Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Cakrawala Linguista

KAJIAN STILISTIKA DALAM PUISI “TRAGEDI WINKA & SIHKA” KARYA SUTARDJI CALZOUM BACHRI Nurhannah Widianti; Abdul Mukhlis; Heru Susanto; Sacandra Aji Rivaldi
CAKRAWALA LINGUISTA Vol 3, No 2 (2020): Volume 3 Number 2 December 2020
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/cling.v3i2.2251

Abstract

Puisi merupakan bentuk imajinatif penyair yang mencerminkan perasaan, pengalaman, gagasan, dan lainnya. Puisi disajikan dalam bahasa yang indah, memiliki kedalaman makna, dan tipografi unik. Hal inilah yang tampak dalam puisi “Tragedi Winka dan Sihka” karya Sutardji Calzoum Bachri. Penelitian ini bertujuan mengkaji makna denotasi, konotasi, dan tipografi dengan menggunakan kajian Stilistika. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari segi judul hingga akhir puisi memuat kata “tragedi” dan “kawin”. Di sisi lain, penyair melakukan pemenggalan kata dan pembolak-balikan suku kata. Jika ditafsirkan, ketika sebuah kata utuh (normatif), maka maknanya pun sempurna. Bila kata-kata dibalik, maka maknanya pun terbalik atau berlawanan dengan arti kata aslinya. Berdasarkan penjelasan itu, maka puisi tersebut memuat makna denotasi (tragedi, kawin, ku) dan konotasi (winka, simbol &, sihka). Sementara itu, tipografi disusun secara zig-zag. Tujuannya, yaitu menciptakan makna ikonik atau indeksis. Tipografi semacam gelombang itu memberikan kesan khas bahwa kehidupan rumah tangga tentu akan mengalami pasang surut.
INTERNALISASI NILAI MORAL MELALUI PROGRAM MENDONGENG Nurhannah Widianti; Aditia Muara Padiarta
CAKRAWALA LINGUISTA Vol 4, No 2 (2021): Volume 4 Number 2 December 2021
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/cling.v4i2.2767

Abstract

Tujuan penelitian ini, yakni mendeskripsikan proses internalisasi nilai-nilai moral melalui program mendongeng yang dilakukan oleh Rumah Inspirasi (komunitas literasi).  Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan kualitatif etnografi. Lokasi penelitian, yaitu di Rumah Inspirasi, Kabupaten Cirebon. Sumber data penelitian berupa rekaman proses kegiatan mendongeng. Sementara itu, data penelitian adalah penggalan tuturan yang disampaikan oleh pendongeng. Teknik pengumpulan data berupa wawancara dan dokumentasi. Instrumen pengumpulan data menggunakan wawancara terstruktur dan dokumentasi berupa visual dan audio visual. Data dianalisis dengan tahapan pengumpulan data lapangan dan tinjauan pustaka, verifikasi data melalui klarifikasi berdasarkan kategori tertentu, interpretasi data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendongeng dalam setiap kegiatan telah secara konsisten menanamkan berbagai nilai moral pada anak-anak. Setiap dongeng yang disampaikan disisipi nilai-nilai moral, antara lain kejujuran, peduli, mandiri, disipilin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, dan adil. Pelaksanaan program mendongeng setiap pekannya pun berlangsung kondusif. Pada setiap pertemuan, anak-anak tampak antusias menyimak dongeng dan merespons berbagai pertanyaan yang diajukan. Program mendongeng ini merupakan wujud konkret dalam upaya menginternalisasikan nilai-nilai moral kepada anak-anak secara konsisten dan berkelanjutan.
ALIH WAHANA CERITA LEGENDA BUAYA PUTIH CIREBON KE DALAM BENTUK BUKU ANAK Nurhannah Widianti; Aiditia Muara Padiarta; Heru Susanto; Abdul Mukhlis
CAKRAWALA LINGUISTA Vol 5, No 2 (2022): VOLUME 5 NUMBER 2 DECEMBER 2022
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/cling.v5i2.4091

Abstract

Tujuan penelitian ini, yakni mendeskripsikan proses alih wahana legenda Buaya Putih dalam bentuk lisan ke dalam bentuk tulis (buku anak). Metode yang digunakan, yaitu deskriptif kualitatif. Sementara itu, teori alih wahana ekranisasi Sapardi Djoko Damono berfungsi untuk landasan melakukan proses alih wahana. Sumber data penelitian ini adalah legenda “Buaya Putih Cirebon” yang disampaikan langsung oleh Akbarudin Sucipto selaku budayawan Cirebon. Data penelitian berupa penggalan tuturan yang disampaikan narasumber tersebut. Teknik pengumpulan data berupa wawancara dan dokumentasi. Instrumen pengumpulan data menggunakan wawancara terstruktur dan dokumentasi berupa foto serta rekaman. Data dianalisis dengan tahapan pengumpulan data lapangan, verifikasi data melalui klarifikasi berdasarkan kategori tertentu, interpretasi data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan ada tiga aspek yang dilakukan penulis dalam proses alihwahana, yakni (1) pengurangan yang berjumlah satu kali. Peneliti tidak mencantumkan keterangan waktu seperti hal yang disebutkan oleh narasumber sebagai pembuka cerita, (2) penambahan alur cerita dilakukan sebanyak enam kali yang tujuannya untuk memperjelas konteks, (3) perubahan variasi dilakukan sebanyak sembilan kali. Perubahan tersebut mencakup perubahan nama tempat, nama tokoh, diksi, dan kalimat.