Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Pengaruh Desain dan Pola Roster terhadap Simulasi Penghawaan Alami pada Fasad Bangunan Muhsin, Ardhiana
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 10, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v10i3.7998

Abstract

Abstrak Roster atau kerawang telah lama dikenal dan digunakan oleh masyarakat sebagai elemen bangunan. Karakternya yang tampak seperti tertutup namun masih memiliki kesinambungan visual menjadikan roster tidak hanya difungsikan sebagai ventilasi namun dapat juga difungsikan sebagai pembatas untuk menutup daerah atau bagian yang tidak ingin terlihat secara langsung. Akhir-akhir ini roster kembali menjadi alternatif material untuk fasad bangunan agar terlihat unik dan berbeda karakternya. Desain atau pola roster pun banyak berkembang dan tidak tampil monoton seperti dulu lagi. Beberapa pola roster dapat dikombinasikan dengan pola lainnya agar desain fasad tampil lebih menarik lagi. Banyak arsitek yang mengklaim bahwa pemilihan roster agar dapat menyalurkan angin ke dalam bangunan yang menggunakan ventilasi alami. Permasalahannya adalah seberapa jauh sebenarnya roster dapat berfungsi sebagai penerus angin agar dapat tetap mengalir ke dalam ruangan dengan pola serta penempatan yang berbeda dengan dahulu. Penelitian ini mencoba mengungkap permasalahan tersebut lewat simulasi perangkat lunak berbasis Building Information Modelling (BIM). Desain roster yang ada disusun dan dibuatkan beberapa pola alternatif untuk dilihat sejauh mana elemen bangunan tersebut dapat bekerja secara optimal dalam menyalurkan angin ke dalam sebuah ruangan.Kata kunci: arsitektur, roster, simulasi, ventilasi, visualAbstract Ventilation block has been known and used as a building element. Its character which looks like it is an enclosed but still has visual continuity makes its function not only as ventilation but also as a barrier to cover areas or parts of the building that do not want to be seen directly. Recently, ventilation block has become an alternative material for building facades to make it look unique and have a different character. Ventilation block designs or patterns have also developed a lot and don't appear monotonous like they used to. Several ventilation block patterns can be combined with other patterns to make the facade design even more attractive. Many architects claim that the selection of , ventilation block is so that it can channel wind into buildings that use natural ventilation. The problem is how far the rooster can actually function as a successor to the wind so that it can continue to flow into the room with a different pattern and placement than before. This study tries to uncover these problems through software simulations based on Building Information Modeling (BIM). The existing roster design is compiled and several alternative patterns are made to see how far these building elements can work optimally in channeling wind into a room. Keywords: architecture, simulation, ventilation block, visual
Evaluasi penerapan prinsip Nature-Based Solutions pada Desain Guest House dan Meeting Room di Samboja, Kalimantan Timur Naazhir Nadzrin Najiib, Muhammad Nibraas; Muhsin, Ardhiana
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 13, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v13i3.15341

Abstract

ABSTRAKStudi ini menginvestigasi sejauh mana prinsip-prinsip Solusi Berbasis Alam (Nature-Based Solutions/NBS) tercermin dalam desain sebuah Guest House dan Meeting Room yang berlokasi di Samboja, Kalimantan Timur, Indonesia. NBS didefinisikan sebagai strategi perencanaan dan desain yang memanfaatkan proses dan ekosistem alami untuk mengatasi tantangan sosial sembari meningkatkan kesejahteraan ekologis dan manusia. Dalam arsitektur tropis, prinsip-prinsip ini sering diekspresikan melalui pengembangan dampak rendah (low-impact development), penempatan yang peka terhadap tapak, responsivitas iklim, dan adaptasi material terhadap konteks lokal, dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif. Penelitian ini menguji data survei lokasi, dokumentasi desain, dan pengembangan konseptual untuk mengevaluasi keselarasan proyek dengan kerangka kerja NBS. Temuan menunjukkan adanya keselarasan parsial: proyek ini mempertahankan pohon-pohon yang sudah ada dan menggunakan sistem lantai panggung yang meminimalkan galian dan urugan (cut and fill), konsisten dengan prinsip pelestarian ekosistem. Namun, keterbatasan teridentifikasi pada penggunaan kaca mati (fixed glazing) tanpa ventilasi yang dapat dioperasikan (operable), strategi peneduhan yang terbatas, dan ketergantungan pada material industri yang hanya meniru estetika alami. Hasil-hasil ini menunjukkan bahwa meskipun proyek secara intuitif menggabungkan elemen-elemen NBS tertentu, diperlukan penerapan prinsip-prinsip NBS yang lebih sistematis untuk mencapai arsitektur yang berkelanjutan dan responsif terhadap iklim di Indonesia.Keywords: Arsitektur Berkelanjutan, Guest House dan Meeting Room, Kalimantan Timur, Solusi Berbasis Alam.ABSTRACT This study investigates the extent to which Nature-Based Solutions (NBS) principles are reflected in the design of a Guest House and Meeting Room located in Samboja, East Kalimantan, Indonesia. NBS are defined as design and planning strategies that utilize natural processes and ecosystems to address societal challenges while enhancing ecological and human well-being. In tropical architecture, these principles are often expressed through low-impact development, site-sensitive placement, climate responsiveness, and material adaptation to local contexts. Using a qualitative case study approach, this research examines site survey data, design documentation, and conceptual development to evaluate the project’s alignment with NBS frameworks. The findings indicate partial alignment: the project preserved existing trees and employed a raised-floor system that minimized cut and fill, consistent with ecosystem preservation principles. However, limitations were found in the use of fixed glazing without operable ventilation, limited shading strategies, and reliance on industrial materials that merely imitate natural aesthetics. These results suggest that while the project intuitively incorporates certain NBS elements, a more systematic application of NBS principles is needed to achieve sustainable and climate-responsive architecture in Indonesia.Kata kunci: East Kalimantan, Guest House and Meeting Room, Nature-Based Solutions, Sustainable Architecture.