, politik, militer, dan lainnya. India dan China merupakan negara yang berpengaruh besar di berbagai bidang kehidupan dalam kancah internasional, terkhususnya di Asia. Kedua negara ini memiliki kemiripan dalam segi luas wilayah, jumlah penduduk yang padat, keberagaman budaya, dan bergerak di bidang industri. Namun, kedua negara tersebut masih belum terlepas dari bayang-bayang peperangan Selama sekitar 60 tahun silam, India dan China sempat terlibat sengketa batas wilayah. Isu ini diawali dengan penolakan China terhadap McMahon Line yang merupakan garis demarkasi antara India dan Tibet buatan Kolonial Inggris dan digunakan sebagai batas wilayah India dan China. Karena dianggap merugikan, kemudian China melakukan perlawanan dengan membangun jalan penghubung dari Xinjiang (daerah kekuasaan China) ke Aksai Chin (daerah kekuasaan India). Hal ini yang kemudian membuat wilayah Aksai Chin menjadi daerah pusat sengketa penyebab terjadinya Sino India War 1962. Sayangnya, dalam peperangan ini, India mengalami kekalahan dan wilayah Aksai Chin diklaim oleh China secara aneksasi. Sino India War 1962 melahirkan Line of Actual Control (LAC) yang merupakan hasil kesepakatan India dan China untuk mengklaim wilayahnya masing-masing. Namun, LAC ini belum diakui secara resmi oleh hukum internasional. Pada tahun 2020, situasi antara India dan China kembali memanas. Meskipun telah dilakukan berbagai upaya, hingga saat ini belum ada garis demarkasi resmi yang disepakati. Oleh karena itu, perlu adanya upaya penyelesaian sengketa melalui perspektif hukum internasional. Maka, dalam tulisan akan dijelaskan lebih lanjut mengenai Perspektif Hukum Internasional Terkait Penyelesaian Sengketa Batas Wilayah di Kawasan Line of Actual Control (LAC) antara China dan India.